
Dhani akan beranjak pergi dari kamar Baron. Tiba-tiba dia berbalik dan kembali duduk didekat Baron. Membuat Baron mengeryitkan dahinya.
"Apalagi?"
" Pa...siapa Bram sebenarnya? Mau-maunya dia jadi bodyguard Dhani seminggu ini. Emang dia nggak ada kerjaan?"
Baron terdiam sesaat lalu menjawab Dhani " Kan papa sudah bilang dia anak teman papa. Kebetulan seminggu ini dosen yang membimbing disertasinya cuti, jadi Bram memanfaatkan waktu luangnya untuk berlibur juga. makanya Bram mau menolong papa menjagamu. Sekalian liburan katanya.
" Oh gitu,.oke papa. Oya pa, nanti malam Dhani boleh pakai ruang karaoke kan? Dhani mau bikin acara perpisahan untuk Bram"
" Tentu saja boleh. Asal ingat waktu , besok masa orientasimu dimulai pukul 8 bukan? Jangan sampai telat di hari pertama hemm?"
"Ashiyaap papa! " Dhani menempelkan tangan ke dahi. Membuat Bram tertawa .
Dhani melangkah riang ke kamarnya. Kemudian berendam air hangat di bathtub. Tak terasa sudah tiba waktunya makan malam.
Dhani bersiap turun ke ruang makan. Ini adalah makan malam terakhir bersama Bram. Terakhir ya..?.Dhani merasa aneh. Ada sesuatu di rongga dadanya yang terasa hampa. Apa ini? Dhani meraba dadanya sendiri. Tapi Dhani segera menepis perasaannya.
"Aku hanya terbawa perasaan, dia begitu manis, menjagaku, melindungiku, menemaniku , menuruti bahkan semua keinginan gilaku, seperti seorang pelayan yang patuh tanpa syarat pada tuannya. Panggilan manisnya, ucapan sayangnya, perlakuannya yang gentelman,..ahh", semua terbayang kembali. Berkelebatan dan berkejaran di depan mata Dhani.
Dhani mengusap wajahnya agak kasar, berusaha melenyapkan bayangan-bayangan Bram yang berkelebatan, tapi tubuhnya malah merinding. Seakan saat itu Bram sedang memeluk pundaknya berdiri di belakangnya. Tubuhnya begitu dekat, sesekali bersentuhan dengan kulitnya. Dhani memejamkan matanya.
"Ohh ya ampun aku sudah benar-benar berhalusinasi tingkat tinggi, sekarang bahkan harum tubuh Bram yang khas memenuhi rongga hidungku...ahh" Dhani menghirup lembut aroma itu tanpa membuka matanya.
"Eh Dhan, ngapain malah berdiri di sini, ayo papamu sudah menunggu dari tadi"
Glek! Dhani langsung membuka matanya. Terbelalak melihat Bram benar-benar berdiri di depan matanya. OMG!! Jadi aku tidak berhalusinasi? Malunyaa...apalagi Dhani sempat menghirup dalam-dalam aroma tubuh Bram tadi.
Bram tertawa geli melihat kelakuan Dhani. " Belum ditinggal aja udah kangen , sampai berhalusinasi begitu, apalagi kalau udah gak ketemu..hmmm. ," bisik Bram di telinga Dhani.
"Ish Kepedean," sungut Dhani kesal. Dia berjalan cepat meninggalkan Bram dengan tawa gemasnya. Wajah Dhani benar-benar merah , rasanya seperti nyolong mangga terus ketahuan pemiliknya pas lagi makan mangga di pohonnya..aaaaa...
__ADS_1
Di meja makan Dhani tampak masih salah tingkah. Bram sudah kembali seperti semula meskipun senyuman nakal masih sedikit terukir di bibirnya.
" Kok cemberut saja sayang, apa menu nya tidak cocok? " Baron memperhatikan sang putri yang ogah-ogahan mengambil makanannya. Wajahnya tak seriang biasanya.
" Mungkin sakit gigi tuan" Bram menjawab sambil tersenyum
" Benarkah, sejak kapan kamu sakit gigi? Seingat papa sejak kecil gigimu selalu sehat," Dahi Baron mengerut. Matanya terus menatap putrinya yang kini malah mendelik ke arah Bram.
" Jangan dengarkan Bram pa..kalau bicara suka asal" Dhani mengepalkan tangannya ke arah Bram. Baron dan Bram tertawa melihat wajah Dhani yang makin menggemaskan saat kesal.
Derai tawa bergema di ruang makan itu. Kecanggungan dan rasa malu Dhani sudah tak dirasakannya lagi. Mereka menikmati makan malam itu dengan tenang. Seperti biasanya diakhiri dengan obrolan-obrolan ringan di ruang keluarga .
" Bagaimana Bram, apa persiapanmu untuk pulang besok sudah beres semua?" Baron membuka percakapan.
" Sudah Tuan, semua sudah beres, tinggal berangkat saja" Bram menjawab
" Ah sudahlah Bram Dhani sudah tahu kalau kamu putra teman om. Nggak perlu pura-pura panggil tuan lagi..hahaha .Om ucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah sabar menghadapi anak nakal ini selama seminggu ini. Maaf jika dia sering menyusahkanmu."
Dhani mendengus kecil. " Papa memang keterlaluan. Kau juga Bram. Kalian sekongkol mempermainkanku"
Bram cuma tersenyum simpul. Entah apa yang dipikirkannya.
Jangan lupa titipan untuk papamu ya Bram, bilang terima kasih karena sudah mau menolong om. Membiarkan kamu momong anak om yang manja ini. Padahal papamu juga sangat membutuhkan bantuanmu.
" Pasti om. Tidak usah sungkan karena om juga sering membantu papa."
Ya sudah om ke kamar dulu. Kalian jangan tidur terlalu malam. Besok jangan sampai telat bangun ya..."
Baron sudah beranjak ke kamarnya. Tinggal Dhani dan Bram duduk saling berhadapan dibatasi meja kecil.
Dhani berdiri . "Ayo Bram, ikut aku sebentar."
__ADS_1
Dhani berjalan ke lantai dua rumahnya. Ke arah ruangan diseberang kamarnya. Bram mengikuti di belakang Dhani tanpa banyak bicara.
# Raden Ayu Dyah Pramudya Wardhani ( Dhani)
Gadis cantik putri tunggal dari Raden Mas Baron Nakulo Dihardjo.
Bermata biru dan teduh (Ibu Dhani,Stella adalah wanita keturunan Inggris. Matanya juga biru sepertti Dhani) rambut ikal kecoklatan dan bibir merah muda nan seksi
Tinggi badan 168 cm
#Raden Mas Bramantyo Brotonegoro (Bram)
Mata teduh, Alis tebal menawan, Hidung mancung dan bibir yang seksi.
Tinggi badan 182 cm
Readers tersayang, Visual tokoh ini mbak penulis comot dari google. Khusus visual Bram mbak penulis sengaja pilih mas Soe In Guk. Soalnya mbak penulis sedang terpesona akan kegantengan mas In Guk saat ini.
Visual ini Cuma sekedar bantu readers membayangkan tokoh utamanya. Ini adalah visual versi mbak penulis. Mudah-mudahan sesuai dengan bayangan pemirsa.
Tapi kalau readers merasa tidak sesuai, monggo silakan diimajinasikan sesuai bayangan readers masing-masing.
Readers tersayang, mbak penulis baru pertama kali ini memberanikan diri menulis novel, mohon maaf kalau isinya masih amburadul atau kurang sesuai harapan readers. Tapi mbak penulis janji akan terus belajar agar tulisan mbake semakin baik dan memenuhi ekspektasi readers semua.
Jadi dari kemarin sebenernya mbak penulis mau bikin pengumuman minta vote like dan komen tapi tak mampu berkata-kata.
Mbak penulis merasa rendah diri, belum pantas untuk minta aneh-aneh dari readers tersayang apalagi minta dukungan karena merasa karyaku belum layak diberi vote atau like apalagi komen.
__ADS_1
Akhirnya mbak penulis up date karya aja terus . Berharap readers novel toon melirik sedikit, mencoba membaca dan menikmati tulisan mbake, untuk selanjutnya mendukung mbak penulis dengan vote, like dan komen yang membangun. Apalagi kalau ada yang kasih favorit. Pasti mbak penulis lebih semangat lagi nulisnya .
Akhir kata terima kasih untuk readers yang sudah sudi mampir ke karya mbak penulis. Happy reading ya...GBU..❤