
Hari ini Dhani ingin pergi ke sebuah taman hiburan yang ada di pantai. Ini adalah hari terakhirnya libur karena besok dia sudah harus memulai perkuliahannya. Tak ada lagi waktu bersenang-senang sepanjang hari. Jadi ini harus jadi penutup hari bebasnya yang paling manis, menyenangkan dan tak terlupakan.
Dhani sudah menyusun acaranya hari ini. Bahkan Dhani sudah membuat daftar permainan dan wahana apa saja yang akan dinaiki dan dimainkannya nanti.
Masih jam 6 pagi. Dhani masih enggan bangun dari ranjangnya yang empuk. Bergelung ke kanan dan ke kiri dalam selimutnya yang hangat. Saat mengingat konser kemarin Dhani jadi tersenyum-senyum sendiri.
Dhani bukannya tidak sadar betapa Bram begitu melindunginya namun begitu menahan diri agar tidak terlalu sering menyentuhnya. Setiap merasa ada yang hampir menabrak atau menyenggol Dhani, Bram segera pasang badan menghalanginya. Tangannya segera memeluk pundak Dhani. Tak jarang dengan agak keras mendorong penonton lain yang sengaja atau tidak tampak mendorong Dhani.
Dhani merasa hangat dan terlindungi. Jantungnya bahkan tak henti berdesir halus saat beberapa kali tubuh Bram bersentuhan dengan tubuhnya . Apalagi ketika Bram berbicara dekat sekali dengan pipi dan telinganya. Bulu kuduknya meremang membayangkan bibir Bram yang begitu dekat di pipinya. Nafasnya yang harum dan hangat menyapu wajahnya...Aaaaaah...apa ini? Dhani mendesah.
" Bgaimana kalau aku suka pada Bram? Bagaimana kalau aku tak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta padanya? Dia begitu manis, dia begitu peduli dan menuruti semua keinginanku tanpa syarat. Benar-benar membuatku merasa nyaman berada di sisinya. Bahkan bersama El pun Dhani tidak pernah merasa senyaman ketika Bram bersamanya." Dhani berguling-guling
membayangkan semua kemungkinan yang akan terjadi.
" Entahlah..terserah apa yang akan terjadi. Bukankah aku harus merasakan semua kebebasan ini? Termasuk mengenal dan menikmati kebersamaannya dengan teman lelaki yang disukainya. Dan kebetulan saat ini orang itu adalah Bram." Dhani tersenyum membayangkan wajah tampan Bram. Dia tidak mau ambil pusing saat ini.Let it flow, bisiknya.
Dhani mengambil Hp dan menghubungi Bram.
Dhani : * Bram..
Bram : * Ya
Dhani : *Sudah bangun?
Bram : * Sudah. Lihat di jendela.
Dhani turun dari ranjang dan beranjak membuka gordyn jendela kamarnya. Tampak Bram melambaikan tangan di taman.
Bram : * Turun yuk, jogging
Dhani : * Ok. tunggu bentar ya
Bram : * Ok
Dhani bergegas menggosok gigi dan mencuci mukanya. Mengganti piyama tidurnya dengan kaos oblong dan training . Tak lupa sepatu olah raga kesayangannya. Terakhir menyisir rambut ala kadarnya dan mengoleskan lipbalm di bibir seksinya.
__ADS_1
Keluar dari rumah Bram sudah menunggunya.
" Jogging di luar yuk" ajak Bram
" Yuk..." Dhani senang sekali.
Sudah lama Dhani tidak pernah keluar dari istananya( baca rumah seperti istana). Biasanya dia hanya berkeliling taman dalam lingkungan gerbang rumahnya. Segala macam alat olah raga ada dalam ruang olah raga di rumahnya.Jadi Dhani tak perlu keluar untuk olah raga. Mulai peralatan gym lengkap, alat senam, bowling, bilyard semua ada. Termasuk kolam renang dan lapangan yang bisa dimodifikasi menjadi lapangan bulu tangkis, tennis dan basket sesuai keperluan. Hanya lapangan bola dan golf saja yang tidak ada. Bahkan beberapa kali Dhani ikut berlatih menembak di lapangan tembak belakang rumahnya bersama papanya dengan mendatangkan pelatih khusus dari TNI.
Dhani berlari kecil diikuti Bram di sampingnya. Sesekali mereka ngobrol dan bercanda sambil tertawa.
" Bram.."
" Hmmm" Bram menoleh ke arah Dhani sambil tetap berlari kecil.
" Apa kau menyukaiku?" Dhani membuat Bram terkejut dan membeku sesaat.
Bram.meneguk minuman yang dibawanya untuk meredakan jantungnya yang serasa mau copot mendengar pertanyaan Dhani.
" Aku kan sudah bilang, siapapun yang melihat dan mengenalmu pasti akan menyukaimu nona cantik" Bram mencoba bercanda menutupi gejolak hatinya.
" Heii..wajahmu merah..apa kau malu karena ketahuan menyukaiku"
" Jadi maukah kau berpacaran denganku?" Dhani memegang lengan Bram. membuat Bram membelalakkan matanya.
"Kau jangan bercanda Dhan..sudah jangan ngomong aneh-aneh lagi .Kalau papamu tahu kau sadar resikonya? Bisa-bisa kau dikurung lagi seperti dulu." nada bicara Bram sudah serius kali ini, cukup sudah Dhani membuatnya shock pagi ini.
" Bram .."
" Apa? Jangan ngelantur lagi!" Bram mendengus kecil.
" Papa nggak pernah bilang bahwa aku nggak boleh pacaran". Dhani menarik Bram untuk duduk dibangku yang ada di pinggir jalan.
" Bukan berarti kau boleh kan? Kau bilang nggak mau jatuh cinta"
"Memang benar, tapi pacaran bukan harus pake cinta kan?"
__ADS_1
" Maksudmu apa anak nakal? Kau jangan gila." Bram menarik rambut Dhani pelan. Dhani mengaduh pelan tapi tidak mempedulikan.
" Aku pengen tahu rasanya pacaran seperti teman- temanku. Jadilah pacarku. Pura-pura saja kalau kau tak suka." Mohon Dhani.
Bram tergelak melihat wajah Dhani yang lucu. " Bagaimana kalau aku benar-benar suka dan nanti tak mau melepaskanmu ha?"
" Ya itu deritamu Bram, hahaha..." Dhani tertawa tanpa beban.
" Kalau begitu aku tidak mau. Itu namanya kamu egois."
" Ayolah Bram, apa aku harus cari pacar sewaan saja agar tahu rasanya pacaran? Ah kau tahu, aku ini sebenarnya gadis yang malang. Lihatlah aku tak bisa menikmati masa mudaku dengan bebas, Bahkan aku tak boleh jatuh cinta karena jodohku sudah ditentukan. Bukankah itu menyedihkan?" Dhani terus berkata-kata . Tangannya menggenggam jemari Bram sementara kepalanya bersandar di bahu Bram.
" Sudah, berhenti ngaco kamu Dhan. Awas kalau kamu sampai cari pacar sewaan." Bram setengah mengancam.
"Pikirkan Bram, bagaimana kalau pacar sewaanku seorang pedhophil atau psikopat..hiiyy, ngeri kan? Bukankah lebih aman kalau kamu yang jadi pacarku, hmm?"
" Tetap saja itu ide gila tuan putri..Memangnya kenapa kau ingin tahu rasanya pacaran?"
" Tentu saja agar aku tak penasaran lagi Bram. Aku pikir sebelum menikah aku harus memuaskan semua rasa ingin tahu dan penasaranku. Jadi jika sudah menikah kelak, aku tak akan memikirkan atau menginginkan apa-apa lagi karena sudah pernah mengalaminya. Aku akan menjadi istri yang baik untuk suamiku dengan ikhlas meskipun kita tidak saling kenal sebelumnya."
" Entahlah Dhan..ini sungguh konyol. Di sini akulah korbannya. Bagaimana kalau aku benar-benar ingin pacaran denganmu, bukan pura-pura? Aku yang akan patah hati karena kau sudah jelas milik orang lain.Belum lagi kalau sampai Tuan Baron tahu. Bisa-bisa aku dibunuhnya kau tahu?"
" Itu bisa diatur Bram. Papa tak akan tahu. Lagi pula selama ini kita juga mirip orang pacaran bukan? Kemana-mana berdua. Bergandeng tangan, kencan...eh maksudku ke taman , ke konser.. ha? Soal kau akan benar-benar menyukaiku itu bukan urusanku. Salahmu sendiri ,karena kau kan tahu statusku seperti apa. Ya Bram ya...mau ya...jangan khawatir akan kutambahkan gajimu sebagai pacar sewaan..?"
" Aahh..terserah padamu saja Dhan. Lakukan saja yang kau mau. Kita pikirkan saja akibatnya nanti, lagi pula masa kan aku harus melewatkan kesempatan jadi pacar tuan putri? Yaah meskipun pura-pura" akhirnya Bram menyerah. Sudah keriting telinganya mendengar rengekan Dhani.
" Tapi awas, kau jangan modus ya?"
" Hey nona; jangan-jangan malah kau yang modus. Bukankah aku tampan? kau pasti sangat ingin dekat denganku kan?"
"Hadeeeh kumat narsisnya...cih.." Dhani beranjak dari bangku dan berlari meninggalkan Bram.
" Nona, tunggu! Pacarmu ketinggalan.... " Bram berteriak.
Dhani tergelak mendengarnya. " Ayo pacarku, aku menunggumu. Jangan jadi lelaki yang lemah ha?"
__ADS_1
Keduanya tergelak bersama-sama. Merasa lucu dan tanpa beban.
"