Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 8 : Pembuktian.


__ADS_3

"Dia siapa, Mas Gi?"


"Oh, itu ... perempuan yang dikenalkan sama bapak dan ibu, Mesha namanya."


"Ternyata, calon kakak iparku, secantik itu."


Gadis itu tersenyum.


"Grisa, adikku ini, juga gak kalah cantik kok!" balas Giyan sambil mencubit pipi adiknya itu.


"Tadi kayaknya, aku liat wajah mbak Mesha, kesal gitu, Mas. Mas Gi harus jelasin ntar lho!"


Giyan mengangguk.


"Ngomong-ngomong, udah semua ini bukunya, Dek?"


"Iya, Mas. Di sini, cuma beberapa yang cocok sama jurusan yang aku ambil."


Grisa adalah adik kandung Giyan, yang sama cerdasnya. Grisa bisa masuk ke perguruan tinggi terbaik di kota J karena jalur undangan. Ia hanya tinggal menunggu dimulainya masa perkuliahan, tanpa harus repot-repot mendaftar.


Sementara, Mesha dan Zafia sudah duduk-duduk di bawah pohon di bahu jalan, menikmati es Dawet kesukaan mereka berdua.


"Kamu beneran gak cemburu, Sha?" Zafia bertanya lagi.


"Gak ... ngapain?"


"Tapi beneran deh, muka kamu menjelaskan lain."


"Masa sih?"


Kemudian Mesha memaksakan senyumnya,tetapi malah jadi terlihat konyol di mata Zafia. Beberapa saat kemudian, Zafia terbahak-bahak.


"Sha, aku harap, meskipun nanti kamu beneran jadi istri orang, dan tinggal di negara lain, kamu jangan lupain aku ya?" ucap Zafia ketika ia berhenti tertawa.


"Tentu saja, Fi. Aku gak bakal bisa melupakan sahabat sebaik kamu ...." Mesha tersenyum tulus pada Zafia.


*****


Malam harinya, kediaman Bagas begitu sunyi, Mesha berbaring di kamar sambil membaca novel kesukaannya, Lintang Kemukus Dini Hari, karya Ahmad Tohari. Meskipun novel itu dibaca berulang kali olehnya, ia tidak pernah merasa bosan. Perjuangan cinta Srintil dan Rasus, dua karakter utama dalam novel itu lah, yang memotivasi Mesha menjadi bersemangat untuk menemukan Zay.


Beberapa ketukan di pintu kamarnya, membuyarkan fokus Mesha mendalami karakter tokoh-tokoh dalam novel yang sedang dibacanya.


"Nduk, ini ibu. Ada tamu yang nyariin kamu, tuh di depan."


"Ah iya, Bu, sebentar ...."


Mesha beringsut bangun, meletakkan novelnya di rak buku.


Mesha membuka pintu, dan menyembulkan kepalanya, sementara Mayang, masih berdiri menunggui putrinya keluar dari kamar.

__ADS_1


"Siapa, Bu?"


"Kamu lihat aja gih, itu di ruang tamu."


Mesha merasa aneh, kenapa ibunya tidak langsung mengatakan saja, siapa tamu yang datang.


Mesha mengikat rambutnya sekenanya, dan berjalan menuju ke ruang tamu. Sedangkan ibunya, sudah pergi ke belakang membawa sebuah plastik kresek hitam.


"Mas Giyan?" ucap Mesha waktu melihat siapa tamu yang mencarinya. Laki-laki itu tersenyum.


"Apa aku ganggu waktumu, Dek?"


"Eh, gak ... gak kok, Mas," balas Mesha sambil duduk di depan laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian, Mayang muncul membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil.


"Wah, jadi ngerepoti, Bulek."


"Cuma kayak gini, ndak repot kok, Le. Monggo dilanjut ngobrolnya sambil dinikmati, ibu mau ke belakang lagi, masih banyak yang belum diberesi," ucap Mayang sambil tersenyum.


"Ada apa Mas Gi ke sini?"


Mesha mulai merasa sebal teringat kejadian tadi siang di toko buku.


"Eh, anu ... aku mau jelasin ...."


"Jelasin apa, Mas?"


Giyan terkesiap melihat gadis itu menggigit bibirnya. Ia tertarik sekaligus terkejut, berpikir bahwa gadis yang duduk di depannya ini sedang terbakar cemburu. "Mungkinkah?" tanyanya dalam hati.


"Itu, tadi pagi, aku cuma menemani, Grisa. Adikku, adik kandungku. Mencari beberapa buku untuk persiapan kuliahnya ...."


Mesha tercengang, ia tidak menyangka, Giyan benar-benar menjelaskan kejadian tadi siang. Tapi anehnya, Mesha merasa lega.


"Ah pasti seneng, kalo bisa kuliah di tempat yang diinginkan ...." gumam Mesha lirih.


"Maksudnya, Dek?"


"Gak, gak apa-apa kok, Mas. Tapi kenapa kemarin Grisa gak ikut, Mas?"


"Oh, kebetulan dia sedang tidak enak badan, jadi aku yang menyuruhnya istirahat. Meskipun tadinya ia bersikeras ikut."


"Oohh ...."


"Oh iya, Dek. Bapak dan ibu juga titip pesan, kami akan datang secara resmi melamarmu minggu depan."


Mesha tersentak, ia tidak menduga bahwa hari itu begitu cepat datang.


Sementara itu, di balik korden pembatas ruangan, Mayang mendengarkan obrolan putrinya dan tamunya itu. Meskipun ia menyadari itu tidak sopan, tapi rasa penasarannya tentang perkembangan hubungan kedua anak muda itu membuatnya kehilangan sopan santun.

__ADS_1


"Apa harus secepat itu, Mas?"


"Entah, aku hanya dititipi pesan seperti itu, Dek."


Giyan merasakan kekecewaan dalam perkataan Mesha. Tapi kali ini, dia tidak peduli, ia menjadi laki-laki egois. Hatinya sudah terpikat dengan Mesha, saat pertama kali mereka bertemu di rumah ini.


Giyan bahkan tidak menolak saat orang tuanya mempercepat proses lamaran. Karena memang jadwal keberangkatannya ke luar negeri, satu bulan lagi. Sementara ia juga harus mengurus paspor, visa dan perkuliahan Mesha kelak. Giyan tidak peduli, apapun akan ia lakukan untuk mempercepat terlaksana keinginannya, bersanding dengan gadis yang ia inginkan itu.


"Ya, Mas. Aku nanti sampaikan ke ibu dan bapak ...." ucap Mesha memecah kesunyian sesaat di antara mereka.


Mesha sudah pasrah, meskipun masih ada keinginan dalam dirinya untuk tetap menemukan Zay. Dia hanya berharap, ada sebuah keajaiban yang bisa menggagalkan pernikahannya. Meskipun itu tidak mungkin.


Sementara di luar rumah, sesosok laki-laki berbaju hitam, mengamati sepasang manusia yang sedang mengobrol di ruang tamu, dengan wajah geram. Tangannya terkepal menahan amarah. Tetapi ia tidak bisa apa-apa dan hanya melihatnya dari kejauhan.


*****


Setelah Giyan pulang, Mayang mencegat putrinya dari balik korden pembatas.


"Eh! Ibu bikin kaget aja!" ucap Mesha sambil memegang dadanya. Mayang tersenyum menganggapi Mesha.


"Ada apa le Giyan datang, Nduk?"


"Ah itu, katanya, minggu depan, keluarganya mau datang melamar Mesha secara resmi, Bu," ucap Mesha kemudian menunduk.


"Wah bagus, Nduk! Kalo begitu, mulai besok ibu bakal persiapkan semuanya!"


Mayang mengelus bahu putrinya dengan lembut, ia bahagia.


"Bu, Mesha pinjem telepon rumah, mau telepon Zafia."


"Ya ... ya ... Nduk, pakai saja!"


Mesha memang belum dibelikan ponsel oleh kedua orang tuanya. Bukannya tidak mampu. tapi menurut Mayang, Mesha belum terlalu membutuhkan benda itu.


Mesha menurut, meskipun ia menganggap ibunya itu kolot. Setidaknya, bagi Mesha itu sedikit menguntungkan, ia tidak perlu diganggu dengan telepon-telepon iseng teman laki-laki sekolahnya, seperti yang dialami Zafia.


"Ya ... napa, Sha?" ucap Zafia setelah saling berjawab salam dengan Mesha.


"Besok ke sekolah lagi gak, Fi?"


"Duh, maaf Sha ... maaf banget, aku kan mau daftar kuliah sama ibuku di kota Y besok."


"Ah, ya udah, gak apa-apa, Fi."


"Apa lusa gimana, Sha?"


"Gak usah, Fi. Beneran, gak apa-apa."


Setelah menutup telepon, Mesha berjalan gontai ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia mengangkat tangannya yang memakai gelang manik, dan jari tangan lainnya mengelus gelang itu.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan, Zay?" ucapnya seolah-olah ia sedang berbicara dengan seseorang.


Bersambung ....


__ADS_2