
" Jadi apa kamu mau cerita apa yang terjadi Ari?" Bastian membuka percakapan ketika dia dan Ari sudah di luar hotel.
" Boleh saja. Tapi kamu juga harus cerita kenapa kamu juga gak bahagia lihat mereka bersatu!" Ari tersenyum.samar.
" Deal! " Bastian mengulurkan tangan dan disambut Ari.
" Kamu mau jalan kaki aja atau mau pergi ke tempat yang agak jauh. Biar aku ambil mobil?" Bastian menatap Ari.
" Jalan kaki aja yuk, jangan jauh-jauh nanti keluargaku bingung." Ari tersenyum.
" Jangan-jangan kamu takut kuculik..hahaha.."Bastian menggoda Ari.
" Sebenernya aku memang pengen diculik dibawa pergi jauh jadi nggak akan melihat yang bikin aku sedih sekalian escape dari perjodohan..."
" Waduh...kok jadi aku yang takut, bawa lari anak orang...hahaha.."
" Hahaha...penculiknya takut...ya udah...gak jadi diculik..." Ari tertawa geli
"Aku capek Bas, duduk bentar yuk!" Ari mendudukkan dirinya di bangku panjang di trotoar pinggir jalan yang tampak sepi. Bastian ikut duduk disamping Ari.
"Oke...aku mau dengar kisahmu girl.." Bastian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tangannya bersedekap didepan dada.
".Sebenernya aku masih sepupu jauh Dhani. Keluarga kami dan keluarga Bram memang sudah lama bersahabat. Tapi sialnya aku tidak tahu jika ternyata om Dimas dan Om Baron sudah punya rencana menjodohkan anak-anak mereka..." mata ari berkaca-kaca.
" Poor Ari..? Bastian mengacak rambut sebahu Ari. Apa kamu dijodohkan juga?"
" Iya, kau tahu? Kerabat istana memang punya semacam aturan tidak tertulis tentang jodoh bagi putra-putrinya. Leluhur kami berpikir kehormatan dan kemuliaan harkat dan martabat keluarga akan terjaga jika kami menikah dengan kalangan kami sendiri, atau paling tidak harus jelas bobot bibit bebetnya..kau pasti pernah dengar kan?" Ari tersenyum kecut.
" Hmm..sering denger sih. Dan maklum juga, kalian adalah keturunan darah biru. Kalau kawin dengan yang darahnya hitam kaya gue, misalnya, bisa-bisa darah kalian terkontaminasi dan ikutan jadi hitam...hahaha..gitu kan kira-kira? " Bastian terkekeh.
Ari tertawa tergelak mendengar kata-kata Bastian.
" What ever lah Bas, kadang aku juga muak dengan aturan konyol itu. Mereka menyekolahkanku ke Luar negeri agar aku tahu arti globalisasi dan era bebas,mempelajari kemajuan dunia tapi mereka sendiri mengekangku dengan aturan tak masuk akal, ironis kan?" Ari mendengus kesal.
__ADS_1
" Jadi ceritanya aku sedang bersama putri pemberontak nih?" Bastian melirik Ari.
"Hahaha....sebenarnya masih dalam proses, aku belum berani terang-terangan melawan perjodohanku. Ahh kalau saja yang dijodohkan denganku adalah Bram pasti aku langsung yess! " Ari tertawa sumbang.
" Apa yang dijodohkan denganmu jelek, atau tua atau sudah beristri mungkin jadi kamu dijadikan selir? Kenapa kamu menolaknya?" Bastian penasaran.
" Hahaha...enak saja selir, seburuk-buruknya orangtuaku nggak akan rela anaknya jadi selir, ngaco kamu Bas. Dan jangan salah , dia juga ganteng, tapi memang Bram jauh lebih ganteng. Dan cintaku memang cuma sama Bram.." Wajah manis Ari seketika muram lagi.
" Tapi Bram tidak mencintaimu. Aku tahu Bram sangat mencintai Dhani. Jadi cukup Ari cantik..lupakan suami orang ya..mending sama abang Bastian aja, gak kalah ganteng kok sama Bram...ya?" Bastian mengedipkan matanya mencoba menghibur Ari.
Gadis itu kembali terkekeh melihat wajah lucu Bastian .
" Dan kamu harus siap-siap patah hati bang, karena aku juga sudah dijodohkan..miris kan nasibku Bas? Sudahlah pria impianku menikah dengan orang, sekarang aku harus bersiap menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai." Mata Ari berkaca-kaca.
" Uhhh..chayank...kacian banget sih. Sini abang peluk.." Bastian merangkul pundak Ari.
" Eits awas, dilrang modus!" Ari menghindar dari rangkulan Bastian di bahunya. Tapi sejurus kemudian Ari membiarkan kepalanya bersandar di bahu Bastian. Melepaskan beban dihatinya.
Sementara tangan Bastian merengkuh bahu gadis itu. Menepuknya pelan membuat gadis itu merasa nyaman.
" Hmmm...Aku suka Dhani sejak pertama bertemu dengannya empat tahun lalu. Tapi aku tak berani mengatakannya karena dari awal kami bersahabat dia sudah bilang kalau dia tidak mau pacaran. Dia bilang sudah punya pacar tapi jauh katanya. Aku tidak tahu kalau ternyata yang dimaksud Dhani adalah dia sudah dijodohkan. Aku masih berharap sampai saat ini. Dan sekarang tampaknya aku memang harus benar-benar sadar dari mimpiku.." Bastian mendesah.
Ari ikut mendesah. " Poor Bastian..." Ari membalikkan kata-kata Bastian padanya. Keduanya kemudian tertawa tergelak. Menertawakan kemalangan kisah cinta mereka.
" Apa kau tadi mengintipku di taman?" tanya Ari
" Sebenarnya nggak sengaja. Aku juga sedang di sana. Tapi kau tidak menyadari kehadiranku. Mungkin kita berjodoh..haha..." Bastian menggumam
" Sudahlah Bas. Jangan bicara masalah jodoh lagi. Apa ada tempat didekat sini yang bisa bikin kita santai dan melupakan semua masalah kita?" Ari menatap Bastian.
" Ada...ayo !" Bastian menarik tangan Ari.
" Hei jangan bilang ke club malam ya...aku nggak mau!" sergah Ari.
__ADS_1
" Aku juga nggak suka minum girl. Ayo, kamu pasti suka" Bastian menggandeng tangan Ari.
Mereka berjalan mengitari gedung-gedung menuju ke bagian belakang hotel. Dan sampailah mereka di tepi sebuah danau buatan yang masih terhubung dengan area hotel. Riak air danau yang tertiup angin segera menyambut mereka.
Mata Ari terbelalak takjub melihat keindahan danau buatan yang memantulkan cahaya bulan di airnya yang tenang.
" Kamu kelihatannya tahu banget tempat ini Bas.." gumam Ari lirih.
" Ini hotel milik ayah Dhani. Aku dan dua sahabat Dhani yang lain, kami sering mengerjakan tugas kuliah kami di sini"
Ari mengangguk maklum. Keduanya kemudian duduk di bangku yang ada di pinggir danau itu.
Diam tanpa kata. Keduanya sama-sama memejamkan mata. Menikmati keheningan malam. Hanya ditemani suara-suara binatang malam dan sesekali suara riak air danau yang tersapu angin malam.
" Lepaskanlah semua beban pikiranmu, kita harus cepat move on. Aku rasa sudah waktunya aku bangun dari mimpi dan merelakan Dhani dengan orang yang dicintainya, kamu juga Ar. Lupakan suami orang, dan lupakan perjodohanmu. Let it flow. Kalau dia memang jodohmu, suatu saat kamu pasti bisa menerimanya, kalau bukan, mungkin kamu adalah jodohku..." Bastian berkata santai, lalu tertawa diakhir kata-katanya.
Ari tertawa lirih sambil memukul lengan Bastian.
" Dasar, masih saja modus. Aku tadi sudah terharu mendengar kata-katamu...hahaha"
Bastian mengacak rambut Ari. Entahlah setelah bertemu gadis itu, Bastian merasa luka hatinya sedikit terobati.
" Kamu tinggal dimana? Kelihatannya kamu dari luar kota.." Bastian menatap Ari
" Hm..kelihatan ya..? Aku dari kota S. Semua keluargaku datang ke pernikahan Bram. Dan aku tidak bisa menghindar. Tidak ada alasan untuk tidak ikut. Bram juga mengundangku secara pribadi karena sudah menganggap aku adiknya." Ari lagi-lagi tersenyum masam.
" Ya..ya..kita memang senasib. Aku juga tidak mungkin menghindari acara ini karena kami , aku Dhani, Silgy dan Donald adalah empat sekawan. Sahabat karib yang tak terpisahkan. Mana mungkin aku tidak hadir di acara pernikahan sahabatku?" Bastian mendesah.
" By The Way, aku senang ketemu sama kamu Bas. Bisa berbagi perasaan kita yang sama-sama terluka. Lega rasanya, sedikitnya terasa ada beban yang terangkat"
" So do I, Ari. Thanks udah mau dengar ceritaku."
" Balik ke hotel yuk.., makan. Sayang kalau nggak makan , pasti makanannya enak-enak.." Ari berdiri dan menarik tangan Bastian.
__ADS_1
" Yuk...!" Bastian menyambut uluran tangan Ari.
Keduanya kemudian berjalan menuju hotel. Di sepanjang jalan keduanya tampak bercanda dan tertawa-tawa. Seakan mereka sudah kenal lama. Entahlah, mungkin perasaan yang sama-sama terluka membuat keduanya seakan terhubung dan merasa dekat.