
Julian berjalan dengan beberapa makanan di tangannya. Ia baru saja mengambil benda-benda itu di stand makanan yang disediakan. Mengulurkan beberapa ke Grisa yang duduk tak jauh dari stand makanan.
"Aku pilih yang enak-enak. Habiskan, ya, Sayang!" Julian tertawa kecil.
Grisa menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya, tajam.
"Ngeselin!" ucapnya.
"Lah, katamu, aku pacarmu tadi. Masa panggil sayang sama pacar sendiri, gak boleh."
Grisa melengos, membuang rasa jengah yang sesungguhnya melanda saat ini. Namun, Julian malah terus tertawa-tawa di sampingnya. Meledek.
"Ya, gak apa-apa sih, kalo kamu mau jadi pacarku. Tapi aku ngerasa tersinggung, lho. Harga diriku sebagai laki-laki, tercuil. Masa cewek secantik kamu, yang ngakuin hal itu duluan." Julian berbicara setelah mengunyah makanan yang dibawa tadi.
Grisa kembali menatap Julian, dengan pandangan kesal. Rasa malu masih menghinggapi hatinya.
"Jangan ngeliatin terus, Gris! Bahaya!"
"Kenapa emangnya?"
"Takut kamu gak bisa tidur nyenyak, ntar malam!"
"Alaaahhhh!" Gris berseru, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
Sebenarnya, detak jantung Julian, saat ini, rasanya sama seperti ia usai berlari. Kata-kata candaan, ia pergunakan untuk menutupi perasaan. Faktanya, laki-laki itu telah jatuh cinta saat pandangan pertama kepada gadis yang duduk di sampingnya itu. Keunikan dan cara bersikap Grisa, benar-benar menariknya lebih jauh.
"Sungguh, Gris! Aku mau jadi pacarmu beneran, apa kamu juga mau jadi pacarku?"
Terdengar suara batuk Grisa dari sebelah Julian.
"Konyol!" Grisa tersenyum setelah batuknya reda.
"Aku tahu, setelah melihat ekspresimu memandang pengantin laki-laki tadi itu, Gris. Itu sungguh gak nyaman, kan? Itu laki-laki yang membuatmu menangis beberapa waktu lalu, kan?"
"Bukan ... bukan dia, kok!"
Grisa menunduk, berusaha mengatur segala emosinya saat ini. Ia tidak ingin, di hari bahagia Zayan, malah terlihat sedih, meneteskan air mata.
"Wajahmu, matamu, gelagatmu, menggambarkan semuanya, Gris! Aku juga gak keberatan, kalau aku cuma jadi pelarian saat ini. Gak masalah, sungguh!"
"Sudah, Lian. Aku mohon! Maaf kalo kata-kataku tadi keterlaluan. Iya, tadi aku hanya ingin membuktikan ke Mas Zay bahwa aku bisa punya orang lain. Tapi, aku ...." Suara Grisa tercekat di tenggorokan, ia berhenti berbicara.
Julian mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Grisa.
__ADS_1
"Maafkan, aku. Kamu boleh pakai aku sesukamu, jadi apa pun. Tapi aku gak mau, gadis secantik kamu, harus menangis untuk hal-hal yang sesungguhnya gak perlu ditangisi. Aku ingin membuatmu benar-benar nyaman bersamaku."
Grisa menatap Julian dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Memangnya, kamu belum punya cewek? Pacar? Kekasih? Istri? Gak mungkin dengan wajahmu yang seperti itu ...."
Julian menggelengkan kepala.
"Apa? Aku memang ganteng, kan? Makanya, jadi pacarku saja!"
Grisa tertawa kecil, lalu mengangguk.
Yumna memandang Grisa dari kejauhan, tersenyum. Sementara itu, Karman berdiri di sisinya, keheranan.
"Kamu ki napa to, Dek? Senyam-senyum dewe, gak ngajak-ngajak!"
Yumna menunjuk ke arah Grisa dengan isyarat kepalanya.
"Sebenarnya, aku khawatir sama perempuan itu, Beb. Tetapi, setelah melihat ia bisa tersenyum bersama laki-laki lain, aku lega."
"Memangnya kenapa?"
"Kakaknya, mantan suami Mbak Sha pertama yang meninggal, sama sepertiku. Lalu takdir, membawanya bertemu dengan Mas Zay. Meski dia gak ngomong, aku tahu ia menyimpan perasaan pada Mas Zay. Perempuan terkadang bisa memahami perasaan perempuan lain. Dari caranya memandang dan bertingkah di hadapan Mas Zay."
"Uluh-uluuuhhh! Cayangku, Yuyum ini, benar-benar baik dan pengertian banget. Semua orang dikhawatirin, loh!" Karman menyubit kedua pipi Yumna, Gemas.
Yumna menepis tangan Karman, lalu pergi menjauh.
"Eh, eh, Maafin aku, Sayang, Beb, Dek Yuyumku yang caem! Jangan marah dong! Mau ke mana, sih?"
Karman tergopoh-gopoh mengikuti Yumna di belakang.
"Cari bakso di stand makanan, laper!"
"Bilang, dong, daritadi! Mas kan bisa ambilin!"
Yumna menghentikan langkah, lalu menggandeng lengan Karman.
"Gak usah, ambil bareng-bareng aja, yuk!"
Sementara itu, Sri dan Zulkifli yang baru saja selesai berfoto bersama kedua pengantin, turun dari pelaminan. Setelah mereka berdua mengobrol sebentar dengan Mesha dan Zayan. Mengucapkan selamat dan mendoakan kedua mempelai.
"Aku lega, akhirnya semua berakhir bahagia, Pak," ucap Sri pada sang suami.
__ADS_1
"Sama, Bu. Semoga semuanya baik-baik saja dan langgeng."
Sri mengaminkan perkataan Zulkifli.
Di tempat lain, Arsyanendra berdiri dengan mata yang basah. Ia bahagia, tetapi di sisi lain, ia teringat dengan kawannya dari alam lain yang telah menghilang.
"Aku tahu, kamu menyaksikan hal ini dari tempatmu berada kini. Restumu juga sangat berarti bagi mereka. Tugas kita sebagai orang tua, selesai, bukan?" Arsyanendra bergumam. Laki-laki tua itu memahami, pertanda hujan sekejap yang bercampur dengan angin tadi.
"Mbahkung, Ayo foto dulu, sama Zay dan istri Zay!"
Mendengar suara sang cucu dari arah belakang, Arsyanendra cepat-cepat mengusap air mata yang terlanjur menggenang di sudut matanya.
"Ah, iya, iya! Ayo!"
Zayan paham betul apa yang dirasakan sang kakek, saat ini. Ia tersenyum, menuntun laki-laki berusia senja itu. Kemudian, berusaha menghibur Arsyanendra dengan kata-katanya.
Hingga sore hari, acara berjalan lancar dan mulus tanpa hambatan. Meski sempat hujan badai sesaat, sebelumnya. Semua orang yang hadir, terlihat bahagia dan menikmati suguhan.
Akan tetapi, di luar tarup, tepat di bawah pohon besar. Seorang perempuan tua berkebaya hitam, berdiri, memandang kesal ke perhelatan tadi. Ia berkali-kali menarik rambutnya yang berantakan dan mulai memutih. Terkadang, ia terbatuk-batuk. Kemudian merapatkan syal rajut yang sudah terlihat kumal di lehernya.
"Ah! Mereka semua memang menyebalkan! Kenapa ndak ada yang mengajakku? Aku kan juga mau berpesta, seneng-seneng!" cerocosnya, sambil menggaruk kulit pohon tempatnya berlindung dengan kuku-kuku panjangnya yang tidak terawat.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berwarna gelap berhenti di depan perempuan paruh baya tadi. Beberapa orang berseragam, turun dari kendaraan tersebut.
"Bu, ayo, Bu! Ikut kami." Seorang perempuan muda menggandeng orang tua tadi.
"Ndak mau, ndak mau! Aku mau ikut pesta itu!"
"Iya, Bu. Iya. Ikut saya, nanti saya ajak juga ke pesta."
"Beneran? Kamu jangan bohong sama aku, loh!"
Seorang laki-laki dengan seragam bertuliskan "Dinas Sosial" mendekat, ia membantu rekan kerjanya, membujuk perempuan paruh baya tadi.
"Ini kita bawa ke dokter dulu atau langsung ke tempat kita?" tanya laki-laki tadi.
"Ke dokter dulu, sekalian dicek kesehatannya, dan lain-lain."
"Baiklah."
Beberapa menit kemudian, rombongan tadi, berhasil membawa target mereka ke dalam mobil.
"Apa ada keluarga yang dekat yang mengenal ibu ini?" tanya perempuan berseragam tadi, kepada rekan kerjanya.
__ADS_1
"Sepertinya tidak. Dia sebatang kara."
****