Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
# Ungkapan dan penolakan


__ADS_3

Dhani maju ke depan dengan percaya diri. Kemudian menyebutkan nama teman-temannya yang sudah berbaris didepan termasuk Silgy, Donal dan Bastian.


Satu per satu disebutkannya nama dan hobby teman-temannya sambil berdiri di depan yang namanya dia sebut. Beberapa mabar cowok mengambil kesempatan mencoba menarik perhatian Dhani ketika Dhani menyebut nama dan hobby mereka. Ada yang tersenyum, ada yang berdehem dan pura-pura batuk. Tapi Dhani cuma nenanggapinya dengan senyum.


"Ah kalian ini...?" Dhani bergumam kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Merasa lucu dengan kelakuan mereka.


Cepat dan tanpa kesalahan sedikitpun Dhani akhirnya selesai. Bagi Dhani ini tidak begitu sulit mengingat otaknya yang smart. Banyak teman-teman Dhani yang sudah menyukai Dhani sejak semula sekarang makin mengaguminya.


Gadis yang sempurna, wajah cantik, tubuh tinggi semampai, berotak cerdas tidak sombong dan percaya diri. Rasanya siapapun akan bangga bisa mengenalnya. Seperti tiga sahabatnya kini.


" Bagus Dhani...kamu berhasil menyebutkan nama dan hobby dua puluh lima temanmu dengan waktu paling cepat. Kamu akan mendapat reward nanti. Luki sang ketua memberi selamat pada Dhani.


" Yeaay...good job Dhani" Silgy berteriak disambut tepuk tangan dari teman-temannya satu jurusan.


"Sedangkan kamu Tristan yang menyebutkan paling lama dan sering salah mendapatkan hukuman bersama-sama teman satu jurusannya...membersihkan gedung aula utama , waktu kalian tiga puluh menit dari sekarang.." Luki menunjuk ruangan super besar disisi kiri lapangan tempat mereka berkumpul.


" Huuuuuu" sambut teman-teman satu jurusan Tristan. Yang disoraki cuma cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya.


Luki sang ketua panitia memanggil Dhani dan memberikan dua puluh lima voucher makan es krim di sebuah caffe shop dekat kampus.


" Kok cuma dua puluh lima kak?."tanya Dhani.


" Kamu minta berapa ? " Luki heran dengan pertanyaan Dhani.


" Tadi Tristan dihukum , teman satu jurusan semua dapat hukuman. Kalau aku di kasih reward harusnya kan teman satu jurusan dapat reward semua dong biar adil." jawab Dhani takut-takut.


" Heh kau mau bikin panitia bangkrut ya..inipun sudah bagus..Apa kau pikir dua puluh lima porsi es krim di cafe itu murah?"


Luki panjang lebar menceramahi Dhani.


" Iya kak, gitu aja marah, makasih.. " Dhani menyahut voucher di tangan Luki lalu membawanya pergi. Sementara Luki tersenyum. Matanya mengikuti arah Dhani pergi. Dia menatap Dhani penuh arti.


" Untung cantik. Berani-beraninya mabar memprotes ketua panitia ospek." gumam Luki dalam hati.

__ADS_1


"Oke teman-teman acara pertama kita hari ini selesai. kenapa kita mengadakan acara perkenalan seperti ini? Panitia berharap kalian punya networking yang luas. Itu akan memudahkan kalian, apapun profesi kalian kelak. Network yang luas akan memudahkan pemasaran produk maupun jasa yang akan kalian kembangkan. Jadi silakan dilanjutkan sendiri kembangkan terus networking kalian. Jangan berhenti pada dua puluh lima orang. Kalau perlu seluruh isi kampus ini kalian kenali.


"Sekarang waktunya istirahat. Silakan kembali berkumpul disini satu jam lagi. Jangan sampai terlambat. Siapkan juga laptop atau note book kalian masing-masing setelah istirahat nanti. Karena tugas kalian nanti menggunakan laptop atau note book. Terima kasih.Barisan bisa langsung bubar."


Luki mengakhiri sambutannya. Semua membubarkan diri .


Dhani sudah berpamitan pada tiga temannya agar tak menunggunya makan siang karena dia sudah ada janji dengan El. Sebenarnya bukan janji, mengingat cara El mengajak yang setengah memaksa. Tapi Dhani merasa tidak enak jika tidak memenuhi ajakan El.


Sampai di cafe D El sudah ada di sana. Dhani bergegas menghampiri meja tempat El berada.


" Hai kak.."


" Hai Dhan..."El berdiri dan menarik kursi untuk Dhani.


" Terima kasih kak" ucap Dhani sambil duduk.


" Kau mau pesan apa? " tanya El


"Oke. " El kemudian memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


" Emm..ada apa kakak mengajakku bertemu?." Dhani membuka percakapan sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Dhan, apa kau tidak merindukanku?" El menatap dalam wajah Dhani di depannya. Tangannya meraih tangan Dhani diatas meja dan menggenggamnya lembut.


Dhani merinding. Dia dapat melihat sinar mata kerinduan begitu dalam.di mata El. Apalagi genggaman tangannya yang lembut itu. Seakan mengalirkan rasa rindu El yang begitu besar ke relung hati Dhani.


Gadis itu merasa tak berdaya. Semua kenangan mereka berkelebatan di kepalanya. Bagaimanapun dia pernah memiliki perasaan lebih pada lelaki tampan di hadapannya itu. Dia pernah begitu merindukan mata elang hitam itu. MenggenggĂ m tangan kekar itu bahkan bersandar dibahu dan dada bidang lelaki itu.


" Mmmm...maaf kak" Dhani menarik tangannya dari genggaman El. Tiba-tiba saja bayangan Bram melintas di mata Dhani. "Kau mudah tergoda, sayang" . Kata-kata Bram terngiang di telinganya.


El tersenyum. Dia merasa Dhani masih mengingat kisah mereka. Dhani belum benar-benar melupakannya.


Saat itulah pesanan mereka datang. Dhani membuang nafas lega. Merasa terselamatkan dari sesuatu yang menjebaknya. Masa lalu.

__ADS_1


" Kita makan dulu ya.." lembut El menatap Dhani.


" Iya kak" Dhani mengangguk.


Mereka berdua kemudian makan dalam diam. Tanpa sepatah kata pun. Pikiran mereka terbang entah kemana. Masing-masing sibuk berdebat dengan diri mereka sendiri.


Apalagi Dhani yang sudah merasa sesak sejak tadi. Duduknya tak tenang sama sekali. Dia tak berani mengangkat wajah karena takut bertemu pandang dengan El.


Sementara El berkali-kali.mencuri pandang pada gadis cantik di depannya itu. Rasa cintanya semakin besar pada gadis kecilnya itu.


" Kau banyak berubah Dhan" Bisik hati El. "Lebih dewasa dan percaya diri. Dan kecantikanmu makin sempurna". Hatinya semakin terikat pada sosok didepannya itu. Harapannya makin kuat untuk memiliki sang pujaan hati , bidadarinya.


Makanan mereka telah habis. Dhani hendak berdiri tapi El menahan tangan Dhani.


" Jangan pergi dulu. Masih ada waktu setengah jam lagi. Hei kenapa kau selalu mau lari saja dariku sayang? " El tersenyum.


" Kak..bukan begitu.." Dhani tercekat.


"Aku ingin kita bersama lagi. Aku tahu kau masih merindukanku" El mendekatkan kursinya ke Dhani.


" Maaf kak. Aku kan sudah pernah bilang ke kakak kalau itu tak mungkin lagi. Papa sudah menjodohkanku kak" Dhani akhirnya mengatakan itu dengan berat hati. Dia tak mau semua makin runyam. Belum lagi ada Bram sekarang. Benar-benar complicated heart.


" Kita bisa perjuangkan bersama Dhan. Mungkin papamu akan mempertimbangkan perasaan putrinya."


"Itulah masalahnya kak, hatiku sekarang bukan milikmu lagi. Itu sudah berlalu dan berubah, perasaanku padamu sudah hilang entah kemana." Tentu saja itu dikatakan Dhani dalam hatinya saja.


" Tidak kak. Papa sudah menentukan waktunya. Dan itu tak bisa diganggu gugat karena berhubungan dengan keluarga besar papa. Tolong bantu aku kak, tinggalkan dan lupakan aku. Kumohon ini terakhir kali kakak membicarakan hal ini. Maaf kak, papa adalah segalanya bagiku, aku tidak akan melawan papa untuk siapapun ."


Dhani berdiri dan meninggalkan El sendiri. Air matanya hampir menetes tapi ditahannya sekuat tenaga. Hatinya merasa sakit karena melukai perasaan El. Aku sungguh kejam, keluhnya dalam hati. Maaf kak El.


Di cafe, El nanar menatap punggung Dhani yang pelahan menghilang dari hadapannya. Hatinya remuk redam . Tulang-tulangnya serasa lolos dari tubuhnya. Hingga beberapa saat El masih terduduk kelu disana. Tak mampu bangkit berdiri. Penantiannya sia-sia, gadis itu bukan lagi miliknya, bahkan mungkin tak akan pernah jadi miliknya.


.

__ADS_1


__ADS_2