
Seminggu berlalu sejak acara lamaran resmi keluarga Bram. Dhani tidak terlalu memusingkan acara pernikahan karena semua sudah diserahkan ke pihak WO.
Bram masih selalu menghubunginya setiap hari. Video call mesra untuk melepaskan rindu sekaligus membahas dengan bahagia hal-hal tentang rencana pernikahan mereka. Benar-benar sempurna sampai siang itu...
Dhani kembali menghubungi nomor Bram yang sudah sejak pagi tadi tak bisa dihubunginya. Padahal tadi malam Bram masih menyapanya lewat v call seperti biasa.
Pihak WO menanyakan kapan Bram dan Dhani bisa meluangkan waktu untuk fitting gaun dan jas pernikahan mereka. Dan Bram malah menghilang.
Dhani menghubungi Anna, mami Bram untuk menanyakan keberadaan Bram.
"Selamat siang mami, apa kabar?" Dhani membuka percakapan.
" Siang sayang, mami baik. Kamu juga kan sayang..? " Jawab Anna lembut
" Baik mami, apa mami tahu kenapa hp Bram tidak bisa dihubungi? Padahal tadi malam kita masih bicara mi?" Nada bicara Dhani tampak sedikit cemas.
" Mungkin Bram masih di pesawat sayang, apa Bram tidak bilang kalau dia pagi ini akan pergi ke kota M?"
"Oh begitu, tidak mi. Bram tidak mengatakan apapun tadi malam soal perjalanan pagi ini, mungkin semalam lupa karena kami banyak membahas acara pernikahan." jawab Dhani lega.
Setidaknya dia tahu Bram tidak menjawab telpon karena sedang ada di pesawat. Meski juga sedikit bertanya-tanya kenapa Bram tidak memberitahu bahwa pagi ini dia ada perjalanan bisnis ke kota M di pulau Sumatera.
" Apakah ada hal penting sayang?" tanya Anna lagi.
" Itu mi, pihak WO meminta kami untuk fitting baju. Kalau begitu nanti coba Dhani hubungi Bram beberapa jam lagi. Terima kasih ya mi" Dhani menutup panggilannya.
Gadis itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar aneh. Ada perasaan tidak nyaman menyeruak begitu saja memenuhi relung hatinya. " Bram berjanjilah kau akan baik-baik saja" bisiknya pelan seakan menenangkan dirinya sendiri.
Dhani berusaha melupakan gundah di hatinya dengan kembali berkutat pada pekerjaan kantornya. Dhani harus menyelesaikan semua hal-hal urgent sebelum cuti untuk mempersiapkan pernikahannya.
Tak terasa sudah sore. Jam kantor sudah berakhir. Lim, asisten Baron yang juga mentor Dhani sudah beberapa saat lalu berpamitan pulang.
__ADS_1
" Sayang, ayo pulang" Baron tiba-tiba saja sudah berdiri diambang pintu ruangan Dhani.
Dhani tersentak dari lamunannya "Ah papa...iya pa.." Dhani segera mengenakan blazer yang menggantung di kursinya. Mengambil tas, mematikan lampu ruangan dan bergegas mengikuti langkah Baron ke arah lift.
" Apa ada yang kau pikirkan sayang?" Baron melihat wajah Dhani yang sedikit pucat.
" Bram pa...Dhani gak bisa menghubunginya sejak pagi. Mami bilang Bram ke kota M by plane. Harusnya sudah sampai dari tadi kan pa? Tapi ponselnya tetap tidak bisa Dhani hubungi." Dhani berkata-kata tanpa memandang wajah Baron. Matanya tampak berkaca-kaca. Cemas dan bingung menguasai perasaan Dhani.
" Sayang, papa tahu kamu cemas. Tapi lebih baik kita berdoa yang baik-baik saja. Positive thinking saja, mungkin Bram langsung ada meeting sehingga tidak sempat menghubungi. Atau hpnya kehabisan baterai mungkin? " Baron berusaha menenangkan putrinya yang kini tampak kacau.
" Hmm iya pa, semoga..amin" Dhani memeluk pinggang Baron. Lelaki paruh baya itu merangkul pundak putrinya dan mencium lembut kepala Dhani. Sejenak Dhani merasa tenang dalam rengkuhan papanya.
Saat hendak memasuki pintu mobil yang sudah dibukakan pak Sukir, ponsel Baron berdering. Dan Baron mendapati nama Dimas di sana sedang memanggilnya.
" Iya kangmas, ada apa?" tanya Baron cepat.
Kemudian Baron mendengarkan Dimas yang berbicara dengan seksama. Tiba-tiba wajah Baron memucat, bahkan tubuhnya sedikit terhuyung. Dhani menangkap tangan papanya dan menahannya.
" Baik...baik kangmas..kabari saya terus kangmas"
Baron tiba-tiba memeluk Dhani dengan erat. Samar Dhani mendengar suara isak tertahan dari lelaki yang dicintainya itu.
" Ada apa pa?" Dhani merenggangkan pelukan papanya minta penjelasan.
Baron menatap Dhani. Ya..papanya benar-benar menangis. Matanya tampak merah. Ada air mata tergenang disana meski Baron berusaha keras menahannya agar tidak jatuh. Baru kali ini Dhani melihat papanya itu menangis.
Sayang ayo masuk mobil. Kita pulang dulu, nanti papa jelaskan sambil jalan." Baron membuka pintu mobil. Dhani masuk disusul Baron kemudian.
Pak Sukir segera menjalankan mobil begitu melihat kedua tuannya sudah duduk di kursi belakang.
" Papa, jangan bikin Dhani bingung dan penasaran. Papi Dimas bilang apa?" Dhani menuntut papanya yang masih tampak shock.
__ADS_1
Baron tidak memjawab tapi malah membuka laptopnya dan segera melihat sebuah portal berita di internet.
Dhani mengerutkan dahinya dan ikut melihat berita yang di buka Baron. Berita tentang jatuhnya sebuah pesawat komersil dengan rute penerbangan dari kota S ke kota M.
Deg!! Jantung Dhani berdetak cepat. Dengan tidak sabar diambilnya laptop dari pangkuan Baron. Mengeraskan suara dan melihat lengkap berita itu.
" Bram.." bisiknya lirih. Hampir tanpa suara.
Tiba-tiba saja air mata Dhani sudah berhamburan membasahi pipi merahnya. Gadis itu menangis tanpa suara.
" Sayang, tenanglah dulu. Belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah tentang korban. Kita berdoa saja sayang. Mudah- mudahan Bram baik-baik saja.
Dhani tidak merespon Baron sama sekali. Tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di laptop. Mencari semua informasi yang terhubung dengan berita tentang jatuhnya pesawat itu. Sesekali tangannya mengusap kasar air mata yang seakan tak mau berhenti membasahi wajah cantiknya.
" Tidak mungkin!" seru Dhani bicara sendiri. "Dia tidak mungkin ada di pesawat itu. Dia tidak bilang kalau mau pergi. Dia belum fitting baju. Dia belum mengucapkan sumpah pernikahan. Dia bilang tidak sabar ingin segera bersamaku. Dia tidak mungkin pergi.." racau Dhani.
" Sayang, tolong jangan seperti ini. " Baron menangis tergugu melihat dan mendengar Dhani bergumam sendiri. Gadis itu bahkan tidak melihatnya sama sekali.
Baron merasa sangat sakit melihat putri kesayangannya begitu terpukul mendengar berita itu hingga menolak percaya berita itu.
Hingga kemudian di layar terpampang jelas manifest penumpang pesawat. Nama penumpang yang meninggal dunia, Terluka parah , selamat hingga hilang. Dan dengan jelas terlihat di sana nama Bramantyo Brotonegoro termasuk dalam manifest penumpang yang hilang.
Dhani merasa kepalanya berputar. Berdenyut tak tertahan sebelum semuanya gelap. Tubuhnya ambruk tak berdaya. Terkulai lemah disamping Baron yang menahan pundaknya.
" Cepat pak Sukir. Dhani pingsan, kita mampir ke rumah dokter Rudy dulu. Mudah-mudahan Dhani tidak apa-apa." seru Baron.
" Inggih Ndoro (Iya Tuan)" Pak Sukir mengangguk patuh. Menambah kecepatan mobilnya menuju rumah dokter Rudy yang tidak jauh lagi.
Baron membaringkan tubuh Dhani yang lemas. Menaruh kepala gadis itu dipangkuannya dan membelai sayang kepala gadis itu. Air matanya kembali luruh melihat wajah cantik yang kini sembab. Sisa-sisa air mata tampak belum mengering disana. Dengan penuh kasih tangan halusnya mengusap air mata gadis itu.
" Stella, apa ini honey? Apakah ini mimpi? Aku takkan sanggup melihatnya menderita..." Baron mengusap air matanya dengan saputangan.
__ADS_1