Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Mengejarmu


__ADS_3

Luki menarik kursi untuk Dhani. Dan Lim menarik kursi untuk Revi sekretaris Luki yang ikut bersama mereka.


Makan siang dilalui dengan penuh keakraban dan santai. Mereka makan sambil membicarakan proyek mereka dan sesekali diselingi obrolan ringan Dhani dan Luki . Lim dan Revi juga menimpali sesekali.


" Kakak tidak ingin melanjutkan study?" tanya Dhani disela-sela menyantap dessert.


" Aku ingin mengambil S2 ku, tapi masih bingung mengatur waktu. Mungkin aku akan ambil sistem daring atau home schooling saja. Kau tahu, perusahaan sedikit bermasalah saat papaku sakit kemarin. Jadi aku harus fokus menstabilkan kembali bisnis kami. Syukurlah sekarang sudah mulai stabil, tapi masih butuh perhatian lebih" Luki menjelaskan.


Dhani mengangguk maklum. Tiba-tiba dia teringat papanya. Pasti papa juga berharap dirinyalah yang kelak akan menggantikannya. Siapa lagi?


" Apa kak Luki anak tunggal?"


" Aku punya adik, tapi masih SMA Dhan.." jawab Luki


"Oooh..."


" Oke. Kita kembali ke lokasi. Sedikit lagi observasi kita selesai!" Luki berdiri diikuti Dhani dan lainnya. Mereka segera kembali ke lokasi proyek mereka.


Sekitar pukul tiga sore pekerjaan mereka selesai. Luki kembali mengantar Dhani dan Lim ke kantor Dhani.


" Terima kasih banyak kak, see you!" Dhani melambaikan tangan ke arah Luki. Luki membalas lambaian Dhani. Tak lama mobilnya sudah melaju meninggalkan pelataran parkir diikuti mobil sekretarisnya.


Dhani melangkah menuju lift khusus. Lim memencet tombol up untuk menuju ruangan kantor direktur di lantai dua belas.


" Menurutmu bagaimana prospek proyek kita Pak Lim?"


" Bagus nona saya yakin akan jadi ladang bisnis kita yang berkelanjutan." jawab Lim lugas.


" Terima kasih pak Lim, aku sangat terbantu dengan pak Lim disampingku." ujar Dhani tulus.


" Saya juga senang membantu anda nona" jawab Lim hormat.


Sampai di lantai dua belas, baru saja keluar dari lift ponsel Dhani bergetar. Wajah Bram terpampang disana. Dhani tersenyum.


"Pak Lim silakan pulang. Kita sudah selesai hari ini." Ujar Dhani saat melihat pak Lim seperti menunggu perintahnya.


" Baik nona. Selamat sore!" seru Lim senang. Hari ini semua lancar dan dia bisa pulang cepat. " Terima kasih nona" Lim tersenyum.

__ADS_1


Dhani melambaikan tangan menjawab ucapan Lim. Bibirnya sibuk menjawab Bram yang sedang menelpon dari seberang sana.


" Sayang...apa kabar?" sapa Bram mesra.


Dhani tersenyum. Hatinya masih saja berdesir ketika mendengar Bram memanggilnya sayang. Padahal entah sudah berapa ratus kali panggilan itu selalu diucapkan Bram untuk Dhani.


" Bram.. Aku kangen ..." ucap Dhani manja sambil merebahkan diri di sofa ruangannya. Kepalanya bersandar di ujung sofa.


Bram merasa sesak. Rasa bahagia namun tersiksa menyeruak di dadanya karena hanya bisa menatap gadisnya dari kejauhan. Rasa rindunya makin menderu mendengar gadisnya juga begitu merindukannya..


" Oh sayang...jangan menggodaku..bagaimana aku bisa menahannya..? Apa kau bisa ke sini? Jadwalku sangat padat sayang.." Bram mendesah putus asa.


Dhani tidak menjawab. Hanya menatap wajah Bram di layar ponsel penuh arti. Membuat Bram makin gelisah menahan perasaannya. "Bersabarlah sayang...Dhanimu juga sedang menahan rindu disini, tapi aku belum bisa menemuimu. Aku mendapat proyek baru dari papa."


" Proyek apa? Wahh...Dhaniku sudah mulai turun lapangan?" Bram berdecak kagum.


" Huumm, dan kau tahu sayang..dirut dari perusahaan klien kita ternyata kakak angkatan di kampusku dulu. Ahh senangnya..aku jadi lebih bersemangat karena kerja sama kita jadi lebih mudah dan lancar."


Bram mengerutkan keningnya." Hmm...cowok apa cewek nih ? " tiba-tiba nada suara Bram berubah.


" Jawab aja sih, pasti cowok kan temanmu itu?" wajah Bram sudah merengut kesal.


Dhani tersenyum. Wajah Bram yang merengut tampak sangat menggemaskan di layar.


" Tuan pacar, wajahmu lucu kalau sedang cemburu. Bikin aku gemess pengen nyium...jangan cemberut gitu ahh.." Dhani menyentuh bibir Bram di layar ponsel dengan telunjuknya sambil tertawa.


Bram memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia juga tertawa tertahan. Tiba-tiba saja dia merasa seperti abg labil yang mudah cemburu hanya karena Dhani bertemu klien lakì-laki. Ahh..ini pasti karena rasa rindunya yang tak tertahan lagi, sehingga membuat sikap rasionalnya hilang. Memalukan sekali.


" Sayang, nikah yuk..!" Seru Bram tiba-tiba yang sukses membuat jantung Dhani terasa copot.


" What?? Are you okey Bram?" Dhani melebarkan matanya.


" I am not OK honey, I misss you so much and much much more ." Bram menatap wajah Dhani dalam di layar.


" Braam..." Dhani menatap sedih wajah Bram. Dia tahu akhir-akhir ini Bram begitu lelah dengan pekerjaannya. Dan Dhani cuma bisa menghiburnya dengan bicara dari jauh.


" Sayang, bagaimana kalau aku segera melamarmu. Kamu sudah lulus kuliah. S2 dan S3 bisa kamu selesaikan nanti meskipun kita sudah menikah.Aku tidak akan melarangmu..." ucap Bram penuh semangat. Wajahnya penuh harap.

__ADS_1


Dhani tersenyum lembut. "Apa kau sungguh-sungguh Bram?"


" Tentu saja sayang...kau tahu aku sudah menahan ini tiga tahun. Oh tuan putriku...andaikan kau jadi diriku sayang...ini sungguh berat. Jauh darimu, merindu setiap hari. Hanya berteman rasa cemburu dan ini..??" Bram meremas bantal Dhani nya lalu memeluknya posessif..membuat Dhani tak bisa menahan tawanya.


" Aaaaaa...kau mesum.Bram...apa saja yang sudah kau lakukan dengan dhani kecil itu. Kasihan sekali dia..? "Dhani tergelak.


Bram mendengus kesal. Gadis itu menertawainya. Tapi cinta memang bisa membuat siapapun kehilangan akal dan harga diri..apalagi rasa malu...


"Terserah...ledek saja aku sepuasmu. Tapi bulan depan aku akan melamarmu ke om Baron." Bram menatap Dhani serius. Kali ini dia sungguh sudah tak sabar lagi.


Dhani tersenyum bahagia. Mungkin memang sudah waktunya memenuhi janji pada papanya. "Baiklah sepertinya aku juga sudah tak ingin menahannya lagi.. Aku tunggu sayang..." bisik Dhani.


Bram tersenyum lega. "Thanks God...terima kasih tuan putriku...jadilah milikku selamanya." bisik Bram.


"Hmm....masih ada waktu beberapa hari lagi. Biarkan aku selesaikan proyek pertamaku ya Bram? " Dhani meminta izin Bram. Bagaimanapun dia tak ingin lelakinya itu berpikir yang bukan-bukan tentang dia.


" Baiklah. Uruslah itu. Tapi jaga dirimu baik-baik nona. Kau sudah kutandai. Jangan nakal apalagi main mata dengan cowok lain. Eh, siapa itu Dirut temanmu ?" selidik Bram.


" Ah kau tidak perlu tahu Bram. Dia sama saja seperti partner kita yang lain."


" Kasih tahu aja kenapa sih sayang...siapa namanya?" desak Bram


" Oke namanya Lukita Atmajaya..dirut PT.L. Kau puas?" tanya Dhani sedikit kesal. Bram rupanya sangat cemburu saat ini.


" Hm..namanya sepertinya familiar. Mungkin aku pernah bekerja sama dengan Atmajaya juga."


" Mungkin ayahnya Luki Bram. Kemarin dia cerita bahwa ayahnya sakit sehingga dia terpaksa menggantikan ayahnya. " jelas Dhani.


" Mungkin juga Dhan. Eh kamu masih di kantor sayang? Maaf ya aku bikin kamu telat pulang ke rumah. Pulanglah sudah malam. Kita lanjutkan besok ya...Kau pasti lelah.." Bram baru teringat bahwa Dhani masih di kantor.


Rasa lelah dan rindunya sudah jauh berkurang setelah melihat dan bicara dengan Dhani meskipun hanya lewat layar ponsel. Hatinya makin yakin untuk segera mempersunting gadis pujaannya itu. Membayangkan tiap hari bisa selalu bersama gadisnya membuat Bram berkhayal indahnya saat itu.


"Baiklah sayang...kau juga istirahat ya..aku pulang dulu " bisik Dhani lembut.


Bram tersenyum dan mengangguk membalas Dhani. " I love you Dhaniku...rindukan aku.."


" Love you too Bramku...mimpikan aku..

__ADS_1


__ADS_2