Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Di Kotamu


__ADS_3

Sudah hampir seminggu ini Dhani dibuat kesal dan galau. Bram tak pernah menghubunginya. Tidak mengirimkan pesan ataupun membuat panggilan seperti biasanya. Bahkan Bram mengabaikan panggilan dari Dhani dan tak membalas sama sekali semua pesan-pesannya.


" Ada apa denganmu Bram?" bisik hati Dhani. Hendak bertanya pada papanya, Dhani merasa tidak enak hati. Ada apa menanyakan Bram? Apa hubungannya dengan Bram? Pasti itu nanti yang ada di benak papa. " Ah tidak, tidak boleh..!" putus Dhani.


Dhani tersadar dari perdebatan hatinya sendiri ketika pintu kamar diketuk.


" Sayang, boleh papa masuk? " suara berat Baron dari luar kamar.


" Masuk aja pa...nggak dikunci kok.." Dhani menjawab dan segera turun dari ranjang menyambut papanya. Keduanya kemudian duduk di sofa panjang yang ada di kamar Dhani.


" Bersiaplah . Besok sore sepulang kuliah kamu ikut papa. Kita akan ke kota S selama dua atau tiga hari."


" Mendadak sekali pa, ada apa? Tanya Dhani heran.


" Bukan mendadak sayang.., papa yang lupa memberitahumu. Sepupumu menikah dan sesuai tradisi semua kerabat harus hadir . Sebenarnya undangannya sudah sekitar sebulan lalu. Tapi papa lupa memberitahumu."


" Apa Dhani harus ikut pa?"


" Harus sayang, sebagai putri papa dan kerabat dekat mempelai kamu bahkan mendapat tugas sebagai pager ayu ( pengiring pengantin ) bersama para gadis dan jejaka lain yang juga kerabat mempelai."


" Ah..papa..mendadak sekali. Dhani kan tidak ada libur meskipun weekend . Dhani ikut program fast track."


" Tolong papa Dhani, ini harus. Ini mandat dari sinuwun ( Raja) Papa tidak bisa menolaknya. Tidak apalah izin tiga hari." mohon Baron.


" Baiklah pa, nanti Dhani pamit ke dosen pembimbing dan teman-teman Dhani."


" Terima kasih sayang. Kau boleh mulai bersiap-siap." Baron mencium kening putrinya sayang dan beranjak meninggalkan kamar Dhani.

__ADS_1


Dhani bergegas menghubungi El dan menyampaikan izin untuk tiga hari ke depan.


" Tenang saja Dhan, kamu tetap bisa ikut kelas dengan sistem daring. Siapkan saja perangkatmu. Aku akan mengirimkannya untukmu." jawab El.


" Benarkah kak? Apa tidak merepotkan ? " Dhani merasa tidak enak hati.


" Apa sih yang nggak buat kamu, sayang? " bisik El lembut.


" Terima kasih kak" Dhani segera menutup telponnya. Tak ingin melanjutkan dan memikirkan apa yang dikatakan atau dipikirkan El. Yang penting baginya masalahnya beres. Dia tetap bisa ikut papanya dan tidak ketinggalan kuliahnya. Masalah perasaan El, biarlah nanti kupikirkan lagi cara mengatasinya Batin Dhani.


Esoknya Dhani dan Baron berangkat sesuai rencana ke kota S. Sopir dan beberapa pengawal mengikuti mereka namun secara sembunyi-sembunyi di mobil berbeda. Jadi tidak ada yang menduga bahwa dua orang itu dikawal ketat. Mereka menuju bandara.


Setelah sekitar satu jam perjalanan dengan pesawat sampailah mereka di Kota S. Di Bandara, sudah ada mobil yang menjemput mereka.


Kota S.


" Emh..papa..Bukankah Bram tinggal dikota ini?" Ragu-ragu Dhani bertanya pada papanya.


" Iya, apa kau ingin menemuinya?" Tanya Baron sambil tersenyum samar. Entah apa yang dipikirkannya.


" Apa.boleh pa? Emh..maksud Dhani apa papa mengijinkan Dhani menemui Bram?" Dhani bertanya tanpa melihat papanya. Wajahnya menunduk.


Baron terkekeh." Kenapa mukamu ditekuk begitu. Tentu saja kau boleh menemuinya, bukankah kalian berteman baik?" Baron menatap wajah Dhani intens . Seakan mencari jawaban atas hubungan Dhani dengan Bram.


Dhani terkesiap. Seakan papanya itu tahu bahwa selama ini hubungannya dengan Bram lebih dari sekedar teman baik. Dhani segera membuang pandangannya ke luar jendela.


" Ee..iya pa. Dimana rumahnya?"

__ADS_1


" Hei kau mau ke rumahnya?"


" Tentu saja tidak papa...ish...aku kan cuma tanya dimana rumahnya. Bukan berarti aku akan mencarinya ke rumahnya.." Dhani merengut kesal. Membuat Baron terkekeh geli merasa berhasil mengerjai Dhani.


" Ya sudah, kalau tidak ke rumahnya, untuk apa tahu rumahnya.." Baron tersenyum kecil. Dhani yang kehabisan kata-kata akhirnya merengutkan bibirnya kesal.


Ahh Bram,.apa yang ku lakukan sekarang, kemana? Kenapa menghilang? Pikiran Dhani kusut memikirkan Bram yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Berbagai dugaan dan bayangan berkelebat di benak Dhani.


Mungkin Bram sudah bosan padanya. Hubungan apa ini? Hubungan tanpa status yang jelas. Hubungan aneh yang tak punya masa depan. Tentu saja Bram adalah pihak yang dirugikan disini. Apa Bram sudah menyerah? Apa dia sudah menemukan seseorang yang bisa mengisi hatinya?


Memikirkan itu membuat mata Dhani panas. Tiba-tiba saja air matanya seakan-akan berlomba memaksa menerobos keluar dari sudut-sudut matanya. Hatinya pedih, dadanya merasa sesak. Apakah aku sudah ditinggalkan Bram.?


Dhani mendesah mengingat semua tentang Bram. Pria yang diam-diam telah mencuri hatinya. Hingga tak bisa berpaling lagi pada lainnya. Padahal mereka bahkan tak bisa bersama-sama tapi Dhani merasa terikat pada pria itu. Wajah tampannya, senyum manisnya, sikap sabarnya menghadapi dan menuruti semua maunya tanpa syarat, sikapnya yang romantis dan penuh kejutan manis...ahh..matanya panas lagi...


Dhani buru-buru memalingkan wajah ke samping, jangan sampai papanya melihatnya menangis. Apa ini? Baru memikirkan ditinggalkan Bram saja hatinya sudah begitu sakit. Apalagi jika Bram benar-benar melupakannya. Bram...dimana kau saat ini?


Dhani mengusap air matanya dengan bantal hadiah dari Bram yang dibawanya. Dihembuskannya berat nafasnya, menahan sekuat hati agar air mata tak turun lagi ke pipinya. Dhani mengambil air mineral di sandaran kursi mobil. Meneguknya pelahan untuk menenangkan perasaannya yang gundah.


Di sebelah Dhani Baron tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Dhani yang tak lepas dari matanya sejak tadi. Tapi Baron pura-pura tak tahu keresahan bahkan air mata Dhani. Pria paruh baya itu membiarkan Dhani dengan segala dilema hatinya. Dia tak hendak bertanya atau mencari tahu. Senyumnya tak lepas dari wajahnya yang masih terlihat tampan diusianya.


Mobil mereka memasuki wilayah keraton(istana) S yang tampak meriah. Tentu saja karena ada acara pernikahan kerabat istana. Wilayah khusus itu dikelilingi tembok tinggi berwarna putih. Gerbangnya tinggi didominasi warna hijau. Dijaga beberapa orang berseragam beskap dan kain lurik lengkap dengan blangkon dan keris dipinggang mereka.


" Kita sampai Dhan, ayo turun" Baron turun setelah sopir membuka pintu mobilnya disusul Dhani disisi mobil yang lain.


Keduanya segera disambut penjaga pintu gerbang yang mengangguk takzim pada dua orang junjungan mereka.


" Monggo ndherekaken Den Mas , Den ayu ( Silakan ikut Tuan, Tuan Putri)" sapa seorang penjaga sambil membungkuk hormat, kemudian berjalan mendahului Baron dan Dhani untuk menunjukkan ruangan mereka beristirahat. Tas, koper dan bawaan mereka sudah dibawa oleh penjaga yamg lain.

__ADS_1


Baron mengangguk dan mengikuti penjaga itu dengn santai. Sementara Dhani tampak canggung. Mengekor saja dibelakang Baron.


__ADS_2