Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Tentang Baron dan Stella (2)


__ADS_3

Sebulan setelah itu, Baron dan Stella memutuskan akan mengurus sendiri cabang perusahaan mereka di Indonesia.


Stella sangat bahagia, usahanya untuk merayu dan mempengaruhi Baron agar kembali ke Indonesia akhirnya membuahkan hasil. Dia pun tahu Baron juga pasti bahagia bisa kembali ke negaranya. Hanya sakit hati dan harga dirinya saja yang terlalu tinggi untuk mengakui kerinduannya pada negara indah ini dan terutama keluarganya.


Seperti perkiraan Stella, cabang perusahaan mereka di Indonesia maju pesat sejak ditangani sendiri oleh Baron. Aset dan bidang usaha mereka semakin bertambah banyak. Hingga perusahaan mereka menjelma jadi perusahaan nomor satu di kota J. Pundi-pundi kekayaan mereka pun semakin tak terhitung jumlahnya hingga menjadikan Baron konglomerat baru di dunia bisnis Indonesia.


Sayangnya Stella masih belum berhasil mewujudkan impiannya agar Baron kembali berdamai dengan keluarganya. Baron selalu menolak bertemu atau berhubungan dengan keluarganya.


Namun ada satu sepupunya dari pihak ibunya, sang permaisuri yang bisa dekat dengan Baron. Dia adalah Raden Mas Dimas Brotonegoro. Bahkan beberapa perusahaannya, sahamnya adalah milik bersama mereka berdua.


Sebenarnya Dimas juga sudah berusaha membuka hati Baron untuk berdamai dengan keluarganya, namun Baron terlalu keras kepala. Akhirnya Dimas pun menyerah untuk membujuk Baron.


Hingga beberapa tahun kemudian Stella mengandung. Baron begitu bahagia menyambut hadirnya sang buah hati. Cinta dan perhatiannya semakin berlebih pada Stella. Apapun keinginan Stella dikabulkannya tanpa syarat. Stella benar-benar dimanjakan dan merasa jadi ibu hamil yang paling bahagia.


" Honey, aku bisa sendiri..pergilah bekerja.." ujar Stella ketika sudah hampir seminggu Baron tidak pergi ke kantor karena tidak mau meninggalkan Stella sendiri.


" Honey, I am a boss. Uangku tak akan habis meskipun sebulan aku tidak ke kantor. Banyak pegawaiku yang bisa kusuruh mengerjakan tugasku. Bahkan Perusahaan pusat di Inggris pun baik-baik saja meski aku disini. Apa kau mengusirku sayang?" Baron merajuk .


" Ahh ya, kenapa papa si bayi yang jadi merajuk dan manja? Bukankah seharusnya aku yang sedang hamil?" Stella tertawa gemas melihat suaminya yang over protektif terhadapnya.


Bahkan Baron mengawasi secara langsung apa yang dimakan Stella sehari-hari..Stella menangis dalam hati melihat betapa Baron menjaga dan melindungi dia dan bayinya.


Ini karena kehamilan Stella termasuk bermasalah menurut dokter. Kandungannya sangat lemah dan harus mendapatkan penanganan khusus agar dapat berkembang.

__ADS_1


Satu hal yang Baron tidak tahu, sebenarnya sejak awal dokter sudah memperingatkan, bahwa kandungan Stella akan bermasalah nantinya. Yang akhirnya nanti harus mengorbankan salah satu diantara sang bayi atau ibunya.


Namun Stella merahasiakan hal ini dari Baron. Dia sangat ingin menimang anak dari Baron, lelaki yang sangat dicintainya. Dia memohon pada dokternya agar juga merahasiakan ini dari Baron dan melakukan yang terbaik untuk dia dan bayinya.


Hari demi hari dilalui Stella dengan penuh kebahagiaan. Meskipun Stella harus selalu mengkonsumsi obat penguat kandungan dan rutin melakukan check up pada kandungannya.


Setelah sembilan bulan lebih, lahirlah Putri cantik mereka Dyah Pramudya Wardhani. Dan sayangnya seperti telah diperingatkan dokter, hanya sang bayi lah yang bisa diselamatkan. Stella harus meregang nyawa saat melahirkan Dhani akibat pendarahan hebat.


Segala cara telah dilakukan namun takdir Tuhan juga yang terjadi. Baron begitu hancur. Bahagia mendapatkan buah hati yang telah lama dirindukan. Namun secara bersamaan harus kehilangan satu-satunya wanita yang sangat dicintainya melebihi apapun didunia ini, bahkan dari dirinya sendiri.


" Stella..sayang...apa ini?.Kenapa kau lakukan ini padaku sayang? Kau tahu hanya kaulah yang ku miliki di dunia ini. Aku tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa lagi selain dirimu. Dan sekarang kau meninggalkanku begitu saja. Apa kau membenciku honey? Apa salahku hingga kau lakukan ini padaku?" rintih Baron disisi jasad istrinya.


Hampir seharian Baron memeluk tubuh kaku istrinya. Hingga membuat siapapun yang melihatnya ikut menangis sedih. Merasakan pilu dan hancurnya hati lelaki itu.


" Dimas (adik) Baron..kuatkanlah hatimu. Stella sudah menyerahkan hidupnya untuk melahirkan putrimu. Sekarang tugasmu adalah mewujudkan keinginan Stella melihat putrimu bahagia. Jangan kecewakan dan jangan sia-siakan pengorbanan Stella. Putrimu menunggu pelukan papanya." Dimas menyadarkan dan memberi semangat pada Baron dari keterpurukannya kehilangan Stella.


Baron merawat Dhani sendiri dengan limpahan kasih sayang. Tak akan dibiarkannya Dhani menangis apalagi terluka. Bahkan Baron memindahkan ruangan kantornya ke rumah saat Dhani masih kecil. Semua pekerjaan kantor dari para bawahannya harus diserahkan ke rumah demi tetap dapat mengawasi dan merawat sendiri putrinya. Barulah ketika Dhani beranjak remaja Baron mulai kembali ke kantornya.


Suatu saat Baron dan Dimas sedang meresmikan perusahaan mereka yang berada di kota P. Saat itulah tanpa direncanakan mereka membicarakan tentang putra-putri mereka.


Dimas memiliki seorang putra yang usianya lima tahun lebih tua dari Dhani.


" Kangmas(kakak) bagaimana kabar putramu?" Tanya Baron pada Dimas.

__ADS_1


" Baik dimas(adik), aku bersyukur Bram juga tertarik pada bisnis jadi sedikit-sedikit dia sudah bisa membantuku, saat ini dia masih menempuh S3 nya. Mungkin sebentar lagi akan lulus karena dia sudah mulai menyusun disertasinya." jawab Dimas. Dilihatnya wajah Baron sekilas. Apakah Baron memiliki pemikiran yang sama denganku? gumamnya dalam hati.


" Maaf kangmas, apa kangmas memikirkan hal.yang sama denganku?" Baron mengerutkan kening seakan bisa membaca pikiran Dimas.


Keduanya tertawa. Karena kuatnya ikatan persahabatan dan persaudaraan mereka, sering hal ini terjadi. Sebelum bicara bahkan mereka sudah tahu apa yang akan diutarakan. Baik Dimas dan Baron sangat merasa cocok satu sama lain. Tentang kehidupan, tentang bisnis dan semuanya. Kadang mereka merencanakn kebijakan yang sama padahal belum membicarakannya.


Dan saat itu keduanya sama-sama memikirkan akan menjodohkan putra-putri mereka agar persahabatan dan persaudaraan mereka abadi hingga nanti.


" Tapi apakah Bram bersedia kangmas (kakak)? Anak muda sekarang kan tidak mau dijodohkan. Bahkan aku pun menentangnya.." Baron tersenyum masam mengingat kisahnya denga Stella.


Dimas tersenyum sambil menepuk punggung Baron yang sudah seperti adiknya sendiri.


" Oke dimas ( adik) kita tanyakan dulu pada mereka apakah mereka bersedia. Kalau mereka menolak, kita tidak bisa memaksanya. Bagaimana dimas (adik)?"


" Setuju kangmas, jangan sampai maksud baik kita malah jadi bumerang yang akan membuat putra-putri kita menderita akhirnya" Baron menyetujui ucapan Dimas.


Itulah awal perjodohan Bram dan Dhani.


Flash back off


Dhani mengusap air matanya. Lalu diusapnya juga air mata Baron penuh kasih.


" Papa...I love you..." Dhani memeluk erat papanya.

__ADS_1


Baron memeluk erat Dhani...saat itu Baron merasa melihat Stella tengah tersenyum dan berterima kasih padanya.


" Thanks honey, I love you" Lalu bayangan Stella menghilang...


__ADS_2