Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Menjelang perpisahan


__ADS_3

" Kau masih ingin melanjutkan kegilaanmu dear?" Bram lembut di telinga Dhani. Membuat kulit Dhani meremang.


" Emh Bram bisa nggak bicara agak keras saja jangan dekat-dekat?"


" Kenapa; apa kau takut tergoda bisikanku?" Bram masih berbisik.


Dhani tak tahan lagi ,mendorong pipi Bram yang begitu dekat dengan pipinya. Menjauhkannya dari wajahnya.


" Iya , bisikanmu seperti kuntilanak, bikin merinding..hiii" Dhani bergidik membuat Bram terpingkal-pingkal. Merasa puas bisa mengerjai Dhani.


" Jadi gimana tuan putri kau mau apa lagi?"


" Sebenarnya masih banyak yang ingin ku mainkan dan kunikmati di sini Bram. Tapi aku agak lelah, dan nanti malam masih ada satu acara lagi yang harus kita hadiri. Jadi lebih baik kita pulang saja."


" Oh syukurlah" lega Bram


" Kau begitu lega Bram, apa ada sesuatu yang kau takuti atau kau hindari?"


" No..nggak ada yang aku takuti kecuali carrosell nona. Sebenarnya bukan takut tapi aku suka mual kalau naik carrosell. Rasa mual itu yang bikin aku gak suka."


" Aku jadi pengen lanjut lagii..agar tahu kelemahanmu tuan pacar. Apa kau takut paralayang? Atau flying fox, haa jangan-jangan kau takut buggiejumping?"


" Kayanya kamu yang takut, sayang, itu mainanku waktu SMA dan saat kuliah S1. Aku masuk mapala."


Dhani tertawa. " Baiklah kita pulang saja yuk, istirahat dan siap-siap untuk last schedule nanti malam Bram."


"Dengan senang hati Tuan putri.." Bram mungulurkan tangannya. Dhani menyambutnya dan kemudian mereka berjalan bergandengan tangan menuju tempat mobil diparkir tadi.


Bram menekan remote mobil dan membukakan pintu mobil disisi pintu penumpang untuk Dhani, Lalu bergegas menuju pintu di sisi kemudi .


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalan yang cukup lengang hari itu, karena hari minggu.


Hening, ketika Bram akan bertanya sesuatu pada Dhani telinganya mendengar desah nafas halus dari Dhani yang sudah tertidur. Bram menepikan mobil sejenak lalu mengatur posisi tempat duduk Dhani agar nyaman saat tidur. Sekarang posisi tidur Dhani setengah berbaring. Tak lupa menyelimuti tubuh gadis cantik itu dengan selimut yang tersedia di bagian belakang mobil.


Bram kembali melajukan mobil. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Bagaimana bisa dia dengan senang hati dan berbahagia mengerjakan semua pekerjaan pelayan ini. Sopir, pengasuh, bodyguard, lucu sekali. Padahal dirumahnya dialah yang dilayani.


" Kau membuatku kehilangan akal tuan putri" bisiknya dalam hati.


Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika Bram dan Dhani tiba di rumah. Bram segera membangunkan Dhani sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


" Dhani, ayo bangun, kita sudah sampai." Pelahan menepuk-nepuk pipi Dhani. Beberapa lama karena Dhani masih tidak bangun juga, Bram yang sudah tidak sabar memencet hidung Dhani hingga jalan nafasnya tertutup sebentar. Gadis itu gelagapan sesaat lalu m


membuka matanya.


" Bram kamu apa-apaan? Bisa mati kehabisan nafas aku!" Dhani cemberut. Bram terkekeh


" Sukurin habis susah baget dibangunin." Bram turun dari mobil meninggalkan Dhani yang masih menggerutu . Setelah membawa tasnya Dhani pun turun mengikuti Bram.


Sampai di teras DhaNi melambaikan tangannya dan seorang pelayan tergopoh-gopoh menghampirinya.


" Ya ndoro ayu..." pelayan itu menunduk didepan Dhani.


" Tolong kau bersihkan pakaian kotor yang ada di mobil ya. Tadi kena air "


" Baik ndoro ayu" tunduk si pelayan lalu segera melaksanakan perintah tuan putrinya.


Dhani melanjutkan langkahnya ke kamar.


Sebenarnya Dhani sudah sering memprotes papanya agar tidak mewajibkan para pelayannya memanggilnya Ndoro ayu. Dia merasa panggilan itu terlalu berlebihan. Tapi kata papanya itu adalah protokol wajib yang sudah turun- temurun dilakukan di keluarga besar Baron dan semua keturunan keluarganya. Dan Baron tak mau menghilangkan adat keluarganya begitu saja. Lagipula meskipun dilarang Dhani para pelayan mereka malah merasa tak sopan kalau tidak memanggil dengan sebutan itu.


Pernah suatu hari Dhani bertanya pada Bi Nah, pelayan tertua dirumah keluarga Baron.


Flash back


" Mboten saget ndoro ayu "( Tudak bisa tuan putri) Bi nah menjawab dengan bahasa Jawa halus.


" Kenapa?" Tanya Dhani penasaran.


" Ndoro ageng (Tuan Besar) akan marah kalau saya melanggar peraturannya.


" Jadi kalau papa sudah tidak menyuruh kalian maka kalian tidak akan memanggilku begitu?" Lagi tanya Dhani


" Mboten mekaten ugi ndoro ayu." ( tidak cuma itu saja tuan putri)


"Lantas apa lagi?" desak Dhani


Akhirnya bi Nah bercerita panjang lebar. Bahwa para pelayan dan pengawal di rumahnya adalah keturunan dari pelayan dan pengawal di istana kerajaan S.


Mereka adalah dayang dan prajurit istana yang sudah disumpah untuk melayani dan menjaga anggota keluarga raja dan para putra serta kerabat dekat raja. Meskipun saat ini raja dan kerajaan itu sudah tidak punya kekuasaan secara harafiah akibat perubahan bentuk negara Indonesia, namun para pelayan dan pengawal istana itu tetap memegang teguh sumpah mereka secara turun temurun.

__ADS_1


Menurut bi Nah sampai saat ini keturunan dayang dan prajurit serta pegawai istana itu masih tinggal di sebuah kampung yang merupakan bagian dari istana. Hanya keturunan asli mereka saja yang boleh tinggal disana. Dari sanalah abdi dalem keraton (pelayan dan pegawai istana) diambil sampai saat ini.


"Jadi ndoro ayu sama saja menyuruh kami melanggar sumpah kalau memanggil dengan nama saja. Itu namanya nglamak, alias kurang ajar ndoro ayu.."


" Oalah...seperti itu bi Nah. Oke deh aku nggak akan protes lagi."


Dhani akhirnya menyadari betapa para pelayan dan pengawalnya itu tetap setia pada adat istiadat istana yang mereka junjung tinggi.


flash back off


Dhani tidak langsung kembali ke kamarnya melainkan melangkah kekamar papanya dan mengetuk pintu kamar yang besar itu.


" tok..tok..tok..."


" Papa..." lembut suara Dhani


" Masuklah sayang..." suara berat Baron menjawab dari dalam. Dhani mendorong pintu dan menghambur masuk ke kamar.


" Papa..." Dhani duduk di sebelah papanya yang sedang membaca di sofa. Tangannya melingkari lengan papanya manja.


" Baru pulang? mana Bram?" Baron menaruh bukunya di meja dan membelai rambut ikal putrinya.


" Sudah pa, Bram sudah ke kamar"


" Bagaimana anak nakal, apa kau puas seminggu ini?"


"Iya pa, terima kasih. Papa selalu kasih yang terbaik buat Dhani. Mencium sayang pipi Baron." Emm..Apa Bram akan pergi pa?"


" Iya besok pagi Bram pulang kembali ke kota S. Disertasi untuk S3nya sudah selesai jadi dia harus mengurusnya agar segera memperoleh gelarnya. Lagipula papanya juga butuh bantuannya di perusahaan mereka."


" Iya pa, Bram juga bilang begitu. Lalu kalau Bram pergi apa papa akan mengurungku seperti dulu lagi?" mata Dhani berkaca-kaca menatap papanya.


Baron terkekeh geli. " Aduh papa kira kau akan merasa kehilangan Bram, ternyata kau takut papa pingit lagi...hahaha..dasar anak nakal" Bram mencubit gemas pipi kemerahan Dhani.


" Aww sakit papa..jadi gimana nasibku pa? rajuk Dhani.


" Tidak sayang. Papa rasa kamu tidak perlu papa jaga dengan ketat seperti dulu lagi. Kamu sudah dewasa sekarang. Papa rasa kamu juga cukup bertanggung jawab seminggu ini. Papa percaya janjimu untuk selalu menjaga dirimu dan harkat martabat keluarga kita. Jadi kamu sekarang bebas. Tetap saja kamu harus tahu batasanmu nona hemm? "Baron mengelus-elus sayang kepala putrinya.


Dhani menyeka ujung matanya yang basah. " Terima kasih pa, papa bisa percaya Dhani, Dhani sayang papa" Dhani memeluk papanya, menyembunyikan tangis haru dan bahagia didada papanya.

__ADS_1


Baron membalas pelukan Dhani. Putri semata wayangnya, berlian berharganya, dunianya dan segalanya. Bagaimanapun dia harus mulai belajar melepaskan Dhani sedikit demi sedikit. Anaknya itu harus belajar dewasa dan mengenal dunia.


Tentu saja Baron tak akan membiarkan Dhani begitu saja. Pengawal rahasia akan selalu berada di sekitar pewaris tunggalnya itu dimanapun berada.


__ADS_2