Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 44 : Perasaan Yang Tak Menentu


__ADS_3

Zayan berdiri sedikit lama dari hari-hari biasanya di halte bus. Langit di atasnya mulai terlihat gelap, tertutup mendung. Laki-laki itu terus mengecek pergerakan jarum jam di arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya. Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.


"Mas Zay?" panggil seorang gadis dari balik jendela mobil.


Zayan menyipitkan matanya, memfokuskan pandangan pada sosok itu. Ia mengenali wajah tersebut, tetapi ia lupa namanya.


"Eh, kamu?"


Laki-laki itu mengangguk sopan saat melihat pasangan paruh baya yang duduk di kursi depan.


Grisa turun dari mobil, berjalan mendekati Zayan.


"Ternyata Mas Zay magang di dekat sini? Baru mau berangkat?"


"Emmm ... ya, itu ...."


"Ikut sekalian saja sama aku, Mas. Siapa tahu kita searah."


"Memangnya gak apa-apa?"


"Iya, ikut aja, Le. Masih muat, kok." Perempuan berkebaya nan anggun yang duduk di sebelah kemudi, Maryam, mendukung tawaran putrinya pada Zayan.


"Mas Zay magang di kantor mana?"


"Bentala Swarga group."


"Oh, itu. Kita lewat sana kok, Mas. Ayo, sekalian aja!" Grisa memeluk lengan lalu menggandeng tangan Zayan tanpa ragu-ragu.


Dengan langkah kikuk, Zayan berjalan mendekati mobil berwarna silver tersebut. Tangannya terulur untuk membukakan pintu. Di saat bersamaan, Grisa melakukan hal yang sama. Tentu saja, tangan mereka berdua bersentuhan sekejap.


"Ma-maaf," ucap Zayan, cepat-cepat menarik tangannya.


"Gak apa-apa, Mas."


Zayan sudah duduk di bangku belakang bersama Grisa. Ia terdiam, canggung.


"Le, Cah bagus. Kamu sekampus sama Grisa, to? Apa kenal akrab?" Maryam mencoba mencairkan suasana.


"Itu ...."


"Gak terlalu akrab, Bu. Kan Mas Zay kakak tingkat Grisa. Beda jurusan, cuma satu fakultas aja. Ya, kan, Mas?" Grisa menyambar begitu saja, omongan sang ibu.


Zayan merasa tidak enak hati, ia baru tahu jika nama gadis yang menawarkan tumpangan tersebut, Grisa.


"I-iya, Bu. Seperti itu. Ngomong-ngomong, ini mau ke mana? Kok memakai baju ...."


Ingin rasanya Zayan menghantamkan kepalanya sendiri ke pintu mobil. Ia merasa konyol dengan bertanya seperti tadi. Padahal niatnya, hanya ingin mengakrabkan diri.


"Oh, ini. Kita mau ke acara pernikahan kerabat, Le." Wiryawan yang tadinya hanya diam, mulai ikut berbicara.


"Maaf, saya lancang."


"Ndak apa-apa, Le. Santai saja. Bentala Swarga, ya? Dulu, saya juga punya anak laki-laki yang bekerja di sana. Sudah sampai jadi wakil direktur. Tetapi sayangnya ...."

__ADS_1


"Kenapa, Pak?"


"Mas Gi sudah tiada, Mas," sahut Grisa.


"Oh, maaf."


"Ndak apa-apa."


Obrolan mulai mengalir akrab di antara keempat orang tersebut. Mulai dari obrolan santai sampai masalah politik yang sedang hangat. Wiryawan merasa ia seperti menemukan kembali anak laki-lakinya.


Tak lama kemudian, mobil sudah menepi dan berhenti.


"Semoga ndak terlambat, Le. Itu kantornya, kan?"


"Njih, Pak. Terima kasih sudah memberikan saya tumpangan."


"Kapan-kapan, main ke rumah, Le."


"Siap, Pak!"


Zayan melambaikan tangan saat mobil pabrikan eropa itu kembali melaju. Sementara itu, di mobil tadi, obrolan kembali berlanjut.


"Kamu tuh tadi ndak sopan lho, Nduk. Main kekep-kekep tangan anak laki-laki sembarangan."


"Maaf, Bu. Gris khilaf. Mas Zay itu bukan laki-laki sembarangan, Bu."


"Ibu ndak suka anak gadis ibu, sradak-sruduk seperti itu. Jangan diulangi!"


"Njih, Ibu Suri Agung."


Grisa cengar-cengir seperti tidak merasa bersalah.


"Tuh, Pak! Anak gadis kita kayaknya sudah ngesir sama laki-laki."


"Wajar to, Bu. Kan Grisa juga sudah mulai dewasa. Umurnya. Meski kelakuannya masih kayak anak-anak."


"Ah! Bapak sama Ibu gitu sama Grisa!"


Pipi Grisa terasa menghangat saat kedua orang tuanya menggoda dengan perihal tentang Zayan. Gadis itu memang menyimpan rasa untuk kakak tingkatnya tersebut.


Zayan sampai di meja kerjanya, sebelum teman-teman kerjanya datang. Ia menggulung kemeja lengan panjangnya, lalu memungut beberapa kertas yang berceceran di lantai.


"Ndak usah dibersihkan, Mas. Biar saya saja. Tadi malam sepertinya ada yang lembur, saya belum sempat bersihkan tadi pagi." Seorang laki-laki paruh baya berpakaian seragam Office Boy menghentikan aktivitasnya. Sapu dan alat pel ada di kedua tangannya.


Zayan tersenyum, lalu meneruskan kegiatan memungut sampah tadi.


"Gak apa-apa, kok, Pak. Saya sudah terbiasa beres-beres juga."


Laki-laki paruh baya tadi merasa salut dengan pemuda di hadapannya. Meski penampilannya rapi, tetapi ia tidak segan untuk memungut sampah yang berserakan. Ia pun bergegas mendekat dan membantu Zayan.


Secangkir kopi diantarkan oleh office boy tadi ke meja Zayan.


"Saya gak pesan kopi, Pak."

__ADS_1


"Ini saya buatkan untuk Masnya."


"Wah, terima kasih, Pak ...!" Zayan melirik pada nama yang dibordir di bagian dada, seragam yang dipakai orang tadi. "Pak Zulkifli," lanjutnya.


"Ya, Mas. Sama-sama, orang-orang sini panggil saya dengan sebutan 'Pak Zul'."


"Oh, begitu. Ya, Pak Zul, terima kasih sekali lagi kopinya." Zayan tersenyum sopan.


Rekan-rekan kerjanya baru saja berdatangan saat Zulkifli berlalu pergi. Zayan berdiri dan menyapa mereka seperti biasa.


Saat duduk, tanpa sengaja, siku Zayan menyenggol cangkir berisi kopi. Ia berdiri kembali dan buru-buru membereskan map-map yang basah terkena cairan hitam itu.


"Duh, ceroboh banget, aku!" gerutunya dengan suara pelan.


Perasaan Zayan merasa tidak enak. Setelah membereskan kekacauan kecil tadi, ia berjalan menuju toilet pria. Mengeluarkan benda pipih berwarna hitam mengkilap. Ia menekan sebuah nomor.


Setelah mengetahui keadaan sang kakek baik-baik saja, Zayan merasa lega. Ia mengelus dadanya sendiri.


"Sebenarnya, apa yang akan terjadi?" gumamnya.


***


Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba gelap tertutup awan mendung. Mayang dan Bagas khawatir jika turun hujan lebat. Rombongan pengantin laki-laki dan besan belum sampai. Tidak ada bedanya dengan Mesha. Ia terus menerus memandang ke arah luar jendela, sementara Zafia menenangkannya.


"Kenapa bisa begini, sih? Aku takut, Fia ...."


"Takut kenapa, Sha?"


"Mas Sakha dan rombongan belum datang. Sudah jam segini."


"Mau kutelepon lagi?"


"Kamu udah telepon tadi?"


"Udah, Sha. Tapi gak diangkat, nomor Bude juga. Yuyum juga."


Mesha memainkan jari-jemarinya yang lentik. Ia benar-benar merasa tersiksa dengan pikirannya yang mulai ke mana-mana. Rasa cemas dan khawatir, seperti menekan dadanya. Perempuan itu berkali-kali menghirup napas, seperti hampir kehabisan udara.


Tiba-tiba, terdengar suara Gending penyambutan tamu. Mesha mengelus dadanya, lega. Ia tersenyum.


"Mereka sudah datang, kan, Fia?"


Zafia berjalan ke luar kamar. Bertanya pada seseorang yang lewat di hadapannya. Kemudian masuk lagi.


"Ya, Sha. Sudah datang. Itu Penghulu juga sudah siap. Kan aku sudah bilang, tidak perlu khawatir."


"Helo! Helo!" Sebuah wajah manis, muncul dari arah pintu kamar Mesha.


Mesha dan Zafia, melongo secara bersamaan, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satu hal yang mereka kenali, kipas bulat yang ada di tangan gadis tersebut.


"Pada kenapa? Kayak lihat hantu aja!" Gadis berkebaya merah jambu itu berjalan, berlenggak-lenggok bak model.


"Yuyum?" seru Mesha dan Zafia bersamaan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2