
Mereka menghabiskan malam itu berdua. Saling merayu, saling menggoda dan tertawa bersama. Saling memberi kehangatan dan saling memanjakan kekasih hatinya.
Seperti saat ini, Bram.sedang berbaring di pangkuan Dhani. Matanya terpejam menikmati desir halus di dadanya karena berada begitu dekat dengan gadis cantik yang selalu mengisi hatinya sejak pertama bertemu.
Sementara tangan Dhani membelai lembut wajah tampan Bram di pangkuannya. Ditelusurinya setiap inci wajah halus pria itu dengan jemarinya yang lembut dan lentik. Dari membelai rambutnya , turun ke dahi, alis tebal yang rapi, mata Bram yang terpejam memperlihatkan bulu mata yang tebal dan lentik. Sangat indah. Gumamnya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan dihadapannya.
Tangan Dhani beralih ke hidung Bram yang mancung. Bentuknya sempurna melengkapi ketampanan wajahnya. Dhani menyentuhnya lembut dengan telunjuknya dari pangkal hidung turun ke ujung hidung Bram. Kemudian tangannya membelai lembut kedua pipi Bram yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Akhirnya ibu jari Dhani menyentuh bibir Bram yang seksi. Ditelusurinya bibir yang rayuan dan bisikannya selalu membuat hatinya berdesir dan tubuhnya meremang itu. Tiba-tiba..
Hup! Bibir Bram terbuka dan menggigit pelan jari Dhani yang sedang berada di sana.
"Awww! " Dhani menjerit kaget. Ditariknya jarinya dari mulut Bram.
Bram tertawa dan membuka matanya.
" Kau ini nakal sekali Bram!" Dhani mencubit hidung Bram pelan.
"Sudah puas mengagumi ketampananku sayang?" Bram tersenyum sangat manis sambil menatap Dhani. Tangannya menggenggam tangan Dhani.
Dhani tersipu malu lalu membuang muka ke samping. " Ya ampun apa yang kulakukan barusan?" gumamnya mengutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar meraba-raba wajah Bram begitu lama.
" Kau juga menikmatinya kan?" seru Dhani kesal menutupi rasa canggung dan malunya pada Bram.
" hu umm, " Bram mengangguk tak menyangkalnya bahkan ingin Dhani terus membelainya. Entahlah ada rasa aneh yang menyenangkan ketika Dhani melakukan itu tadi. " Kau boleh memiliki semua yang ada padaku sayang.." bisik Bram
Dhani kembali menatap Bram dipangkuannya. Dibelainya lagi wajah tampan itu dengan tatapan mesra. Bram terpana melihat tatapan sayu Dhani.
Tiba-tiba Bram bangkit dari pangkuan Dhani dan duduk berhadapan dengan Dhani. Dia sudah tak bisa menahannya lagi. Diraihnya wajah cantik itu mendekat, lalu tangannya menarik lembut tengkuk Dhani hingga wajah keduanya kini tanpa jarak lagi.
Dhani tidak.menolak, tubuhnya menghangat, jantungnya berdetak cepat. Diapun menginginkannya. Mereka saling menginginkan.
Dan malam itu Dhani melepaskan ciuman pertamanya untuk Bram.
__ADS_1
Keduanya hanyut dalam ciuman hangat yang memabukkan. Dhani yang baru pertama kali berciuman awalnya terasa kaku dan canggung. Namun Bram dengan lembut dan lihai menuntun Dhani , membimbing gadis itu hingga kecanggungan itu hilang dan berganti dengan kenikmatan yang saling membuai keduanya.
Mereka saling mel**** saling mem**** bibir pasangannya. Menelusuri bibir dan mulut kekasih hatinya dengan penuh kerinduan. Menumpahkan hasrat yang telah lama terpendam dalam hati melalui bibir yang saling bertemu dan memagut hangat.
Entah berapa lama keduanya berciuman hangat. Berhenti sejenak dan mengulanginya berkali-kali seakan tak pernah puas. Hingga akhirnya keduanya melepaskan tautan bibir mereka . Peluh mereka bercucuran. Nafas mereka tersengal-sengal. Keduanya menyandarkan kepala mereka di sandaran sofa. Dada keduanya naik turun seakan habis lari berkilo-kilo meter.
" Hahh..kau gila Bram...kau harus tanggung jawab, kau sudah mengambil ciuman pertamaku..." Dhani meracau sambil memejamkan matanya. Mengatur kembali nafasnya yang kacau akibat ciuman panas keduanya barusan.
" Ahh...bibirmu manis sekali sayang, apakah aku harus menikahimu karena sudah menodai bibirmu? Aku akan dengan senang hati melamarmu saat ini juga." seru Bram dengan nafas yang masih menderu.
Jemari keduanya saling bertaut. Bram dan Dhani saling menatap dengan tetap menyandarkan kepala di sofa. Lama saling menatap dan pandangan mereka kembali sayu.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja bibir keduanya sudah saling bertaut kembali. Tak ada kata-kata hanya desah nafas dan suara-suara decapan bibir yang beradu memenuhi ruangan itu. Seperti menghisap candu, tak pernah puas dan ingin mengulanginya sekali lagi dan lagi...
" Sayang ayo kuantar pulang, aku takut hilang kendali kalau begini terus" Bram melepaskan ciumannya. Tubuhnya telah menegang .Wajahnya merah padam. Dia hampir saja tak bisa mengendalikan diri lagi karena ciuman mereka.
Dhani mengangguk. Pipinya merona. Malu dan bahagia menyeruak di wajahnya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Bram benar-benar membuatnya tak berdaya hanya dengan ciumannya.
" Iya sayang..tunggulah sebentar sampai aku mengumpulkan tenagaku lagi. Lututku benar-benar lemas." guman Dhani ketika Bram menariknya berdiri.
" Sayang, aku benar-benar lemas. Aku kenapa? " bisik Dhani.
" Ohh ya ampun sayang, kau benar-benar menggodaku. Bram.menyambar bibir Dhani lagi. Panggilan sayang Dhani yang berbisik membuat Bram menggila. Dipeluknya erat tubuh gadis cantik didepannya.
" Aku mencintaimu Dhani.." bisiknya lembut di telinga Dhani. Sangat dekat hingga pipi keduanya saling bersentuhan
" Aku juga mencintaimu Bram..sayang.." bisik Dhani menjawab lembut di telinga Bram. Tangannya memeluk leher Bram dengan lembut. Bram membalas memeluk pinggang Dhani dengan sayang.
" Terima kasih sayang, aku bahagia sekali malam ini" bisik Bram . Keduanya berpelukan untuk beberapa lama. Dahi hidung dan bibir mereka bersentuhan. Bram merasa sangat bahagia malam itu. Dhani sudah menyatakan perasaannya padanya .
" Ayo kita pulang. Disini sudah tidak kondusif lagi." Bram.mencium sekilas bibir Dhani. Keduanya tertawa.
__ADS_1
" Kau rakus sekali Bram" rutuk Dhani. Bibirnya terasa bengkak.
" Bibirmu sangat menggoda sayang, besok-besok pakailah masker kalau bertemu denganku. Aku tidak tahan sayang. Aku sudah ingin menciummu lagi." rengek Bram. Dhani tertawa dan mendorong bibir Bram yang sudah mengarah ke bibirnya lagi.
" Diamlah Bram, ayo pergi.." Dhani menarik lengan Bram keluar dari apartemen itu. Menuju lift yang berada tepat didepan satu-satunya kamar di lantai itu.
Bram.menekan tombol ke bawah . Lalu tangannya meraih pinggang ramping Dhani dan memeluknya erat. Dhani membalas memeluk erat pinggang Bram. Mereka berpelukan sambil bersandar di dinding lift. Tanpa kata hanya tatapan dan senyuman hingga lift berhenti di lantai dasar.
Mereka berdua keluar dari lift tanpa melepaskan pelukan di pinggang mereka. Berjalan bersama menuju mobil yang sudah menunggu mereka di luar lobby.
Bram membuka pintu penumpang. Barulah dilepaskannya pelukannya di pinggang Dhani.
" Makasih. " bisik Dhani lalu masuk ke mobil. Bram kembali menutup pintu mobil lalu bergegas menuju kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan Bram dan Dhani tak banyak berkata-kata. Dua sejoli itu sedang sibuk dengan perasaannya masing-masing.
Dhani merasa canggung. Dia merasa malu sekali membayangkan saat berciuman dengan Bram tadi. Pengalaman pertama seumur hidupnya yang membuat Dhani panas dingin namun bahagia sekaligus. Dhani tak habis pikir bagaimana dia bisa begitu saja membalas dan menikmati ciuman Bram yang menggebu-gebu. Ohh ya ampuun...apa yang dipikirkannya? Dia sama sekali tidak berani melihat wajah Bram.
Sementara Bram berkali-kali melirik wajah Dhani yang sudah merah merona. Pipinya yang merah semakin merona. Rasa malu membuat wajah itu semakin menggemaskan. Bram ingin terus menerkam bibir yang basah dan manis itu...tapi dia harus menahannya. Sampai tiba saatnya...
Bram mendesah, membuang nafasnya yang sesak karena bahagia. Malam ini dia mendapatkan cinta Tuan putri dan bibirnya...sekaligus...
" Sayang...apa kau baik-baik saja? Bram menggenggam tangan Dhani.
" Emh..iya.." Dhani menjawab tapi matanya tetap memandang keluar jendela. Tak berani menatap wajah Bram.
" Kenapa nggak mau melihatku ? Apa kau takut tergoda dan ingin menciumku lagi nona?" Bram menggoda Dhani.
"Aaaaa...kau mesum Bram! " Dhani memukul Bahu Bram pelan.
" Lihat saja sejak sekarang kau akan semakin merindukan pria mesum ini" Bram mengedipkan matanya membuat Dhani semakin salah tingkah.
__ADS_1
" Sudah Bram, diamlah jangan membuatku makin malu"
Bram tertawa . Dhani mengerutkan bibirnya. Membuat Bram semakin gemas. Malam ini benar-benar indah bagi Bram dan Dhani.