
Bastian menatap lekat gadis cantik yang tengah berbahagia itu. Mata lelaki itu berkaca-kaca. Tak ada yang tahu atau peduli isi hatinya. Dia menutup rapat dan menikmatinya sendiri. Perasaan sayang , cinta dan terluka sekaligus. Begitu ngilu, tapi tak disesalinya. Dibiarkannya rasa itu memenuhi relung hatinya.
Senyum gadis itu terus mengembang di wajah cantiknya. Mata gadis itu penuh cinta menatap kekasihnya, calon suaminya yang sesaat lalu telah meminangnya dihadapan seluruh keluarga.
Ada sesak didada lelaki muda itu. Terbayang kembali pertemuan pertamanya dengan sang gadis, Dhani , kala itu. Pertemuan yang membuatnya terikat akan gadis itu. Mata biru nan teduh itu, hidung bangirnya, rambut ikal kecoklatan dan keceriaannya, pesonanya yang tak mungkin ditolaknya.
Menyimpan erat rasa cinta pada pandangan pertama kepada gadis itu di dasar hatinya yang terdalam hingga saat ini.
Tetap kekeh menyimpannya meski sang gadis berulang mengatakan tak ingin berpacaran, menolak semua ungkapan cinta dari banyak lelaki. Bastian tak bergeming, tak merasa perlu mengucap perasaannya pada Dhani karena sudah jelas Dhani menutup dirinya.
Tak ada niat berhenti atau berpaling dari rasa itu karena Bastian tak merasa keberatan dengan itu. Dengan penolakan Dhani, Bahkan saat Dhani mengaku sudah ada yang memiliki kala itu; tak membuat Bastian kecewa akan perasaannya. Dia tidak menyalahkan apalagi membenci Dhani. Baginya dia hanya mencintai Dhani. Meski itu tak berbalas. Dia hanya ingin mencintai gadis itu dengan caranya sendiri.
Bastian tidak mau jauh-jauh dari gadis itu. Bertopeng status sahabat dia selalu berusaha ada di dekat Dhani. Mengikuti kelas akselerasi seperti Dhani, berkutat dengan buku dan mata kuliah sepanjang waktu. Semua dilakukannnya demi tetap bisa ada di sisi gadis itu. Dan Bastian cukup bahagia karena Dhani begitu dekat dengannya dan Silgy serta Donald yang sama-sama berstatus sahabat Dhani.
Bastian memandangi foto mereka di galery ponselnya. Foto saat mereka wisuda. Dhani dan Silgy ditengah sedangkan Donald di samping Silgy dan Bastian disamping Dhani. Mereka berangkulan erat. Dhani memeluk pinggang Bastian sedangkan Bastian merengkuh erat pundak Dhani. Silgy dan Donald juga saling memeluk erat. Mereka berempat salung memeluk dan tertawa bahagia.
Bastian tersenyum mengingat momen itu. Bastian bahkan memotong foto itu hingga tinggal tersisa foto Dhani dan dirinya. Foto hasil edit itu dijadikannya wallpaper ponselnya.
Apakah Bastian akan segera berhenti mencintai Dhani kini? Setelah hari pernikahan sudah ditentukan sebulan lagi?
Jawabannya adalah "Tidak!"
" Aku akan mencintainya selagi hatiku masih ingin mencintainya. Kalaupun kelak aku akan berhenti biarlah itu karena aku memang ingin berhenti mencintainya. Kapan? Biar waktu yang menjawabnya." hati Bastian berkata-kata.
Bastian melangkahkan kaki ke arah taman. Mencoba meluruhkan gemuruh di hatinya. Mengambil udara segar untuk jiwanya yang sedikit sesak.
Tanpa sengaja dia melihat dua sosok manusia yang sedang lupa diri dimabuk cinta. Saling berpelukan dan berpagutan mesra penuh gairah hingga melupakan suasana sekitarnya.
Bastian membalikkan badannya. Dia tahu siapa dua sosok yang sedang kasmaran itu. "Sial! Tidak cukupkah melihatmu dilamar orang Dhan?" Rutuk hati Bastian nelangsa.
__ADS_1
Bastian menyandarkan tubuhnya yang lunglai sambil memejamkan matanya. Tanpa disadarinya ada setetes embun lolos dari matanya yang panas. " Sakit Dhan.." keluhnya pilu.
Tapi tak lama, Bastian segera bergegas ke wastafel dan membasuh wajahnya yang pias. Menyugar rambut ikalnya dengan tangan lalu kembali ke tempat acara berlangsung.
" Kemana aja Bas?" sambut Silgy dan Donald bersamaan saat Bastian kembali.
" Cuci muka, ngantuk gue" jawab Bastian sekenanya.
Acara makan malam sudah selesai. Keluarga mempelai pria sudah meninggalkan acara untuk menginap di hotel dan kembali ke kota S esok pagi.
Pun juga beberapa kerabat Dhani yang tadi hadir sudah berpamitan semua. Tinggal dua orang paman dan bibi Dhani beserta keluarganya yang sama-sama datang dari kota S yang tinggal. Mereka memang menginap di rumah Dhani. Dan saat inipun mereka sudah di kamarnya masing-masing.
Pendopo belakang rumah Dhani sudah sepi. Meninggalkan beberapa pegawai dan pelayan serta pihak EO yang berbenah membereskan sisa-sisa acara.
Dari jauh nampak Dhani melangkah ke arah meja yang diduduki ketiga sahabatnya.
"em...aku harus pulang malam ini Dhan, besok pagi ada acara keluarga yang harus aku hadiri" Bastian menjawab Dhani.
" Kami juga harus pulang Dhan, biasa anak mami ini pasti dicari-cari maminya kalau sampai nggak pulang" Donald tersenyum sambil melirik Silgy. Gadis itu menjulurkan lidahnya. Memang ibunya sangat protektif.
" Sayang sekali padahal masih banyak yang ingin kulakukan dengan kalian." keluh Dhani
" Hei Tuan putri , kalau kami masih ngerecokin disini, mau kau kemanakan pangeranmu itu?" Silgy mengarahkan dagunya ke Bram yang sedang menuju mereka.
Dhani menoleh ke arah yang ditunjuk Silgy dan tersenyum mendapati Bram tersenyum.padanya.
" Iya deh, kalian memang sahabatku yang paling pengertian. Dan kau Bas, segeralah cari pacar, aku sedih lihat wajah jomblomu itu!" canda Dhani disambut tawa ketiga sahabatnya.
" Ya ya nanti aku cari...kamu sih aku yang nembak duluan, kamunya malah nerima lamaran orang, kan jadi patah hati akunya" Bastian memasang wajah sedih..tapi malah disambut gelak ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Sebenarnya memang benar-benar sedih. Tapi hanya Bastian yang tahu karena ketiga sahabatnya menganggap Bastian bercanda seperti biasanya. "Lo memang menyedihkan Bas" keluhnya dalam hati merutuki dirinya sendiri.
Donald, Silgy dan Bastian berdiri. Silgy yang pertama memeluk Dhani erat.
" Congrat ya sayangku, be happy women forever. I love you and happy for you" Silgy menangis bahagia di pelukan Dhani. Yang dipeluk pun terbawa suasana dan ikut terisak.
" Thanks Gy, best girl. Ku harap kau dan Donald segera menyusulku. Jangan lama-lama. Kita akan bikin genk mommy gaul" Dhani dan Silgy tertawa disela tangis bahagia mereka.
Setelah Silgy melepas pelukannya pada Dhani, Donald juga memeluk Dhani. Dia tidak peduli ada Bram melihat mereka. Cuma sebentar. Donald melepaskan pelukan mereka.
" Selamat nona, selamanya kami akan jadi sahabatmu. Jadi jangan sungkan memanfaatkan kami. Dan aku janji segera akan menyusulmu, melihatmu aku jadi kepingin Dhan !" Donald mengedipkan matanya membuat Dhani tertawa.
" Thanks Nald, you are the best. Cepatlah ikat Silgy, kita akan bikin genk baru dengan anak-anak kita"
" Buru-buru amat bikin anak Dhan,nikah juga belum?" Donald tertawa menggoda Dhani. " Kode keras nih bro..." Donald melirik Bram yang cuma bisa tersenyum. Sementara Dhani, wajahnya merona merasa salah bicara.
" Udah ah, Gy, cowokmu tuh..." Dhani mengadu ke Silgy tapi Silgy malah membela Donald.
" Nggak salah dong Dhan, kalau mau punya anak kan harus bikin dulu, nikah dulu.."
"Terserah kalian deh, emang ya pasangan absurd ya kaya gini jadinya." Dhani pasrah ditertawakan .
Sekarang tinggal Bastian di depan Dhani. Lelaki itu menatap lekat wajah cantik di depannya. Melangkah mendekat, makin dekat lalu merengkuh gadis itu dalam pelukannya sejenak.
Hanya sebentar. Bastian tahu ada hati yang harus dijaga ketika memeluk gadis itu. Hati sang gadis sendiri yang pasti merasa tak enak memeluk lelaki lain dihadapan kekasihnya. Ada hati lelaki itu, kekasih gadisnya yang pasti tak rela calon istrinya dipeluk lelaki lain meski itu sahabat karibnya. Dan terakhir adalah hatinya sendiri. Yang pasti akan semakin sakit jika terlalu lama memeluk dan tak mampu lagi melepaskannya.
" Selamat Dhan, Kamu pasti bahagia dengannya..kalian saling mencintai" Bastian menggenggam tangan Dhani erat.
" Thanks Bas. Kalian akan selalu jadi sahabatku" Dhani mengusap air matanya.
__ADS_1