Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#The Wedding Day


__ADS_3

Dan hari bahagia Bram dan Dhani pun tiba.


Setelah berbagai macam prosesi adat jawa yang dilaksanakan dengan lengkap hingga saat pemberkatan nikah, ini adalah hari resepsi pernikahan mereka.


Jika saat lamaran hingga pemberkatan pernikahan Dhani tidak mau dipublikasikan untuk menjaga privacy, maka untuk acara resepsi Dhani dan Bram tidak bisa lagi menolak keinginan kedua keluarga untuk menggelar pesta besar-besaran.


Bagaimanapun Dhani dan Bram adalah anak tunggal di keluarga masing-masing. Ditambah lagi kedua keluarga termasuk taipan bisnis di Indonesia. Tentu saja orang tua mereka tidak mau kehilangan kesempatan merayakan kebahagiaan putra dan putri semata wayang mereka .


Ballroom hotel bintang lima milik Baron dan Dimas itu disulap menjadi ruangan yang mewah dan megah dengan dekorasi yang didominasi warna putih dan soft gold.


Pelaminan indah dipenuhi dekorasi bunga-bunga mawar putih dan lily serta tulip. Entah berapa ribu tangkai bunga segar yang diatur sedemikian indah itu sehingga ketika mendekat ke pelaminan aroma harum bunga akan segera menyambut para tamu.


Dhani dan Bram yang tampak sangat bahagia berdiri dengan mesra disana. Bram dengan gagah mengenakan setelan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu. Sementara Dhani mengenakan gaun pengantin putih yang mengekspos pundaknya, gaunnya panjang hingga menyentuh lantai.


Bram memberikan lengan kanannya untuk Dhani dan dengan senang hati Dhani melingkarkan tangannya ke lengan Bram yang kekar itu .


" Kamu cantik sekali sayang.." Bram berbisik di telinga Dhani. Gadis itu tersipu bahagia dipuji suaminya.


" Kamu juga hot Mas.." balas Dhani membuat kening Bram berkerut.


" Apanya yang hot. Aku nggak panas kok"


" Ganteng dan sexy. Kamu lihat tamu-tamu ceweknya pada ngiri aku dapat suami kaya kamu sayang" bisik Dhani menggoda.


Bram tersenyum lebar. Wajahnya memerah mendapat pujian dari istri yang sangat dicintainya. Hatinya terasa menghangat.


" Kamu juga lihat honey, banyak pemuda yang patah hati aku berhasil dapetin kamu. Most beautifull CEO this year, don't you know, baby?" Bram tersenyum.


" Itu sih lebaynya kamu aja mas, mana ada most beautiful CEO?" Dhani tertawa geli mendengar rayuan gombal Bram.


Kedua pengantin itu tertawa bahagia . Hari ini benar-benar hari bahagia mereka setelah melewati begitu banyak rintangan dan peristiwa mendebarkan yang menguji cinta mereka.


Acara demi acara berlanjut di malam itu. Kedua keluarga mempelai juga tampak sangat berbahagia.


Di sudut sepi di taman hotel tempat acara pernikahan tampak Bastian berdiri bersandar disebuah pilar besar. Tubuhnya tersamar lampu taman yang temaram dan bayang-bayang pepohonan yang rimbun. Sehingga dari kejauhan tak akan tampak jika ada orang di tempat itu.


" Akhirnya aku memang benar-benar harus merelakanmu tuan putri" bisik Bastian pelan. Tak terasa sebutir air mata lolos dari ujung matanya. " Aku memang bodoh!" Bastian tersenyum di sela tangisnya yang tanpa suara.


Bastian menengadahkan wajahnya sejenak. Menghapus sisa-sisa air matanya dan hendak pergi dari sudut taman itu ketika didengarnya suara isak seseorang dari sudut taman yang lain. Bastian mengedarkan pandangannya dan menajamkan telinganya.


Apa itu suara orang atau kuntilanak? Bastian meringis tegang. Saat itu matanya menangkap sesosok tubuh wanita duduk bersimpuh sambil memeluk lututnya di tepi kolam ikan. Kepalanya dibenamkan di antara dua lututnya.


" Aku yang menunggumu sejak kita anak-anak. Aku yang selalu ada disisimu sejak kita kecil. Kenapa dia yang mendapatkanmu? Kenapa kau malah memilihnya? Huu...huu...bodoh...aku memang bodoh menunggumu" samar terdengar suara gadis itu di sela isaknya.

__ADS_1


Bastian tersenyum masam. Ternyata bukan hanya dia yang terluka dan menangisi pernikahan Bram dan Dhani. Entah mengapa Bastian merasa sakit hatinya sedikit berkurang mendengar kata-kata putus asa gadis itu.


Tiba-tiba gadis itu melemparkan sebelah sepatunya sembarangan sambil memekik lirih.." Bram bodoh! Pergilah bodoh! Enak saja bilang kamu sudah kuanggap adikku! Dasar Bodoh!"


Bastian tidak bisa lagi menahan tawanya. Ya ampun lucu sekali gadis itu. Bastian hendak menghampiri gadis itu ketika muncul petugas kebersihan hotel mendorong tempat sampah besar dan memungut sepatu yang tadi dilempar gadis itu.


Petugas kebersihan itu menoleh ke kanan dan kekiri seakan mencari pemilik sepatu itu. Namun tak terlihat ada orang disitu, akhirnya petugas kebersihan itu melemparkan sepatu itu ke tong sampah yang dibawanya.Lalu beranjak pergi sambil mendorong tempat sampah.


" Tunggu!" teriak seorang gadis mengagetkan petugas itu.


" Ya nona. Ada apa?"


" Kenapa kau membuang sepatuku?" tanya si gadis.


" Sepatu? Oh jadi sepatu sebelah itu milik nona? Maaf nona tadi saya sudah mencari-cari siapa pemilik sepatu itu. Tapi tidak ada orang, makanya saya buang. Saya pikir itu punya tamu yang mabuk. Saya sering menemukan sepatu sebelah seperti itu nona."


" Enak saja. Aku nggak mabuk. Aku cuma patah hati...huhuuuu...kembalikan sepatuku" gadis itu terisak lagi.


Petugas kebersihan itu segera mengambil sepatu yang telah dimasukkannya ke tempat sampah tadi dan menyerahkannya kepada gadis itu. Aneh sekali gadis ini, tidak mabuk tapi nangis-nangis sendiri di tempat sepi begini.


" Ini sepatu anda nona. Maaf.."


Gadis itu menerima sepatunya, mengenakan sepatunya kembali dan berbalik meninggalkan taman.


" Hah? Siapa kau?"


" Aku Bastian, kamu siapa?" Bastian mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.


Tapi gadis itu tidak menyambut uluran tangan Bastian.


" Baiklah gadis bodoh...bagimana kalau kupanggil begitu saja?" Bastian berkata santai sambil meninggalkan gadis itu.


" Hei berhenti! Apa maksudmu mengataiku bodoh. Bahkan aku nggak kenal kamu!" gadis itu tampak tidak terima Bastian mengatainya bodoh.


" Kamu sendiri yang bilang. Aku bodoh menunggumu...huuu.." Bastian mengejek menirukan kata-kata gadis itu tadi di taman.


Gadis itu terkesiap. Jadi tadi dia mendengar dan melihat aku di taman? Ya ampuun...memalukan sekali.


" Bram, kenapa kau memilihnya. Kenap..." Bastian tak bisa meneruskan ejekannya karena gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya.


" Stop! Oke..oke..jangan diteruskan. Please..." mohon gadis itu pada Bastian. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri seakan takut kata-kata Bastian didengar orang lain.


Bastian tersenyum menang.

__ADS_1


" Oke. Aku juga tak ingin mempermalukanmu. Aku cuma ingin kenalan." Bastian mengulurkan tangannya lagi.


Kali ini gadis itu menyambut uluran tangan Bastian. " Aku Ari, Prameswari!"


" Aku Bastian"


" Ya ya...aku masih ingat tuan" Ari lalu melepas tangannya dari genggaman Bastian.


"Kamu masih ingin masuk ke dalam Ari?" Bastian menahan langkahbAri yang hendak memasuki tempat resepsi pernikahan.


" Mau kemana lagi? Di taman nyamuknya banyak. " Ari menunjuk kulitnya yang berbintik kemerahan digigit nyamuk taman. Bibirnya mengerucut sebal.


Bastian tertawa . " Kamu lucu banget sih, ikut aku aja yuk. Aku juga males masuk lagi!"


Ari menatap Bastian sesaat. Wajah tampan dengan mata teduh dan senyum manis. Badan atletis dengan setelan jas rapi. Sama sekali tak ada keraguan di sana. Tampak tulus dan bersahabat.


" Kenapa aku harus percaya padamu? Kita baru kenalan, dan kau mengajakku ikut bersamamu. Bagaimana kalau kamu orang jahat, pedofil mungkin atau penculik?"


Bastian lagi-lagi terkekeh mendengar ucapan Ari.


" Ya ampun..kamu memang bener-bener lucu. Mana ada penculik kenalan dulu dek? Dan lihat wajahku. Mana ada penjahat seganteng ini ha?"


Bastian mendekatkan wajahnya ke wajah Ari. Gadis itu tertawa sambil mendorong pipi Bastian agar menjauh darinya.


Ah sepertinya dia baik. Ari bergumam dalam hati. Lebih baik aku keluar dan ikut dia daripada melihat kemesraan Bram dan istrinya yang cantik itu.


Ari menarik tangan Bastian keluar lagi dari ballroom hotel itu. Bastian tersenyum dan mengikuti langkah gadis itu.


" Berapa nomor hpmu?" tanya Ari sambil mengeluarkan ponsel dari clutch yang dibawanya. " Nih masukin!"


Bram mengambil hp Ari dan mengetikkan nomor hpnya. Ari mengambil hpnya lalu menekan tombol dial. Terdengar suara hp Bastian bergetar. Bastian mengambil hp dari saku celananya dan menunjukkannya pada Ari.


" Nomormu? " Bastian bertanya .


" Emm..iya" jawab Ari.


" Agresif bener, biasanya cowok duluan yang minta nomor hp." Bastian melirik Ari.


" Jaga-jaga aja. Kalau kamu orang jahat. Setidaknya aku sudah tau nomor hpmu." Ari tersenyum.


" Nggak tanya sekalian alamatku? Biar gampang kalau polisi mau nangkep aku.." Bastian tertawa. Ari ikut tertawa.


Mati Satu tumbuh seribu. Patah tumbuh hilang berganti. Begitulah hidup akan terus berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2