
Bram melangkahkan kaki cepat di bandara setelah turun dari mobil. Semalam Bram seperti biasa melepas rindu pada Dhani dengan video call. Tak terasa hingga pagi menjelang karena terlalu asyik berbicara . Akhirnya pagi ini Bram bangun kesiangan.
Padahal pagi ini Bram ada perjalanan bisnis keluar kota yang tak bisa ditunda. Asisten Bram yang sudah sampai terlebih dahulu di bandara akhirnya berangkat sendiri sesuai jadwal keberangkatan . Sementara Bram yang terlambat terpaksa berangkat dengan penerbangan selanjutnya.
Bram tidak menggunakan pesawat pribadi karena kebetulan saat itu Dimas juga sedang mengadakan perjalanan bisnis menggunakan pesawat pribadi mereka.
Di ruang tunggu keberangkatan..
" Bram , Bramantyo! " seseorang memanggil Bram membuat Bram yang sedang sibuk dengan ponselnya melihat ke arah suara yang memanggilnya.
Mata Bram membulat tak percaya melihat teman akrabnya saat kuliah di negara A.
" Dave, how are you? What are you doing here?" Bram bangkit dari duduknya dan memeluk temannya yang berwajah kebule-bulean itu. Dave memang berdarah campuran Indo-Amerika.
" Aku mau pulang ke kota M Bram. Ibuku sedang kritis dan kami anak-anaknya diminta segera pulang sebelum terlambat" Dave tampak sedih.
" I'm sorry Dave." Bram kembali memeluk Dave.
" It's Ok. Bram. Nampaknya aku tidak akan bisa memenuhi permintaan ibuku agar anak-anaknya berkumpul sebelum beliau pergi. Aku tidak mendapat tiket pagi ini. Aku mendapat tiket jam dua belas nanti. Entah apa ibu akan bertahan sampai saat itu." Mata Dave berkaca-kaca.
Bram tiba-tiba membisikkan sesuatu ke telinga Dave.
" Really? Apakah itu tidak masalah?" Dave mengeryitkan dahinya mendengar apa yang dibisikkan Bram.
"Of course selama kau tenang dan tidak melakukan hal yang mencurigakan" jawab Bram yakin.
" Bagaimana denganmu? " Tanya Dave merasa tidak enak.
" I'm fine brother. Lagipula aku memang sudah terlambat. Asistenku sudah menggantikanku sementara." Bram meyakinkan dave.
" Thanks God!" seru Dave gembira. " Thanks a lot Bram! You are my hero, brother...Thank you!" Dave tak hentinya berterima kasih pada Bram.
__ADS_1
"It's fine Dave. Jangan berlebihan. Penerbanganmu masih satu jam lagi. Bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak Bram.
" Ayo Bram. Biar aku mentraktirmu. Please sebagai rasa terima kasih atas pertolonganmu." Dave merangkul Bram menuju kafetaria bandara.
Keduanya makan bersama di kafetaria bandara hingga keberangkatan pesawat mereka.
Bram merasa lega bisa sedikit membantu sahabat baiknya meskipun dia akan semakin terlambat tiba di kota M.
" Din, jemput aku di bandara jam dua " Bram. menelpon Dino asistennya.
" Kenapa lama tuan? Perjalanan dengan pesawat ke kota M hanya butuh waktu dua jam" Asisten Bram merasa heran.Karena setahunya tiket Bram tadi jam keberangkatannya hanya beda satu jam dengannya.
" Sudah jangan bayak tanya. Nanti sampai di kota M aku ceritakan..." jawab Bram.
" Baik Tuan , saya jemput jam dua" Dino menjawab Bram tanpa bertanya lagi.
Selesai menelpon asistennya , Bram tiba-tiba teringat Dhani. Tadi malam Bram lupa mengabari Dhani bahwa pagi ini dia akan ke luar kota. Segera dihubunginya nomor Dhani.
" Shit! " rutuk Bram kesal. Belum sempat panggilannya tersambung, baterai ponselnya habis dan ponselnya pun mati.
Bram kemudian menuju sudut bandara yang terdapat tempat mengecas gawai yang disediakan bandara untuk mengecas ponselnya.
Sambil menunggu, Bram membuka laptopnya untuk memeriksa pekerjaannya . Karena serius bekerja, Bram lupa pada niatnya untuk mengabari Dhani hingga jam keberangkatan pesawat Bram tiba. Akhirnya Bram menyimpan ponselnya tetap dalam keadaan mati karena pesawat segera berangkat.
Sampai di kota M Bram sudah dijemput Dino. Keduanya kemudian langsung menuju tempat meeting yang sidah disiapkan.
" Bagaimana meeting tadi pagi Din? Apakah ada masalah? " Bram menanyakan hasil meeting tadi pagi yang tidak sempat dihadirinya karena terlambat bangun dan berujung ketinggalan pesawat.
" Meeting tadi pagi lancar Tuan. Tidak ada masalah berarti . Hasil meeting sudah saya kirim ke email Tuan."
" Kerja bagus Din, ada bonus besar buatmu jika proyek kita di kota M ini sukses nanti" Bram menepuk pundak asistennya senang.
__ADS_1
Dino tersenyum. " Terima kasih Tuan!"
Mereka sudah sampai di tempat meeting siang ini. Meeting dimulai setelah makan siang. Ternyata meeting berjalan alot sehingga sore hari baru selesai.
" Din,apa masih ada acara lagi?" tanya Bram pada Dino yang setia mendampinginya.
Ada makan malam dengan kolega satu jam lagi Tuan." jawab Dino cepat.
" Baiklah kita langsung berangkat saja." Bram bergegas ke mobil yang ada di tempat parkir perusahaan. Lebih cepat selesai lebih baik.
" Baik Tuan, oh iya besok ada acara gathering dengan para investor. Apakan Tuan berkenan hadir? " tambah Dino. Bram mendengus kesal.
" Apakah acara itu penting Din? Jika bisa ditunda atau kau wakilkan saja, lebih baik aku tidak menghadirinya!"
" Ini sangat penting Tuan, para investor itu sangat tertarik pada Tuan karena track record perusahaan kita yang baik belakangan ini. Dan beberapa dari mereka adalah investor kelas kakap yang jaringan bisnisnya sudah global." jelas Dino membuat Bram ragu untuk melewatkan kesempatan mengembangkan perusahaannya.
Sebelumnyanya Bram merasa malas bertemu dan beramah-tamah dengan para investor itu karena ingin cepat-cepat pulang dan fokus pada acara pernikahannya dengan Dhani, tapi mendengar penjelasan Dino rasanya sayang sekali jika melewatkan kesempatan ini.
" Baiklah aku akan hadir. Persiapkan semua yang diperlukan untuk acara besok Din."
" Siap Tuan" Dino penuh semangat membayangkan investasi besar yang akan didapat perusahaan jika ada proyek kelas kakap yang bisa digaet Bram besok.
Bram dan Dino sudah sampai di tempat yang sudah ditentukan untuk bertemu kolega bisnisnya.
Makan malam yang disambung pembicaraan bisnis itu berakhir saat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Tuan berhutang penjelasan pada saya." Dino menagih janji Bram yang akan menjelaskan alasannya terlambat dua jam tiba di kota M tadi siang.
Bram tersenyum. " Aku menukar tiketku dengan temanku Din. Kasihan dia. Ibunya kritis dan ingin anak-anaknya berkumpul di saat terakhirnya. Dia mendapat tiket jam dua belas. Dia takut ibunya tak bisa bertahan lebih lama. Jadi kami bertukar tiket pesawat."
" Tuan itu sangat beresiko. Seharusnya Tuan tidak melakukan itu."Dino berucap sambil mengusap dada. Dia membayangkan jika Bram ketahuan menukar tiket sembarangan. Mungkin saja Bram dan temannya itu akan berurusan dengan pihak berwajib.
__ADS_1
Bram tersenyum . Dia berharap saat ini temannya sudah berkumpul kembali dengan keluarganya. Mengabulkan keinginan ibunya untuk melihat semua anak-anaknya sebelum dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Saat itulah Bram iseng menyalakan televisi yang ada di mobil. Dan berita yang dilihatnya membuat Bram membeku sesaat. Dia dan Dino saling berpandangan melihat berita itu.