
Dhani terjaga dari tidurnya dengan hati riang pagi ini. Beberapa rencana sudah ia siapkan untuk mengisi hari ini. Tapi masih sedikit terselip keakhawatiran akan kondisi kesehatan Bram. Dhani meraih hpnya di meja dan mulai mengetik.
Dhani: * Hai Bram...
Bram : * Ya nona
Dhani: * Bagaimana kondisimu pagi ini
Bram : * Siap berpetualang...asalkan jangan kau suruh aku mengikutimu berputar-putar di mall lagi. Ampun Tuan putri. Emot menangis
Dhani: * Hahaha...sekarang aku tahu kelemahanmu. Syukurlah kalau kau benar- benar sudah pulih. Bersiaplah
Bram : * Siap nona
Dhani bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri. Dipilihnya Dress simpel warna peach. Mengoleskan pelembab wajah dan lip balm beraroma cherry.Ah nona muda kau memang tak perlu berdandan. Karena alam sudah memberimu tubuh dan wajah yang sempurna. Bahkan tanpa sentuhan make up sama sekali.
Di bawah tangga Bram sudah menunggunya. Bersandar di pegangan tangga. Wajah tampannya tampak cerah. Sudah tak terlihat sama sekali wajah pucat dan lemas kemarin.
Bram mengenakan kaus polo warna abu-abu yang terlihat pas di badannya. Menampakkan dada bidang dan perut ratanya. Dipadu dengan blue jeans dan sneaker.Benar- benar memanjakan mata Dhani. Hehehe...Tidak apa-apa kan mengagumi ciptaan Tuhan? Dhani menelan salivanya.
" Hai Bram, kau sudah sarapan? "
" Belum, kamu,?"
"Belum juga. Sarapan yuk" Dhani berjalan ke meja makan diikuti Bram.
Baron sudah berangkat ke kantor sejak pagi karena ada persiapan meeting penting pagi ini.
Bram dan Dani segera menyantap sarapan dengan tenang. Setelah selesai Dhani mengajak Bram segera keluar rumah.
Seperti biasa Bram membukakan pintu mobil untuk Dhani , lalu bergegas ke bangku kemudi.
" Bram, kau tahu tempat ini? Dhani menunjukkan lokasi gulali map yang ada di hp nya.
" Oke. siap 86!"
" Bram.." Dhani membuka pembicaraan ketika mobil sudah mulai berjalan membelah keramaian kota.
" Ya " Bram
__ADS_1
" Siapa kau sebenarnya..?" pertanyaan Dhani membuat Bram tércekat sesaat.
" Sopirmu, bodyguardmu" Bram tersenyum simpul.
" Heh..bukan itu. Keluargamu asalmu, kenapa papa begitu percaya padamu ? Kau juga kelihatan bukan dari kalangan biasa" Dhani mengingat-ingat kembali barang-barang branded milik Bram. Dari baju, jam tangan, dan hp serta laptopnya. Jelas bukan barang murah.
" Sebenarnya ayahku teman papamu. Beliau sudah lama mengenalku. Aku juga jago bela diri tuan putri, mungkin itulah yang membuat papamu percaya padaku." Bram.mengepalkan tangan kiri dan menunjukkan otot tangannya yang kekar. Sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi. Membuat Dhani tertawa.
" cih narsismu keluar lagi.Jadi apa kau mengenal calon suamiku? " Dia anak teman papa juga."
" Mungkin aku mengenalnya, apa kau tahu siapa nama jodohmu itu ? " Bram.melirik Dhani sekilas.
" Tidak. Papa bilang dia akan memberitahukan identitas calon suamiku jika aku sudah siap menikah atau paling tidak bertunangan dengan dia."
" Kalau begitu dari mana aku tahu calon suamimu nona?"
" Haha..kau benar Bram." Jadi kau pasti anak orang kaya juga kan? Kenapa kau mau jadi supir? Jangan-jangan kau juga suka padaku ha?" Dhani mengedipkan sebelah matanya pada Bram . Bram tergelak melihat wajah Dhani yang menggemaskan.
" Siapa yang tak akan suka padamu Dhani, kau cantik sekali. Aku bahkan langsung suka saat pertama melihatmu. "
" Jadi itu sebabnya kau mau jadi bodyguardku? Apa kau mau coba-coba menikung calon suamiku?"
Dhani terkekeh. " Jadi kau mengajakku selingkuh?"
" Tidak, kau kan belum berpacaran atau menikah, mana bisa disebut selingkuh?"
" Kau benar Bram. Apa kau mau berpacaran denganku? " Ucapan Dhani membuat Bram reflek menginjakn rem. Dhani sampai hampir terantuk dashboard mobil. Untunglah di belakang tak ada mobil lain. Kalau ada, mungkin sudah terjadi tabrakan.
" Tapi bohoong...hahaha..." Dhani terkekeh melihat ekspresi Bram yang nampak shock tadi.
" Kau...awas kau ya.!" Bram menarik pelan rambut Dhani yang tergerai. Gemas.
" Aww..!." Dhani memukul pelan tangan Bram yang menarik rambutnya.
Keduanya tertawa. Dhani gembira sekali. Sementara Bram.menyembunyikan senyum simpul disudut bibirnya. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nona?
" Kau kan tahu Bram aku tidak mau dan tak akan menyukai atau jatuh cinta pada orang lain. Karena aku sudah janji pada papa untuk menikah dengan orang pilihannya." Dhani tersenyum. Bram cuma mendesah pelan. Bahkan Dhani tidak mendengarnya.
Di sebuah taman di pinggiran kota, Bram menghentikan mobilnya di tempat yang rindang.
__ADS_1
Taman tampak sepi. Cuma tampak beberapa orang saja sedang duduk di kursi taman, atau berjalan-jalan. Tentu saja, ini hari kerja. Hanya orang-orang pengangguran seperti mereka saja yang ke taman di hari kerja..haha. Lain halnya jika hari libur atau weekend. Mencari tempat parkirpun akan susah disini.
Dhani berjalan tak tentu arah. Karena ia sudah lupa-lupa ingat dengan tempat ini. Seingatnya ketika dia ikut outbond di SD sekolahnya beberapa tahun yang lalu, di taman ini ada kolam ikan, rusa-rusa yang dibiarkan bebas berkeliaran dibalik pagar kayu.
" Kau pernah ke sini Bram?"
" Tidak. Kau?" Bram memasukkan tangan ke saku celananya. Mengikuti kemanapun Dhani pergi.
" Pernah sekali. Aku ingin memberi makan ikan dan rusa-rusa yang ada di sini. Tapi aku lupa jalannya..hehe.." menunjukkan gigi putihnya pada Bram.
Tiba- tiba Dhani melihat seorang penjual Kacang panjang dan sayuran yang sudah diikat dengan tali.
" Oh itu, pasti disini tempatnya. Ayo!" reflek Dhani menarik tangan Bram.
Bram membiarkan Dhani menggandeng tangannya dan mengikutinya. Tanganmu halus sekali nona. Batinnya. Bram membalas genggaman tangan Dhani.
Mereka membeli beberapa ikat sayuran dan sekantong makanan ikan.
Benar saja tak jauh dari tempat penjual sayuran itu Dhani bisa melihat rusa-rusa totol yang berkeliaran di dalam pagar yang luas. Beberapa orang tampak berdiri di depan pagar dan memberi makan rusa - rusa itu.
Dhani dan Bram mendekat ke pagar. Dan sekejap saja beberapa rusa mendekat ke arah mereka. Seakan tahu bahwa makanan lezat menunggu mereka. Dengan senyum merekah Dhani mengangsurkan sayuran yang dibawanya. Rusa-rusa itu berebut dan makan dengan lahapnya. Di sebelah Dhani, Bram juga ikut memberikan sayuran yang dibawanya. Sesekali tangannya mengelus kepala rusa-rusa itu. Tanpa sadar mereka begitu dekat, bahkan tangan Dhani sudah melingkar di lengan Bram. Senyum dan tawa ceria tak lepas dari bibir mereka.
Ketika sayuran yang mereka beli telah habis, Dhani menarik lengan Bram yang ada ditangannya ke arah kolam ikan yang tak jauh dari tempat rusa-rusa itu. Mereka berjalan tetap dengan posisi itu seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Tiba dipinggir kolam Dhani melepaskan tangannya dari lengan Bram. Mulai mengambil segenggam makanan ikan yang dibawanya dan menyebarkannya ke kolam. Dan tiba-tiba saja air kolam di sekitar mereka duduk beriak-riak. Puluhan ikan berwarna-warni berebut makanan yang disebarkan Dhani.
" Ahh cantik sekali" Dhani bergumam menyaksikan ikan-ikan di kolam itu.
" Memang cantik" Bram mengalihkan pandangannya ke wajah cantik di sebelahnya.
" Hah, apa katamu" Dhani melotot ke arah Bram. Tapi Bram pura- pura tidak mendengar. Dia ikut mengambil pakan ikan di tangan Dhani dan menyebarkannya ke kolam.
Dhani dan Bram masih di taman untuk beberapa lama setelah pakan ikan yang mereka beli habis.
Mereka berjalan-jalan mengelilingi taman itu. Melihat hamparan bunga warna-warni di sisi taman yang lain. Mencoba beberapa permainan yang disediakan di taman itu. Ayunan, jungkat-jungkit, bahkan berjalan di atas jembatan tali yang tergantung tinggi.
Dhani benar- benar menuruti semua keinginan hatinya yang selama ini dia rasa tak pernah bisa dinikmatinya.
Bram tidak pernah melarang ataupun membantah ajakan sang nona. Mengikuti dan mendampingi gadis cantik itu kemanapun dia mau. Nikmatilah kebebasanmu Tuan putri..
__ADS_1