
Dhani sudah sampai di rumahnya. Dia segera beranjak ke kamarnya. Di tangga Dhani bertemu Baron yang rupanya sudah pulang dari kantornya semenjak tadi.
" Telat pulangnya sayang?" Sapa Baron sambil mengecup kening putri kesayangannya.
" Iya pa, macet banget. Tadi Pak Sukir jemput sudah telat. Trus pulang juga macet banget. Capek Dhani pa..." Dhani memeluk papanya manja.
" Ya sudah sana mandi trus istirahat ya..? Baron membelai rambut Dhani sayang.
" Pa, besok Dhani mau ajak teman-teman Dhani berenang disini boleh? " Dhani tiba-tiba teringat rencana weekendnya dengan sahabat- sahabatnya.
" Boleh saja, suruh pelayan siapkan semuanya agar teman-temanmu nyaman..tapi papa nggak bisa nemenin. Besok papa ada acara penting di luar kota. Mungkin minggu pagi baru pulang."
" Sayang sekali pa, padahal aku ingin mengenalkan papa pada sahabatku. Lagian weekend kok masih kerja aja sih pa..." Dhani tampak kecewa.
" Maafkan papa ya sayang. Ini sangat penting. Kebetulan acaranya memang weekend karena banyak klien papa yang ingin acaranya dilakukan week end sekalian liburan bersama. Sebenarnya papa ingin mengajakmu, tapi karena kamu sudah ada acara terpaksa papa pergi sama sekretaris papa."
" Papa kenapa papa tidak menikah lagi? Dhani kasihan papa tidak ada yang mendampingi. Apalagi sekarang kegiatan Dhani banyak, Dhani semakin tidak punya waktu untuk papa."
"Apa kamu siap punya ibu tiri sayang? " Baron menggoda putrinya
" Siap papa, kalau itu membuat papa bahagia."
" Bagaimana kalau ibu barumu tidak menyukaimu?"
" Dhani yakin papa nggak akan mengambil istri yang seperti itu." Dhani tertawa . Dia tahu papanya hanya menģgodanya, karena Dhani tahu Baron sama sekali tidak tertarik berhubungan dengan wanita setelah mamanya meninggal.
" Mungkin kau yang harus mencarikannya untuk papa sayang.." Baron mencubit hidung Dhani.
Mereka tertawa. Selalu saja pembicaraan masalah istri baru papanya akan berakhir seperti ini. Kadang Dhani merasa kasihan pada papanya. Tapi papanya tampak bahagia dan baik-baik saja tanpa wanita pendamping disisinya. Inilah yang membuat Dhani tak kuasa menolak apapun yang papanya minta. Termasuk perjodohan dirinya dengan putra dari teman papanya itu.
" Dhani ke atas dulu ya pa? Sebentar lagi makan malam."
" Iya sayang, papa tunggu ya..." Baron melepaskan pelukannya pada Dhani.
Dhani merendam tubuhnya di bathtub ,menghilangkan penat dan peluh seharian. Pikirannya melayang pada papanya. Dhani berharap dirinya kelak mendapatkan lelaki setia dan mencintainya tanpa batas seperti papanya.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Bram muncul di depannya. Lalu berkelebatan lagi saat-saat dirinya berciuman penuh gairah dengan Bram..Aaahh...dibasuhnya wajahnya dengan air untuk menghilangkan bayangan gila itu.
Dhani mendesah. Apakah Bram akan mencintainya seperti papa? Apakah jodoh dari papa yang akan mendampingi hidupnya kelak yang akan mencintainya? Dhani merasa sesak. Dhani membuang nafasnya kasar. Segera bangkit dari bathtub dan membersihkan dirinya di shower. Papanya pasti sudah menunggunya makan malam.
" Malam papa.." Dhani mencium pipi Baron.
" Malam.sayang.." Baron mengelus sayang kepala Dhani. " Ayo makan! "
Keduanya kemudian makan bersama dengan tenang. Setelah makan malam Baron mengajak Dhani ke ruang kerja.
" Ada apa pa? " Dhani heran karena tidak biasanya papanya mengajak berbicara di ruang kerja.
" Kamu sudah besar sayang, sudah saatnya kamu tahu tentang bisnis papa. Kelak kamulah yang akan menghandle semuanya menggantikan papa." Baron berkata sambil menatap lembut wajah Dhani." Apa kamu siap sayang?"
" Emh sebenarnya Dhani belum siap pa, tapi kapan lagi? Dhani harus mempelajarinya pelahan. Dhani juga merasa harus mulai membantu papa. Papa selama ini selalu sendirian mengerjakan semua untuk Dhani. Sudah saatnya Dhani ikut andil membantu papa." Dhani mencoba berpikir bijak.
Baron tersenyum. Bangga karena putri tunggalnya bukan cuma gadis manja yang tahu bersenang-senang saja. Tapi juga punya rasa tanggung jawab yang besar. " Papa bangga sama kamu sayang, terima kasih sudah jadi putri papa yang baik"
Dhani kemudian mengambil kursi dan duduk disebelah papanya Keduanya kemudian larut dalam obrolan dan diskusi tentang kerajaan bisnis mereka, aset-aset mereka dan rencana- rencana jangka panjang maupun pendek yang sudah Baron susun dengan matang.
Sesekali mereka membaca data-data dan visual di laptop. Dhani memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang papanya jelaskan. Kadang Dhani bertanya dan memberikan pendapatnya. Kadang keduanya juga saling bercanda dan tertawa bersama.
" Cukup untuk hari ini sayang..kamu sudah mengantuk ya?" Baron mengamati wajah putrinya yang sudah sayu karena mengantuk.
" Hehe...iya pa..Dhani tidur dulu ya..?" Dhani mencium pipi Baron lalu meninggalkan ruang kerja. Tak lama Baron menyusul keluar dari ruang kerja dan masuk ke kamarnya.
Di lantai dua, Dhani sudah hendak membaringkan tubuhnya ke ranjang ketika didengarnya notifikasi dari ponselnya yang sedang dicas di nakas. Kantuknya menghilang melihat nama yang tertera disana.
Malam sayang...aku merindukanmu..~Bram.
Aku juga Bram..~ Dhani
Bohong ~ Bram
Kok bohong? ~ Dhani
__ADS_1
Kamu nggak hubungi aku sama sekali, cuma aku yang selalu menghubungimu lebih dulu..emot cemberut~ Bram
Sayaaang...kok gitu sih..aku hari ini sibuk sekali sampai lupa mengabarimu. Maaf ya..hmm..~ Dhani
Saat itu juga ada v call dari Bram. Dhani buru-buru mengangkat ponselnya.
Tampak di layar ponsel Bram sedang berbaring di sofa sambil memeluk bantal Dhaninya. Dhani tersenyum hangat.
" Aku juga sibuk dan capek, tapi aku nggak pernah melupakanmu" Bram masih mengerutkan bibirnya di layar. Wajah tampannya tampak menggemaskan.
" Terus aku harus apa agar kamu memaafkanku? " Dhani mencoba merayu Bram.
" Nggak ada, percuma jauh juga.." Bram setengah bergumam.
" Emang kalau dekat mau apa hmm? " Dhani tersenyum menggoda Bram.
" Yang kaya kemarin..." Bram menatap Dhani mesra. Dhani menggigit bibir bawahnya pelan. Membuat Bram merasa kepanasan di kamarnya yang ber AC. Bayangan berduaan dengan Dhani berkelebatan di angannya.
" Ahh Bram...aku juga kangen kamu sayang.." Dhani mendesah pelan. Keduanya bertatapan di ponsel sambil membayangkan kebersamaan mereka kemarin.
" Dhani, kamu bikin aku gila sayang.." bisik Bram. Dhani cuma menjawabnya dengan senyuman dan tatapan sayu. Dipeluk dan diciuminya lembut bantal bertuliskan nama Bram ditangannya. Matanya masih menatap layar ponsel . Disana Bram juga masih menatapnya lembut tanpa berkata-kata.
" Sudah ya sayang, lama-lama malah bikin puyeng, bisa dilihat nggak bisa dipegang" Dhani tertawa kecil.
" Emh..emang kamu pengen pegang apa? " Bram juga tertawa mendengar ucapan Dhani
" Apa saja boleh kan?" Dhani menggoda Bram.
" Uhh,.boleh sayang....dengan senang hati" Bram.menjawab sambil menatap penuh gairah.. Dhani bergidik.
" Ihh dasar mesum !" Dhani menutup wajahnya dengan bantal.
" Kan kamu yang mulai nona? " Bram tertawa keras melihat wajah Dhani yang merona karena malu.
Mereka bercanda dan saling menggoda. Tak terasa waktu berlalu. Satu jam kemudian barulah mereka mengakhiri percakapan itu.
__ADS_1
" Good night sayangku...have a nice dream" ucap Bram
" Good night sayang, mimpikan aku.." balas Dhani. Keduanya tersenyum dan menutup panggilan bersamaan.