Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Malam beratap langit berbintang


__ADS_3

"Kenapa tidak mengabariku kalau datang, sayang..?" Bisik Dhani dekat di telinga Bram. Lelakinya itu tak membiarkan Dhani turun dari pangkuannya.


" Kalau kuberi tahu, namanya bukan kejutan tuan putri.." gumam Bram kesal. Masih ada sedikit nada gusar disana. Lengannya memeluk pinggang Dhani posesif. Sementara wajahnya bersandar di bahu Dhani.


" Dan aku benar-benar terkejut. Bahkan shock melihatmu sayang.." Dhani dan Bram tergelak.


Mengingat kembali momen lamaran mereka yang benar-benar out of the box. Baik Dhani maupun Bram tak pernah membayangkan momen lamaran mereka akan jadi momen langka yang mungkin tak satu pasangan pun di dunia ini akan membayangkannya apalagi berniat meniru konsepnya...haha...


" Aku tak mungkin akan melupakan caramu melamarku sayang..." bisik Dhani, masih setengah tertawa. Setengah menggoda Bram yang saat melamar tengah didera cemburu setengah mati.


" Sudah puas mengejekku nona?" Bram mengangkat wajahnya dari pundak Dhani.


" Hahaha..." Dhani makin keras tertawa melihat wajah Bram yang merona seperti gadis yang baru dicium pacarnya..haha...


" Baiklah karena kau terus saja mengejekku, maka aku akan memberimu hukuman tambahan.." Bram menyeringai, bibirnya sudah bersiap menuju sasarannya , apa lagi kalau bukan wajah dan bibir Dhani...ketika tiba-tiba saja terdengar suara aneh yang mengganggu.


Kruuuuuk....kruuuuk.....


Kedua manusia yang sedang dimabuk asmara itu sontak tertawa bersamaaan. Rupanya drama lamaran yang dilanjutkan intrerogasi dan hukuman tadi membuat mereka melupakan acara intinya...tentu saja dinner...makan malam yang terlupa hingga perut mereka kini meronta-ronta.


Bram merogoh ponsel dari saku celananya. Mengetikkan sesuatu disana.


" Jadi ini kau siapkan untuk melamarku sayang?" Dhani mengedarkan pandangan ke area rooftop yang tampak indah malam ini.


" Hmm..." Bram tak mengalihkan pandangannya dari wajah Dhani. Wajah cantik yang sanggup membuatnya menggila beberapa saat lalu.


Saat itulah beberapa orang pelayan tampak memasuki area rooftop itu. Dengan cepat mereka menyalakan lilin di meja lalu beberapa yang lain menyiapkan menu makan malam yang memenuhi meja itu.


Dhani meronta hendak turun dari pangkuan Bram. Gadis itu merasa malu pada para pelayan itu. Tapi Bram tak membiarkan Dhani beranjak , bahkan makin erat memeluk pinggang gadis itu.


" Bram...malu tau.." bisik Dhani


"Nggak!" Bram tampak cuek


" Dilihatin orang sayaang..." Dhani membujuk Bram.


" Biarin" gumam Bram. Akhirnya Dhani menyerah. Menyusupkan wajahnya ke dada Bram , seakan menyembunyikan rasa malunya disana.

__ADS_1


Setelah semua siap, para pelayan itu pergi dari roof top. Entah sejak kapan, Dhani mendengar denting piano dan suara gesekan biola yang mengalun pelan..membawa suasana semakin romantis malam itu.


Bram berdiri sambil mengangkat tubuh Dhani di pangkuannya, lalu mendudukkan gadis itu di kursinya.


" Malam ini aku akan melayanimu sayang, kau tak perlu bersusah payah. Aku akan jadi budakmu, dan kau tuan putrinya." bisik Bram sambil mendekatkan kursinya ke kursi Dhani.


"Braamm..., jangan berlebihan.." desah Dhani


" Kau pernah disuapi Luki?" Bram menatap Dhani penuh selidik.


" Sayang, dengarkan!" Dhani menatap lekat mata Bram yang masih penuh kecemburuan. "Aku baru sekali makan malam berdua dengan Luki. Salah! Yang benar, akan makan malam, karena belum sempat makan, dinnernya sudah dibatalkan seseorang yang nekat melamarku..ah malangnya kak Luki.." Dhani memasang wajah sedih. Namun manik mata birunya tampak tersenyum menggoda.


Bram tersenyum mengingat kegilaannya. Lalu tanpa aba-aba menyambar bibir Dhani dengan gemas.


" Braam..., lapar..." rengek Dhani menghentikan bibir Bram yang hendak memperdalam ciumannya. Dilepaskannya tautan bibirnya dengan Dhani. Bram tersenyum menatap Dhani.


" Maaf membuatmu kelaparan sayang, makanya jangan menggodaku terus, aku jadi pengen makan kamu..." Bram mencubit ujung hidung Dhani pelan.


" Mesum...!" Dhani memukul pelan lengan Bram.


" Bagaimana nggak mesum kalau pacarnya secantik kamu sayang" gumam Bram dalam hati


"Kau benar-benar lapar sayang ?" Bram terkekeh mendapati Dhani makan dengan lahap malam itu. Diusapnya ujung bibir Dhani dengan tisyu. Dhani pun melakukan hal yang sama, mengusap bibir Bram dengan ujung ibu jarinya lalu melapnya kembali dengan tisyu.


" Tentu saja, aku disuapi kekasihku yang tampan, lagi pula tadi habis perang...tentu saja lapar" Dhani mendengus.


" Perang? " Bram mengangkat alisnya.


" Iya...perang bibir.." bisik Dhani ditelinga Bram. Membuat Bram refleks menatap Dhani dengan tatapan memangsa.


"Kau yang menggodaku sayang, jangan salahkan kalau malam ini aku akan menghabisimu..." Bram sengaja berbisik sambil menyentuh telinga Dhani dengan bibirnya. Membuat Dhani bergidik dan menjauhkan wajahnya dari Bram.


"Hah? Jangan gila Bram...oke..oke aku nggak akan menggodamu lagi" Dhani ketakutan membayangkan Bram akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.


Bram tekekeh berhasil mengerjai kekasihnya itu. Melihat wajah panik Dhani yang menggemaskan ternyata sungguh menyenangkan.


Tiba-tiba Bram menarik tangan Dhani dengan lembut. Lengannya yang kekar sudah refleks menempel di pinggang Dhani seakan pinggang ramping itu memang khusus diciptakan untuk lengannya berlabuh.

__ADS_1


Dhani bangkit mengikuti gerakan Bram. Lengannya sudah melingkar di leher lelaki tampan itu. Pandangan mereka bertemu penuh kabut rindu.


A Thousand Years mengalun lembut dari piano dan biola diujung sana. Mengiringi gerak pelahan kedua insan penuh cinta itu. Mengungkapkan gejolak asmara, menumpahkan hasrat rindu membara lewat tatapan mata dan pelukan mesra.


" Aku mencintaimu Dhaniku.." bisik Bram lembut


"Me too my love, Bramku..." desah Dhani mesra.


Bram makin erat mendekap Dhani, kini keduanya saling menyandarkan kepala. Dhani di dada Bram sementara Bram di pundak Dhani.


" Apakah malam ini kau mau tinggal di sini sayang?" bisik Bram.


" Nggak! Sadar Bram. Kita nggak boleh menghianati kepercayaan papa" Dhani mengangkat kepalanya menatap Bram dan mendapati Bram terkekeh disana. "Kau...dasar !" Dhani tersipu.


" Aku sudah menunggumu lebih dari tiga tahun sayang..apa kau kira itu mudah? Kau pikir tidak tersiksa merindukanmu tiap hari selama itu? Tapi aku berhasil melewatinya tanpa berpaling karena aku yakin kau adalah milikku...jadi apa kau benar-benar berpikir aku tidak sanggup menunggu hingga pernikahan kita sebentar lagi?"


Dhani tersenyum bahagia. Hatinya benar-benar tersanjung dan bangga pada kekasihnya itu. Bram benar-benar menjaganya hingga saat ini.


"Sliramu pancen sejatining priyo Mas Bramantyo Brotonegoro, wong bagus sing paling dak tresnani ...." entah dari mana Dhani mendapatkannya, kata-kata itu sudah meluncur begitu saja dari bibir indahnya. (* Kamu memang pria sejati Mas Bramantyo Brotonegoro, lelaki tampan yang paling kucintai)


Bram terpana mendengar kata-kata Dhani. Tidak menyangka gadisnya akan merayunya menggunakan bahasa jawa.


" Kau benar-benar tahu cara melemahkanku sayang, bagaimana aku tidak tergila-gila padamu ?" Bram mengecup pucuk kepala Dhani yang bersandar di dadanya penuh cinta.


" Emh..coba kau panggil aku seperti tadi, sayang... .." pinta Bram pada Dhani.


" Mas Bram...." Dhani menyebut nama Bram pelan... sengaja dengan nada manja dan mendesah untuk menggoda Bram.


"Ohhh sayangku...bolehkah kau panggil aku selalu seperti itu?" mohon Bram


" Yang mana...? Masnya atau mendesahnya?" goda Dhani tertawa


Bram tersenyum.jahil " dua-duanya" lagi-lagi Bram berbisik begitu dekat hingga menyentuh telinga Dhani.


Dhani bergidik merinding. Salahku sendiri menggodanya...Dhani membatin sambil menjauhkan wajahnya dari Bram.


Bram menarik lengan Dhani kembali. Mencium kening Dhani beberapa saat dan meraih pinggang Dhani untuk bersama-sama menuruni tangga rooftop. " Ayo kuantar pulang. Aku harus bicara pada om Baron."

__ADS_1


Dhani tersenyum dan mengangguk yakin.


__ADS_2