
Demi kesehatan Mbahkung-nya, Zayan memutuskan untuk tinggal sementara di desa tersebut. Sedangkan bapak dan ibunya, sudah pulang terlebih dulu.
Zayan duduk memandangi laki-laki yang mulai renta itu. Ia raih tangan yang mulai mengeriput di hadapannya. Sejenak, teringat semua cerita-cerita heroik yang dikisahkan oleh sang kakek. Pemuda itu tersenyum.
"Lekas sehat, Mbahkung, Zay kangen sama kisah-kisah Mbahkung."
Zayan merasakan seseorang berdiri di sebelahnya. Hembusan angin kecil di tengkuk sebagai penanda. Seperti dugaanya, Nirwasita dengan tawa khasnya hadir di sana.
"Kakek Nirwasita, apa Kakek bisa menyembuhkan Mbahkung?"
Pertanyaan kekanak-kanakan dari Zayan, membuat laki-laki itu tersenyum lebar. Ia paham apa yang dirasakan laki-laki muda di hadapannya. Namun itu juga di luar kuasanya.
"Kau tahu, Le? Aku ndak sehebat yang kamu pikir. Sihir, memang aku bisa. Tetapi kesehatan dan kesembuhan, itu di luar kuasaku. Tuhanlah yang memegang kehidupan makhluk-makhluk-Nya. Aku pun hanya makhluk-Nya."
Zayan menunduk dalam-dalam. Banyak penyesalan yang ingin ia ucapkan di hadapan mbahkung-nya. Tentang kesibukan yang membuatnya jarang datang. Perihal kuliah yang mengalihkan segenap pikirannya. Juga tentang kegiatan pesantren yang menyita fokusnya.
***
Zayan memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia berkali-kali merapikan baju yang dikenakan. Kemeja biru berbahan katun dengan warna biru muda, membuatnya terlihat tampan dan berwibawa. Dipadukan dengan celana kain berwarna hitam. Jaket trucker yang melapisi kemejanya, makin membuat segar penampilan pria tersebut.
Setelah berpamitan dengan sang kakek yang sudah mulai pulih, pria itu pergi menuju halte bus terdekat. Sebelumnya, ia menitipkan kakeknya itu pada tetangga yang biasa datang ke rumah tersebut.
Dering ponsel terdengar saat Zayan berdiri di halte. Ia menarik keluar benda pipih tersebut dari kantong celana.
"Ya, Bu. Zay baru saja mau jalan," jawabnya pada pertanyaan perempuan di ujung satunya.
"Mbahkung, sudah sehat, kan?"
"Ya, sudah agak mendingan, Bu."
"Maafin ibu, Nak. Harusnya ibu yang di sana, jaga Mbahkung. Tapi bapakmu di sini juga ndak ada yang urus."
Setelah menenangkan hati ibunya, Zayan menutup telepon. Sebuah bus kota berhenti di hadapannya. Bus terlihat begitu lengang, hal yang ia sukai, ketenangan. Laki-laki itu memandang ke arah luar jendela. Kota kecil itu menyuguhkan pemandangan yang menyenangkan baginya. Tidak terlalu ramai, tetapi terlihat hidup.
Beberapa menit berlalu, Zayan sudah turun dari bus yang ditumpanginya. Setelah menyeberang, ia sampai di kantor tempat ia magang. Sebuah perkantoran dengan beberapa lantai. Ia menyalami resepsionis saat masuk dengan menganggukkan kepala. Seorang laki-laki sudah berdiri dengan senyuman, menyambutnya.
__ADS_1
Zayan mengikuti pria yang terlihat berwibawa itu dengan langkah mantap. Ia melihat beberapa deret kubikel yang ditata simpel tetapi berkesan elegan. Banyak orang yang sudah datang dan memulai pekerjaan mereka. Laki-laki dihadapannya menepuk tangan, meminta perhatian orang-orang di sana.
"Kali ini, saya membawa pegawai magang atas rekomendasi dari universitas ternama yang bekerja sama dengan perusahaan kita. Perkenalkan, pegawai magang baru kita, Zayan Farras!" Tepuk tangan formal menggema di ruangan tersebut. Zayan menganggukkan kepala dengan sopan dan tersenyum.
"Semoga Mas Zayan betah dan mendapatkan pengalaman terbaik di kantor ini. Saya mendengar tentang kecerdasan Anda di kampus, semoga saya bisa melihatnya di sini." Laki-laki itu menepuk bahu Zayan lalu pergi.
Zayan menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Ia melepaskan jaketnya yang sedari tadi ia pakai. Beberapa orang di sebelahnya mengangguk sopan saat ia melewati meja mereka.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan bertanya sama saya, Dek." Seorang laki-laki berumur empat puluhan, menawarkan diri.
"Ya, terima kasih, Pak."
Zayan mulai menyalakan perangkat komputer di meja kerjanya. Untuk pertama kali, ia merasa bingung harus berbuat apa.
"Mas Pegawai Magang, boleh ke sini sebentar?"
Seorang perempuan dengan blazer berwarna navy, melambaikan tangan padanya.
"Ya, Bu? Ada apa?"
"Ya, Bu. Segera saya kerjakan."
Sejenak, perempuan itu terdiam. Ia terkesima dengan penampilan dan wajah Zayan. Hingga map di tangannya masih dipegang erat.
"Bu? Ini ... mapnya ...."
"Oh, iya. Iya. Maaf!"
"Bagaimana, Bu Puspa? Apa kita bisa mulai meeting rutin kita?" Laki-laki tadi, yang mengantar Zayan masuk, datang untuk mengajak pergi perempuan yang membiarkan rambut sebahunya tergerai.
"Ah, iya, Pak. Mari!"
"Maaf, Bu Manajer. Nama saya, Zayan."
Kalimat Zayan menghentikan langkah perempuan tadi. Ia berbalik. Tersenyum kaku.
__ADS_1
"Oh, iya. Maaf, Mas."
Zayan merasa risih dan belum terbiasa dengan perlakuan atasannya di kantor ini. Namun, ia berusaha sabar dan bertahan.
Di sisi lain, kabar pegawai magang yang rupawan, sudah tersebar di antara para pegawai kantor tersebut. Banyak yang mencari alasan untuk datang ke divisi tempat Zayan bekerja magang. Hanya untuk membuktikan rumor yang beredar.
"Ternyata emang sedap di pandang!"
"Semoga cowok itu gak cuma magang di sini. Tapi jadi pegawai tetap, kan lumayan ada pemandangan indah."
Beberapa pegawai perempuan di kantor yang masih sendiri, jomlo, mulai bergosip dan berandai-andai tentang Zayan. Tak jarang pula, mata-mata penuh rasa iri dan cemburu memandangnya.
Tak terasa, jam dinding di ruangan itu, menujukkan pukul tiga sore. Zayan sudah menyelesaikan pekerjaannya beberapa menit tepat sebelum jam pulang kantor. Setelah menyerahkan beberapa map ke ruangan manajer, laki-laki itu mulai membereskan meja dan bersiap-siap pulang.
Beberapa gadis memandangi Zayan saat ia keluar dari kantor. Kemudian berjingkrak tanpa suara ketika laki-laki itu melewati mereka.
"Dia gak ganteng banget, sih. Tapi auranya, enak aja dipandang," komentar salah satu gadis tadi.
Pada awalnya, Zayan merasa risih dengan tingkah rekan-rekan kerja wanitanya yang mencari perhatian. Namun, lama-lama ia sudah terbiasa.
Beberapa hari berlalu, Arsyanendra sudah bisa berjalan, meski belum pulih seperti sedia kala. Setiap pagi, mereka berdua berjalan santai sambil mengobrol dan mencari sarapan. Setelah makanan habis, biasanya Zayan beres-beres rumah dan bersiap untuk kerja.
"Terus, ngaji kamu gimana, Le?"
"Untuk saat ini, Zay mau fokus sama Mbahkung. Zay juga mau menyelesaikan tugas kerja magang ini."
"Oh, ndak apa-apa, tetapi jangan sampai lupa ilmu-ilmu yang pernah kamu pelajari, ya?"
"Ya, Mbahkung."
"Maaf, Mbahkung jadi merepotkanmu, Le."
Zayan berjongkok di hadapan Arsyanendra yang sedang duduk di kursi goyangnya. Ia menggenggam kedua tangan yang mengeriput di makan usia itu. Senyum melengkung di bibirnya.
"Kenapa Mbahkung berkata seperti itu? Kan Zay sendiri yang mau menjaga dan merawat Mbahkung. Sudah, Mbahkung jangan berpikir macam-macam. Yang terpenting, cepet sehat, cepat pulih dan sehat terus sampai Mbahkung punya buyut."
__ADS_1
Bersambung ....