Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Kejutan manis


__ADS_3

Dhani bergegas kembali ke kampus. Masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum kegiatan ospek berikutnya. Langkah kakinya lebar ke arah toilet.


Dhani memandang wajahnya di cermin toilet yang besar. Membasuh wajah dan matanya yang agak merah dengan air dingin. Wajahnya tampak lebih segar sekarang. Tapi hatinya masih sedikit nyeri.


Hari ini dia sudah melukai hati El. Apakah besok-besok dia akan melukai hati Bram juga seperti ini? Bukankah akhirnya diapun harus meninggalkan Bram seperti dia meninggalkan El? Apakah ini adil untuk Bram? Meskipun Bram sudah tahu kenyataan Dhani. Meskipun Bram tak berharap memiliki Dhani selamanya.Apakah aku harus segera mengakhirinya saja agar Bram tidak makin terluka nantinya?


Suara bel tanda berkumpul menyadarkan Dhani dari kemelut hatinya. Dia setengah berlari ke aula besar disisi lapangan. Disanalah kegiatan kedua ospek hari ini dilaksanakan.


Mata Dhani menyapu ruangan yang sangat besar dan megah itu. Mata indahnya bercahaya ketika menemukan sosok tiga sahabat barunya di tengah teman-teman sejurusannya. Mereka duduk di bagian belakang aula itu.


Dilihatnya Bastian dan Silgy melambai ke arahnya. Dhani juga melambaikan tangan sambil bergegas menghampiri tempat mereka duduk.


Sampai didepan teman-temannya itu, Silgy mengangsurkan tas Dhani yang tadi dititipkan kepadanya. Dhani menerimanya dan langsung mengeluarkan laptop dari tasnya.


" Heh..lu pengen dihukum ya..untung gak telat" Bastian menggerutu. Dhani duduk ditengah Silgy dan Bastian sementara Donald duduk dekat Silgy.


" Hehe...sory..aku ke toilet dulu tadi" Dhani cengar-cengir.


Luki maju ke podium di depan para mabar yang memenuhi aula megah berbentuk setengah lingkaran itu.


" Selamat siang . Tugas terakhir hari ini kalian membuat essai di email kalian masing-masing. Lalu kirimkan ke alamat email kampus kita. Essai berisi alasan kalian memilih kampus T sebagai tempat belajar kalian. Termasuk tujuan kalian memilih fakultas yang kalian inginkan, visi dan misi kalian sebagai mahasiswa baru di sini."


"Isi essai bebas. Kalian tidak perlu pura-pura keren atau sok hebat. Jujur lebih baik, karena isi essai kalian tidak akan dinilai dari hebatnya kata-kata muluk kalian. Melainkan kami ingin mendengar motivasi jujur dari mahasiswa yang menimba ilmu disini. Jadi ke depan kami bisa memperbaiki yang kurang dan meningkatkan yang sudah baik untuk kemajuan kampus T . Essai kami tunggu sampai pukul 15.00 nanti. Sekian. Terima kasih dan Selamat bekerja!"


" Oh ya, kalian juga boleh menggunakan bahasa asing selain bahasa Indonesia" tambah Luki.


Para Mabar yang sudah siap dengan laptop mereka segera mulai mengerjakan tugas. Menuliskan visi dan misi mereka. Tujuan dan motivasi mereka belajar dan mengambil jurusan pilihan mereka.


Dhani juga menguraikan tujuan utamanya. Mempelajari ekonomi dan bisnis akan menjadikan bekal buatnya karena orang tuanya juga menekuni bisnis.. Dan sejak kecil Dhani sudah diajarkan tentang ilmu itu baik secara langsung maupun tidak langsung dari papanya. Kebetulan Dhani memang tertarik mempelajari ekonomi juga, jadi memasuki fakultas ekonomi memang sudah sesuai dengan passion nya selain tentu saja mendapat dukungan penuh dari orang tuanya yang memang pebisnis.


Bastian melongok ke laptop Dhani yang sudah hampir selesai dengan tugasnya. Matanya membelalak penuh kekaguman. Dhani menulis essainya dengan bahasa Inggris yang rapi dan tata bahasa yang sempurna.


" Apaan, mau nyontek ya? " Dhani mendorong pelan wajah Bastian yang melongok ke layar laptopnya.


" Hebat lu Dhan, gue salut" Bastian memberikan jempolnya.

__ADS_1


" Aku kan bule..kau lupa ya?" Dhani tertawa kecil.


" Ya ampun, bener juga, lupa gue Dhan, kalau bule kan lidahnya auto English ya?" Bastian menepuk jidatnya memasang wajah lucu. Dhani tergelak pelan.


Sementara itu Silgy dan Donald disebelah mereka terlihat serius menatap layar laptop masing-masing sambil mengetik. Tak terusik bisik-bisik Dhani dan Bastian.


Tentu saja Bahasa Inggris adalah bahasa kedua Dhani setelah Bahasa Indonesia. Papanya terbiasa mengajaknya bicara bahasa asli mamanya itu untuk berdiskusi. Apalagi masalah bisnis dan perusahaan yang memang banyak menggunakan istilah bahasa asing. Bahkan buku-buku di perpustakaan pribadi Baron yang biasa Dhani baca sebagian besar berbahasa Inggris. Tak heran Dhani mahir menggunakan bahasa itu , sama saja seperti menggunakan bahasa Indonesia.


Tak lama keempat sahabat itu sudah selesai dengan tugasnya. Mengeceknya kembali beberapa saat lalu segera mengirimkan tugas mereka ke alamat email kampus T.


" Lihat punyamu Dhan," Silgy mengambil laptop Dhani dan melihat essai Dhani. Seperti Bastian Silgy pun berdecak kagum melihatnya.


" Nggak usah melongo gitu Gy, noh ilernya mau netes.." Bastian mengibaskan tangannya ke muka Silgy.


" Gila lu Dhan, hebat banget , ajarin gue dong.." Silgy membaca lagi essai Dhani. Bahasanya lugas dan sangat mudah dimengerti meskipun menggunakan bahasa asing.. Donald yang melihat Silgy ikut-ikutan melihat ke laptop Dhani.


" Wah Dhan...plis jangan terlalu hebat, gue kan jadi minder kalo mau deketin lo" Donald menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dhani tertawa, sementara Bastian dan Silgy mengelus punggung Donald tapi dengan tampang mengejek.


" Cuci muka sana, halu mulu lo.." Bastian tertawa diikuti ketiga temannya. Mereka berjalan bersama dan berpisah di dekat gerbang kampus.


Dhani melihat mobilnya sudah menunggu di jalan seberang kampus. Tumben Pak Sukir tidak turun untuk membukakan pintu. Biasanya melihat Dhani dari jauh saja Pak Sukir sudah buru-buru keluar menyambut Dhani.


Mungkin Pak Sukir ketiduran, pikir Dhani. Kaca mobil yang hitam dan gelap membuatnya tidak bisa melihat jelas keberadaan pak Sukir di dalam mobil.


Dhani membuka pintu belakang mobilnya yang tak terkunci dan bergegas masuk. " Bapak ketiduran ya.?Ayo jalan Pak." Dhani berkata pelan sambil memasang seat beltnya. Tidak ada jawaban.


Mobil berjalan pelan. Dhani mengangkat wajahnya dan melihat bayangan wajah di kaca yang ada di atas depan kemudi.


Dhani menutup mulutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak.. " BRAAAM!!" Teriak Dhani kencang. "


Mobil berhenti. Bram menutup telinganya mendengar teriakan kencang Dhani. Tapi sesaat kemudian Bram tertawa-tawa melihat wajah Dhani yang pucat pasi karena terkejut. Matanya terlihat menyipit karena terlalu keras tertawa.


" Surprisse!" seru Bram sambil memberikan sebuket mawar merah yang ada di kursi penumpang depan.

__ADS_1


Dhani menerima buket bunga itu. lalu keluar dari pintu belakang mobil, pindah ke samping Bram didepan. Ditatapnya wajah Bram lekat seolah masih meyakinkan diri bahwa Bram benar-benar ada di depannya saat ini.


" Aku hampir mati karena kaget Bram...kau ini keterlaluan" Suara Dhani bergetar. Ada air menggenang di sudut mata cantiknya. Tangannya menyentuh lembut pipi Bram.


Bram membuka seat beltnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Dhani. Menyentuh lembut tangan Dhani di wajahnya.


" Hei, tuan putriku kenapa menangis, apa kau serindu itu pada Bram mu yang tampan ini? "


Disekanya sudut mata Dhani yang basah dengan ujung ibu jarinya. Bram menggenggam lembut tangan Dhani. Mata dan senyumnya menggoda Dhani. Membuat Dhani tersipu merona.


Sesaat kemudian Dhani sudah menghambur ke pelukan Bram. Malu dan gengsinya sudah hilang entah kemana dikalahkan rindu yang merasuk hingga ke tulang.


Tangan Dhani memeluk erat pinggang Bram, sementara wajahnya menyusup ke dada bidang Bram yang hangat. Bram balas memeluk Dhani erat. Sesekali tangannya membelai lembut rambut Dhani yang terurai.


" Katakan! " Bram berbisik di telinga Dhani


" Apa? " Dhani masih mengusap-usapkan wajahnya di dada Bram. Seakan belum puas menghirup aroma tubuh Bram.


" Kau bilang kau mau panggil aku sayang kalau kita ketemu" masih berbisik Bram.


Dhani melepaskan pelukannya. Tapi Bram menahannya sehingga Dhani kembali jatuh ke pelukan Bram.


Dhani mengangkat wajahnya. " Itu kan karena kukira kita masih akan lama bertemu lagi, mana ku tahu kau akan datang secepat ini. Aku belum siap..." Dhani bersandar di dada Bram sambil memainkan jarinya ditempat itu. Membuat Bram merasa merinding. Ditangkapnya tangan Dhani yang bergerak tak tentu arah diarea sensitifnya itu,lalu diciuminya tangan halus itu.


" Jangan ngeles nona. Kau harus menepati janjimu" Bram menyentuh ujung hidung Dhani yang memerah karena habis menangis.


Dhani melepaskan pelukannya pada Bram. Kali ini Bram membiarkannya. Tubuhnya mulai panas. Bram tak ingin hilang kendali jika tubuh Dhani terus-terusan bersentuhan dengan tubuhnya. Apalagi tadi saat Dhani memainkan tangan didadanya.


Dia adalah lelaki normal. Dan Dhani dengan sejuta pesonanya begitu menggoda meski Dhani yang naif tak.menyadari perbuatannya. Gadis itu tak pernah berpikir bahwa sedikit usapan tangannya saja bisa membangunkan macan tidur.


Bram mengambil nafas panjang dan membuangnya pelahan. Melepaskan pikiran nakalnya yang sempat muncul saat Dhani memainkan tangan di dadanya tadi.


" Sayaang...ayo cepat katakan, aku sudah nggak sabar.." Bram setengah merengek. Membuat senyum Dhani merekah, melihat sisi lain Bram yang ternyata bisa manja juga.


" Baiklah sayang, kau puass? Dhani mengedipkan matanya ke arah Bram sambil menekankan kata sayang.

__ADS_1


Bram mengangguk senang. Diraihnya tangan Dhani dan diciumnya dengan lembut . " Nggak boleh berubah ya...? Harus sayang terus.."


Dhani mengangguk." Aku akan selalu sayang kamu Bram" janjinya dalam hati.


__ADS_2