
Acara gala dinner berakhir pukul 22.00.
Sesi foto bersama keluarga inti juga telah usai. Ada kejadian mendebarkan saat sesi foto bersama. Dhani yang selalu mengekor di belakang Baron tiba-tiba dikejutkan sebuah tepukan halus di punggungnya.
" Kenapa tidak menyapa eyang(kakek)..?" suara lembut namun penuh wibawa itu membuat jantung Dhani hampir copot.
" Sinuwun..." Dhani menangkupkan tangannya di depan dada.
" Aku eyangmu, panggil eyang saja.." sang raja berucap lembut namun tetap saja membuat dada Dhani berdegup. Ini pertama kalinya dia begitu dekat dengan kakeknya.
"Baik eyang. Maaf kami datang terlambat dan langsung mengikuti latihan sebagai putri domas. Jadi belum sempat sowan ( menghadap) eyang." Dhani berucap penuh hati-hati. Aku bicara dengan sang raja..bathin Dhani.
" Jangan terlalu kaku, aku ini eyangmu. Memang semua salah papamu. Tidak pernah membawamu mengunjungi kakekmu yang sudah tua ini.." Wajah sinuwun kelihatan sedih sambil menatap ke arah Baron disisi Dhani.
" Maaf..." Baron tersenyum samar.
Dan sesi foto malam itu berlangsung penuh keakraban. Setelah sesi foto bersama mempelai dan keluarga, dilanjutkan foto bersama kerabat inti kerajaan.
Dhani baru tahu papanya punya dua kakak perempuan dan dua kakak laki-laki. Malam itu kelima bersaudara itu tampak sumringah (ceria) dan berbahagia seakan-akan mereka baru saja melewati perpisahan begitu lama dan bertemu kembali saat itu.
Sinuwun raja seakan tak mau melepaskan pelukannya pada Dhani. Anehnya paman-paman dan bibi-bibi Dhani seakan sengaja membiarkan Dhani terus berada di sisi raja. Padahal seharusnya sesuai aturan Putra dan cucu pertama yang berhak berada di sebelah sang raja.
Dhani menatap papanya, Baron cuma tersenyum dan mengangguk seakan meminta Dhani untuk mengikuti saja semua keinginan raja dan putra-putrinya. Dhani pun mengangguk, menatap papanya sambil bergumam dalam hati. Ada apa papa? Papa harus jelaskan semua ini pada Dhani...
Saat sesi foto berakhir, raja memanggil Dhani mendekat. Mereka duduk di kursi yang tadi digunakan saat sesi foto bersama.
" Cucuku, sering-seringlah mengunjungi eyang ya...kau sudah besar, kalau papamu tidak berkenan mengantarmu menemui eyang, kau pasti sudah bisa berangkat sendiri kan?" ucap sang raja lembut sambil menggenggam tangan Dhani.
" Inggih (iya) eyang.." jawab Dhani tulus. Eyang begitu lembut dan baik. Kenapa papa tak pernah mengajak Dhani menemuinya? Kenapa seakan Dhani tak diperkenalkan pada keluarga papanya? Dan beribu tanya memenuhi otak Dhani meminta jawaban. Papa berutang banyak penjelasan padaku..bisik hati Dhani.
Baron yang ikut duduk di sebelah Dhani cuma diam seribu bahasa. Wajahnya tampak datar.
" Malam ini kami akan pulang bopo (ayah). Banyak pekerjaan menunggu, Dhani juga kuliah. Jadi kami sekalian pamit." Baron menatap sekilas wajah sang raja lalu menunduk.
" Baiklah, hati-hati di jalan. Ingat ya nduk ( panggilan sayang untuk anak perempuan) kamu punya eyang dan keluarga di sini. Sering-seringlah berkunjung ya? Eyang menyayangimu."
Dhani mencium takzim punggung tangan eyangnya sedangkan sang raja kemudian memeluk Dhani erat sambil mencium puncak kepala gadis itu.
Setelah sang raja melepas pelukannya pada Dhani, Baron mendekat ke sang raja lalu meraih tangan sang raja dan menciumnya lama. Kemudian kedua ayah anak itu berpelukan erat. Entah mengapa keduanya tak berkata apapun, namun siapapun tahu saat itu keduanya menangis dalam diam. Air mata mengalir deras dari mata keduanya. Bahkan semua yang hadir ikut menangis haru.
__ADS_1
Dhani semakin bingung. Ada apa ini? Apa yang tidak diketahuinya? Mata Dhani nanar menatap papa dan eyangnya yang seakan larut dalam keharuan.
Dhani menghampiri permaisuri yang tak lain neneknya yang juga tengah menangis.
" Eyang.." bisik Dhani disambut pelukan erat sang nenek.
" Eyang ingin bicara banyak denganmu sayang, segeralah berkunjung lagi kesini. Banyak yang mau eyang ceritakan padamu.." bisik lembut nenek Dhani di sela tangisnya.
" Pasti eyang.." Jawab Dhani membalas pelukan neneknya.
Baron mendekati ibunya.." Yung... (biyung, ibu).." lalu memeluk wanita sepuh (tua) yang masih tampak cantik itu. Seperti dengan raja. Kali inipun kedua ibu anak itu menangis sesenggukan sambil berpelukan.
" Anakku...ragilku..." seru permaisuri dalam tangisnya. Suasana semakin mengharubiru. Tanpa sadar Dhani ikut menangis. Membayangkan mamanya memeluknya seperti neneknya memeluk penuh cinta papanya..
" Mama..." gumamnya pelan.
Tanpa aba-aba semua bibinya beserta suami mereka bergantian memeluk Dhani. Juga kedua pamannya dan istri-istrinya.
" Kau harus sering berkunjung Wardhani..jangan pernah memutuskan tali persaudaraan..kami semua menyayangi kalian.." Paman tertua Dhani berkata tulus sambil memeluk Dhani.
" Inggih pak puh (Bapak sepuh, kakak laki-laki dari ayah)" Dhani mengangguk.
Hampir pukul 23.00 ketika Dhani memasuki kamarnya. Dia dan papanya harus bersiap karena penerbangan mereka dijadwalkan pukul tiga dini hari nanti.
Dhani sudah mengepak semua barang-barang ke kopernya. Sebenarnya Dhani sudah tak sabar ingin minta penjelasan papanya tentang hubungan papanya denga keluarga kerajaan. Ketika ponselnya lebih dahulu bergetar.
Sayang, ku tunggu di taman. Keluarlah, minta izin om Baron kalau aku yang akan mengantarmu ke Bandara. Please...~ Bram
Tunggulah, aku akan minta izin papa..~ Dhani
Tok..tok...tok.." Papa..." Dhani di depan kamar papanya.
" Masuklah sayang" jawab Baron dari dalam kamar.
" Pa...boleh nggak..."
" Boleh..pergilah.." belum selesai Dhani bicara Baron sudah menjawab sambil tertawa kecil. Diusapnya pelan rambut putrinya dengan gemas.
" Ta..tapi Dhani mau...."
__ADS_1
" Iya Bram sudah minta izin papa" Baron tertawa melihat wajah takut-takut Dhani.
Oh..ya ampuun. Dhani merasa lega.
" Makasih pa, koper Dhani sudah siap di kamar."
" Iya nanti biar diangkat sopir, sudah cepat pergi, waktu kalian tidak banyak" Baron mengerti kekhawatiran Dhani.
"Papaku memang terbaik..cup!" Dhani mencium pipi Baron lalu keluar. Meninggalkan Baron yang tersenyum . Melanjutkan mengepak barang-barangnya.
Dhani cuma membawa sling bagnya. Dia memakai jaketnya dan bergegas menuju gerbang istana.
Diluar gerbang istana suasana sangat ramai karena acara pagelaran wayang kulit sudah dimulai. Acara memang diseleggarakan di alun-alun diluar gerbang istana agar masyarakat sekitar istana bebas menikmati pagelaran besar itu.
Dhani melangkah ringan ke taman samping istana. Di kejauhan tampak sesosok tubuh tinggi dan tegap berdiri membelakangi lampu taman. Taman terasa sepi hanya terdengar suara sayup-sayup riuh dari pagelaran di alun-alun depan istana.
" Bram.." seru Dhani.
Mendengar suara yang sangat dirindukannya, Bram segera berlari mendekat dan langsung memeluk tubuh ramping gadis itu.
Dhani membalas pelukan Bram penuh sayang. Hingga beberapa saat mereka berpelukan.
" Apa kita akan begini saja sampai aku berangkat?" Dhani mengangkat wajahnya .
" Iya" Jawab Bram tanpa melepas pelukannya.
Dhani tertawa lirih dan kembali menyusupkan wajahnya ke dada Bram yang hangat.
Dibiarkannya lelaki tampannya itu memeluknya hingga puas. Dinikmatinya wangi maskulin tubuh Bram yang menguar dengan penuh perasaan.
Tangan Bram sesekali membelai rambut Dhani yang terurai. Sesekali digoyangkannya tubuhnya dan tubuh Dhani kekiri dan ke kanan dalam
pelukannya. Disusupkannya wajahnya di pundak Dhani.
" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.." bisik Bram lembut di telinga Dhani.
Dhani bergetar, dapat didengarnya detak jantung Bram yang berdetak cepat. Seirama dengan detak jantungnya yang juga berdegup hebat.
" Aku juga mencintaimu Bram, sangat mencintaimu..." desah Dhani terbata dalam pelukan Bram.
__ADS_1
Tubuh keduanya menghangat di malam yang dingin itu. Mengalirkan rindu, menghantarkan cinta. Menumpahkan perasaan yang terjeda oleh ruang dan waktu menunggu...