
WARNING!!!Part ini berisi konten dewasa, sedikit horor, jadi bagi yang belum dewasa dan ngeyel membaca,.. penulis nggak bertanggung jawab atas segala efek dan akibat yang timbul setelah membaca part ini. Happy reading....
***************************************
Acara demi acara telah usai. Bram dan Dhani, sang raja dan ratu sehari sedang berada di lift yang membawa mereka ke kamar pengantin mereka malam ini.
Sejak memasuki lift khusus yang hanya diperuntukkan bagi pemilik hotel dan tamu khusus itu Bram sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Bram memeluk pinggang Dhani posessif, seakan enggan melepaskan bidadarinya itu.
" Sayang, lepas dulu, nanti dilihat orang" Dhani membelai lembut tangan Bram dipinggangnya.
" Nggak akan ada yang lihat, ini lift khusus sayang.." bisik Bram makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Dhani. Hingga bibirnya kini sudah menyentuh bibir Dhani.
Dhani mendesah lirih saat Bram makin membenamkan bibirnya. Gadis itu pun akhirnya menyerah, membuka bibirnya dan membiarkan Bram menikmati setiap inci dan bagian mulutnya. Membalas setiap sentuhan dan gerakan lidah Bram yang membuainya hingga seakan melayang ke awan.
" Sayang...Braam...emh..." desah Dhani disela ciuman Bram yang tak berjeda. Membuat Bram makin rakus meraup semua yang ada di mulut Dhani. Nafas keduanya semakin memburu.
"Ting..." pintu lift terbuka.
Bram melepaskan sejenak pagutannya pada Dhani, tapi tidak melepaskan pelukannya pada istrinya itu. Dengan sekali gerakan Bram mengangkat tubuh Dhani ke dalam gendongannya dan melangkah cepat ke kamar di depannya.
Dhani memekik pelan, lalu melingkarkan tangannya ke leher suaminya. Memeluknya erat dan menyandarkan wajahnya ke dada suaminya yang kekar.
Bram membuka pintu kamar hotel dengan pass card yang dibawanya tanpa menurunkan Dhani. Lalu membawa tubuh istrinya ke ranjang besar di tengah ruangan yang sudah dihias indah layaknya kamar raja sehari.
" Kamu milikku malam ini tuan putri..." bisik Bram di telinga Dhani dan kembali menciumi wajah Dhani penuh cinta saat keduanya telah berada diranjang.
" Kamu juga milikku den mas Bramantyo, malam ini dan malam-malam selanjutnya...selamanya" desah Dhani lalu mengecup bibir Bram lembut.
" Kamu sudah siap sayang..?" Bram membelai lembut wajah istrinya.
Dhani mengangguk sambil memeluk leher suaminya lembut.
Bram segera mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi mereka saling melepaskan semua yang ada ditubuh mereka hingga keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka.
Dhani menundukkan wajahnya menyadari dirinya kini tak terlindung sedikitpun dari tatapan mata penuh puja Bram padanya.
" Aku malu sayang" bisik Dhani.
Bram meraih dagu Dhani dan mengangkatnya lembut. " Lihat aku sayang, kamu sempurna. Jadi tak ada alasan untuk malu, bagiku kamu luar biasa. Kamu milikku dan aku milikmu dan mulai malam ini, kamu harus membiasakan diri seperti ini jika kita hanya berdua di kamar..hmmm?". Bram menarik lembut tangan Dhani dan mengarahkanannya ke tubuhnya.
Dhani mau tak mau mengikuti tangannya yang dipegang Bram. Suaminya itu lalu Meletakkan tangan Dhani di wajah, dada dan terakhir ke bagian bawah tubuhnya yang belum pernah dilihat Dhani sebelumnya. "Semua ini milikmu"
__ADS_1
" Aaaàaa...." Dhani menjerit tertahan saat tangannya ditarik Bram menyentuh bagian sensitif Bram. Refleks matanya terpejam. Bram tersenyum nakal.
" Cuma kamu yang boleh menyentuhnya sayang.." bisik Bram menggoda.
" Mesum..." seru Dhani kesal.
" Iya....mesum sama istri sendiri wajib hukumnya.." Bram tersenyum lagi.
Dengan lembut namun penuh tenaga, Bram mengangkat tubuh polos istrinya ke bathtube yang sudah terisi penuh air bertabur bunga dengan aroma yang menghanyutkan rasa.
Dhani menggeliat manja dalam dekapan Bram saat kulitnya bersentuhan dengan kulit tubuh Bram yang mendekapnya erat. Bram berada dibelakang tubuh Dhani yang bersandar mesra didadanya yang bidang.
Tanpa melepas pelukannya, Bram menciumi tengkuk dan leher Dhani dengan lembut. Sesekali menggigitnya pelan hingga membuat Dhani mengerang menahan gejolak yang makin membuncah di tubuhnya yang baru pertama kali merasakan cumbuan Bram dalam keadaan kulit tubuh yang saling bersentuhan tanpa sehelai benang seperti sekarang ini.
Bibir dan hidung Bram kini menyasar pundak Dhani . Dan tangan Bram yang ada di perut Dhani kini sudah merangkak ke atas, menemukan tempat ternyaman di bagian tubuh Dhani yang sangat diinginkannya. Meremas dua benda kembar itu lembut sambil tetap menciumi pundak istrinya.
Dhani mendesah pelan, menikmati rasa asing yang aneh namun nikmat dan menyenangkan karena ciuman dan sentuhan suaminya . Tangannya meremas lengan Bram yang semakin jauh menelusuri setiap lekuk tubuhnya . Merasakan sensasi nikmat yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya.
" Sayang..." bisik Bram ditelinga Dhani. Suara serak Bram membuat tubuh bagian bawah Dhani berdenyut. Bram membawa tubuh Dhani berdiri dihadapannya lalu membalikkan tubuh Dhani sehingga bagian pusat tubuh Dhani sekarang berada tepat didepan wajah Bram.
Dhani menjerit tertahan ketika merasakan sesuatu yang lembut namun kuat menyeruak ke dalam pusat tubuhnya. Di sana, Bram memainkan lidahnya dengan penuh hasrat. Menyapu, menghisap dan menelusuri setiap jengkal inti tubuh Dhani dengan rakus seakan tak akan pernah puas.
" Ahh...sayang...emmhh..." Dhani melenguh tak tertahan. Sementara Bram makin dalam menyusupkan lidahnya . Tak lama,Tubuh Dhani mengejang saat gelombang kenikmatan menguasai tubuhnya. Inti tubuhnya berdenyut mengalirkan kehangatan ke seluruh tubuhnya. Dhani mengerang merasakan tubuhnya seakan melayang diudara.
Bram tersenyum puas melihat Dhani yang mendapatkan pelepasan pertamanya. Bram berdiri dan memeluk erat tubuh Dhani yang mengejang, sesaat kemudian tubuh Dhani lemas dalam dekapan suaminya.
" Kau suka rasanya sayang? " bisik Bram mesra di telinga Dhani.
" Emh...kau gila Bram.." desah Dhani sambil menyusupkan wajahnya di dada Bram. Dia masih merasakan sisa sisa gelenyar kenikmatan yang baru dirasakannya seumur hidupnya. Benar-benar mendebarkan baginya.
" Aku memang gila karenamu sayang, tapi sebentar lagi kau juga akan tergila-gila pada suamimu ini. " Bram membawa Dhani ke bawah shower dan membilas tubuh mereka.
Setelah selesai Bram kembali menggendong tubuh Dhani kembali ke kamar mereka. Keduanya kemudian saling mengeringkan tubuh mereka dengan handuk dan membaringkan diri mereka ke ranjang saling berpelukan.
" Sayang, aku ambilkan baju dulu ya? " bisik Dhani hendak bangun dan melepaskan diri dari pelukan Bram.
" Buat apa? Nanti juga akan dilepas.." bisik Bram menahan tubuh Dhani tetap dalam pelukannya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
" Sayang , apa kau siap untuk kenikmatan yang sesungguhnya? Bram menggigit kecil telinga Dhani membuat Dhani bergidik geli.
" Aku sudah siap sayang, aku milikmu" desah Dhani sambil membalas pagutan Bram di bibirnya.
__ADS_1
Bram tersenyum mesra. Bibirnya kini mulai menelusuri dagu, lalu turun ke leher jenjang Dhani. Bermain-main dengan gigitan-gigitan dan hisapan kecil disana membuat Dhani kembali mendesah dan melenguh.
Setelah puas membuat tanda di leher Dhani, Bram menurunkan kecupannya ke pundak , dada dan berakhir di bukit kembar Dhani yang sudah tegak menantang.
" Emh...ini favoritku sayang...tubuhmu sangat indah ..." Bram kemudian melahap bagian favoritnya tanpa ampun. Menjilatinya, menghisap dan ********** dengan rakus. Memainkan puncaknya bergantian. Dhani sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, bibirnya meracau merasakan cumbuan Bram yang menghanyutkannya...
Dhani melengkungkan punggungnya sambil menekan kepala Bram yang berada di atas dadanya. Bibirnya mendesah menyebut nama suaminya seakan meminta Bram meneruskan yang tengah dilakukannya.
" Braaammm...sayaaang.."
" Kau suka sayang...?"desis Bram parau
" Emh...teruskan sayang..I want you more...Bram..." Dhani makin meracau merasakan tubuhnya yang semakin memanas. Tubuhnya menggeliat menuntut Bram lebih. Sementara Bram juga sudah tidak bisa lagi menahan desakan dari dalam dirinya yang menuntut dipuaskan dan dilepaskan.
" Kamu sudah siap sayang? Bertahanlah sebentar, mungkin ini akan sedikit sakit.." Bram berbisik serak di telinga Dhani dan mulai menekankan bagian bawah tubuhnya ke pusat tubuh Dhani.
Dhani merasakan sesuatu yang keras memasuki bagian tubuhnya . Namun terhenti Seakan tertahan oleh sesuatu seperti dinding pembatas dibagian tubuhnya, tapi kemudian Dhani merasakan dinding itu diterobos oleh benda asing yang memasuki tubuhnya itu, bersamaan dengan rasa perih yang menyengat inti tubuhnya.
Tanpa sadar Dhani mengangkat pinggulnya sambil mencengkeram tubuh Bram yang ada diatasnya.
" Apakah sakit sekali sayang, maaf... bertahanlah sebentar honey.." Bram menghentikan gerakannya sejenak sambil membelai wajah Dhani yang tegang. Air mata Dhani keluar dari sudut mataya.
"Sakit Bram...." desis Dhani menatap mata Bram diatasnya.
Bram Menciumi bibir dan wajah istrinya, menghapus air mata Dhani dengan kecupannya lalu ******* bibir istrinya lembut hingga Dhani kembali terhanyut dan melupakan rasa sakit di pusat tubuhnya.
Bram merasakan bagian tubuh miliknya menghangat didalam tubuh Dhani. Dia merasakan denyutan dan cengkeraman lembut pada tubuhnya yang berada dalam tubuh Dhani. Pelahan digerakkannya pinggulnya, mendorong dan menekan makin ke dalam milik Dhani .
Awalnya Dhani masih merintih merasakan perih, namun pelahan rintihannya berubah menjadi desahan dan lenguhan nikmat saat Bram makin intens menggerakkan pinggulnya di atas tubuh Dhani. Tarikan dan dorongan yang Lembut, lalu makin cepat dan menuntut. Geraman, erangan dan lenguhan keduanya bersahutan sepanjang malam.
Bram seakan tak merasakan lelah menuntaskan hasratnya, memuaskan dahaganya, sementara Dhani pun begitu menikmati keperkasaan suaminya di ranjang pengantin mereka.
Berkali- kali Dhani merasakan puncak kenikmatan dalam pelepasannya sepanjang malam itu.
Keduanya berpacu dengan penuh hasrat dan gelora cinta. Menumpahkan segala rasa melalui penyatuan tubuh keduanya dalam ikatan restu dan sakral. Hingga keduanya menggelepar kelelahan saat Bram juga menuntaskan puncak pelepasannya di rahim Dhani.
" I love you Honey. .." bisik Bram saat tubuhnya ambruk di atas tubuh Dhani.
" I love you too sayang..." Balas Dhani setengah sadar.
Bram menggulingkan tubuhnya ke samping Dhani, menempatkan kepala istrinya di lengannya penuh cinta lalu mendekapnya di dadanya. Keduanya kemudian terlelap dalam mimpi indah sambil berpelukan. Wajah keduanya tersenyum.penuh kepuasan.
__ADS_1