Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Will U Marry Me?


__ADS_3

Seminggu ini Dhani benar-benar sibuk. Dia berusaha secepat mungkin menyelesaikan hal-hal.yang berkaitan dengan proyek kerja samanya dengan Luki dan PT. L.


Meski belum yakin, Dhani khawatir Bram benar-benar akan melamarnya bulan depan. Yang berarti beberapa hari lagi mengingat sekarang sudah di akhir bulan. Dan Dhani tidak mau pekerjaannya akan terganggu urusan pribadinya.


Besok adalah peresmian kerja sama dan gedung baru mereka. Hari ini meeting terakhir PT. L dan PT.B membahas persiapan peresmian besok.


" Bagaimana Dhan, apa semua sudah siap?" Tanya Luki memastikan siang itu. Mereka makan siang bersama sambil meeting di sebuah resto ternama.


" Sudah kak sembilan puluh lima persen siap! Setelah ini kita akan meninjau persiapan terakhir untuk memastikan semua sesuai rencana kak" Dhani menjawab antusias.


Luki tampak puas. Wajahnya tak henti tersenyum dan menatap Dhani. Kekagumannya pada gadis cantik itu semakin menjadi-jadi. Gadis itu begitu tegas dan total dalam bekerja. Dia seorang pemimpin yang perfeksionis dan penuh semangat. Dia akan memastikan pekerjaannya sempurna.


Meskipun sebenarnya dia bisa saja menyuruh anak buahnya, tapi dia selalu mengeceknya sendiri untuk.meyakinkan semua berjalan sesuai target dan ekspektasinya. Kehebatan Tuan Baron benar-benar menurun pada putrinya.


" Setelah peresmian besok, bisakah aku mengajakmu merayakan kerja sama kita?" Luki menatap Dhani.


" Setelah peresmian kan memang ada acara perayaan bersama kak. Antara Staff PT. L dan PT. B? "Dhani melihat heran pada Luki.


" Emh..maksudku aku ingin mengajakmu, kita berdua saja.." Luki menjawab kikuk.


Dhani terdiam sesaat. Ingin menolak, tapi Dhani merasa tak enak hati. Sudah berkali-kali Dhani menolak ajakan Luki untuk bertemu secara pribadi. Baiklah ini untuk terakhir kali, pilkir Dhani. Dan nanti Dhani akan menjelaskan statusnya yang sudah tidak sendiri lagi. Janji Dhani dalam hati.


Dhani tahu, Luki akan bicara masalah pribadi. Meskipun Luki tidak pernah secara langsung mengatakan maksudnya, tapi insting Dhani mengatakan Luki tertarik secara pribadi padanya.


" Baiklah kak, setelah acara selesai kita ketemu" Dhani akhirnya mengalah .


Luki tersenyum senang. " Thanks" bisiknya disambut senyuman Dhani.


Esoknya peresmian gedung sekaligus supermarket dan mall yang merupakan kerja sama perusahaan Baron dan Luki berjalan lancar dan sukses.


Acara dimeriahkan artis-artis papan atas ibu kota sehingga menarik perhatian masyarakat untuk mengunjungi mall. Bahkan pengunjung di hari pertama pembukaan mall itu jauh melebihi yang ditargetkan. Kedua pihak perusahaan sangat puas dan optimis akan prospek kerja sama mereka.


Setelah peresmian dan lunch bersama para petinggi dan staff kedua perusahaan, Luki segera mengajak Dhani keluar dari gedung itu.


"Tamu undangan belum pulang semua kak? Lagipula ini proyek kita. Masakan kita seenaknya pergi ?" Dhani merasa keberatan meninggalkan acara begitu saja.


" Ayolah Dhan, tepati janjimu. Acara utama kan sudah selesai. Serahkan pada Lim saja. Lagi pula Tuan Baron juga ada disini.." Luki tetap memaksa.


" Baiklah kak, tunggu sebentar. Aku akan pamit pada papa dan pak Lim.

__ADS_1


Luki mengangguk. "Akhirnya aku bisa membawamu berdua saja nona cantik." Gumam hati Luki senang.


" Pa, Pak.Lim, aku ada perlu dengan Tuan Lukita Atmajaya. Mungkin aku tidak akan kembali ke acara ini lagi. Apakah tidak apa-apa?" Tanya Dhani pada Baron dan Lim yang duduk bersebelahan.


" Apakah ada yang penting sayang?" Tanya Baron.


" Emh..iya pa. Tapi bukan sesuatu yang tidak baik kok," Dhani melihat kekhawatiran di mata papanya.


" Baiklah, selesaikan masalahmu. Percayakan yang disini pada Lim. Kamu sudah bekerja keras sayang.." Baron mengacungkan jempol memuji kinerja putrinya.


" Thanks papa" Dhani mencium pipi Baron sekilas, lalu melambaikan tangan pada Lim.


Dijawab anggukan dan senyum Lim.


Dengan langkah cepat Dhani keluar dari gedung. Di depan lobby Luki sudah menunggu disamping mobilnya.


Melihat Dhani, Luki segera membukakan pintu mobil untuk Dhani lalu segera beranjak menuju kursi kemudi. Mobil sport hitam itupun melaju membelah padatnya lalu lintas.


" Sebenarnya kita mau ke mana sih kak? " suara Dhani memecah kesunyian dalam mobil itu.


" Ada deh, ikut saja. Gak mungkin aku menculikmu kan?" Luki tertawa. Dhani juga ikit tertawa.


' Kakak...ada-ada saja" Akhirnya Dhani menyandarkan kepalanya. Mencoba rileks dan mengikuti saja kemana Luki akan membawanya.


Pikiran Dhami melayang-layang dengan berbagai kemungkinan. Sampai tidak sadar Luki membuka pintu mobil untuknya.


" Ayo turun Dhan, kita sudah sampai" ajak Luki. Dhami mengangguk lalu turun dari mobil dan mengikuti langkah Luki ke dalam resto.


Luki menarik tangan Dhani . Di dalam mereka sudah disambut beberapa pelayan yang menuntun mereka ke lantai dua resto mewah itu.


Tak ada siapa'-siapa di sana. Cuma ada pemain piano dan biola diujung ruangan. Dan tampak sebuah meja di tengah ruangan dengan lilin yang menyala diatasnya.


Dhani mulai meraba-raba maksud Luki. Apa ini? Candle light dinner? Untuk apa? Apa peresmian kerja sama dua perusahaan harus dirayakan dengan ini? Tidak masuk akal.


" Kak...apa ini?" Tanya Dhani bingung


" Duduk dulu Dhan," Luki menarik kursi untuk Dhani.


Meskipun masih bertanya-tanya dalam hatinya, Dhani duduk juga.

__ADS_1


Luki meraih tangan Dhani dan menciumnya dengan lembut. "Dhani, maukah...." belum selesai Luki mengucapkan kalimatnya Dhani dikejutkan oleh suara suara seseorang yang memanggil namanya.


" Dhani! "


Dhani menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan tersentak kaget hingga langsung berdiri dari duduknya.


" Bram??" serunya tak percaya. Bibirnya bergetar. Matanya terbelalak, wajahnya pucat pasi. Apa yang dilakukannya disini. Dan apa yang dipikirkannya . Aaaahh...


Tiba - tiba Bram mendekat ke arah Dhani sambil mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna gelap. Dibukanya pelahan kotak itu hingga tampak sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian berkilauan.


Dhani masih mematung ditempatnya. Ditatapnya lekat wajah Bram yang tegang dan kusut. Wajah tampan yang biasanya selalu tersenyum jika didepannya itu tampak suram dan gelap. Dhani tahu Bram sedang menahan ledakan amarah di hatinya.


Lalu Dhani beralih melirik Luki. Laki-laki itupun tak kalah tegang wajahnya. Bahkan mungkin saat ini dia sedang shock seperti Dhani.Matanya berkilat penuh tanya dan kebingungan.


Melihat Dhani mengalihkan pandangan ke Luki Bram kembali memanggil Dhani. Kali ini dengan suara keras dan sedikit tekanan.


" Dhani, Dyah Pramudya Wardhani...Will you marry me?"


" What? " seru Luki dan Dhani bersamaan.


Siapa dia? Beraninya melamar Dhani di depanku, ditempatku , di acara makan malamku dengan Dhani. Apa dia sudah gila? pertanyaan -pertanyaan itu berkelebat di benak Luki. Matanya nanar menatap Bram dan Dhani bergantian.


Sementara Dhani menatap Bram tak kalah terkejut dari Luki. Iya benar, Bram bilang akan segera melamarnya. Tapi siapa yang menyangka Bram akan melamar disini, saat ini dalam situasi ini?


" Bram??" Dhani menatap lembut ke arah Bram setelah berhasil menguasai perasaannya. " Kita bicara diluar ya?" Dhani memohon.


" Tidak, jawab aku sekarang, atau tidak sama sekali" Bram meradang. Wajahnya masih tegang.


" Ayolah sayang.." bisik Dhani setengah menangis. Dia tahu apa yang dipikirkan Bram saat ini. Dia tahu Bram sedang marah karena pasti Bram salah paham tentang Dhani dan Luki .


" Jawab aku sekarang Dhan !" sentak Bram tak sabar. Dhani merinding, belum pernah dilihatnya Bram semarah ini.


" Oke..ya..ya...Bram..aku mau...Kau puas?" Dhani mengalah. Pelahan wajah Bram melunak. Ketegangan berangsur surut.


Dhani buru-buru menarik tangan Bram.


" Kak Luki maaf , aku harus pergi, sekali lagi maafkan aku " Dhani menghampiri Luki yang masih membeku ditempatnya.


Bram menarik tangan Dhani lalu menyematkan cincin menyematkan cincin yang dibawanya pada jari manis Dhani.

__ADS_1


Dhani membeku sesaat menatap cincin berlian berwarna biru yang kini melingkar manis di jarinya.. Harusnya ini jadi momen yang membahagiakan, mengharukan bahkan penuh air mata kebahagiaan seperti pasangan-pasangan lain yang dilamar kekasihnya. Tapi apa ini? Dhani tertawa dalam hati. Sungguh lamaran yang membuat shock. Dhani bahkan tidak tahu harus tersenyum atau menangis saat ini.


Bram menatap Luki sejenak. Seakan mengatakan " Gadis ini milikku" lewat tatapan tajam matanya. Lalu bergegas menarik tangan Dhani pergi dari ruangan itu.


__ADS_2