Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 47 : Mutiara Kehidupan


__ADS_3

Jamaah salat subuh telah usai. Arsyanendra mendekati orang-orang yang berkerumun di serambi Masjid. Mereka terlihat begitu emosi, menunjuk-nunjuk seseorang yang terbaring meringkuk di sudut serambi.


"Ini ada apa, to? Kok ramai-ramai seperti ini?"


"Itu, Mbah. Ada orang malah tidur di masjid, kayak gak ada tempat lain saja."


"Oh, gitu." Arsyanendra tersenyum, lalu duduk di sebelah orang tidur tersebut. Ia memberi isyarat kepada warga lain untuk pulang terlebih dulu.


Sementara Zayan, ia mengawasi sang kakek dari pintu Masjid.


Dengan lembut, laki-laki berusia senja itu membangunkan orang yang masih terbaring di hadapannya.


"Mas? Apa sampean baik-baik saja?"


Pria yang meringkuk tadi, perlahan bangun. Ia mengusap wajahnya lalu duduk bersila di hadapan Arsyanendra.


"Mas dari mana?"


"Saya dari kota S. Maaf, Kek. Saya sedang melakukan perjalanan, karena lelah, tadi malam saya menumpang tidur di sini."


"Oh, begitu. Maaf, apa saya boleh lihat kartu pengenal sampean?"


Laki-laki berpakaian lusuh tadi menarik dompet dari sakunya. Mengeluarkan sebuah kartu.


"Oh, ya. Ya." Arsyanendra membaca dengan seksama apa yang tertulis. "Mas sudah sholat?" tanyanya setelah selesai membaca kartu tadi.


"Belum, Kek."


"Kalau begitu, silakan, sholat dulu. Saya sekalian berpamitan, jika ada yang dibutuhkan, monggo mampir ke rumah saya. Rumah kayu dengan cat biru di ujung sana." Arsyanendra menunjuk ke sebuah arah.


Zayan mendekati sang kakek saat laki-laki tadi pergi ke kamar mandi Masjid.


"Mbahkung, Zay deg-degan lihat Mbahkung seperti itu. Apa gak takut kalau orang tadi berbuat jahat sama Mbahkung?"


Arsyanendra tersenyum mendengar perkataan cucunya.


"Orang yang memasrahkan dirinya berlindung saat lelah di rumah Tuhan, mau berbuat jahat apa, Le?"


"Kan, siapa tahu ...."

__ADS_1


"Ndak boleh berburuk sangka hanya karena penampilan, Le. Kita tidak tahu di dalam hati seseorang seperti apa. Semua makhluk Tuhan harus diperlakukan sama adilnya. Menolong seseorang, tidak akan membuatmu rugi. Karena di saat kita menolong orang lain, sejatinya kita sedang menolong diri sendiri untuk lain hari."


"Njeh, Mbahkung."


"Ayo, kita pulang dulu, Le!"


Dengan sigap, Zayan membantu sang kakek berdiri. Ia menggandeng lengan laki-laki berusia senja yang begitu ia hormati dan cintai itu. Kemudian kedua laki-laki berbeda generasi itu berjalan bersama.


"Kamu tahu ndak, Le? Kenapa aku memintamu untuk belajar agama lebih dalam di pesantren?"


"Biar Zay jadi kebanggaan orang tua dan pintar mengaji?"


"Itu salah duanya. Hal yang paling utama menurutku, itu untuk akhlakmu, Le. Kalau cuma membaca dan menghapalkan, anak-anak juga bisa seperti itu. Yang terpenting adalah, ketika kamu mengaji, kamu bisa menerapkan apa yang kamu kaji untuk dirimu terlebih dulu, baru orang lain."


"Ya, Mbahkung. Zay juga berusaha untuk itu."


"Selain itu, setelah ilmu agamamu lebih mendalam dari pada orang lain, kamu juga ndak boleh sombong. Kamu ndak boleh menggunakan kepandaianmu untuk menilai orang lain lalu menghakiminya. Mengingatkan boleh, tetapi harus dengan adab."


"Njeh, Mbahkung."


"Besok, ketika kamu berjodoh dengan orang yang bahkan ndak mengenal Tuhannya secara dekat. Kamu juga harus pelan-pelan mengenalkannya. Dengan cinta, dengan kelembutan. Seperti ajaran Kanjeng Nabi. Pada kenyataannya, di jaman sekarang, banyak orang yang mengaku beragama tetapi ndak mengenal Tuhannya dengan dekat."


"Banyak orang yang mengaku beragama, tetapi tidak memahami agamanya sendiri. Saling mengurus dosa, sibuk menakar dosa orang lain. Tetapi lupa bahwa dirinya juga ndak luput dari dosa. Ada juga orang yang benar-benar ndak tahu cara mendekat pada Tuhannya. Kemudian terjerumus. Karena ndak semua orang terlahir di lingkungan religius atau agamis."


"Njeh, Mbahkung."


Setelah sampai di rumah, Arsyanendra meminta Zayan kembali menemaninya berjalan-jalan. Sambil mencari makanan untuk sarapan. Seseorang mengklakson dan melambaikan tangan dari atas motornya.


"Mbahkung, itu tadi kan orang yang tidur di masjid."


"Ya, Memang. Ingat, Le! Masjid itu rumah Allah. Siapa pun yang membutuhkan tempat istirahat, berhak mendapatkannya. Asalkan, jangan mengganggu orang yang sedang beribadah di dalamnya."


Pagi ini, hati Zayan begitu damai. Hidup bersama sang kakek di kota kecil seperti itu, membuatnya lebih betah dan nyaman. Tak jauh berbeda dengan yang dirasakan saat di pesantren. Ia menyesal tak terlalu sungguh-sungguh belajar di sana, setelah tahu alasan sang kakek dulu memintanya.


Setelah menyelesaikan sarapan dan membereskan rumah. Zayan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor di mana ia bekerja magang. Seperti biasa, ia menunggu bus di halte. Kali ini, ia mengenakan baju batik berlengan pendek di balik jaket andalannya.


Beberapa menit kemudian, bus kota yang ditunggu telah tiba. Suasana masih lengang di dalam bus. Hanya beberapa penumpang berseragam SMA dan ibu-ibu dengan keranjang belanjaannya.


Sebagian di antaranya ada yang sudah asyik mengobrol. Berdebat tentang kisah kelanjutan sinetron kesayangan yang mereka tonton semalam. Di sisi lain, beberapa orang sibuk dengan ponsel di tangannya. satu-dua penumpang juga naik dari halte yang dilewati bus tersebut.

__ADS_1


Bus yang Zayan tumpangi, sudah berhenti di sebuah halte di tengah-tengah pusat perkantoran dan pertokoan. Pria itu turun bersama dengan penumpang lain. Hawa-hawa kepadatan penduduk, mulai terasa di tengah kota kecil itu. Dengan terlihat banyaknya orang yang mulai berlalu-lalang.


Zayan berjalan masuk ke gedung tempatnya bekerja. Menyapa sekuriti yang berdiri di pintu masuk dengan senyum dan anggukan. Begitu pun saat bertemu dengan rekan kerja laki-lakinya.


Sesampainya di meja kerja, seperti rutinitas setiap hari, Zayan memeriksa meja dan sekitarnya. Ia membuang kertas-kertas tidak terpakai yang berserakan. Pak Zul melambaikan tangan saat mereka berpapasan.


"Baru datang, Mas?"


"Ya, Pak."


"Mau kopi?"


"Boleh, Pak."


"Tunggu, ya, Mas! Setelah saya selesaikan pekerjaan di lantai lain."


"Ya, Pak."


***


"Ini rumah kami, Nduk. Memang ndak besar, tetapi bisa buat kami berteduh dari panas dan hujan."


Mesha memandangi rumah kayu itu dengan seksama. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan tempat itu, saat ini yang terpenting, ia butuh tempat tinggal. Rasa enggan untuk pulang, mengikat egonya.


"Ya, Bu. Gak apa-apa, saya berterima kasih diperbolehkan tinggal di sini."


Perempuan paruh baya tadi mendekati sebuah lemari kayu tua, ia mengambil sesuatu dan mengulurkannya kepada Mesha.


"Ini memang baju bekas anakku, Nduk. Tapi cuma ini yang paling bagus yang kupunya di rumah ini. Oh, iya, siapa namamu, Nduk?"


"Terima kasih, Bu. Saya, Me-eh, Indira. Ibu bisa panggil saya Indi."


Setelah beberapa orang menemukannya di warung tadi. Sejak itu, Mesha bertekad untuk memulai sesuatu yang baru di tempat baru. Pemilik warung kosong tempatnya bersembunyi, mengajaknya pulang. Beruntung, perempuan itu tidak terlalu usil, banyak bertanya. Hal yang paling ia syukuri, perempuan itu mau menerimanya dengan suka rela.


Mesha mengganti baju kebaya dan segala aksesorisnya. Baju yang diberikan ibu tadi, pas ukurannya. Gaun terusan sederhana dengan panjang hingga bawah lutut. Pandangannya menangkap buliran bening yang membasahi mata sang pemilik rumah saat memandanginya. Kemudian, perempuan paruh baya itu, mengusap kedua matanya.


"Sebentar lagi Bapak pulang, Nduk. Suamiku itu kerja jadi pesuruh di kantor."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2