
Mobil yang membawa mereka sudah sampai di parkiran Mall Z. Dhani turun disusul Bram.
" Kau bilang ingin menemui seseorang. Aku tidak mau mengganggu. Apa kau ingin aku menunggu diluar saja?" Bram menyandarkan tubuhnya dipintu mobil. Tangannya memutar-mutar kunci mobil di tangannya.
Dhani tergagap. Dia memang ingin menemui seseorang berdua saja. Tapi entah mengapa dia merasa bersalah jika meninggalkan Bram begitu saja. Dia takut Bram berpikir macam-macam. Ah, apa ini? Apalagi melihat sorot mata Bram.yang aneh saat itu. Mata teduh yang seakan minta penjelasan. "Memang apa yang akan kau lakukan hingga aku tak boleh melihatnya?" Padahal Bram tak mengatakan apapun.
" Temani aku belanja dulu. Baru kau boleh meninggalkanku saat temanku datang nanti." akhirnya Dhani membuat keputusan.
"Oke. " Bram menyusul langkah kaki Dhani memasuki mall Z.
Bram mengikuti Dhani berkeliling mall. Keluar masuk toko-toko yang ada di mall. Melihat-lihat apapun yang ingin Dhani lihat hari ini. Membeli semua barang yang diinginkannya. Dhani benar- benar maruk. Entah sudah berapa lama semenjak dia terakhir pergi sendiri ke mall.
Selama ini semua barang keperluannya sudah disediakan di rumah. Bahkan banyak barang- barang baru yang belum sempat dipakainya dan papanya sudah membelikannya lagi. Jadi untuk apa ke mall?. Begitu kata papanya. Dhani pun jadi terbiasa tinggal bilang dan semua keinginannya akan diwujudkan oleh papanya dalam sekejap mata.
"Apa kau tidak lelah Dhan? " Bram menunjukkan tentengan paper bag yang memenuhi kedua tangannya dan juga tangan Dhani. Sudah satu jam lebih. Dan tidak ada tanda-tanda Dhani akan berhenti berjalan untuk sekedar beristirahat.
"Hehehe....maaf Bram aku sampai lupa diri. Kita balikin barang-barang ke mobil yuk, habis itu kita makan dulu."
Bram menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Bisa-bisanya lupa diri gara-gara belanja. Sebenarnya Bram agak pusing dari tadi. Dhani seperti kesetanan keluar masuk toko yang ada di mall. Tapi demi menuruti keinginan Dhani dan tak ingin tuan putrinya kecewa, Bram tetap setia mengikuti Dhani.
Setelah meletakkan barang belanjaan di bagasi dan kursi belakang mobil. Dhani menarik tangan Bram ke food court yang ada di mall. Bram memesan segelas teh hangat untuk meringankan pusing kepalanya. Sedangkan Dhani memesan es krim.
" Nggak pesen makan Bram? " tawar Dhani ketika melihat Bram cuma meneguk teh hangatnya tanpa memesan makanan.
" Lagi nggak mood makan. Kamu aja makan Dhan. Jangan sampai sakit" Bram menolak.
" Aku akan makan siang dengan temanku sebentar lagi. Jangan khawatir. Kamu aku pesankan makanan ya?" Dhani tampak mengkhawatirkan Bram yang nampak kurang sehat.
" No...nanti kalau aku lapar aku bisa pesan sendiri tuan putri. Pergilah. Temanmu pasti sudah menunggumu." Bram tersenyum kecil . Meyakinkan Dhani agar tidak mengkhawatirkannya.
"Baiklah, kau harus makan ya..jangan sampai kau yang jatuh sakit." Dhani menepuk-nepuk punggung Bram sebelum pergi.
Dhani berjalan ke sebuah caffeshop terkenal yang ada didalam mall. Seseorang sudah menunggunya disana. Sosok yang sangat dirindukannya.
" Dhani" seru pria itu saat melihat Dhani masuk ke caffe. Bahkan dia meninggalkan kursinya untuk menjemput Dhani.
" Kak El"
__ADS_1
Sejenak mereka saling menatap. Tapi tak lama kemudian mereka saling berpelukan erat. Merka bahkan tak mempedulikan tatapan aneh para pengunjung caffe lainnya.
" Aku merindukanmu" gumam Dhani dan pria itu bersamaan. Mata mereka memerah menahan tangis. Air mata kerinduan.
Puas berpelukan mereka kemudian duduk berdampingan. Tangan.keduanya masih saling menggenggam. Bahkan tubuh dan kepala mereka saling bersandar saat duduk.
Tak banyak yang mereka bicarakan. Cuma tatapan mata mereka yang bicara.
"Apa kabarmu kak El? Kapan tiba disini?" Dhani menatap El setelah berhasil menguasai gejolak hatinya. tangannya masih digenggam El. Dan Dhani tidak menolaknya.
" Baru saja" El tersenyum.
"Jadi kau belum bertemu mama?"
" Kamu orang pertama yang aku temui saat tiba disini sayang.." wajah Dhani merona.
"Anak durhaka" El tertawa mendengar Dhani mengutuknya.
" Siapa pacarmu sekarang" El memainkan jemari Dani dalam genggamannya.
"Aku akan menunggumu Dhan..." bisik El.
" Jangan kak. aku milik papaku. Dan papa sudah memberikanku untuk orang lain. Pergilah. Cintaku pada papa jauh lebih besar dari apapun. Jadi please jangan keras kepala. Kita nggak akan pernah bersama."
" Jadi aku nggak ada artinya buatmu?" sendu El.
"Bukan begitu kak. Justru kau sangat berarti bagiku. Aku nggak mau kau sia-siakan hidupmu untuk hubungan yang sudah jelas tak ada masa depannya kak."
" Ah sudahlah. Jangan bicara lagi. Makan yuk." sergah El.
Dhani dan El segera menyantap pesanan mereka. Sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain sambil tersenyum.
Tanpa mereka sadari sepasang mata elang mengikuti semua gerak-gerik mereka dari tadi. Wajahnya yang pucat semakin pias melihat kemesraan dua insan yang nampak penuh cinta itu .
Drt...drt...
Dhani membuka tas dan mengambil Hpnya.
__ADS_1
Bram: *Kutunggu di mobil
Dhani: * Ok
Setelah menghabiskan makanannya Dhani dan El berpisah. Sebenarnya El masih ingin mengajak Dhani lebih lama. Tapi Dhani menolaknya halus.
Dhani beralasan tadi cuma pamit pergi sebentar ke papanya. Dan dia tidak mau papanya menunggunya. Padahal sebenarnya Dhani merasa tidak tenang meninggalkan Bram begitu saja. Entahlah..seperti seseorang yang meninggalkan kekasihnya untuk bertemu kekasih yang lain...huft...keluhnya. Padahal Bram cuma bodyguard dan sopir pribadinya. Perasaan apa ini?
Dhani mempercepat langkahnya ke parkiran mall. Sampai di mobil dilihatnya Bram ada di dalam mobil. Seperti tidur bersandar di jok mobil.
" Bram.." diketuknya pelan pintu mobil. Setelah beberapa kali mengetuk. Bram tampak membuka pintu mobil.
" Kau sudah selesai?" Bram tersenyum samar.
Dhani melihat Bram tidak seperti biasanya. Wajahnya yang putih tampak pias. Dhani mengulurkan tangan ke dahi Bram. Tapi Bram menurunkan tangan Dhani di dahinya.
" Ya Tuhan, kau demam Bram. Maaf aku terlalu lama" Dhani panik.
" Aku cuma sedikit pusing Dhan.." tukas Bram.
" Geser sana, biar aku yang bawa mobilnya."
" Aku nggak papa tuan putri" Bram.masih berkeras.
"Kau mau ku gendong pindah ke samping atau pindah dengan sukarela dan biarkan aku mengemudi?" ancam Dhani.
Bram tertawa tertahan." Kau kuat menggendongku? Bahkan saat ini aku masih kuat menggendongmu lagi tuan putri." Bisik Bram saat Dhani membantunya bergeser ke samping. Entah mengapa Bram merasa tubuhnya lemas sekali.
" Kau sengaja mencuri kesempatan menggendongku ya? " Dhani menggoda Bram yang tampak lemas. Tangannya sudah memegang kemudi dan menjalankannya keluar mall.
Bram tersenyum. " Hei!Kau mengijinkanku nona, I am a gentelman. Aku nggak akan melakukannya jika kau tak mau"
" Hah...ngeles.." Dhani tertawa.
" Kau yang jago ngeles tuan putri"
Keduanya tertawa. Bram merasa pusingnya sudah hilang entah kemana.
__ADS_1