Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 68 : Jalan atau Berhenti?


__ADS_3

Mesha menurut,duduk di hadapan Grisa dengan tenang. Di sisi lain, mantan adik iparnya itu terlihat gusar.


"Mbak Sha kenal sama Mas Zay?"


"Dia teman masa kecilku, Gris."


"Ada hubungan apa antara Mbak Sha dan Mas Zay?"


Ditembak dengan pertanyaan seperti itu, Mesha terkejut. Ia sendiri bingung dengan hubungan apa yang dijalaninya dengan Zayan.


"Itu ... kami berteman, sejak kecil."


"Hanya itu?"


Mesha mengangguk.


"Baguslah!"


Grisa tersenyum lega, ia menggenggam tangan Mesha yang ada di atas meja.


"Selama ini, aku sibuk dengan pelajaran atau kuliahku, Mbak. Meski banyak laki-laki yang mengutarakan perasaannya, aku tidak peduli dan tetap fokus belajar. Tapi ... semenjak aku bertemu dengan Mas Zay, aku merasakan perasaan yang aneh menjalar di rongga dadaku. Seperti ada ribuan laron yang terbang dan sayap-sayap kecilnya menggelitik di sini." Grisa menunjuk dadanya sendiri, tersenyum malu.


Mendengar ucapan Grisa, Mesha merasa sangat canggung. Sesama perempuan, ia mengerti, bahwa gadis di hadapannya menaruh hati pada Zayan. Masih terdiam, ia menatap ekspresi wajah perempuan muda tersebut.


"Aku ingin menjalin sebuah hubungan yang istimewa dengan, Mas Zay, Mbak. Dukung aku, ya?"


Seperti ada sebuah pisau mengiris tipis jantungnya. Mesha menggigit bibir menahan pedih. Menunduk dalam. Bukan tanpa alasan. Ia sudah mulai membuka hati lagi untuk Zayan. Menerima segala perasaan yang ditunjukkan laki-laki itu. Namun kini, ia harus mendengar hal yang mengaduk-aduk hatinya. Kemudian ia berusaha tersenyum.


"Ya, Gris. Semoga apa yang kau inginkan terjadi. Semangat! Dan maaf, aku harus kembali bekerja."


"Ya, Mbak Sha, aku juga sudah menghabiskan makanan. Aku pamit."


Mesha berjalan cepat menjauhi Grisa tanpa menoleh lagi. Begitu pun gadis itu, ia keluar dari warung. makan. Senyum merekah dari bibirnya. Ia berharap, mantan kakak iparnya tahu apa yang diinginkannya. Menjauh dari laki-laki yang ia dambakan.


Menahan isak tangis, Mesha berjongkok di sudut warung makan. Tangannya membekap bibir. Tentu saja Sri mengetahuinya, tetapi ia tidak berani untuk mendekat. Mengawasi dari kejauhan.


"Oalah, Nduk ... kasian kamu. Kenapa harus seperti itu terus."


Setelah lelah menangis, Mesha kembali berdiri, meneruskan pekerjaannya.


Malam hari, Zayan baru saja pulang dari kantor. Memarkirkan motor dan duduk di teras melepas sepatu. Ia terkejut saat sosok seorang gadis keluar dari pintu rumah Mbahkungnya.

__ADS_1


"Grisa? Kok tahu rumah ini?"


"Aku tanya sama ibunya Mas Zay."


"Oh ... udah dari tadi?"


"Sehabis maghrib tadi. Kalo Mas Zay belum makan, aku tadi juga bawakan makanan, loh."


"Ya, terima kasih."


Zayan masuk ke dalam rumah, ia menangkap ekspresi ketidaksukaan Mbahkungnya. Saat ia mengalami laki-laki tersebut.


"Nanti kamu antarkan dia pulang, Le. Gak pantes cah wedok pulang terlalu larut."


"Ya, Mbahkung. Zay ganti baju, terus Isyaan dulu."


Setelah bersih-bersih dan menunaikan kewajiban. Zayan keluar, duduk di teras bersama Grisa.


"Ada keperluan apa ke sini, Gris? Kan kita bisa ketemu di kantor aja."


"Gak apa-apa, Mas. Aku cuma pengen main aja."


"Oh, kirain ada yang penting."


"Ada, dia gadis yang selama ini kucari-cari. Kalau dia mau datang, aku pasti sangat bahagia."


Zayan tersenyum, menatap lurus ke depan. Bayangan Mesha yang tersenyum, tertawa, menari-nari di pikirannya. Di sisi lain, Grisa menahan desir perasaan sakit yang menjalar di dada. Namun ia tidak mau menyerah, ia meyakinkan diri, ia bisa membuat laki-laki yang duduk di sampingnya, jatuh cinta.


Grisa meraih tangan, Zayan lembut.


"Kalau dia gak mau datang, biar aku aja yang datang, Mas."


Zayan terkejut, ia menarik tangannya dari genggaman Grisa. Ia tidak suka dengan hal tersebut tetapi juga tidak mau menyakiti hati orang lain.


"Aku antar kamu pulang, Gris. Takutnya kemalaman nanti." Zayan cepat-cepat berdiri.


Tidak ada pembicaraan di atas motor, saat Zayan mengantarkan Grisa pulang. Laki-laki berhati lembut itu malah merasa kurang nyaman. Perempuan yang duduk di boncengannya malah memupus jarak, melingkarkan tangan pada pinggangnya yang tertutup jaket trucker andalan.


Setelah memastikan Grisa masuk ke dalam rumah, Zayan pergi. Ia tidak mau berlama-lama di sekitar gadis itu. Rasanya, benar-benar kurang nyaman baginya. Entah karena ia merasa bahwa ia sangat jarang bergaul dengan teman perempuan, atau memang ia menjaga jarak.


Di kamarnya, Mesha merebahkan tubuhnya. Memandang langit-langit. Ucapan Grisa tadi siang, terngiang-ngiang di telinganya. Setelah berpikir, ia sepatutnya mengambil sikap. Dengan embusan napas keras-keras, akhirnya, ia memutuskan untuk mulai menjaga jarak lagi dengan Zayan.

__ADS_1


Bagi Mesha, setiap perempuan berhak bahagia, termasuk Grisa. Ia merasa dirinya sudah pernah merasakan mempunyai pendamping hidup, meski semuanya berakhir tragis, tetapi menurutnya, perasaan Grisa harus dijaga. Zayan cinta pertama mantan adik iparnya tersebut.


Mesha bangkit dari ranjang, duduk, lalu menarik laci meja kecil di samping tempat tidurnya. Mengeluarkan gelang manik-manik yang diberikan Zayan dulu, semasa kecil. Dengan senyuman getir, ia mengelus benda tersebut.


"Semoga ini menjadi yang terbaik untuk kita semua," ucap Mesha, lalu memasukkan kembali gelang itu ke dalam laci.


Malam makin larut, Zayan masih terjaga, duduk di kusen jendela. Secangkir kopi hitam, masih utuh di tangannya. Beberapa makhluk malam hilir-mudik mencoba menarik perhatian laki-laki itu, tetapi ia malah sibuk dengan pikirannya. Bahkan, kedatangan Nirwasita pun tidak ia ketahui.


"Apa terlalu berat yang kamu pikirkan, Le? Sampai-sampai, sapaanku ndak dijawab."


"Eh, Kakek Nirwasita. Maafkan aku."


Nirwasita tersenyum, ia duduk bersila. Melayang di udara. Di samping jendela. Ia terdiam, mengamati Zayan.


"Kakek, apa benar ada kutukan yang dibawa manusia dari lahir?" Pertanyaan Zayan memecah kesunyian yang tercipta sekejap, tadi.


"Kutukan? Seperti apa?"


"Ini ... tentang seorang gadis yang tidak bisa menikah, karena kutukan ...."


Nirwasita tertawa lembut


"Jadi, kamu sudah menemukannya."


"Kakek tahu?


"Kalau gadis kecil dulu yang memakai gelang yang sama denganmu. Tentu aku tahu."


Dengan antusias, Zayan mendengarkan perkataan laki-laki berwujud teduh tersebut.


"Kutukan itu ... anggaplah itu sebuah kutukan. Itu bisa terpatahkan oleh orang yang terpilih. Bukan aku yang memilih atau siapa pun. Itu semua karena pertalian takdir yang sudah dituliskan Illahi."


"Seandainya aku bisa, apa yang harus kulakukan, Kek?"


"Kelak kau akan tahu, jika kau berhadapan langsung. Apa pun yang akan terjadi. Kamu harus memasrahkan diri dengan segala imanmu. Bahwa di dunia ini, terjadi karena kehendak Yang Mahakuasa."


"Ya, Kek."


"Tapi, aku khawatir, hal tersebut akan mengancam nyawamu, Le, Zay. Jadi aku harap, kamu harus berhati-hati. Aku membuat gelang itu sepasang, bukan tanpa alasan. Ada sesuatu di sana."


"Apa itu, Kek?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2