Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Memulai pelajaran


__ADS_3

Aku sudah merindukanmu Bram, kau jahat ~Dhani


Dhani membalas pesan Bram.


Tiba-tiba ponsel Dhani bergetar. Video call dari Bram. Dhani menggeser tombol video di ponselnya.


" Katakan lagi" Bram tersenyum di layar


" Apa?" Dhani pura-pura tidak mengerti


" Itu tadi.." Bram mendengus gemas


" Kau jahat" Dhani berbisik


" Bukan yang itu sayang...ish" Bram menggeram pelan makin gemas.


Dhani tertawa sambil tetap menatap layar. Dadanya berdebar melihat Bram yang menatapnya lekat. Senyum Bram sudah hilang berganti tatapan penuh rasa.


"Sayaaang...sudahlah aku tutup ya..bentar lagi pesawatnya mau..."


"Bram, kangeen..." bisik Dhani malu-malu sebelum Bram menyelesaikan kalimatnya.


Senyum Bram kembali merekah memenuhi layar ponsel Dhani.


" Aku tahu..karena aku juga merasakannya " Bram mengusap jemarinya ke layar seakan membelai wajah Dhani.


"Enjoy your flight Bram" Dhani juga mengusap layar ponselnya.


" Thanks sayang..aku berangkat ya.." Bram tersenyum menatap layar agak lama. Lalu gelap di layar.


Dhani mendesah. Debaran jantungnya masih terasa. Bram benar-benar tidak mengucapkan selamat tinggal. Senyum Dhani mengembang.


Tiba-tiba Dhani tersentak. " Aaa sudah hampir jam tujuh, bisa telat nih ke kampus" Dhani meloncat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air shower yang hangat.


Hari ini Dhani berangkat ke kampus diantar pak Sukir. Baron belum mengizinkan Dhani untuk membawa mobil sendiri karena Dhani memang belum paham jalan-jalan di kota J ini. Bagaimana tahu jalan, keluar dari gerbang rumahnya dengan bebas pun baru beberapa hari ini dinikmati Dhani.


Baron menugaskan pak Sukir untuk menunjukkan pada Dhani tentang jalan-jalan yang harus diketahui Dhani jika mengendarai mobilnya sendiri. Memang ponsel canggih akan dengan mudah menunjukkan jalan dengan aplikasi map dan GPRS, tapi Baron ingin Dhani benar-benar paham jalan dan kondisi lingkungan sekitarnya.

__ADS_1


" Jadi papa, kapan Dhani boleh pakai mobil Dhani sendiri?"


" Sabarlah sayang, minimal tunggu sebulan sampai kau benar-benar paham diluar kepala jalan-jalan disekitar rumah kita dan kampusmu. Jadi belajarlah sungguh-sungguh dari pak Sukir ya? Papa cuma ingin memastikan putri papa akan baik-baik saja. "


Suara Baron yang penuh kekhawatiran meluruhkan hati Dhani.


Hati Baron begitu rapuh kalau sudah bicara tentang Dhani. Gadis itu pun tak ingin membantah lagi.


" Baiklah papaku yang tampan, aku akan belajar dari pak Sukir dan meyakinkan papa bahwa putrimu ini layak papa percaya untuk menyetir." Dhani mencium pipi Baron seperti biasanya.


" Anak pintar" Baron membelai rambut Dhani dan mencium pucuk kepala Dhani ketika Dhani mencium tangannya untuk berpamitan pergi ke kampus.


Dhani bergegas melangkah dengan riang. Pak Sukir sudah menunggu dengan mesin mobil menyala. "Dunia luar...aku datang," bisik Dhani pelan.


Gerbang kampus T sudah menunggu Dhani. Kampus swasta ternama dan terbaik di kota J. Kampus dengan pembelajaran berbasis Internasional. Dengan guru-guru yang kompeten dan berpengalaman. Fasilitas belajar berkelas prima kalau tidak boleh disebut mewah.


Perpustakaan super lengkap yang selalu ter up date dengan data terbaru secara global. Wifi dan internet tak terbatas bagi semua mahasiswanya. Laboratorium bahasa dan science super besar dan mewah. Rumah sakit dan lab kesehatan lengkap di kampus. Serta semua fasilitas yang dibutuhkan mahasiswa selama proses belajar disediakan kampus.


Tentu saja ada harga mahal yang harus dibayar oleh orang tua mahasiswa yang ingin belajar di kampus T. Harga yang tidak sembarang orang bisa membayarnya. Jadi bisa ditebak hanya orang dari kalangan atas saja yang bisa kuliah di kampus T.


Memang ada beberapa mahasiswa yang mendapatkan beasiswa penuh dari kampus, tapi jumlahnya hanya sekitar lima puluh sampai seratus orang saja tiap angkatan. Mengingat pihak kampus sangat selektif dengan program beasiswanya. Hanya mahasiswa dengan kemampuan diatas rata-rata dan mempunyai semangat belajar kuat saja yang akan mendapat beasiswa penuh. Itupun harus dibuktikan dengan pencapaian yamg memuaskan jika tidak ingin didepak dari program beasiswa.


Dhani turun dari mobil lalu mengibaskan rambutnya yang menutupi sebagian mukanya. Menjepitnya dibelakang telinga.


" Hai...mabar ya..? " Suara seseorang mengejutkan Dhani.


" Eh iya, kamu juga ya?" Dhani mengangkat wajahnya dan mendapati seorang cowok didepannya. Sama -sama mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Khas mabar yang lagi ospek.


" Iya, ambil jurusan apa?"


" Ekonomi" Jawab Dhani. Tentu saja , dia adalah calon pewaris bisnis dan usaha Baron yang menggurita.


" Kebetulan sekali kita satu fakultas. Kenalin gue Bastian, kita bisa temenan kan? Gue nggak ada teman yang kuliah di sini" Bastian mengulurkan tangannya ke arah Dhani


" Dhani mengangguk. Boleh kok, aku Dhani . Sama aku juga nggak ada teman yang kuliah disini. Tepatnya belum tahu. Mudah-mudahan nanti ada yang ku kenal." Dhani menyambut tangan Bastian.


Keduanya saling menatap lalu tersenyum bersamaan.

__ADS_1


" Kukira kamu bule, tadi ragu-ragu pake bahasa Indonesia" Bastian sambil tertawa.


" Mamaku bule Inggris, papa asli jawa, dan aku Indonesia banget" Dhani juga tertawa.


Mereka berjalan bersama ke dalam area kampus. Sebentar saja keduanya sudah tampak ngobrol akrab dan santai. Dhani merasa cocok ngobrol dengan Bastian karena cowok itu sangat sopan. Pengetahuannya luas sehingga banyak bahan obrolan.


Tak lama kegiatan pengenalan kampus dimulai. Mahasiswa baru berkumpul di halaman kampus. Masing- masing berbaris dalam kelompok sesuai jurusan yang dipilih.


Setelah barisan rapi beberapa orang masuk ke lapangan. Nampaknya mereka adalah mahasiswa dari angkatan sebelumnya yang akan menjadi pembimbing kegiatan pengenalan kampus ini.


Salah seorang yang terlihat tegas dan berwibawa maju ke tengah lapangan.


" Kalian bentuk barisan baru tetap dalam satu jurusan. Perempuan sendiri, laki-laki sendiri. Jangan campur, kalian mau kuliah apa pedekate?" Bentaknya.


Terdengar keributan kecil di barisan para mabar. Mereka segera melaksanakan perintah sang kakak kelas. Dhani dan Bastian yang tadinya berdampingan sekarang terpisah agak jauh. Dhani tetap di depan sementara Bastian agak jauh di belakang " Lebay" Gumam Dhani sangat pelan.


" Apa kamu bilang?" Dhani tersentak. Jantungnya mau copot melihat kakak kelas yang tadi di tengah lapangan sudah berdiri di depannya sambil melotot. Hiiyy...


" Nggak ada kak" Dhani gemetar.


"Kamu maju ke depan" kakak itu menunjuk Dhani.


" Saya kak? "


"Iyaaa...kamu..sana! Menunjuk ke arah beberapa mahasiswa yang tadi masuk lapangan bersamanya.


" Baik kak" Dhani berlari ke arah yang ditunjukkan .


Selanjutnya kakak kelas itu juga menunjuk beberapa orang dari barisan mabar untuk berkumpul bersama Dhani.


Dhani dan beberapa orang yang ditunjuk itu ditugaskan sebagai koordinator mabar masing- masing jurusan. Bertugas mengabsensi dan menjelaskan apa yang sudah ditugaskan kakak pembimbing kepada kelompok yang dikoordinatori. Apa saja kegiatan yang akan mereka lakukan selama masa Orientasi. Mereka akan didampingi masing-masing dua panitia mabar yang sudah ditunjuk pihak kampus dan BEM.


" Siap kak" Serentak Dhani dan semua koordinator jurusan setelah mendengar perintah teknis pelaksanaan kegiatan.


Mereka kembali ke barisan masing- masing didampingi dua panitia yang sudah ditunjuk tadi.


Dhani menghela nafas. selama ini dia hanyalah siswa pasif yang suka berbaris paling belakang, sekarang dia harus berdiri paling depan dan mengkoordinir ratusan orang yang jadi tanggung jawabnya. Ahhh..kakak kelas sialan. Apa Dia tidak tahu kalau aku ini tukang molor dibelakang?"

__ADS_1


.


__ADS_2