Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Aku sangat mencintaimu


__ADS_3

"Bagaimana dengan temanmu Mas? Pantas saja kamu masuk daftar orang hilang. Tiket dan manifest penumpang kan atas namamu dan kamunya nggak ada di pesawat itu" Dhani masih mengelus-elus wajah Bram. Sesekali menciumnya penuh cinta. Membelai rambut Bram , memeluknya erat. Dilepas dan dipeluk lagi.


Bram tersenyum menatap Dhani. Belum pernah Dhani terlihat begitu posessif seperti sekarang. Memeluknya, menciuminya dan membelai wajahnya begitu rupa seakan tak ada hari esok.


"Syukurlah dia juga selamat sayang.Dave Cuma luka ringan saja, dia termasuk dalam 5 penumpang yang selamat. Benar-benar mukjizat Tuhan. Dan papa sudah menyelesaikan semua urusannnya sehingga masalah tukar-menukar tiket itu nggak akan kepublish apalagi sampai masuk kepolisian."


"Dimana Dave sekarang ?"


" Dia sudah tiba di kota M. Sayang ibunya tidak bisa bertahan. Tapi setidaknya Dave bisa mengabulkan keinginan ibunya untuk melihat anak-anaknya berkumpul untuk terakhir kalinya"


" Syukurlah semua berjalan baik. Aku sangat bersyukur Tuhan masih sayang padaku dan tidak membiarkanmu meninggalkanku" Dhani menatap Bram penuh cinta.


Bram meraih tangan Dhani yang masih belum bosan membelai-belai wajahnya. Menariknya lembut dan menciumnya penuh sayang.


"I love you.." bisik Dhani.


" Love you too sayang.. Segitu takutnya ya kehilangan masmu yang ganteng ini? "Bram menggoda Dhani.


" Ngga juga. Banyak yang lebih ganteng di luaran.." Dhani balik menggoda Bram.


" Trus ngapain coba sampai ngga mau makan ngga mau minum malah gak mau buka mata, hmm?" Bram berbisik dibelakang telinga Dhani.


" Tuh lihat undangan segitu banyak. Gimana coba ganti namanya kalau kamu ngga jadi nikah sama aku?" Dhani tertawa . Bram mencubit gemas pipi Dhani.


" Bisanya ngeles, tetep ngga mau ngaku kalau cinta mati sama masmu ini?"


Dhani tertawa. Matanya yang masih kelihatan bengkak itu menghilang saat dia tertawa.


Bram memeluk Dhani erat. " Maafin mas ya...mas gak akan bikin kamu nangis lagi."


" Mas apa bisa pernikahan kita dipercepat saja?"


" Nggak bisa sayang, ini saja EO nya ngeluh waktunya terlalu mepet. Apalagi keluarga kita maunya tetap mengikuti prosesi adat kita . Meskipun tema kita internasional, tapi tetap tidak menghilangkan prosesi yang lain seperti siraman, midodareni dan lain-lain yang sangat banyak itu. Apa kamu sudah nggak sabar?" Bram tersenyum simpul. Matanya nakal menatap Dhani.


Dhani yang sadar maksud Bram menutup mata Bram dengan tangannya.


" Apaan sih mas? Aku cuma pengen ini cepat selesai agar..."

__ADS_1


" Agar cepet bisa bobo bareng terus sama mas Bram yang ganteng...." Bram memotong ucapan Dhani sambil tertawa-tawa.


"Dasar mesum!" Dhani menggigit gemas bahu Bram.


Bukannya kesakitan digigit Dhani, Bram malah merasakan sensasi yang membuatnya merinding.


Dhani tidak sempat berpikir lagi ketika tiba-tiba bibir Bram telah menyentuh bibirnya. Menciumnya dengan penuh hasrat. Makin dalam dan panas, karena Dhani pun membalas ciuman itu dengan hasrat yang sama.


Bram dan Dhani masih hanyut dalam cumbuan panas mereka ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Baron tiba-tiba muncul di ambang pintu. Menyaksikan Bram dan Dhani yang sedang dalam posisi panas. Dhani duduk di pangkuan Bram sementara bibir mereka saling bertaut.


"Ehmm...!" Baron berdehem keras ketika kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu tak juga sadar akan kehadirannya.


"Papa..!" Bram dan Dhani melepas tautan mereka dan berseru bersamaan.


" Dhani, Bram kalian sungguh keterlaluan. Dipanggil bi Nah dari tadi ditunggu di meja makan nggak jawab, malah asik sendiri di kamar." Baron menatap Dhani dan Bram gusar.


" Kalian mau dinikahin hari ini juga?" Baron masih menatap tajam putri dan calon menantunya itu.


" Mau pa..!" Bram spontan menjawab. Membuat Baron dan Dhani melongo.


" Maaf pa..." wajah Bram sudah merah.


" Maaf pa..." Dhani juga menunduk.


" Sudahlah, Bram kamu belum makan sejak datang. Ayo makan dulu. Jangan sampai sakit. Dan papimu telpon ke papa katanya ponselmu tidak bisa dihubungi. Coba lihat dulu. Papa tunggu di meja makan" Baron pergi dari kamar masih dengan menggerutu.


Bram dan Dhani saling berpandangan dan tertawa. " Kamu sih mas."


" Kamu juga..suka kan?." Bram.mengecup bibir Dhani singkat sambil tersenyum.


" Ehh..!" Dhani lagi-lagi terkejut.


" Biarin...sudah kamu mandi dulu ya. Biar bi Nah siapin air hangatnya. Aku mau temenin papa makan . Aku juga lapar". Bi Nah menyiapkan air hangat untuk Dhani. Sementara Bram segera turun ke ruang makan.


Malam itu dihabiskan Bram Dhani dan Baron untuk membicarakan persiapan pernikahan yang sempat tertunda.

__ADS_1


Baron segera menghubungi pihak EO untuk melanjutkan kembali persiapan acara pernikahan yang sempat di tunda karena insiden pesawat itu.


Esok paginya Bram bersiap meninggalkan rumah Baron untuk pulang ke kota S. Dia juga harus mempersiapkan keluarganya untuk acara pernikahan mereka.


" Pa, Bram pamit dulu. Langsung pulang ke kota S. Mungkin tiga hari sebelum acara pemberkatan pernikahan Bram dan keluarga inti akan kembali untuk prosesi siraman."


" Baiklah Bram, hati-hati dijalan. Jaga diri baik-baik." Baron memeluk Bram.


" Baik pa." Bram mencium tangan Baron, Baron menepuk punggung Bram kemudian meninggalkan Bram untuk berpamitan pada Dhani.


" Sini peluk mas!" Bram menarik pinggang Dhani lalu memeluk erat tubuh gadis cantik itu. Menciumi puncak kepala gadis itu dengan penuh perasaan sambil membelai rambutnya penuh sayang.


" Mas hati-hati ya, hp jangan dimatiin! " Dhani memeluk pinggang Bram sambil menyandarkan kepalanya di dada Bram.


" Kalau di pesawat ya tetep dimatiin sayang.." Bram tak melepas Dhani.


" Iya tahu, kalau sampai langsung dihidupin, kasih kabar mas, pokoknya hp gak boleh dimatiin, ngerti mas? "


" Iya..iya nyonya Bramantyo..sendika dhawuh (menurut perkataan anda).." Bram tertawa mengecup kening Dhani gemas. Bram tahu calon istrinya itu masih trauma dengan kejadian yang baru mereka alami.


" Tuh kan malah ngece (mengejek)" Dhani cemberut.


Bram tertawa gemas melihat wajah Dhani " Enggak sayang...iya aku nggak akan matiin hp lagi. Kau puas?"


Mereka kembali berpelukan , lalu Dhani mengantar Bram sampi ke mobil yang akan membawa kekasihnya itu ke bandara. Mereka baru melepas pelukan ketika Bram hendak masuk ke mobil.


" Sayang, makan yang banyak ya. Jangan sampai kurus apalagi sakit nanti gaun pengantinnya melorot" Bram menggoda Dhani.


Dhani tertawa. " Inggih (iya) kangmas. Tapi jangan salahkan kalau nanti malah gaunnya gak muat gara-gara aku kebanyakan makan" Dhani menjulurkan lidahnya.


Bram tertawa. " Ngga papa kalau gaunnya gak muat, Nanti pake sarung aja. Gampang bukanya...hahaha.."


Dhani tertawa tertahan. " Dasar mesum" sambil mencubiti pinggang Bram.


" Aduh...duh...ayo pak cepat berangkat keburu luka parah pinggangku dicakar kucing Inggris.." Bram buru-buru masuk mobil dan menutup pintunya.


Dhani masih tersenyum menatap mobil Bram yang meninggalkan pelataran rumahnya.

__ADS_1


**********


Dengan bantuan EO yang yang terpercaya persiapan beberapa prosesi adat pernikahan Bram dan Dhani selesai dilaksanakan dengan lancar tanpa masalah.


__ADS_2