Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
# First day


__ADS_3

Dhani berdiri di depan barisan teman-teman sejurusannya. Menarik nafas sebentar lalu mulai bicara. Aku bisa!


"Teman-teman kenalkan aku Dhani. Sesuai petunjuk teknis dari kakak-kakak pembina kita, tugas pertama kita adalah membuat name tag dari bahan apa saja dengan syarat bahannya tidak boleh membeli. Tapi memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Bahannya bebas bentuk dan kreasinya juga bebas. Boleh berkelompok maksimal 4 orang atau perseorangan. Waktu yang disediakan adalah satu jam. Lewat dari satu jam dianggap tidak mengumpulkan tugas dan akan dikenai sanksi dari panitia. Oke teman-teman terima kasih. Selamat bekerja.!" Dhani menghembuskan nafas lega. Hahh...bisa juga."


Mulai terdengar suara lebah berdengung..hehehe...riuh rendah saling bersahutan. Semua mulai bergerak . Mencari teman kelompok, atau yang suka sendiri segera mencari bahan untuk membuat name tag . Termasuk Dhani yang mulai memutar otak. Kira-kira apa yang bisa dijadikan bahan membuat name tag?


" Dhan, kita satu kelompok ya? " Dhani menoleh kearah suara itu. Bastian.


" Hei Bas, boleh, ada ide nggak?" Dhani menyambut Bastian.


"Aku juga ikut kelompokmu Dhan.." tiba -tiba ada beberapa orang cowok yang menawarkan diri bergabung.


" Aku boleh gabung juga ya Dhan? " seorang cewek berkacamata menghampiri mereka.


" Maksimal 4 orang guys, kamu ikut dan kamu kan yang lebih dulu mau gabung setelah Bastian?" Dhani menunjuk Gadis berkacamata dan cowok berwajah lucu dan imut yang memang lebih dulu minta bergabung tadi.


" Yah..kecewa deh. Oke kami bikin kelompok sendiri saja" mereka mengalah.


" Oke, sorry guys.." Dhani mengangkat tangan, memberikan tos yang dibalas cowok-cowok itu.


Kelompok Dhani akhirnya beranggotakan Dhani; Bastian, dan dua anggota lagi yaitu Donald dan Silgy.


Mereka segera berkeliling mencari bahan yang bisa dijadikan name tag.


Ada yang memakai daun kering, kardus bekas, kertas bekas , bungkus snack dan lain-lain. Semua menyelesaikannya tepat waktu. Dan masing-masing sudah menempelkannya didada mereka. Termasuk Dhani dan kelompoknya yang menggunakan daun kering untuk name tag mereka.


Luki, dari name tagnya, ketua panitia penyambutan mabar kembali ke tengah lapangan.


"Terima kasih , kalian sudah melakukan tugas pertama dengan hasil memuaskan, tepuk tangan untuk dedikasi kalian"


prok..prok..prok...semua bertepuk tangan lega.


Tapi sejurus kemudian, " Hei siapa yang menyuruh kalian berbaris bercampur lagi ? Ayo atur barisan lagi! "

__ADS_1


Ramai lagi, para mabar itu saling bergeser dan bertukar tempat lagi agar terbentuk barisan yang memisahkan laki-laki dan perempuan seperti tadi.


" Bagus sekarang silakan kalian istirahat, boleh digunakan untuk makan, atau beribadah bagi yang melaksanakannya. Waktunya satu jam dari sekarang.!


Barisan segera bubar tanpa menunggu perintah dua kali. Kalau mau dibubarin, ngapain juga disuruh berbaris lagi. Semua menggerutu.


Rata-rata ke kantin. Berbaris panas-panasan dengan perasaan tegang sungguh membuat perut cepat keroncongan.


Di kampus T , makan siang bagi mahasiswa sudah disediakan dengan menu yang tergolong mewah , hanya dengan menunjukkan kartu makan yang sudah dibagikan saat mahasiswa mengurus administrasi. Tetapi yang tidak mau makan di kantin, banyak restauran dan coffeshop di sekitar kampus.


Dhani memilih makan di kantin. Dia ingin tahu rasanya makan bersama di tempat umum dengan teman-temannya. Bastian, Donald dan Silgy ikut bersama Dhani. Entah mengapa mereka sudah merasa cocok, padahal keempatnya baru pertama kali bertemu di kampus T ini.


Tanpa disadari Dhani, ada sepasang mata yang sudah dari awal Dhani datang ke kampus terus saja mengawasi Dhani. Wajahnya dipenuhi senyum kebahagiaan, seakan menemukan barang miliknya yang telah lama menghilang.


Sementara Dhani dan ganknya sudah mendapat tempat duduk disudut ruangan kantin. Mereka sudah mengambil makanan pilihan mereka masing-masing juga minuman dan desert yang ditempatkan dalam satu nampan besar.


Mereka mulai makan diselingi obrolan ringan.


" Kalau dirumah aku nggak boleh makan sambil ngomong." Dhani mengingat nasehat papanya.


" Elu setannya.." Bastian memukulkan sendoknya ke kepala Donald. Untung sendok plastik.


" Hahahaha...." keempatnya tertawa


" Hush..apalagi sambil tertawa bisa kesedak di gampar setan.." Donald berbisik dengan nada ngeri.


" Maksutnya kaya gini?" Dhani pura pura menampar Donald.


" Kalau setannya secantik kamu, aku mau kawin sama setan saja Dhan..suerr" Donald terkekeh. Disambut huuuu oleh ketiga teman semejanya. Bastian menoyor kepala Donald


" Dasar modus..tukang gombal" Silgy yang dari tadi cuma cengar-cengir ikut mendorong Donald. Mereka kembali tertawa geli.


" Setannya yang gak mau sama elu...jijik" Bastian menyahut membuat tawa kembali berderai memenuhi meja makan mereka.

__ADS_1


" Sudah ah, tinggal dua puluh menit lagi. yuk balik.." ajak Dhani bangkit dari duduknya diikuti yang lain setelah makanan di nampan mereka habis tak biersisa.


" Tunggu Dhan" sebuah suara mengejutkan Dhani. Suara yang pernah begitu akrab ditelinga Dhani. Tanpa sadar Dhani membalikkan tubuhnya. Dhani membeku. Ketiga orang ganknya ikut berhenti.


" Kak El..? " gumamnya pelan.


"Boleh bicara sebentar? " El melirik ke arah tiga teman Dhani.


"Guys kalian duluan ya? Aku ada perlu sebentar " Dhani menunjuk El. Teman-temannya mengangguk.


" Oke, jangan telat Dhan , lima belas menit lagi kumpul" Bastian mengingatkan.


"Oke siap! " seru Dhani sambil melihat teman- temannya yang meninggalkannya.


"Duduk Dhan,"


" Ngga usah kak, waktu istirahatku hampir habis" tolak Dhani halus. Dhani merasa aneh, saat bertemu El di mall beberapa hari lalu dia begitu merindukan El, tapi hari ini Dhani merasa biasa saja. Apakah hati semudah itu berubah?


" Kak El kok disini ? " Dhani heran. Seingatnya El sudah menyelesaikan S3nya.


" Aku sedang mengurus administrasi, aku diterima sebagai dosen disini. Jadi kita akan sering bertemu nanti " El tersenyum menatap Dhani penuh kerinduan.


" Oh, selamat ya kak.." Dhani menyalami El.


El menyambut uluran tangan Dhani dan menggenggamnya agak lama.


"Eh kak, maaf aku harus kumpul lagi. Aku nggak mau dihukum.." Dhani melepas tangan El dan bergegas pergi.


El yang masih terkesiap tidak sadar Dhani telah meninggalkannya. Ketika sadar El menepuk dahinya sendiri.


"Bodoh, dia membuatku kehilangan akal" rutuk El sambil melangkah pergi.


El merasa Tuhan benar-benar baik padanya. Dia mendapat pekerjaan di Kampus ternama dengan gaji dan fasilitas mewah. Dan disaat bersamaan bertemu dengan sang pujaan hati yang kelak bisa setiap hari dilihatnya di kampus ini.

__ADS_1


Semangatnya yang sempat pupus saat Dhani menolaknya dengan halus beberapa hari lalu tiba-tiba muncul kembali. Menyala-nyala sepanas kobaran cinta di dadanya yang tak pernah padam untuk Dhani.


" Sayang, jangan lari. Aku akan memperjuangkan cinta kita meskipun itu harus menyeberangi lautan api!" El mengepalkan tangannya.


__ADS_2