
Sampai di rumah Dhani menoleh ke arah Bram. Rupanya Bram tertidur disampingnya. Diulurkannya lagi tangannya ke dahi Bram. Masih panas. Kau benar-benar sakit tuan tampan. Dhani menggumam dalam hati.
Bagaimana ini? Apa aku harus membangunkannya. Sebenarnya Dhani merasa tak tega. Tiba-tiba dia ingat bagaimana Bram menggendongnya saat ia tertidur. Jelas dia tak mungkin menggendong Bram kan? Ahh aku minta tolong pak Satpam saja untuk membantu membawanya ke kamar.
Dhani membuka pintu mobil hendak memanggil Satpam. Saat itulah Bram membuka matanya.
"Eh kau sudah bangun? Masih bisa jalan ke rumah kan, atau mau kupanggilkan satpam.untuk menggendongmu? " Dhani memegang tangan Bram.
" Bukankah tadi ada yang bilang mau menggendongku?" goda Bram mengingat perkataan Dhani di parkiran mall.
" Dasar, sudah sakit masih saja cari kesempatan." gerutu Dhani membuat Bram tertawa.
" Hei aku masih kuat jalan tuan putri, bahkan aku masih kuat menggendongmu seperti kemarin."
" Mulai lagi kan...dasar" Dhani segera turun lalu menuju pintu penumpang. Bram membuka pintu mobil lalu berdiri. Tapi langkahnya tampak terhuyung sedikit. Dhani menangkap tangan Bram. Mengalungkan ke pundaknya lalu memapahnya masuk ke rumah.
" Maaf tuan putri. Ternyata aku benar- benar lemas" keluh Bram
" Sudah jangan banyak bicara. Istirahatlah ya..." Dhani membaringkan tubuh Bram ke ranjang kamar Bram. Lalu menyelimutinya.
Dhani keluar kamar . Menelpon Dokter keluarganya untuk datang. Lalu meminta baskom berisi air dan handuk kecil pada pelayan. Setelah mendapatkan yang dimintanya,Dhani kembali masuk ke kamar Bram. Mata Bram tertutup rapat. Keringatnya bercucuran dikeningnya.
Dhani memeras handuk kecil yang sudah basah lalu meletakkannya di dahi Bram. Disekanya keringat Bram dengan tisyu.
Bram membuka matanya. "Terima kasih tuan putri" bisiknya pelan. " Aku tidak apa-apa, sebentar lagi juga sembuh, aku cuma pusing gara-gara mengikutimu. Ternyata benar bahwa wanita itu kuat sekali. Hanya gara-gara mengikutimu belanja aku sudah k.o." Bram tertawa pelan..
Dhani ikut tertawa. " Makanya jangan meremehkan wanita ha? Baru ku ajak keliling mall kau sudah meriang. Bagaimana kalau ku ajak keliling dunia?"
Bram dan Dhani tertawa bersama-sama. Saat itulah dokter Rudy masuk kamar.
" Siapa yang sakit nona" tanya dokter Rudy.
" Dia dokter. Silakan periksa." Dhani mundur membiarkan Dokter Rudy memeriksa Bram.
Setelah beberapa saat pemeriksaan selesai.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" Dhani duduk dengan dokter di sofa kamar.
" Cuma dehidrasi dan kelelahan nona."
" Syukurlah" gumam Dhani.
" Ini vitamin dan obat demamnya. Semoga lekas sembuh."
"Terima kasih dokter." Dhani mengantar dokter keluar kamar. Saat kembali dilihatnya Bram sudah duduk menyandar di kepala ranjang.
" Kenapa kau panggil dokter Dhan? Malu-maluin aja. Aku kan sudah bilang baik-baik saja. Istirahat bentar juga sembuh.
" Aku takut ada penyakit berbahaya. Syukurlah tidak ada. Cuma dehidrasi dan kelelahan saja.
"Ndoro ayu permisi ini buburnya" seorang pelayan berdiri didepan pintu kamar yang memang terbuka.
" Sini bawa masuk bi Nah" Dhani melambaikan tangannya.
Bi Nah bergegas masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.
Bram menerima mangkuk itu, namun tangannya terlihat gemetar. Hampir saja mangkuk itu jatuh, tapi Dhani berhasil menangkapnya sebelum benar- benar terlepas dari tangan Bram.
"Ish bagaimana kau bilang tidak apa-apa kalau mengangkat mangkuk pun kau tak sanggup tuan?" Dhani mengejek Bram yang tersenyum kecut.
"Hei ini karena aku belum makan.." Bram menutup bibirnya merasa kelepasan bicara.
" Hahh..kenapa tidak makan tadi. Dasar kau, memang cari penyakit ya...ayo aku suapi" Dhani menyendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Bram.
Bram menurut membuka mulutnya lalu mengunyah bubur pelan-pelan
Dhani menatap wajah Bram. Saat bersamaan Bram juga menatapnya dalam. Dhani tergagap. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Dhani membuang muka ke arah lain. Dia takut Bram akan mendengar detak jantungnya yang terasa seperti genderang. " Ahh apa ini, kenapa dia menatapku seperti itu?" Batin Dhani
" Ayo habiskan buburmu" Dhani kembali menyuapi Bram setelah degup jantungnya mulai reda." Bram tersenyum tak melepaskan pandangannya dari wajah cantik dihadapannya yang kini terlihat memerah. Dibukanya mulutnya.
Dhani pura-pura cuek. Padahal merasa ditelanjangi oleh tatapan mata Bram.
__ADS_1
" Apa kau mau memakanku, sampai melihatku terus seperti itu? " Dhani menyeka bibir Bram dengan tisyu setelah bubur di tangannya habis.
Bram cuma tersenyum.Tiba-tiba Bram meraih tangan Dhani yang masih berada dibibirnya. Membelai lembut tangan itu. Membuat jantung Dhani serasa mau meloncat keluar.
" Terima kasih sudah mengkhawatirkanku" Bram menggenggam lembut tangan Dhani.
Dhani merasa ada aliran listrik yang menjalar dari tangannya yang digenggam Bram. Aaa apa ini...Dhani merasa tubuhnya menghangat. Tanpa sadar Dhani menatap wajah Bram. Entahlah, dia merasa tak ingin melepaskan tangan Bram yang terasa hangat itu.
" Apa aku begitu tampan tuan putri?" goda Bram menyadarkan Dhani yang terbengong didepannya. Bibir Dhani langsung cemberut. Buru-buru dilepaskannya tangannya dari genggaman Bram.
" Huh narsis..Ini minum obatmu. Aku nggak mau jadwalku terganggu gar-gara kamu sakit" Dhani mengangsurkan obat dan air putih yang ada di meja.
Bram membuka mulutnya . Reflek Dhani memasukkan obat ke mulut Bram lalu meminumkan air putih di gelas hingga habis.
" Manja..!" gerutu Dhani. Bram malah tertawa mendengarnya.
" Tanganku masih gemetar nona" rengek Bram menggoda Dhani.
" Kau ini, memang suka ambil kesempatan ya?" Dhani memukul pelan tangan Bram. Merapikan selimutnya kembali lau berdiri dari duduknya.
Bram tertawa lagi. " Aku jadi ingin sakit terus..haha.."
Dhani melotot. Jangan coba-coba memanfaatkanku ya...aku akan memecatmu."
" Ohh..jadi kau ingin Pak Sukir menggantikanku?" Bram kembali terkekeh.
Dhani tidak menjawab Bram lagi. Membalikkan badan meninggalkan Bram yang masih tertawa puas karena berhasil menggodanya. Ditutupnya pelan pintu kamar Bram.
Dhani memanggil pelayan untuk mengambil mangkuk bekas bubur dan gelas kosong di kamar lalu beranjak naik ke kamarnya di lantai dua.
Sampai di kamarnya Dhani merebahkan badannya diranjangnya yang empuk. Dipejamkannya matanya. Tiba-tiba saja terbayang tatapan lembut Bram tadi. Belaian dan Genggaman tangannya masih terasa hangat ditangan Dhani. Tanpa sadar Dhani mengelus tangannya sendiri. Dadanya berdetak kencang.
" Apa aku mulai tertarik padanya? Ahh tidak. Aku hanya terbawa suasana saja karena aku selalu bersamanya seminggu ini. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya atau pada siapapun." Dhani menepis semua kekhawatirannya.
Dhani turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi. Berendam di air hangat beraroma kesukaannya di bathtub. Melepaskan diri dari segala beban pikiran yang mengganggunya.
__ADS_1