
Bram melingkarkan tangan ke pinggang Dhani setelah mobil yang membawa ketiga sahabatnya menjauh dari halaman rumah.
"Sayang, kayanya Bastian ada hati sama kamu deh" gumam Bram sambil menatap gadisnya. Suaranya terdengar lembut namun menyimpan sedikit kecemburuan disana.
"Ah ngaco kamu mas, dia sama Silgy dan Donald itu satu paket. Mereka sahabatku sejak kuliah hari pertama. Nggak mungkinlah Bastian suka sama aku.!" Dhani menggeleng tak percaya pada kata-kata Bram.
"Aku bisa melihatnya sayang. Mata yang sama dengan si Atmajaya itu saat memandangmu." Bram tersenyum
" Apa kau cemburu?" Dhani tersenyum sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Bram.
" Em..sedikit." Bram menjentikkan jari kelingkingnya.
"Aku bahkan tidak sadar dia suka padaku. Sikapnya biasa saja seperti Donald, tidak memberi perhatian lebih atau mengatakan sesuatu yang menunjukkan dia suka padaku" mata Dhani menerawang.
" Itu karena hatimu sudah penuh olehku yang jauh lebih tampan dan lebih segalanya dari dia...hahaha.." Bram tertawa narsis.
" Kumat narsisnya..." Dhani ikut tertawa. Apakah benar Bastian menyukainya? Atau itu hanya perasaan cemburu Bram saja? Entahlah Dhani benar-benar tidak ingin memikirkannya.
" Jadi mulai sekarang jangan terlalu dekat lagi dengannya ya?" Bram mencubit hidung Dhani pelan.
" Aku tidak ada perasaan apapun dengannya mas.." sahut Dhani.
" Tapi dia jatuh cinta padamu. Jangan bikin dia makin baper dan makin tak bisa melupakanmu. Apa kau tak kasihan padanya? Dia cukup tampan, ya meskipun nggak ada apa-apanya dibanding aku sih, kaya dan pintar. Kau pikir kenapa dia jomblo sampai sekarang hmm?" Bram menatap Dhani lembut.
" Masa sih Bastian suka sama aku? Oke deh demi masku tersayang yang paling narsis sedunia aku akan jaga jarak dengan Bastian. Tapi aku nggak akan memutuskan begitu saja persahabatan kami mas. Itu terlalu kejam." Dhani mengalah.
" Good girl." Bram membelai lembut rambut Dhani.
" Sayang, aku balik ke hotel ya..? " pamit Bram pada Dhani. Jam sudah menunjukkan pukul duabelas malam.
" Mas disini aja. Besok pagi baru ke hotel ya?" Dhani merasa keberatan harus segera berpisah dengan calon suaminya itu. Dia masih belum puas melepas rindunya pada lelaki itu.
" Nggak enak sayang, banyak saudara-saudaramu...kalau mau jujur sih aku juga pengen nginep...bahkan nyicil bobo bareng sama kamu" Bram berbisik sambil menatap Dhani nakal.
" Masss....mesum kamu semakin menjadi-jadi. Udah pergi sana." geram Dhani sambil mendorong tubuh Bram yang semakin memepetnya.
Bram terkekeh melihat wajah Dhani yang merona. Tapi dia tidak membiarkan Dhani menjauh darinya. Direngkuhnya tubuh ramping itu makin dalam ke pelukannya.
__ADS_1
" Besok pagi sebelum berangkat aku kesini lagi. Atau kamu saja yang ikut ke hotel denganku malam ini?" Bram lagi-lagi berbisik nakal di telinga Dhani sambil tertawa. Bibirnya sengaja didekatkan hingga menyentuh daun telinga gadisnya itu.
Dhani mencubit pinggang Bram yang masih memeluknya erat. Dia tahu Bram cuma menggodanya. Pria itu mengaduh merasakan nyeri dipinggangnya, tapi tetap tak melepas pelukannya.
Mereka kemudian duduk di gazebo yang ada di halaman depan rumah Dhani. Letak gazebo itu ada dibawah pohon yang cukup besar sehingga agak terlindung dari pos security didepan.
" Sayang, aku sangat bahagia malam ini. Terima kasih sudah mau menerimaku jadi calon suamimu. Itu artinya tak lama lagi kau jadi milikku seutuhnya. Aku tak akan kuatir lagi dengan banyaknya lelaki yang mengejarmu. Mereka akan gigit jari." Bram berkata-kata lembut di telinga Dhani.
"Mana ada? Aku kok nggak tahu ada banyak yang mengejarku?"
" Mereka sudah kusingkirkan" Bram terkekeh lagi.
" Aku jadi takut sama kamu mas. Lama-lama kamu seperti tokoh jahat di sinetron ikan terbang itu." Dhani ikut tertawa. Menganggap ucapan Bram hanya gurauan semata.
Padahal Bram bersungguh-sungguh. Beberapa pengusaha berusaha mendekati Dhani melalui proposal kerja sama yang mereka ajukan pada perusahaan yang merupakan milik bersama Baron dan Dimas.
Dhani saja yang tidak tahu bahwa sejak jadi wakil direktur di perusahaan Baron, namanya jadi pembicaraan hangat para pengusaha muda. Terutama karena kecantikannya dan tentu saja karena statusnya sebagai pewaris tunggal Baron.
Ada yang memang terang-terangan ingin menjadikan Dhani sebagai kekasih bahkan istri, ada juga yang bermaksud menjodohkaan Dhani dengan anak mereka.
Tapi dengan lihai dan cara halus Bram menghandle mereka, jadi mereka tak sempat bertemu Dhani.
Gadis itu mendengus, lalu tanpa sadar dengan gemas menggigit kecil lengan atas Bram.
" Ihh..mesuuum" jerit Dhani lirih.
Bram memejamkan matanya sejenak, ada bagian tubuhnya yang bergejolak di bawah sana saat Dhani menggigitnya . Tanpa sadar Bram menggeram.
" Sayaang...kok aku digigit sih..? " Bram meraih tubuh Dhani dan merengkuhnya mendekat. " Aku kan jadi pengen gigit kamu juga" Bram menyeringai membuka mulutnya seakan mau menggigit Dhani.
Gadis itu gelagapan " Sory mas, sakit ya? Habis kamu ngomongnya mesum melulu sih. Gemes aku!" Dhani memeriksa bekas gigitannya di lengan Bram.
Lelaki tampan itu sudah melepaskan jasnya sejak tadi. Dan kini hanya memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku.
" Sakit sih enggak, takutnya aku ketularan jadi vampir kaya kamu , gigit orang seenaknya aja, nanti kalau sudah sah, baru boleh gigitin mas di sekujur tubuh. " Bram.terkekeh sambil menunjuk- nunjuk bagian tubuhnya. Dan tangannya berhenti di bagian bawah perutnya.
Dhani menjerit kecil." O M G mas, kamu benar-benar harus segera balik ke hotel, right now! " Lalu gadis itu beranjak meninggalkan Bram yang masih terkekeh-kekeh di gazebo.
__ADS_1
" Yaaaang..sayaang..kok pergi sih? " Bram mengejar Dhani dan segera memeluk gadis itu dari belakang ketika berhasil mengejarnya.
"Lepas mas, sudah ya. Aku gak kuat lagi dengar kemesumanmu yang makin parah hari ke hari.." Dhani berusaha melepas lengan Bram yang melingkar erat di perutnya.
"Baru dengar saja kamu sudah nggak kuat sayang, apalagi merasakannya..? " Bram mengecup pundak Dhani lembut. Membuat Dhani merinding.
" Merasakan apa?" Dhani tertawa mendengar kata-kata Bram yang makin ngelantur.
" Kemesumanku, kau tahu sejak mengenalmu aku berubah jadi pria mesum. Membayangkanmu siang malam. Merindukanmu tak kenal tempat dan waktu seperti orang gila. Hanya pekerjaan yang bisa mengalihkanku dari mengingatmu. Makanya jika jauh darimu aku jadi gila kerja. Kadang sampai lupa waktu....."
" Dan lupa aku ? " Dhani menoleh ke arah Bram yang sedang menyandarkan dagu di pundak Dhani.
Bram terkekeh " Ya maaf...kadang karena terlalu serius kerja aku jadi lupa kamu..."
" Apalagi kalau klien bisnisnya seksi dan montok...fiyuuhh...! Bye Dhan...I'll remember u tomorrow or next week...gitu sayang..? Dhani membalikkan badan sambil memiringkan kepalanya menatap Bram.
Bram tertawa tergelak melihat wajah Dhani yang mengerut kesal. Direngkuhnya kepala gadis itu lembut. Menahan tengkuk Dhani dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya meraih pinggang ramping sang tuan putri.
" I love u baby..." desah Bram lembut. Bibirnya mulai menelusuri bibir lembut di hadapannya. Bibir manis yang selalu membuatnya menggila untuk menikmatinya tanpa pernah merasa puas.
" Maaf karena aku tidak akan pernah puas denganmu" Bisiknya lagi.
Sementara sang pemilik bibir manis cuma bisa mendesah menikmati dan membalas permainan hangat dan lembut sang pria mesum.
"I love u too mas mesum" bisik gadis itu di telinga Bram. Membuat pria itu melepas pagutannya sejenak.
" Rasakan kemesumanku!" geram Bram pelan dan mulai menciumi gadisnya dengan rakus. Tidak lagi hangat dan lembut sperti tadi. Tanpa ampun hingga membuat keduanya tersengal-sengal.
Saat itulah tampak dari kejauhan Baron membuka pintu dan mencari-cari sesuatu.
" Papa mencari kita sayang" bisik Dhani sambil menarik tangan Bram.
" Bibirmu bengkak sayang..." Bram tersenyum-senyum sambil melirik Dhani.
Dhani cuma menggeram sambil bergumam-gumam tak jelas.
" Siapa suruh ngomong mas mesum. Kan jadi tertantang..mesum beneran...haha..." Bram tertawa bahagia memandang wajah gadisnya yang makin merona. Menggemaskan..."jadi pengen lagi" gumamnya .
__ADS_1
Mata Dhani melotot. Mata Bram meredup,sayu penuh rindu...