
Sejak.mengetahui kisah Baron dan Stella, Dhani jadi makin menyayangi dan menghormati papanya. Baginya Baron adalah pria keren yang dengan gagah dan berani mempertahankan cintanya. Buka hanya itu Baron juga pria hebat yang menjadikan kesedihan dan luka sebagai cambuk sehingga akhirnya berhasil seperti sekarang.
Dua tahun lebih berlalu. Dhani sudah menyelesaikan S1 nya dengan sempurna. Sekarang dia sedang mengambil S2 nya. Dengan jam kuliah yang lebih fleksibel Dhani sudah bisa mulai membantu papanya mengurus bisnis mereka.
Baron mulai mengenalkan Dhani pada bisnisnya. Beberapa kali Dhani ikut dalam meeting di perusahaan dengan para staff . Sesekali ikut dalam meeting dengan klien dan partner dari perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaan Baron.
" Dhan, hari ini papa akan bertemu dengan dirut PT V, tolong kamu handle pertemuan dengan PT. L ya...yakinkan agar mereka mau bekerja sama dengan kita."
" Tapi pa, apa papa yakin Dhani bisa? "
" Ini proyek pertamamu. Papa yakin kamu bisa. Kamu boleh membawa asisten Lim bersamamu untuk membantu. Papa akan membawa sekretaris Vina saja."
" Baiklah pa, Dhani akan datang"
Pertemuan diadakan di sebuah restauran mewah atas permintaan pihak PT. L . Dhani sudah tiba sepuluh menit sebelum waktu yang disetujui. Dia tidak ingin terlambat dan memberi kesan buruk. Dhani juga sudah mempersiapkan materi meeting dengan baik dibantu asisten Lim.
Pintu ruang VVIP restauran diketuk.
" Silakan masuk" seru Dhani sambil berdiri.
Dhani melihat ke arah pintu yang terbuka. Dan matanya terpana melihat siapa yang berdiri di sana.
" Dhani!"
"Kak Luki!"
Dhani dan Luki saling menyebut nama bersamaan.
" Ahh dunia ini sempit sekali. Jadi kamu wakil presdir PT. B yang terkenal itu Dhan?" sapa Luki senang sambil menjabat tangan Dhani.
" Haha..kak Luki terlalu memuji. Aku juga bukan wakil presdir kak. Aku cuma mewakili papa saja karena papa ada hal lain yang urgent." Dhani menggenggam erat tangan Luki. "Ini Pak Lim asistenku" Dhani mengenalkan Pak Lim pada Luki.
"Silakan duduk kak.., aku belum memesan apa-apa. Sengaja menunggu kakak..maksudku tadi sengaja menunggu Dirut PT. L." Dhani tersenyum .
Luki juga tersenyum. Matanya tak henti menatap wajah Dhani. Sejak lulus dari Kampus T Luki tidak pernah lagi bertemu dengaN Dhani. Luki sibuk mengurus perusahaan ayahnya yang kesehatannya menurun sehingga melimpahkan bisnisnya untuk ditangani Luki.
Luki yang pernah memendam perasaan pada Dhani merasa takdir mempertemukan mereka disini. Perasaan yang sempat memudar terasa bersemi kembali. Dan dia akan memperjuangkan perasaannya itu sejak saat ini.
__ADS_1
"Kamu tambah cantik Dhan.." Luki tanpa sungkan memuji Dhani. Membuat Dhani kikuk karena juga ada Lim dan asisten Luki di ruangan itu.
Dhani berusaha tetap profesional dan segera menguasai dirinya.
" Kak Luki juga kelihatan hebat" puji Dhani jujur melihat Luki yang memang semakin gagah dalam penampilan formal. Wajahnya yang memang tampan semakin dewasa dan sikapnya pun semakin elegan. Dhani tersenyum teringat Silgy sahabatnya yang begitu tergila-gila pada Luki.
"Ayo kita pesan makanan dulu Dhan..nggak usah terlalu formal. Kita kan teman." Luki mencoba mencairkan suasana karena Dhani tampak canggung.
" Iya kak..terima kasih" jawab Dhani
Mereka memesan makanan lalu mengobrol santai sambil menunggu pesanan datang.
" Oh jadi kamu juga sudah lulus S1 Dhan..hebat kamu. Aku dulu sempat ingin ikut kelas akselerasi juga Dhan, tapi kegiatan organisasiku ternyata sangat merepotkan..haha.." Luki mengenang kegiatannya yang padat di kampus.
" Uhh..tentu saja..siapa yang tak kenal dengan kak Luki. Ketua BEM , ketua mapala pula. Belum lagi kegiatan lainnya. Rasanya Kak Luki orang terpopuler di kampus deh.."
" Kau jangan meledekku Dhan, gara-gara itu nilaiku semua serba pas-pasan..haha..lain denganmu yang fokus belajar. Bahkan kau lulus hanya memerlukan waktu dua tahun lebih."
" Memang semua ada konsekwensinya kak. Kak Luki hebat dalam bidang organisasi itu juga nilai lebih meskipun dalam bidang akademis jadi kurang maksimal."
" Nona hebat sekali, kita tak perlu bersusah payah meyakinkan klien..haaha.." Lim tersenyum puas berhasil mendapatkan tanda tangan kontrak PT. L dengan mudah , nyaris tanpa usaha yang berat.
" Bukan aku yang hebat pak Lim, kebetulan saja Dirutnya ternyata temanku. Lagi pula perusahaan kita memang bonafide dan kredible. Tidak terllalu sulit meyakinkan klien karena kinerja kita sudah lama terbukti." Dhani merendah merasa tidak melakukan apa-apa yang hebat.
Asistem Lim tersenyum. Nona mudanya ini sudah tampak mewarisi sifat papanya. Penuh percaya diri tapi tetap rendah hati. Jiwa bisnisnya juga hebat, dengan mudah meyakinkan orang untuk bekerja sama.
Ponsel Dhani bergetar saat perjalanan pulang ke kantor Baron.
" Bagaimana meetingmu dengan PT.L sayang? " suara Baron diseberang.
" Menurut papa..? " Dhani menggoda papanya.
" Ah...kau pasti berhasil sayang. Lagipula siapa yang akan menolak pesona gadis cantikku ini saat presentasi?" Baron juga menggoda Dhani.
Ayah dan anak itu tertawa bersama.
" Tahu tidak pa, dirut PT L itu ternyata teman kampus Dhani, kakak kelas Dhani dulu..." ucap Dhani bersemangat.
__ADS_1
" Wah asyik dong...kalau begitu kamu saja yang urus proyek dengan PT L itu sayang. Pasti lebih mudah karena kamu sudah mengenal klien kita."
" Ashiyaaap papa...!" Seru Dhani.
Baron tertawa dan menutup panggilannya.
" Honey, lihatlah putri kita. Dia begitu bersemangat sepertimu. Rasanya aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi Stella." gumam Baron sambil membelai gambar Stella di layar laptopnya.
Sejak hari itu Dhani disibukkan dengan proyek kerja sama dengan PT. L. Untunglah perkuliahan S2 sudah tidak sepadat saat mengambil S1 jadi Dhani bisa lebih fokus pada proyek pertamanya.
" Bagaimana Dhan, kapan kau ada waktu meninjau lokasi proyek kita?" siang itu Luki menelpon Dhani.
" Bagaimana kalau besok kak, aku kosong besok" jawab Dhani.
" Oke, besok aku jemput jam delapan di kantormu, bagaimana?"
" Apa nggak merepotkan kak, aku bisa langsung ke lokasi saja, tidak perlu kakak jemput" Dhani merasa sungkan.
" Kantor kita kan searah, sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Waktu berdiskusi akan lebih banyak jika kita berangkat bersama...oke?" Luki meyakinkan Dhani.
" Oke kak...oya pak Lim asistenku tetap ikut denganku..bagaimana kak?"
" Tentu saja, sekretarisku juga ikut."
" Baik kak sampai ketemu besok, bye" Dhani menutup panggilan lalu meminta asisten Lim mempersiapkan berkas yang diperlukan untuk meninjau proyek besok.
Di kantor PT. L ,Luki bersorak dan memekik bahagia.
" Yess!!" dengan keras sehingga mengejutkan Revi sang sekretaris yang saat itu ada di ruangannya.
" Bapak bahagia banget, mau ketemu pacar ya pak? " tanya Revi yang memang akrab dengan Luki.
" Belum Rev, masih calon.." Luki tertawa. "Doain ya..? " ujar Luki sambil menatap layar laptopnya. Disana terpampang foto- foto Dhani yang diam-diam diambilnya saat Dhani ospek dulu.
" Semangat pak Luki!" Revi mengangkat dan mengepalkan tangannya memberi semangat pada Luki.
" Tunggu aku sayang..aku akan membuatmu jadi wanita yang paling bahagia didunia ini" gumam Luki dalam hati.
__ADS_1