
Bram tak melepaskan pelukannya di pinggang Dhani . Bahkan di dalam lift khusus itu keduanya saling memeluk erat seakan tak ingin lepas. Rindu yang terpendam sekian lama seolah tak merelakan dua insan itu terpisah saat ini.
Bram tampak memeluk Dhani posesif, sementara Dhani menyandarkan kepalanya ke bahu bidang Bram. Mereka bahkan tak melepaskan pelukan hingga tiba di mobil yang akan membawa mereka ke kediaman Baron.
" Kau siap sayang?" Bram menyetir dengan sebelahl tangan, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari lembut Dhani.
" Hei, bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu Mas?" Dhani tertawa.
Bram tersenyum bahagia mendengar panggilan Dhani. Kenapa panggilan Mas itu terasa merdu sekali ditelinga?
Menjelang pukul sepuluh malam ketika mereka sampai di kediaman keluarga Baron. Pasti papa sudah tidur, pikir Dhani.
Dhani hendak ke kamar Baron untuk memanggil papanya itu, ketika tiba-tiba Bram dan Dhani dikejutkan pintu ruang kerja Baron yang terbuka. Menampakkan tubuh lelaki paruh baya itu keluar dari ruangan itu.
"Om" refleks Bram
" Papa.." Dhani
Ketiganya menampakkan wajah terkejut.
" Papa, Dhani kira papa sudah tidur. Tadi Dhani mau panggil papa ke kamar" sambut Dhani sambil berjalan ke arah Baron. "Em..Bram ada perlu sama papa.." sambung Dhani.
Baron mengerutkan alisnya. " Bram? Bukankah kamu tadi pergi sama Dirut Atmajaya, kenapa bisa pulang dengan Bram? " Baron tampak bingung.
" Itu tidak penting pa..."Dhani tersenyum. Yang penting Dhani pulang dengan selamat. Dalam hati Dhani bergumam " Iya kali aku cerita papa soal lamaran Bram yang bikin shock tadi.."
" Maaf om, tadi sudah mengajak Dhani tanpa izin." Bram memohon maaf dengan sopan.
" Baiklah Bram apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Baron setelah mempersilakan Bram.duduk di sofa ruang tamu.
" Sebelumnya saya mohon maaf karena bertamu selarut ini. Tadi ada sedikit masalah jadi saya datang terlambat. Begini om, jika om setuju, dua minggu lagi saya akan membawa orang tua saya ke sini untuk melamar Dhani" Bram berucap tegas namun penuh hati-hati. Dia tak ingin calon mertuanya berpikir dia main-main.
Baron terdiam sejenak. Seakan meyakinkan apa yang dia dengar. Sesaat kemudian matanya menatap tajam ke wajah Bram. Dan mendapati kesungguhan di wajah pemuda tampan itu.
Mendapat tatapan mata tajam terlebih dari calon mertua , membuat jantung Bram mendadak berpacu cepat. Tanpa sadar keringat dingin mulai bercucuran di wajah Bram. Tahan Bram jangan sampai pingsan... Kamu harus tunjukkan bahwa kamu layak untuk calon istrimu...Bram menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Tak lama kemudian...."Hahahaha.....Bram...akhirnya aku akan punya mantu....hahahha...." Baron tampak sangat bahagia. Tak hentinya tertawa sambil menepuk -nepuk pundak Bram di depannya.
Bram membuang nafas panjang. Haaahh..om Baron ini bikin sport jantung saja. Tentu saja Bram menggerutu hanya dalam hati.
" Apa Dhani sudah setuju?" Baron menatap Bram, lalu mencari-cari Dhani. " Kemana anak nakal itu? " gerutu Baron.
Tak lama dari dalam muncul Dhani dengan nampan berisi minuman hangat dan sepiring kue.
" Duduk disitu Dhan, papa mau tanya.." Baron menunjuk sofa sebelah Bram ketika Dhani akan duduk di sebelah Baron.
Dhani menurut. Duduk dengan agak canggung di sebelah Bram, merasa jadi terdakwa yang akan diadili. "Ada apa sih pa?" tanya Dhani ketika papa dan kekasihnya diam saja.
" Dhani, apakah kamu sudah siap jadi nyonya Bramantyo? " tanya Baron membuat Dhani terhenyak.
" A apa pa? Nyonya?" Dhani menoleh ke arah Bram namun yang di lihat hanya menunduk saja.
" Dua minggu lagi Papi dan mami Bram akan melamarmu, apa kamu siap menikah sayang?" Baron menatap wajah Dhani yang kebingungan.
" Kenapa mendadak?" Dhani gusar. Ditatapnya Bram yang kini juga menatapnya . Memang dia menerima lamaran Bram, tapi tak menyangka kalau Bram juga ingin segera menikahinya.
" Jadi apa kau sudah siap menikah? Atau kau ingin tunangan dulu?" ulang Baron lagi
"Enggak usah tunangan om, langsung nikah saja" Bram yang menjawab.
" Aku tanya Dhani , kenapa kau yang menjawab Bram?" Baron menatap Bram tajam. Membuat nyali Bram mendadak ciut.
" Maaf om..." gumam Bram hampir berbisik.
Dhani menahan tawa. Bram menatap gadisnya dengan mata memohon agar Dhani juga mengikuti keputusannya untuk langsung menikah saja tanpa prosesi tunangan.
" Dhani sudah siap menikah dengan Mas Bram pa" angguk Dhani dengan yakin. Membuat Bram tersenyum lebar.
Refleks tangannya memeluk Dhani. Namun buru-buru dilepas ketika mendengar suara Baron berdehem. Bram kembali membenarkan posisi duduknya dan menunduk.
" Baiklah kalau memang kalian sudah tidak tahan untuk menikah, mau bagaimana lagi? Daripada malah menimbulkan fitnah lebih baik secepatnya menikah" Baron menatap dua sejoli di depannya itu dengan hati bahagia.
__ADS_1
" Terima kasih atas restunya om.." Bram mengangkat wajahnya . Tangannnya ditangkupkan didepan dada sebagai ungkapan hormat dan terima kasih pada Baron.
" Apakah kau akan menginap malam ini Bram?" Baron tersenyum sedikit menggoda Bram dan Dhani.
Bram menggeleng cepat. Sebenernya sih pengen nginep om...hehe...gumam Bram dalam hati. Tapi yang terucap malah kebalikannya.
" Banyak yang harus dipersiapkan om. Saya harus segera pulang. Lagipula besok ada meeting penting yang tidak bisa ditunda"
" Baiklah, jam berapa berangkat? "
" Jam dua pagi om"
" Ya sudah, istirahatlah sebentar. Biar ditemani Dhani. Om ke kamar dulu ya..? " pamit Baron.
" Oh iya om silakan. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat om!" Bram membungkukkan badannya.
Yesss! Sorak Bram dalam hati. masih ada waktu dua jam berdua dengan Dhani. Tapi tiba-tiba Baron menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
" Bram mulai sekarang kamu panggil om papa saja ya..biar sama dengan Dhani." Baron tersenyum lalu melanjutkan langkahnya .
Bram dan Dhani saling pandang. Keduanya tersenyum bahagia. Hati mereka dipenuhi kebahagiaan yang membuncah. Penantian dan jalan panjang mereka akan segera sampai pada puncak bahagia yang sesungguhnya..
" Sayang, sini , mas nggak mau jauh-jauh lagi dari kamu. Sebentar lagi kita akan selalu bersama." Bram menarik pinggang Dhani lalu memeluk penuh sayang gadis cantik itu.
" Ke taman yuk!" ajak Dhani sambil menarik tangan Bram.
Bram mengikuti langkah gadisnya tanpa melepas genggaman tangan mereka.
" Sudah malam sayang, apa kamu nggak ngantuk?" Bram membelai sayang rambut Dhani yang tergerai indah.
" Nggak kok, aku mau nemenin mas sampai berangkat nanti." Dhani menyandarkan kepalanya manja di pundak Bram. Kalau sudah bersama yang empunya hati, kantuk pun hilang entah ke mana..haha
" Uhh sayangku....kalau imut gini makin nggak sanggup masmu ini pisah sama kamu sayang..." Bram mendesah . Kalau tak ingat mereka diawasi puluhan pasang mata pengawal rumah Dhani, pasti sudah dipeluk dan diciuminya gadisnya itu.
Dhani dan Bram menghaabiskan waktu menunggu dengan saling bicara. Tentang mereka dan janji bahagia bersama
__ADS_1