
" Dimas Baron, bisa saya bicara dengan Bram sebentar? Ponselnya tidak aktif." Dimas menelpon Baron ketika pada hari ke empat setelah malam pernikahan, Bram tak juga menghubungi papinya. Padahal urusan perusahaan sudah mulai menumpuk menantinya.
" Lho Bram dan Dhani belum pulang dari hotel kangmas. Mereka tidak ada disini" Baron mengeryitkan dahinya heran.
" Ya ampun anak itu keterlaluan..." keluh Dimas.
" Biarkan saja kangmas...haha...baru juga empat hari. Mereka kan cuti seminggu? Apa kangmas tidak ingin segera punya cucu?" Baron terkekeh mendengar Dimas bersungut-sungut.
" Bukan begitu dimas Baron, oke mereka cuti. Tapi kan nggak harus matikan ponsel. Saya jadi kelabakan menggantikan kerjaan Bram. Banyak informasi yang harus saya konfirmasi ke Bram karena beberapa proyek seratus persen dikerjakan Bram, jadi saya kurang menguasai." Dimas masih mengeluh.
" Baiklah kangmas, coba nanti saya hubungi ponsel Dhani. Siapa tahu ponselnya aktif. Kalau tidak, biar nanti saya susul mereka ke hotel..hahaha.." Baron tertawa geli.
" Baik dimas Baron, terimakasih. Maaf merepotkan" Dimas menutup telponnya.
Baron tersenyum. Sebenarnya dia juga sudah merindukan anak gadis kesayangannya . Empat hari tidak mendengar suara manja Dhani membuat Baron mulai merasa kesepian. Diketuknya nama putri cantiknya di ponsel.
Drrt.....drrt.....Ponsel Dhani yang tergeletak diatas nakas bergetar. Membuat aktifitas panas pengantin baru itu terhenti sejenak. Bram dan Dhani melirik ke arah nakas.
Dhani sedang berada dipangkuan suaminya yang bersandar dikepala ranjang. Bibir mereka saling bertaut. Tangan Dhani melingkari leher suaminya. Sementara tangan Bram asyik bertengger di puncak dada Dhani.
" Mas lepas dulu , ada yang telpon. Takutnya penting." Dhani hendak beranjak dari pangkuan Bram. Tapi Bram malah memeluk pinggang Dhani erat.
" Biarin. Ganggu aja...." Bram malah menjilati ceruk leher Dhani. Dhani bergidik geli. Lalu tanpa beranjak dari posisinya meraih ponselnya di atas nakas. Sementara Bram tetap melanjutkan aktifitasnya cuek.
" Papa mas!" bisik Dhani. Bram tak peduli. Menggigit kecil-kecil leher jenjang istrinya yamg sudah penuh tanda kepemilikan darinya.
" Halo pa...emh.." Dhani menahan erangannya akibat perbuatan suaminya. Bram malah tersenyum nakal.
" Sayang, apa kabarmu? Kau sudah lupa pada papamu heh...sama sekali nggak nelpon papa?" suara Baron seakan-akan sedang marah. Tapi Dhani tahu papanya cuma menggodanya.
Dhani tertawa. " Maaf papaku sayang. Suamiku tak membiarkanku lepas sedikitpun....mas Bra..." belum sempat melanjutkan kata-katanya Bram sudah menutup mulut Dhani dengan tangannya dan merebut ponsel dari tangan Dhani. Matanya mendelik lucu. Dhani tergelak.
" Halo pa...ini Bram. Maaf pa, tapi kan kita cuti seminggu. Ini baru hari ke empat.." Bram merasa tidak bersalah.
" Iya Bram papa tahu, tapi kan tidak harus mematikan ponsel. Papimu tadi telpon papa, dia mau konfirm kamu sesuatu tapi tidak bisa menghubungimu. Telpon papimu sebentar ya, kelihatannya urgent" jawab Baron lembut.
__ADS_1
" Oh ya ampuun..iya pa. Bram lupa tidak mengisi baterai ponsel. Bram akan segera menelpon papi pa..." Bram menyandarkan kepalanya. Merasa bodoh karena terlalu asyik dengan istrinya sehingga lupa daratan.
" Ya sudah. Papa tutup telponnya.."
" Baik pa. Terima kasih. Maaf.." Bram terbata-bata.
Dhani tergelak melihat wajah lucu Bram yang habis ditegur mertuanya.
" Gara-gara ini sih..jadi lupa segalanya.." Bram menusuk-nusuk lembut pipi Dhani dengan telunjuknya lalu menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.
" Sudah , cas dulu ponselmu sayang. Terus telpon papi. Kasihan papi mas.." Dhani mengerang karena Bram. sudah kembali menggerayangi tubuhnya.
" Nanggung sayang...kita selesaikan dulu ya..." Bram mendesah di telinga Dhani. Dan tanpa menunggu jawaban Dhani segera melucuti tubuh istrinya hingga polos.
Dhani melenguh ketika Bram sudah mulai menggerakkan tubuh diatasnya. Merasakan kembali nikmatnya penyatuan tubuh mereka sambil tak henti bibir mereka saling memuja. Saling memuaskan hasrat dan keinginan mereka.
" Aku sangat mencintaimu Dhani sayang...." erangan Bram setengah jam kemudian saat menyemburkan pelepasannya didalam tubuh istrinya.
" I love you more Bram.." bisik Dhani lirih bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar penuh kepuasan yang memabukkan.
Saat ponselnya menyala, terlihat ratusan pesan dan panggilan tak terjawab. Diketuknya pelan nama papinya.
" Halo pi....iyaaa..iyaa...maaf Bram lupa ngecas piii...." Bram menggaruk tengkuknya. Papinya langsug memberondongnya dengan omelan ketika Bram menghubunginya.
Keduanya kemudian terlibat percakapan tentang bisnis mereka. Bram menjelaskan semua yang ditanyakan papinya.
" Oke pi...maaf sekali lagi. Sebentar lagi Bram akan kirim ke email papi semua informasi yang papi butuhkan. Papi bisa minta bantuan Dino jika kurang jelas. Dia tahu semuanya."
" Kapan kamu balik Bram?" tanya Dimas di ujung ponsel.
" Segera pi...ini kan cutiku belum habis pi.." Bram merasa kesal karena papinya seakan menyuruhnya cepat pulang.
Dimas terkekeh, dia memang ingin menggoda putra semata wayangnya yang sedang dimabuk asmara itu.
" Kayaknya kamu lupa segalanya. Papi takut kamu makin tersesat di rimba belantara Dhani terus lupa jalan pulang..hahaha..."
__ADS_1
Bram ikut tertawa geli. " Papi astaga! Ternyata papi ngerti nikmatnya hutan rimba juga. Pasti papi juga sering tersesat di hutan mami kan?" Bram balik menggoda papinya.
Bram jadi sadar kenapa dia begitu candu menikmati dan mengeksplor bagian tubuh bawah istrinya itu dengan bibir dan lidahnya. Rupanya itu turunan dari papinya.
" Braam..kamu sudah berani kurang ajar sama papi ya..." Dimas tergelak.. Merasa malu tapi sudah terlanjur keceplosan .
Kedua ayah anak itu tertawa bersama di telpon.
"Tapi terima kasih ya pi.." usambung Bram setelah tawanya reda
" Terima kasih? Untuk?" Dimas bertanya
" Terima kasih untuk segalanya. Terutama untuk menjodohkan Bram dengan Dhani. Bram merasa kebahagiaan Bram sekarang telah lengkap." Bram membelai rambut Dhani yang terlelap disampingnya.
" Syukurlah kalau kamu bahagia Bram. Apalagi mami papi dan papa Baron, kebahagiaan kami adalah melihat kalian berbahagia. Jagalah istri dan rumah tanggamu. Kamu adalah pemimpin keluargamu sekarang. Papi harap kamu dan Dhani mengikuti jejak kami dalam membina keluarga." Dimas menasehati Bram.
Keduanya terdiam beberapa saat di ponsel. Rasa haru dan bahagia menyeruak di hati ayah dan anak itu.
" Pasti Pi...kami akan seperti papi, mami dan papa. Kami akan menjaga keluarga kami sebaik-baiknya." Bram menyeka sudut matanya yang basah.
Semua kasih sayang dan cinta yang mami dan papinya berikan sepanjang hidupnya terbayang di pelupuk matanya. Bram berjanji dalam hati, dia pun akan menjadi orang tua yang baik, penuh cinta dan kasih sayang untuk istrinya anak-anaknya kelak . Seperti papi dan maminya.
Tanpa Bram sadari Dhani yang terbangun dari tidurnya mendengarkan semua percakapan Bram dan Dimas. Hatinya merasa terharu dan bersyukur. Mendapatkan suami yang begitu mencintainya dan bertanggung jawab.
Dhani duduk lalu memeluk Bram penuh cinta.
" Aku akan selalu disampingmu sayang. Kita akan menjaga cinta dan keluarga kita bersama-sama sampai maut memisahkan.." Bisik Dhani di sela isaknya.
Bram tersenyum. Membalas pelukan istrinya dengan erat. Mencium lembut kepala dan kening Dhani penuh kasih.
TAMAT
Terima kasih untuk readers setia Jodoh untuk Tuan Putri. Especially to Widia dan Yani yang jadi orang pertama yang mengapresiasi karyaku. Membuat aku bersemangat melanjutkan karya pertamaku. GBU Widia dan Yani. Dan juga semua reader JUTP.
Sampai jumpa di karyaku selanjutnya. Love u all...
__ADS_1