
"Braam...tadi siang aku ketemu El lagi" Dhani menyandarkan tubuhnya ke dinding pembatas rooftop. Tangannya bertumpu pada pembatas setinggi pinggangnya itu. Matanya masih menikmati pemandangan indah kota J di senja hari.
" Bram angkat aku" Dhani mengangkat tangannya meminta Bram mendudukkannya di dinding pembatas yang lebarnya sekitar setengah meter itu.
Bram tersenyum. Dhani seperti anak kecil yang minta gendong ke ayahnya. Diangkatnya pinggang ramping Dhani dan Hup! Dhani sudah duduk manis di atas pagar pembatas itu.
" Kau tak takut jatuh sayang?" Bram tetap memeluk pinggang Dhani tak melepaskannya.
" Tidak..kan ada kau yang memegangiku"Dhani juga memeluk pinggang Bram. Dhani mengabaikan jantungnya yang berdetak kencang. Dia hanya ingin di dekat Bram saja saat ini.
" Emm...apa dia masih menginginkanmu?" Bram menatap Dhani sekilas. Wajah gadis itu terlihat sendu.
" Ya dan aku menolaknya lagi untuk kesekian kali. Aku selalu melukai hatinya. Aku minta dia tak menanyakan hal ini lagi padaku."
" Kau sudah benar. Kenapa sedih? Jangan-jangan kau masih suka padanya..." Bram pura-pura merengut.
" Tidak..aku sudah tidak punya perasaan apa-apa padanya. Itu gara-gara kamu.." Dhani menyalahkan Bram. Padahal hatinya sendirilah yang berpaling.
" Tentu saja, aku jauh lebih tampan dari dia..tapi bukan aku yang salah, kamu yang tergoda padaku.." Bram menahan tawanya.
" Ish..kumat narsisnya, iya aku tergoda tapi kamu kan tahu aku bukan gadis yang bebas lagi. Kenapa kamu masih mau denganku? Itu namanya bucin. Lebih parah dari tergoda ha??" Dhani membuang mukanya kesal. Tapi lalu tertawa kecil.
Dia tahu Bram bercanda. Mereka berdua saling tertarik satu sama lain. Saling terikat bahkan sejak pertama Dhani melihat Bram.
" Hahaha...dari mana kau dapat kata-kata itu. Kau sudah terkontaminasi drama korea sayang.." Bram tergelak mendengar kata-kata Dhani. Tapi itu memang benar. Dia sekarang adalah budak cinta sang tuan putri.
Bukankah cinta itu datang dan pergi sesukanya? Pada siapa saja dan kapan saja semaunya?. Manusia hanya mainan bagi cinta. Diombang-ambingkan diperbudak dirayu, dihempaskan, dibuat mabuk kepayang lalu dibuat remuk redam, kehilangan akal, gila bahkan mati. Mati hati, mati rasa karena patah hati atau benar-benar mati bunuh diri karena tak lagi kuat menanggung beban derita mencinta, Tapi cinta juga bisa memberikan rasa bahagia hanya dengan bersama seseorang yang jadi belahan jiwa bahkan hanya dengan melihatnya tersenyum...duh kok mbak penulisnya jadi ikutan baper ya..hiks..
__ADS_1
"Bram , aku takut suatu saat aku harus mengatakan hal yang sama padamu seperti yang kulakukan pada El. Apa aku sanggup? Apa kau akan sedih seperti El? Aku pikir sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi. Aku takut semakin dalam menyukaimu dan tak bisa melupakanmu kalau kita terus begini. Tapi aku tak mau melupakanmu. Aku selalu ingin mengingatmu. Aku selalu ingin bersamamu"
Bram menarik tangan Dhani lalu mendekap erat Dhani dalam pelukannya.
" Kau bilang jangan pikirkan esok hari? Kesusahan esok biarlah milik esok. Kalau hari ini kita bahagia dengan bersama seperti ini, kenapa tidak kita nikmati saja? Kalaupun esok kita sakit, setidaknya hari ini kita sudah bahagia bukan? "
Dhani mengangguk dalam pelukan Bram. Dada Bram yang bidang, tubuhnya yang harum dan hangat selalu membuat Dhani luruh dalam kedamaian dan ketenangan hati.
" Apa kau mau mencobanya?" Bram mengangkat dagu Dhani.
"Apa?" Dhani menatap wajah Bram. " Jangan aneh-aneh" ketusnya sambil melepaskan diri dari pelukan Bram.
" Hei jangan ge er dulu nona..aku bilang, apa kau mau coba tidak berhubungan sama sekali denganku untuk beberapa hari? Mari kita lihat seberapa dalam perasaanmu padaku. Kalau kau bisa melupakanku, aku tak keberatan kita sungguh-sungguh berpisah."
Dhani menatap Bram lekat. " Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu? Apa kau marah padaku Bram?"
" Entahlah Bram...aku cuma takut kelak harus memilih antara kau dan papa..itu pasti sakit. Karena aku pasti memilih papa. Aku nggak mau egois. Kau harus bebas, buat apa menungguku yang sudah pasti akan jadi milik orang lain. Jangan sia-siakan hidupmu untukku .Aku tidak mau jadi sebab kau jadi perjaka tua."
Bram tergelak mendengar kata-kata Dhani.
"Kau terlalu banyak berpikir sayang. Jadi sekali-sekali cobalah egois dan pikirkan dirimu sendiri. Kau bilang ingin bebas dan bahagia sebelum menikah. Kalau kau bahagia bersamaku just do it, be happy.. Lagipula aku ini ganteng, kalaupun kau tinggal kawin dan umurku sudah empat puluh tahun sekalipun, masih akan sangat banyak gadis yang akan mengantri jadi istriku..Bram mu ini punya banyak pesona yang tak bisa ditolak wanita."
Bram dan Dhani tergelak bersama-sama ketika Bram menyelesaikan kalimat narsisnya.
" Dihh..narsis kok hobby.." Dhani mencubit pinggang Bram . Membuat Bram menggeliat geli...Tawanya berderai. Gadisnya ini begitu naif.
Sejurus kemudian Dhani menatap wajah tampan Bram didepannya. Haruskah aku lepaskan sekarang juga? Ada seribu sembilu terasa menikam jantung Dhani. Sekedar membayangkanpun sudah membuatnya demikian sakit. Apalagi menjalaninya?
__ADS_1
Tak terasa air mata Dhani menggenang disudut matanya yang indah. Dhani berusaha menahannya sekuat tenaga. Tapi akhirnya jebol juga bendungan itu. Meluncurkan air kesedihan, cinta, sayang dan pengorbanan untuk sang pujaan hati. Dipeluknya erat tubuh Bram.
" Hei sudah, jangan menangis. Aku nggak mau kedatanganku bikin kamu sedih." Bram mengelus sayang rambut Dhani . " Makan yuk" Bram mengajak Dhani turun.
" Gendong..." Ucap Dhani manja sambil mengangkat tangan seperti tadi. Bram tertawa melihat tingkah gadis yang begitu dirindukannya itu, lalu dengan sigap memberikan punggungnya untuk Dhani.
Dhani melingkarkan lengannya ke leher Bram. Kepalanya disandarkan ke bahu Bram yang bidang. Sementara Bram melingkarkan dua tangannya ke bawah paha dan lutut Dhani . Menggendongnya dengan gagah. Seakan tenaganya berlipat-lipat ketika merasakan pelukan lembut lengan Dhani di lehernya..dan kepala Dhani yang bersandar manja di bahu kanannya.
" Kau ingin makan di sini atau keluar ?" Bram bertanya sambil terus berjalan
" Disini ada?"
" Ada..! Kau tuan putrinya..apa yang kau minta pasti ada"
Dhani mencubit pipi Bram yang dekat dengan tangannya." Gombalmu semakin menjadi-jadi tuan..baiklah kita makan disini saja. Aku cuma mau berdua denganmu saja. Nggak mau diganggu" ucap Dhani membuat Bram lagi-lagi menahan desir halus didadanya.
" Oke kita ke kamarku saja. Kita pesan makanan disana. Hari sudah sore dan kau tidak memakai jaket. Diatas dingin."
" Kau tidak lelah Bram, aku ini berat..turunkan aku" Pinta Dhani ketika Bram terus saja menggendongnya menuruni tangga dari rooftop.
"Tidak, aku mau menggendongmu terus, aku mau kau menempeliku terus.." Bram tertawa .
" Heh..turunkan aku ..dasar mesum! " Dhani
memukuli punggung Bram . Tapi Bram malah lari menuruni tangga sambil mempererat pegangan tangannya pada lutut Dhani.
Dhani terpaksa mengeratkan pegangannya pada leher Bram karena takut jatuh. " Kau gila Bram..! Dhani tanpa sadar menggigit bahu Bram. Tapi Bram tak peduli.
__ADS_1
" Iya...aku tergila-gila padamu.." Bram makin mempercepat jalannya. Berhenti tepat di depan satu-satunya kamar yang ada di lantai paling atas gedung itu. Barulah Bram berjongkok dan menurunkan Dhani.