Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Terungkap semua


__ADS_3

Dhani benar- benar kesal. Merasa dipermainkan Bram dan papanya sendiri. Mereka lagi-lagi bersekongkol membuatnya merasa bodoh. Papaaa...aku akan bikin perhitungan dengan papa nanti! Desis Dhani dalam hatinya. Dan juga dengan pria yang sekarang sedang ada disebelahnya.


" Tunggu pembalasanku!" desis Dhani mendekat ke telinga Bram sambil berjalan pelan membawa hiasan janur kembar mayang itu.


" Aww...takuut!" bisik.Bram menggoda.


" Hei latihan yang serius, jangan ngobrol sendiri! " teriakan pelatih membuat Bram dan Dhani tertunduk malu. Apalagi ketika teman-teman mereka pager ayu dan pager bagus lainnya ikut menyoraki mereka. Muka Dhani sudah seperti kepiting rebus "Sial! " rutuknya dalam hati. Sementara Bram malah cengar-cengir cuek membuat Dhani makin kesal.


Alhasil gladi resik hari itu benar-benar jadi ajang menggoda Dhani dan Bram bagi teman-teman mereka. Semua memang sudah tahu tentang perjodohan Dhani dan Bram. Seperti perjodohan anggota keluarga kerajaan yang lain yang juga diketahui semua kerabat istana . Sialnya cuma Dhani yang tidak tahu, sehingga sukses membuatnya jadi bahan bulan-bulanan.


Acara gladi resik itu selesai sekitar jam 17.00. Dhani segera menyeret Bram keluar gerbang istana. Tak dipedulikannya lagi sorakan dan siulan menggoda dari teman-teman mereka. Dia benar-benar ingin menghajar Bram. Yang sudah membuatnya malu dan merasa bodoh sendiri.


Di gerbang istana para pengawal memberi Dhani dan Bram semacam ID card sebagai akses keluar masuk istana. Setelah menerima kartu itu Dhani menarik kasar tangan Bram ke arah taman yang ada di samping istana.


Bram tidak melawan. Wajahnya tetap dipenuhi senyuman. Bahkan Bram sengaja merapatkan dirinya pada Dhani. Membuat gadis itu mendengus kesal.


" Dasar mesum! " Geram Dhani.


" Sayang, bukankah kamu sendiri yang menarik-narikku.? "


Di sudut taman yang terlihat sepi Dhani buru-buru melepaskan tangannya yang menarik tangan Bram. Lalu tanpa aba-aba Dhani mencubiti pinggang Bram dengan keras berkali-kali. Memukuli punggung pria itu tanpa ampun. Meremas-remas rambut Bram dengan gemas.


" Aww...aduh...aaaahhh...ampuuun! " Bram mengaduh dan merintih pelan tapi wajahnya tampak bahagia. Diterimanya semua cubitan dan pukulan Dhani tanpa perlawanan sedikitpun. Badannya sakit semua. Tapi hatinya berbunga-bunga. Surprissenya untuk Tuan putrinya berhasil meskipun dia harus mengorbankan tubuh seksi dan indahnya untuk dianiaya gadis pujaannya itu.


Dhani menghentikan serangannya pada Bram setelah tenaganya habis. Nafasnya tersengal-sengal. Tapi hatinya puas karena sudah melampiaskan semua perasaannya pada Bram.

__ADS_1


Tubuh Dhani terasa lemas. Bram menangkap tubuh Dhani yang terhuyung. Tak perlu menunggu apapun keduanya sudah larut dalam pelukan penuh rindu. Dhani menangis dalam pelukan hangat Bram. Sementara Bram mendekap erat gadis yang sangat dirindukannya itu sambil membelai rambut gadis itu.


" Kau jahat, kau dan papa jahat Bram"


" Hei, bukankah kau sendiri yang minta waktu empat tahun lagi? Aku dan om Baron cuma menurutimu sayang."


" Tapi harusnya kau bilang kalau kaulah yang dijodohkan papa denganku"


" Tuan putri apa kau lupa, saat om Baron bertanya kau bahkan tak ingin tahu siapa orang yang dijodohkan denganmu. Kupikir kau benar-benar tak peduli siapapun dia kan? Padahal aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat. Makanya ketika ada waktu luang dan om Baron mengijinkanku, aku mau jadi bodyguardmu saat itu. Bukan salahku kalau kau malah jatuh cinta padaku yang memang tampan ini"


"Haiisssh....siapa yang jatuh cinta padamu?" Dhani melengos, wajahnya merona. " Kaulah yang jatuh cinta padaku!" sambungnya sambil melepaskan diri dari pelukan Bram. Dhani merasa tak nyaman berpelukan di tempat umum seperti ini meskipun hatinya tak ingin lepas dari pelukan Bram.


Bram tertawa. " Katanya nggak cinta tapi nggak ditelpon bentar aja kangen, ngambek, uring-uringan...."Bram mendekatkan wajahnya ke wajah Dhani. Matanya mengedip menggoda Dhani.


Dhani memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum malunya dari Bram. Senyum kerinduan dan kebahagiaan karena bertemu dengan kekasih hati yang sangat dirindukannya.


" Ternyata kalau sedang marah kau sangat mengerikan tuan putri" bisik Bram sambil menatap Dhani yang sibuk merapikan rambutnya. Jantungnya berdegup kencang melihat bibir merah muda yang sedang tertawa dekat sekali dengan wajahnya itu. Ingin rasanya menyentuh dan menikmati.bibir itu. Tapi akal sehatnya melarangnya.


" Hei semutpun akan menggigit kalau dikerjain, sukurin!"dengus Dhani. " Sudah rapi lagi" gumamnya sambil menatap wajah tampan Bram didepannya.


" Lalu yang ini bagaimana? " Bram menunjuk tangannya yang kemerah-merahan disana-sini akibat cubitan Dhani. " Dan yang ini?" Bram membuka kaosnya hendak menunjukkan bekas cubitan Dhani di pinggangnya. Rasanya perih.


"Hei kau mau telanjang disini?" seru Dhani sambil menarik turun kaos Bram yang hampir tersingkap.


Bram tertawa...Dhani juga terkekeh mengingat begitu bernafsunya dia menyerang Bram tadi.

__ADS_1


" Ah manja...kau kan laki-laki, masa gitu aja harus kubawa ke rumah sakit..ha?" Dhani mengusap lembut lengan Bram sambil tersenyum. "Lagipula itu hukuman yang pantas buatmu." Dhani menepuk agak keras lengan Bram yang tadi disentuhnya lembut.


" Oh Dhan, kau tega sekali sayang..."Bram memasang wajah teraniaya. Dhani malah tertawa dan berdiri meninggalkan Bram. Buru-buru Bram mengejarnya.


" Kau ini, jadi kau juga tinggal di istana? " Dhani menoleh ke Bram.yang sudah berjalan menjajari langkahnya.


" Sama denganmu, aku juga baru dua hari yang lalu diharuskan tinggal disini untuk memudahkan koordinasi acara mantu kanjeng sinuwun." Ujar Bram.


" Kau tinggal disebelah mana? " tanya Dhani


" Di bangsal Barat, bersama dengan para pager bagus dan kerabat yang lain., apa kau mau menyusulku nanti?" Bram menggoda Dhani. Disambut dengan cubitan Dhani lagi.


" Dasar mesum, rupanya kau ketagihan cubitanku Bram? "Dhani tersenyum jahat.


Bram tertawa sambil meraba pinggangnya. " Sudah sayang ampun, nggak lagi-lagi" Bram mengangkat tangan tanda menyerah. Keduanya tertawa.


" Kita masuk aja yuk! Aku ada urusan sama papa!" Dhani tertawa ringan.


Bram juga tertawa " Yuk, lagian gerah pake kain gini" Dhani baru sadar jika dari sore tadi belum melepas kain yang dipakainya latihan jalan di gladi resik.


Untunglah di sekitar lingkungan istana ini masih banyak orang berlalu lalang mengenakan kain kebaya dan beskap. Jadi kehadiran mereka yang berpakaian tradisional tidak terlalu mencolok kecuali wajah bule Dhani dan postur keduanya yang tinggi ramping bak.model.


Ketika keduanya hampir sampai di pintu gerbang istana tiba-tiba Bram menarik tangan Dhani dan berlindung dibalik sebuah gapura.


" Apa kau bahagia sayang?" Bisik Bram sambil menggengam kedua tangan Dhani yang lembut." Mengetahui bahwa calon jodohmu adalah aku?" lanjut Bram

__ADS_1


" Dhani tersipu malu, sebenarnya dalam hatinya sudah bilang Yess! Tapi untuk mengakuinya dengan frontal seperti ini sungguh membuatnya canggung. Hatinya memang sedang berbahagia mengetahui kenyataan yang indah ini. Seakan-akan tubuhnya melayang tak menyentuh tanah hari ini.


" Entahlah Bram..pikir saja sendiri..." Dhani menyembunyikan senyum bahagianya dan meninggalkan Bram yang berdiri termangu. Tak lama bibir Bram menyunggingkan senyum bahagia. Gadisku itu malu mengakuinya..batinnya bahagia lalu menyusul Dhani.


__ADS_2