
Dhani menikmati malam minggu dengan santai sendirian. Biasanya dia akan bercengkerama dengan Baron, menonton bersama atau sekedar jalan-jalan berdua di taman. Tapi karena Baron keluar kota Dhani menikmati malam minggunya dengan menontin tivi sendiri di kamarnya.
Tiba-tiba Dhani teringat Bram. Ingat waktu Bram bilang Dhani tak pernah mencoba menghubunginya dan hanya Bram yang selalu berusaha menghubungi Dhani lebih dahulu. Dhani tersenyum. Diambilnya ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
Apa kabar Bram?...Dhani mu sedang merindukanmu..~Dhani
Tak berapa lama ponsel Dhani bergetar.
Miss u too baby, Bram mu tak pernah berhenti memikirkanmu..emot love~ Bram
Apa kau mulai melupakanku sayang? Ini week end dan kau baru mengingatku saat ini. Kemana saja seharian hmm?.Apa sudah ada yang menemanimu?" ~Bram
Hohoho...tuan Bram sedang cemburu rupanya? ~Dhani
Ponsel Dhani kembali bergetar. Dhani segera menggeser tombol video dan nampak wajah tampan Bram di layar ponselnya.
" Aku selalu cemburu, dan kau tidak pernah peduli padaku.." Bram memasang wajah lesu di layar ponsel. Dhani tersenyum .
" Maaf sayang, tapi wajahmu begitu menggemaskan saat cemburu..uwuuu..haha.." Dhani tertawa gemas.
" Kau nakal tuan putri!" Bram tertawa
" Haha...ternyata asyik juga menggodamu tuan pacar..." Dhani makin terkekeh.
" Jadi kemana kau seharian sayang? "selidik Bram.
" Aku berenang dengan teman-temanku" Jawab Dhani
" Laki-laki? " usut Bram , wajahnya terlihat tidak suka
" Huuumm.." Dhani mengangguk sambil tersenyum. Tak hendak menjelaskan bahwa ada teman wanitanya juga. Masih ingin menggoda kekasihnya.
" Sudahlah..ku tutup saja " Bram tampak sangat kecewa. Hampir saja menggeser tombol menutup panggilan ketika dilihatnya sekilas tawa Dhani di layar ponselnya.
" Hahaha....." Dhani tergelak di ponselnya sambil menatap wajah Bram lucu.
" Awas kau sayang...aku akan membalasmu!" Bram meletakkan telunjuknya ke layar ponsel. Dhani tetap tertawa lalu menjulurkan lidahnya mengejek Bram.
__ADS_1
" Apa kau pikir aku bisa macam-macam berenang di rumah Bram? "
" Hei om Baron kan tidak dirumah?. Kau bebas." Bram teringat Baron sedang ada kegiatan kemarin bersama para klien, termasuk papi Bram juga.
" Jadi apa yang bisa kulakukan dengan mata puluhan pengawal dan pelayan itu? " Dhani menatap Bram sambil tetap tersenyum.
Keduanya terkekeh. Bram tahu gadisnya tak akan melakukan hal yang diluar batas. Tapi tetap saja hatinya dilanda cemburu mendengar Dhani berenang dengan laki-laki lain. Memakai baju renang yang mengekspos tubuh indahnya.
Ohh ya ampun! bahkan Bram belum pernah melihat Dhani memakai baju renang. Bayangan lelaki lain menatap tubuh Dhani dalam balutan baju renang membuatnya frustasi.
" Sayang apa kau memakai bikini? " Tanya Bram malu-malu. Bahkan kemudian menyesali pertanyaannya yag membuat Dhani tergelak.
" Hei apa yang kau pikirkan tuan mesum..haha.."
" Emh...maaf aku nggak rela orang lain melihat..emm...ah sudahlah. Jangan dipikirkan lagi." Bram tersenyum samar. Kecemburuan membuatnya kehilangan akal sehatnya.
" Jadi apa yang kau lakukan hari ini Bram?"
" Menunggu telponmu sayang.."
" Gombal...lebay..haha" Dhani tergelak.
Hingga Dhani tertidur dengan masih memegang ponselnya. Gadis itu terlelap dengan memeluk bantal lembut bertulis nama Bram disana. Bram tersenyum lembut. Menatap wajah damai kekasihnya yang terlelap diujung ponselnya.
" Good night baby, mimpi indah sayang.." Bisik nya lalu menekan tombol off pada ponselnya. Bibirnya menyunggingkan senyum hingga ikut terlelap mengurai mimpi indahnya.
Minggu pagi Baron pulang dari acara yang dihadirinya. Pelayan menyambutnya didepan pintu.
" Selamat datang Ndoro(Tuan)..."
" Hmm..apa Dhani masih tidur ? " tanya Baron tanpa menghentikan jalannya.
" Iya Ndoro, kamarnya masih tertutup. Tadi waktu saya ketuk untuk sarapan ndoro ayu tidak menjawab" Jawab sang pelayan.
" Baiklah biar aku saja nanti yang akan membangunkannya" Baron meninggalkan pelayannya dan langsung masuk ke kamarnya.
Selesai membersihkan diri Baron segera menuju kamar Dhani untuk mengajak putri kesayangannya itu sarapan. Dia sudah merindukan putri cantiknya itu. Padahal cuma sehari dia meninggalkan gadis itu. Tapi rasanya ada yang hilang dari dirinya.
__ADS_1
" Sayang...apa kau belum bangun? " Baron mengetuk pintu kamar Dhani pelahan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan disana nampak wajah cantik Dhani yang segar sehabis mandi, rambutnya masih sedikit basah.
" Papaaaaa..." Dhani menghambur ke pelukan Baron. "Kapan papa datang? " sambut Dhani manja melihat papanya didepan pintu kamar.
Baron segera membalas pelukan itu dengan sayang. Dibelainya rambut Dhani dan diciumnya ujung kepala putrinya itu berulang- ulang.
" Bagaimana weekendmu dengan teman-temanmu sayang? Apa kau senang? " tanya Baron sambil memeluk pundak Dhani dan membawanya turun ke meja makan.
Dhani menagngguk sambil tersenyum." Iya papa, kami berjanji akan berenang bersama lagi lain kali."
" Syukurlah kalau kamu senang, papa pikir kamu kesepian..ternyata kalian bersenang-senang, bagus,"
Keduanya sarapan dengam tenang pagi itu. Karena hari libur mereka melanjutkan acara sarapan itu dengan ngobrol dan bersantai diruang keluarga sambil menonton tivi. Hingga jam makan siang tiba baru mereka beranjak dari ruang keluarga.
" Pa apakah Dhani boleh ikut kegiatan mapala? " akhirnya Dhani memberanikan diri meminta ijin papanya.
" Kalau papa keberatan, apa kamu sedih atau kecewa dengam papa?" tanya Baron.
" Tidak juga, tapi Dhani harus tahu alasan papa kalau menolak mengijinkan Dhani." jawab Dhani.
" Kegiatan itu terlalu beresiko Dhan, mungkin untuk laki-laki itu bisa melatih mental dan fisik mereka. Tapi untuk perempuan apalagi untuk putri cantikku, itu sedikit berlebihan. Kau tahu sayang, banyak yang memanfaatkan kegiatan itu untuk melakukan ..yah..sebut saja modus tersembunyi jika ada anggota wanita...haha.." Baron tersenyum smirk.
" Hahaha...papa...akhirnya terbuka juga kedok papa. Jadi papa dulu termasuk tukang modus itu kan?" Dhani tertawa sambil menggoda papanya. Baron juga tertawa.
" Sayang...kau tahu papa juga pernah muda. Dan itu juga rahasia umum. Maksud papa bukan hal yang kotor atau memalukan ya...tapi memang begitu kenyataannya. Dan papa tidak mau putri cantik papa jadi korban modus. Apakah alasan papa masuk akal nona?" Baron meminta pendapat putrinya.
" Hmmm..cukup masuk akal papa. Ya sudah aku cuma meminta pendapat papa saja, sebenarnya aku juga tidak begitu berminat mengukuti kegiatan itu pa"
Dhani tersenyum. Teringat alasan Luki mengajaknya bergabung di mapala kampus T sebagai magnet penarik minat..haha..rasanya tak salah papanya melarang dengan alasan tak ingin putrinya jadi korban modus. Jelas-jelas Luki sudah melakukannya. Dan Dhani semakin mantap untuk menolak ajakan Luki itu.
" Emh...ngomong-ngomong apa saja yang sudah papa lakukan dengan cewek itu saat di gunung ha? " Dhani mendekatkan wajah ke papanya. Membuat Baron tergelak sambil mencubit pelan hidung Dhani.
" Kau anak kecil, tidak boleh berpikir nakal hah? Dilarang keras melakukan hal-hal tabu atau buruk di gunung sayang. Paling papa menggombal saja kalau ada anggota yang cantik pura-pura ngajarin atau kasih perhatian...hahaha..." Baron teringat masa lalunya..
" Ish..ish..ternyata papaku yang tampan ini punya jiwa playboy juga ya? Apa mama tahu ini? Atau jangan-jangan mama termasuk salah satu korban modus papa ha? " Dhani menatap lucu wajah Baron. Membuat wajah pria paruh baya yang masih tampak tampan itu sedikit bersemu merah..
__ADS_1
" Hahaha....kau ini anak nakal, beraninya menjahili papamu ha..." Baron mengacak rambut Dhani gemas. Pertanyaan Dhani mengingatkannya pada kenakalan masa remajanya.
Keduanya tertawa-tawa. Melepaskan penat dan beban pikiran bersama orang terkasih membuat hati dan jiwa terasa lega dan bebas..