
Dhani segera turun dari punggung Bram. Memegangi dadanya yang berdebar karena takut jatuh. Sementara Bram berdiri menyandar ke pintu kamar apartemennya sambil terengah-engah kelelahan. Dua orang itu kemudian saling menatap dan tertawa bersama.
Bram memasukkan kode pintu,dan pintu apartemen langsung terbuka. Ditariknya pinggang Dhani memasuki apartemen mewah miliknya. Dhani menurut saja.
" Besar sekali kamarmu Bram. Kau sering menginap disini?."
Bram mencubit hidung mancung Dhani pelan, " Gedung Apartemen ini saja baru kuresmikan tadi pagi sayang, aku juga baru sekali ini masuk ke sini, em..dua kali. Sebelumnya waktu mengisi dan mengatur ruangan ini sekitar enam bulan lalu." Bram kemudian mengambil dua minuman kaleng dari kulkas. Memberikan satu kaleng minuman untuk Dhani dan langsung meminum yang satunya lagi.
" Oh iya..lupa.." Dhani menepuk dahinya sendiri. Menerima minuman dari Bram, membuka dan meneguknya pelan.
" Maaf ya, masih berantakan. Dan nggak ada makanan apa-apa. Tapi kalau kau mau membersihkan diri semua sudah lengkap. Kamar mandinya ada di dua kamar itu." Bram menunjuk dua kamar yang ada. "Di dekat dapur juga ada kamar mandi."
" Hmm...Iya nih lengket semua, tapi baju gantiku ada di mobil."
" Biar aku yang ambil. Oh ya kau mau makan apa sayang biar aku pesankan" Ucap Bram.
" Apa saja Bram, asalkan makan bersamamu pasti nikmat rasanya" Dhani menatap Bram manja .
Bram tertawa mendengar jawaban Dhani.
" Siapa yang membuatmu pandai merayu seperti itu tuan putri?"
" Kau..siapa lagi? " Dhani tertawa sambil menunjuk hidung Bram. Keduanya kemudian tertawa bersama.
Bram keluar untuk mengambil baju Dhani. Sementara Dhani mengelilingi setiap ruangan yang ada di apartemen Bram.
Ini tidak seperti unit apartemen biasa. Ada ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur dan dua kamar tidur. Masih ada ruang cuci dan balkon yang cukup luas. Semua ruangan sudah tertata rapi diisi furniture dan peralatan mewah yang terkesan elegan dan bernuansa maskulin. Didominasi warna-warna netral dan cenderung gelap khas pria.
Dhani membuka pintu yang mengarah ke balkon, lalu keluar. Ada sofa panjang dan meja kecil di sana. Pagar balkon yang terbuat dari kaca membuat Dhani dapat melihat pemandangan dibawah apartemen meskipun sambil duduk di sofa.
Dhani menaikkan kakinya ke atas sofa dan menyandarkan kepalanya ke ujung sofa. Hmm..nyaman sekali, gumamnya terpejam sambil menikmati desir angin senja hari.
" Kau suka disini sayang?"
Dhani terkejut dan langsung membuka matanya mendengar suara Bram berbisik dekat sekali di telinganya. Matanya menangkap wajah tampan Bram sedang berjongkok disebelahnya.
" Ehh, kapan kau datang? Iya enak banget di sini Bram."
" Kau boleh sering-sering ke sini kalau kau mau. Meskipun aku mungkin jarang disini. Kode pintunya tanggal lahirmu." Bram mengusap kepala Dhani dengan sayang.
" Dari mana kau tahu tanggal lahirku?" Tanya Dhani. Karena seingatnya dia tak pernah memberitahu Bram. Dan Bram pun tak pernah bertanya.
" Aku hadir kemarin pas kamu rayakan sweet seventeen mu di hotel XX, om Baron mengundangku."
" Kalian curang, aku merasa ditikung. Kenapa papa mengundangmu? Aku kan nggak kenal kamu waktu itu. Aku juga tidak melihatmu waktu itu" Dhani duduk lalu menarik tangan Bram yang berjongkok didepannya untuk duduk di sofa. Bram duduk di sebelah Dhani.
"Tapi aku melihatmu sayang..aku sudah lama mengenalmu dari om Baron meski kita tidak pernah bertatap muka langsung. Papiku adalah pemilik hotel itu selain ayahmu. Tentu saja aku diundang di acara penting yang ada di hotelku. Apartemen ini juga, saham kepemilikannya ada nama papamu."
" Jadi ada berapa banyak lagi perusahaan dan properti milik bersama kalian? Pantas saja papa sangat percaya padamu." Dhani menatap wajah Bram seakan mencari sesuatu disana. Siapa sebenarnya pria di sampingnya ini? Sesuatu berkelebat di kepalanya. Jangan-jangan...?
Bram tersenyum. Dia tahu yang ada di kepala Dhani. Tapi dia pura-pura tidak memperhatikan Dhani.
" Tanyakan saja pada om Baron...Papamu dan papiku adalah teman dekat. Bukankah papamu pernah bilang?"
" Iya juga.." gumam Dhani
" Ayo masuk, pesanan kita sudah datang." Bram berdiri dan meraih tamgan Dhani . Menggandengnya masuk ke dalam.Dhani bangkit dari duduknya dam menggelayut manja di lengan Bram.
" Hari ini manja baget sih?" Bram menatap Dhani sambil.tersenyum. " Aku kan jadi senang.." lanjut Bram menggoda Dhani.
__ADS_1
" Biarin, pokoknya hari ini kamu milikku." Dhani memgeratkan pegangannya ke lengan Bram.
" Kenapa hari ini saja? Aku mau jadi milikmu selamanya.." Bram menjawab yakin.
" Sudahlah Bram kalau sudah bicara selamanya kita akan kembali kesitu-situ juga. Please aku nggak mau pertemuan singkat kita ini diisi dengan kesedihan."
" Iya sayaang...apapun maumu...aku ini pelayanmu.." Bram membungkuk sambil memegang dadanya. "Perintahmu adalah kewajibanku"
" Ish kau ini" Dhani memukul pelan lengan Bram.
Sampai di dalam makanan sudah tertata rapi di meja makan. Bram menarik kursi untuk Dhani. Setelah Dhani duduk diapun segera duduk disebelah Dhani.
Setelah berdoa, mereka mulai makan dengan tenang. Sesekali saling menyuapi dengan tertawa bahagia . Hingga makanan mereka habis .
Hari ini Bram benar-benar memanjakan Dhani. Dia ingin pertemuan singkatnya dengan gadis kesayangannya ini akan mengobati kerinduan keduanya dan menjadi kenangan yang akan selalu mereka ingat saat kembali berpisah nanti.
Selesai makan Dhani segera mandi dan berganti pakaian. Kemudian menyusul Bram duduk santai di ruang keluarga sambil menonton tivi. Seperti biasa sebenarnya tivi lah yang menonton mereka. Karena mereka sama.sekali tidak benar-benar menonton tivi. Mata mereka hanya sesekali saja melihat sekilas ke tivi. Selebihnya tentu saja menatap sosok indah disebelah mereka.
" Sini ," Bram menepuk sofa pelan.
Dhani segera duduk. Merapat pada Bram. Tangannya reflek melingkari lengan kokoh Bram. Kepalanya disandarkan di bahu bidang itu.
" Kau lama disini Bram?"
" Nggak sayang. Nanti ikut penerbangan pertama ke kota S jam dua pagi."
" Kenapa cepat sekali?" Dhani merasa belum puas bersama.
" Biar kangen lagi.." Bram menoleh ke Dhani
"Gombal teruss..." ucap Dhani tersipu.
" Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Kita harus memanfaatkan waktu singkat kita sebaik mungkin sebelum kita berpisah."
"Apa kau tidak ingin menonton konser lagi sayang?"
" Tidak. Mana ada tiket konser mendadak.?"
" Ada, aku akan mendapatkannya untukmu," seru Bram
" Tapi itu akan menyita waktu.Hei kenapa tidak kau saja yang konser untukku? " Mata Dhani berbinar mengingat suara merdu Bram menyanyi untuknya waktu itu.
" Emm...Baiklah nona, kau tuannya. Aku akan menuruti titahmu. Lagipula ini akan lebih baik karena tenaga kita tidak terlalu terkuras jika dibanding pergi keluar bukan?"
" Hmm.."Dhani mengangguk.
Bram beranjak mengambil mic dan mengatur remote control . Tak lama di layar muncul video clip dan suara intro musik yang sangat indah...
Bram kembali ke sofa. Menarik lembut kepala Dhani ke pangkuannya. Tangan kirinya memegang mic sementara tangan kanannya membelai lembut kepala Dhani di pangkuannya..
Dhani seperti terhipnotis. Memandang Bram yang juga menatapnya sambil mengalunkan lembut sebuah lagu..
*Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
__ADS_1
Takkan habis sejuta lagu
Tuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah Cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berfikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan tlah habis sudah cinta ini
tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku
Hanya untukmu
Untukmu
Hidup dan matiku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini
__ADS_1
~Surat Cinta Untuk Starla by Virgoun
Dhani memeluk pinggang Bram erat. Suara Bram terdengar begitu lembut dan tulus membuat air matanya mengalir begitu saja. Hatinya menghangat dalam dekapan Bram.