Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Melamarmu


__ADS_3

Kak, bisa kita bertemu?~Dhani mengirimkan pesan ke Luki.


Bisa Dhan, kutunggu besok saat makan siang di caffe A.~ Balas Luki


Ok. Thanks Kak, see you.~ Dhani


Dhani melangkahkan kaki memasuki cafe yang terlihat ramai. Dia mengedarkan pandangan ke area cafe yang luas. Seseorang melambaikan tangan ke arah Dhani dari sudut ruangan yang agak terpisah dari pengunjung cafe yang lain. Dhani bergegas.


" Hai kak" sapa Dhani ramah pada Luki.


" Duduklah Dhan" Luki tersenyum mempersilakan Dhani duduk.


Dhani tersenyum dan duduk di depan Luki. Agak canggung mengingat apa yang telah terjadi kemarin.


Seorang waitress menghampiri mereka dengan buku menu. Luki dan Dhani kemudian memesan beberapa makanan dan minuman yang mereka inginkan.


" Kak.." Dhani membuka percakapan ketika sang waitress sudah berlalu dari meja mereka.


" Hmm...ya..Dhan" Luki menggantung ucapannya membuat Dhan makin canggung.


" Aku mau minta maaf kak" Akhirnya terucap juga dari mulut Dhani. Dia memang harus meminta maaf meski kejadian kemarin bukan sepenuhnya salahnya.


" Kenapa? Kamu tidak bersalah.." Luki terdengar datar. Dia tahu pasti Dhani membicarakan hal itu.


" Sungguh aku tidak tahu akan terjadi seperti itu kak." Dhani benar-benar merasa menyesal.


" Aku tahu. Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi" Luki tersenyum.


" Maaf kak, mudah-mudahan itu tidak mempengaruhi kerja sama kita" Dhani masih merasa sungkan pada lelaki di depannya itu.


Luki tertawa " Ah sudahlah Dhan, mana mungkin aku mencampur adukkan masalah sepele seperti itu dengan bisnis kita? Ya itu salahku sendiri juga. Tidak menanyakan dulu padamu ...haha...kalau dipikir-pikir lucu juga kemarin "


" Kakak tidak marah? " Dhani sedikit terkejut melihat Luki tertawa.


" Hmm ya kemarin aku sempat shock juga..haha..tapi sudah nggak lagi. It's Ok Dhan. Aku baik-baik saja sekarang. Yaa..meskipun masih kecewa karena terlambat mengatakan perasaanku padamu." Luki menatap Dhani sesaat membuat Dhani menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Sekali lagi maaf ya kak. Kita masih tetap berteman kan?" Dhani menatap Luki penuh harap.


" Tentu saja Dhan, karena ke depan masih ada banyak lagi yang akan kita kerjakan bersama-sama"


" Makasih kak" Dhani merasa lega.


" Its Ok Dhani, Santai saja. " Luki mengusap pelan punggung Dhani seakan meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. " Jadi dia tunanganmu?" Luki menatap Dhani . Senyuman masih tersamar dibibirnya.


Dhani mengangguk dan ikut tersenyum. " Iya kak. Lain kali aku akan mengenalkannya pada kakak"


Luki mengangguk sambil tetap tersenyum. Entah apa yang da di pikirannya saat itu.


Mereka kemudian makan siang dengan tenang. Sesekali diselingi obrolan ringan. Tampaknya semua sudah kembali baik-baik saja.


Luki sama sekali tak menampakkan raut kecewa pada Dhani. Tapi jauh di lubuk hatinya Luki sungguh tidak rela pujaan hatinya itu telah menerima lamaran dari pria lain di depan matanya. Sudut hatinya masih yakin bahwa suatu saat gadis itu akan jadi miliknya. Gadis itu akan bersamanya. Dhani belum menikah.


Sementara Dhani yang naif menganggap Luki telah benar-benar melupakan semuanya. Sehingga tak ada lagi rasa canggung pada Luki.


Dua minggu berlalu. Hari yang mendebarkan bagi Dhani akhirnya tiba juga. Hari ini akan datang rombongan tamu keluarga Bram dari kota S. Mengingat Bram adalah satu-satunya putra Dimas, hampir seluruh keluarga ikut mengantar rombongan. Mereka menggunakan pesawat pribadi untuk mengangkut anggota keluarga mereka ke kota ini.


Ada panggung kecil di sisi lain yang dihias dengan bunga mawar dan melati segar diselang-seling hiasan berbentuk mutiara berkilauan tertimpa cahaya lampu yang lembut.


Sang Tuan Besar pemilik rumah hanya sesekali melihat hasil pekerjaan dari EO yang telah dipercaya mengurus segalanya dan dibantu para pegawainya. Sementara sang nona muda tak tampak sama sekali. Dhani tidak diperbolehkan keluar kamar sejak siang tadi. Dia harus menjalani perawatan khusus yang akan membuat penampilannya sempurna nanti malam.


Luluran, pijat refleksi, meni-pedi, cream bath, facial, hair mask, dan entah apa lagi. Dhani menurut saja sampai terkantuk-kantuk. bahkan terlelap. Namun saat terbangun tubuhnya terasa segar sekali setelah menjalani semua perawatan itu.


" Waah...seger banget rasanya badanku. Lain kali aku mau ikut perawatan seeperti ini lagi" gumam Dhani.


" Memangnya nona mau nikah berapa kali?" Tanya mbak-mbak yang saat ini sedang merapikan bulu alis Dhani.


" Lho memangnya untuk perawatan harus nikah? "


"Hehe...nggak juga nona, tapi ini kan memang perawatan khusus calon pengantin..." jawab mbak itu.


Dhani tersenyum. Menatap pantulan wajahnya di cermin. Kulit wajah dan tubuhnya tampak kenyal, halus lembut dan bersinar walau polos tanpa riasan sama sekali. Dhani merasa takjub dan tanpa sadar meraba wajahnya sendiri. " Wah kalian benar-benar hebat! Wajahku terasa segar dan lembut " puji Dhani.

__ADS_1


Sebenarnya Baron bermaksud mengadakan acara lamaran dengan ritual kejawen ( adat jawa) lengkap dan diadakan di hotel mewah mereka, namun Dhani dan Bram tidak menginginkannya. Keduanya lebih memilih tema sederhana mengingat waktu yang terbatas.


Padahal pihak keluarga kedua belah pihak ingin menyelenggarakan acara sesempurna mungkin bahkan semewah mungkin mengingat Bram


dan Dhani sama-sama anak tunggal di keluarga mereka.


Akhirnya disepakati bahwa acara lamaran dan pemberkatan pernikahan di kota J, di kota Dhani , diadakan dengan mengusung tema internasional . Sedangkan acara ngunduh mantu ( pesta pernikahan yang diadakan pihak keluarga mempelai pria) akan mengusung tema Kejawen(adat jawa) lengkap dan diadakan di kota S mengingat semua keluarga mempelai ada di kota S.


Untuk acara lamaran Dhani sengaja meminta papanya untuk menggelarnya secara sederhana di rumah. Dhani ingin acara yang benar-benar privat dan sakral yang hanya kerabat terdekat saja yang mengikutinya. Tentu saja tidak akan bisa dilakukan jika diadakan di hotel karena pasti akan mengundang banyak media yang meliput.


Dhani tidak ingin acara lamarannya terganggu dan hilang kesakralannya.


Baron hanya bisa menuruti keinginan putri satu-satunya itu. Bagaimanapun ini adalah hari bahagia Dhani, dan Baron benar-benar ingin mewujudkan semua yang menjadi kebahagiaan Dhani termasuk konsep lamaran dan pernikahan sesuai keinginan Dhani.


Rombongan calon mempelai pria sudah tiba dengan segala seserahan yang membuat siapapun yang melihatnya hanya mampu mengucap WOW! Mengingat tidak diadakan acara tunangan, maka seserahan untuk calon mempelai putri diserahkan saat ini.


Rombongan disambut Baron sebagai tuan rumah, didampingi sahabat-sahabat Dhani, Silgy, Donald dan Bastian yang mengenakan baju adat jawa modern.


Silgy melotot melihat banyaknya seserahan dari keluarga Bram. Apalagi semua seserahan itu adalah barang-barang branded yang harganya bisa mencapai ratusan juta. Belum lagi perhiasan yang bertahtakan berlian dan mutiara asli.


" Waw...gila ini sih. Lihat Nald ini nilainya bisa milyaran tau?" Silgy ternganga sambil meletakkan barang-barang itu ke kamar Dhani dibantu Donald, Bastian dan bik Nah.


" Kamu jangan minta yang kaya gini ya yang...abang belum mampu, tapi abang janji akan kerja keras agar nanti bisa beliin kamu" bisik Donald di telinga Silgy membuat gadis itu tersipu.


" Nggak lah yang...aku juga sadar diri kali. Yang penting hatimu selalu buat aku" Silgy menatap Donald mesra. Sudah setahun ini Silgy dan Donald menjalin kasih . Tinggal Bastian yang betah menjomblo.


Tiba pada acara inti, Terlihat Dimas selaku pemimpin rombongan dan ayah Bram melangkah pasti ke pnggung kecil yang sudah disiapkan.


" Dimas Baron , tidak usah penjang lebar, hari ini aku mengantarkan putraku Bramantyo Brotonegoro untuk meminang Dyah Pramudya Wardhani menjadi istrinya. Sebagai orangtua Bram aku cuma bisa menuruti dan mendukung niat baik dari anakku yang akan menjadikan putrimu sebagai pendamping hidup selama-lamanya. Apakah dimas Baron menerimanya?"


Baron berdiri sambil memegang mic. Lalu meluncurlah kata-kata penuh wibawa dari pria paruh baya yang masih tampak tampan itu.


" Sebagai orang tua Dhani tentu aku sangat senang jika kamu jadi besanku seperti keinginan kita Kang mas Dimas. Tapi hidup dan kebahagiaan Dhani adalah milik Dhani seutuhnya. Jadi aku akan membiarkan Dhani yang menjawabnya secara langsung." Baron tersenyum sambil menatap lekat ke arah Dhani.


Semua yang hadir ikut menatap Dhani. Menunggu jawaban dari Gadis yang malam itu tampak begitu sempurna. Dia menunduk. Seakan menyembunyikan kecantikannya yang mempesona siapa saja.

__ADS_1


__ADS_2