Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Pagi Baru


__ADS_3

Dhani membuka matanya ketika sinar matahari menerpa wajahnya dari sela-sela gordyn jendela hotel.


Ketika sadar sepenuhnya Dhani terbelalak melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Bahkan selimutpun tidak tahu entah ke mana. Rupanya dini hari tadi karena begitu lelah mereka berdua langsung terlelap tanpa sempat memakai selimut.


Dhani merasakan bagian perutnya hangat dan sedikit geli. Dan disana tampak Bram tengah menyusupkan wajahnya di perut Dhani. Terlelap dengan wajah tenang dan damai bagai anak kucing bergelung di perut induknya.Tangannya memeluk erat pinggang Dhani sementara kakinya meringkuk melingkari betis Dhani.


Dhani tertawa lirih melihat kelakuan suaminya yang menggemaskan .itu. Tapi sesaat kemudian meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Terlebih di bagian sensitifnya yang terasa perih


" Sayang....aku mau ke kamar mandi." Dhani duduk dan membelai wajah serta rambut suaminya yang kini berada dipahanya.


Bram menggeliat dan membuka matanya. Tersenyum bahagia mendapati wajah cantik istrinya yang tampak bersemu kemerahan.


" Apakah aku sedang ada di surga , aku terjaga di pangkuan bidadari..?" gumam Bram. Tangannya membelai wajah cantik istrinya.


" Mulai deh gombalnya..." Dhani membelai tangan suaminya yang ada di pipinya lalu mengecupnya lembut.


" Ini bukan gombal sayang, Tuhan sudah memberiku surga lengkap dengan bidadarinya. Dirimu sekarang adalah surgaku tuan putri..."


Bram duduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang tersipu malu. Mencium lembut kening, kedua mata , hidung dan pipi Dhani, lalu ******* bibir ranum istrinya itu penuh cinta.


" Morning kiss sayang...cintaku...bidadariku..." lalu peluk-peluk dan uyel-uyel tubuh istrinya gemas.


Dhani menggeliat. " Udah Maass....aku mau ke kamar mandi..." Dhani beranjak tapi Bram masih lengket memeluknya.


" Sayang, aku ngompol nih.." rajuk Dhani manja.


" Iya iya sayang..habis kamu gemesin banget sih..." Akhirnya Bram melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuh polos Dhani ke kamar mandi. Bram tahu Dhani pasti kesakitan karena Bram menggempurnya semalaman.


Dhani tersenyum dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya. " Terima kasih sayang.." bisik Dhani.


Bram menurunkan tubuh Dhani pelahan untuk duduk di closet.


" Aku mau pipis mas, kamu keluar dulu, malu.." Dhani menatap Bram.


" Aku nggak akan lihat...udah cepetan "


Bram tidak mengindahkan permintaan Dhani .Lalu membalikkan badan dan mulai mengisi bathtube dengan air hangat dan meneteskan aroma teraphy yang harumnya segera menyebar memenuhi ruangan.


" Sudah sayang?" Bram membelai wajah istrinya sesaat kemudian. Dhani mengangguk sudah selesai dengan urusannya.


Bram mengangkat tubuh istrinya ke bathtube dan ikut duduk di bathtube di belakang istrinya.


Dhani menyandarkan kepalanya di dada Bram. Mau protes juga percuma. Bram tak akan membiarkannya lepas. Dhani akhirnya pasrah saja mengikuti kemauan suaminya itu. Sementara Bram bersandar di ujung bathtube.


" Apakah ini masih sakit sayang?" bisik Bram lembut ditelinga Dhani, tangannya meraba lembut bagian bawah istrinya.


" Emh...iya mas. Sakit banget, kayanya bengkak deh. Rasanya mengganjal " Dhani mendesis.

__ADS_1


" Maafin mas ya sayang,..nanti minum obat ya..Tadi malem kamu minta terus sih... Mas kan jadi keenakan main terus... lupa nggak mikirin bakal sakit dan bengkak gini..."


" Ihh...siapa yang minta terus. Mas tuh yang nambah-nambah terus."


" Ehh..kamu lupa ya? Siapa yang tadi malem ngomong ..terus sayang ah...Bram aku menginginkanmu,..lakukan lagi sayang..."


Dhani tertawa tertahan, wajahnya merona " Ish mana ada aku ngomong gitu"


Bram tertawa melihat wajah istrinya merona malu. Makin gemas ingin menggodanya. " Oh sayang ini sangat...."


Belum sempat Bram meneruskan kata-katanya , Dhani berbalik menghadap Bram dan langsung menutup bibir Bram dengan bibirnya. Memagut bibir suaminya dengan gemas.


Dan siapa yang akan melewatkan bibir merah muda nan ranum itu? Bram tidak bisa lagi menahannya, melahap bibir istrinya yang kini duduk di pangkuannya.


" Kau yang menggodaku sayang..jangan salahkan aku." geram Bram di telinga Dhani.


" Oh nooo....ampuun.!!." Dhani menjerit dalam hati, menyesal menggoda Bram tadi.


Akhirnya mandi bersama itu baru selesai satu jam kemudian.


Dhani sudah benar-benar tak berdaya. Cuma bisa pasrah ketika Bram mengangkatnya dari bathtube. Memakaikannya pakaian, mengeringkan dan menyisir rambutnya, lalu mendudukkan Dhani di sofa.


Bram menelpon roomboy untuk membersihkan kamar dan mengganti sprei yang ternoda darah Dhani. Tak lupa dia memesan makanan untuk mereka sarapan dikamar.


" Mas ambil spreinya, simpan sendiri. Malu tau.."


" Kan di laundry sayang..kenapa mesti malu. Harusnya bangga karena kamu bisa menjaga kehormatanmu untuk suami sahmu. Jaman sekarang itu sudah langka sayang..terima kasih " Bram menatap Dhani mesra.


Bram tersenyum. Menyimpan sprei bernoda darah itu di paper bag.


"Berapa lama kita disini sayang?" Dhani menatap mesra suaminya.


Bram duduk disamping Dhani dan menarik gadis itu ke pangkuannya. Membelai wajah istri cantknya itu lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


" Sampai aku puas.." seringai Baram membuat Dhani bergidik.


" Kita bisa melakukannya di rumah kan sayang? "Dhani membelai rahang kokoh Bram.


" Aku nggak mau diganggu!" gumam Bram. Bibirnya kini sudah bersarang di leher Dhani.


"Kau tahu sayang, aku sudah mimpikan ini sejak empat tahun lalu. Bayangkan betapa tersiksanya aku menunggu saat ini sayang. Aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, dan aku tahu aku harus memilikimu. Dan sekarang aku hanya ingin memilikimu sendiri. "


" Jadi kau anggap papa pengganggu? Di rumah kan cuma ada papa?" Dhani merengut.


" Bukan begitu sayang, disini kita bebas meskipun tujuh hari tujuh malam kita nggak keluar kamar, kalau di rumah kan sungkan sama papa...hehe..." Bram tertawa nakal.


" Hah...tujuh hari? Mau apa kita tujuh hari tujuh malam nggak keluar kamar?" Dhani bergidik membayangkannya , sehari saja badannya terasa temuk redam.

__ADS_1


" Tentu saja bercinta.." Bram bergumam-gumam sambil menciumi leher istrinya.


"Dasar mesum...gila kamu mas, masa tujuh hari.?" Dhani mencubit pipi Bram. Pria itu malah tertawa mendapatkan cubitan dari istrinya.


Saat itulah pintu kamar hotel diketuk.


" Masuk" seru Bram tanpa merubah posisinya.


" Lepasin mas, malu tau!" Dhani berusaha turun dari pangkuan Bram. Tapi Bram malah makin mengeratkan pelukannya di pinggang Dhani.


Manajer hotel masuk bersama roomboy dan seorang pegawai hotel yang mendorong troley besar berisi makanan.


" Mas lepasin. Dilihatin orang tuh!" Dhani meronta di pangkuan Bram.


" Jangan gerak-gerak honey. Yang dibawah jadi bangun tuh.." bisik Bram, mengerang pelan, bibirnya menyentuh telinga Dhani.


Dhani mati kutu. Tak berani berontak lagi. Wajahnya disusupkan ke ceruk leher suaminya itu.


" Lagipula mereka nggak akan berani lihatin Direkturnya sayang. Pak Manajer Kim, apa kalian melihat kami?" Bram sedikit berteriak ke arah Manajer hotel dan pegawainya.


" Tidak pak!" serentak ketiga orang itu menjawab. Tentu saja mereka masih sayang pekerjaan mereka dan akan pura-pura tak melihat kelakuan pemilik hotel tempat mereka bekerja itu meskipun di depan mata mereka.


" Tuh kan nggak lihat..." Bram tertawa kecil.


Dhani tergelak di bahu Bram. " Tentu saja mereka takut dipecat kalau berani menggosip owner hotel mereka.."


Bram cuma tersenyum sambil mengecupi pundak istrinya.


Lima menit. Dengan sigap dan cepat roomboy sudah mengganti sprei dengan yang baru, mengambil pakaian kotor dan merapikan kamar. Manajer hotel cuma mengawasi.


" Kami permisi Tuan" Manajer hotel dan kedua pegawai hotel menunduk dan meninggalkan kamar tanpa berani menatap sedikitpun pada Bram dan Dhani.


" Hemm" Bram cuma berdehem.


Manajer hotel menutup kembali pintu kamar setelah mereka keluar.


" Ayo makan dulu sayang, kamu pasti lapar kan?" Bram menurunkan Dhani di sofa lalu beranjak mendorong troley makanan ke dekat sofa.


Pria tampan itu kemudian mengambil makanan dalam satu piring dan mulai makan sambil menyuapi istrinya yang duduk bersandar di sofa di sampingnya.


Dhani tersenyum , membuka mulutnya menyambut suapan suaminya. Dia tidak membantah karena tubuhnya memang sangat lemas bahkan untuk mengangkat piring dan sendok.


" Minum mas...jus strawberry" pinta Dhani manja pada Bram setelah makanan mereka habis


" Ini tuan putri..minumlah " Bram mengambilkan jus untuk Dhani. Tersenyum penuh cinta pada Dhani. Wajah pria itu begitu berseri-seri pagi ini. Melayani istrinya bak putri raja yang sangat berharga.


" Terima kasih sayang" Dhani meminum habis jusnya. Bram kemudian mengambil tisyu dan mengusap lembut bibir Dhani.

__ADS_1


" Aku masih ngantuk sayang.." bisik Dhani beberapa saat kemudian. Mereka sedang menonton tivi.


" Tidurlah honey...sini mas peluk" Bram mengarahkan kepala Dhani ke lengannya. Dhani menurut. Keduanya kemudian bergelung di ranjang. Terlelap saling berpelukan.


__ADS_2