
Dokter Rudy sudah mrnunggu di depan pintu rumahnya. Bahkan dia ikut membantu Baron membopong tubuh lemah Dhani ke ruang prakteknya.
" Bagaimana Rud?" tanya Baron tak sabar setelah dokter Rudy selesai memeriksa keadaan Dhani.
" Tidak apa-apa Tuan. Dia hanya sedikit dehidrasi dan shock saja. Setelah sadar sebaiknya segera makan dan minum agar keadaannya tidak semakin parah."
Dokter Rudy kemudian memberikan resep untuk Dhani. Baron segera menyuruh Pak Sukir ke apotik untuk menebus obat. Sementara Baron menunggu di sisi ranjang tempat Dhani terbaring pingsan.
Tak lama kemudian Dhani telah sadar dari pingsannya. Pelahan gadis itu membuka matanya dan mendapati papanya tengah duduk menungguinya.
Dhani segera duduk. Baron ikut duduk di sebelah Dhani lalu memeluk Dhani erat. "Sayang, kau sudah sadar? bagaimana keadaanmu?" seru Baron sambil menciumi kepala Dhani.
Dhani diam saja tidak menjawab Baron. Tetapi hanya air matanya saja yang turun dengan derasnya membasahi pipi gadis itu. Dhani kembali menangis tanpa suara.
" Bram pa..." desisnya dalam isaknya.
" Sayang, kau tidak boleh seperti ini. Kau harus kuat. Lagipula masih ada kemungkinan Bram selamat karena tidak ditemukan jasadnya." Baron berusaha memberi semangat Dhani. Tapi tampaknya gadis itu sudah begitu putus asa. Hingga tak merespon sama sekali kata-kata penghiburan dari Baron.
"Bram pa..." desis Dhani lagi. Pandangan matanya tampak kosong.
" Ayo kita pulang sayang. Kita akan segera kirim oramg ke tempat kejadian untuk memastikan semuanya!" Baron membimbing Dhani turun dari ranjang dan memapahnya menuju mobil.
Pak Sukir sudah kembali dari apotik. Akhirnya mereka berpamitan pada dokter Rudy untuk pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan Dhani tak bicara sepatah kata pun. Hanya air matanya saja yang seakan tak pernah habis mengaliri pipi merahnya yang tirus.
Baron sudah kehabisan akal menghibur putrinya yang tidak menanggapinya sama sekali. Dia hanya bisa merangkul putri kesayangannya itu dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan kegelisahan dan kesedihan hatinya.
" Ayo sayang, kita turun!" Baron memapah Dhani yang terlihat sangat kacau . Menuntun putri kesayangannya itu ke kamarnya.
Baron kemudian turun dan meminta pelayan menyiapkan bubur dan minuman hangat untuk Dhani.
__ADS_1
" Ayo makanlah dulu sayang, kau belum makan sejak siang tadi.
" Dhani nggak lapar pa" gumam Dhani tanpa melihat Baron.
" Tapi kamu harus tetap makan sayang. Apa kamu nggak mau berusaha mencari Bram. Apa kamu mau menyerah sebelum berusaha menemukan calon suamimu. Kemungkinan itu masih ada sayang. Ayo semangat dan cari Bram besok ya..? Baron memberi semangat pada Dhani.
Dhani menatap papanya nanar. " Apa itu mungkin pa?" setitik harapannya mulai muncul.
" Tentu saja sayang.." Baron tersenyum melihat secercah cahaya di mata putrinya. " Makanya kamu harus kuat, makan ya agar besok kamu sehat dan bisa ikut mencari Bram" bujuk Baron tanpa lelah.
Dhani membuka mulutnya ketika Baron menyuapkan bubur. Hanya beberapa suap saja Dhani sudah menolak suapan Baron. "Sudah pa, Dhani sudah kenyang"
" Baiklah yang penting perutmu sudah terisi. Minum obatmu sayang?" Baron memberikan obat dan Dhani meminumnya dengan cepat.
" Sekarang beriatirahatlah sayang, besok kita akan mulai ikut mencari Bram." Baron berbisik lembut di telinga Dhani. Membuat Dhani sedikit tenang.
Baron membaringkan Dhani ke ranjangnya dan menyelimutinya. Dhani sama sekali tidak bicara. Baron dengan penuh sayang membelai dan mengelus rambut gadis itu. Hingga gadis itu tertidur karena pengaruh obat penenang yang diresepkan dokter.
" Kirim orang ke tempat kejadian. Kerahkan seluruh armada dan aset yang kita punya untuk mencari kebeeradaan menantuku. Dan bonus besar menanti siapa saja yang bisa menemukan Bram!" Baron memerintahkan anak buahnya mengerahkan segala daya upaya untuk menemukan Bram.
Esoknya Baron benar-benar sibuk mengatur pencarian Bram, persiapan pernikahan Bram dan Dhani dihentikan sementara. Baron membatalkan semua reservasi dan menundanya untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
Di kamarnya, Dhani meringkuk dengan mata sembab. Dia tak mau melakukan apapun bahkan turun dari ranjangpun enggan. Dhani merasa setengah dari dirinya sudah hilang. Ikut menghilang bersama kabar hilangnya Bram.
Baron mengundang ketiga sahabat Dhani dan menceritakan keadaan Dhani. Pria itu berharap kedatangan para sahabatnya akan membuat Dhani sediikit terhibur.
Silgy tak bisa menahan air matanya ketika mendengar cerita Baron. Sementara Bastian dan Donald pun tak kuasa menahan kesedihan mereka. Mereka bisa membayangkan apa yang dirasakan Dhani.
Apalagi ketika mereka ke kamar dan melihat keadaan Dhani. Silgy langsung menghambur memeluk Dhani. Demikian juga Bastian dan Donald.
" Dhan..." Silgy membiarkan Dhani terisak di pelukannya. Dia tak mengatakan apapun karena itu tak perlu.
__ADS_1
" Gy...Bram..." hanya nama Bram yang disebut Dhani dalam isaknya. Lalu gadis itu kembali meringkuk. Memeluk bantal lembut bertuliskan nama Bram yang menjadi satu-satunya barang yang tak pernah lepas dari pelukannya.
Silgy dan Donald sudah keluar dari kamar Dhani, kini tinggal Bastian duduk disisi ranjang Dhani. Lelaki itu menggenggam erat tangan Dhani. Hatinya ikut sakit melihat Dhani meringkuk seakan tak punya gairah hidup lagi.
Meski Bastian terluka melihat Dhani akan menikah dengan Bram, tapi kini Bastian lebih terluka lagi melihat gadis yang dicintainya dalam diam itu seakan tinggal tubuh tanpa jiwa.
Bangkitlah Dhan. Aku nggak sanggup melihatmu seperti ini. Hatiku hancur melihatmu tak berdaya begini. Aku lebih rela menderita melihatmu bahagia daripada melihat air mata dan penderitaanmu. Batin Bastian bebisik pilu.
" Dhan, kami semua menyayangimu. Kami akan selalu ada disampingmu menghadapi ini." Bisik Bastian sambil mencium tangan Dhani. Diusapnya air mata yang tergenang di sudut matanya.
Bastian kemudian menyelimuti tubuh Dhani yang meringkuk tak berdaya. Meninggalkan kamar gadis itu dengan sebaris doa untuk kebahagiaan sahabat yang dicintainya itu.
Menjelang sore hari, namun Dhani tak juga mau menyentuh sesuap pun makanan. Akhirnya dokter Rudy memasang infus untuk Dhani agar dehidrasi yang dialami gadis itu tidak semakin parah.
Dhani benar-benar seperti berada di dunia lain. Dia tidak merasa lapar ataupun haus. Yang ada di pikirannya hanya nama Bram saja. Semua kenangan yang pernah dialaminya bersama Bram sekarang berkelebatan di pikirannya. Sementara matanya terpejam tak ingin terbuka.
" Dhan, sayang....ayo bangun. Kamu kenapa sayang? Kenapa begini?" sebuah suara yang sangat Dhani kenal berusaha membangunkan Dhani. Namun Dhani tak bergeming.
" Nggak, aku nggak mau bangun dari mimpi indah ini!" Dhani menggeleng dengan tetap terpejam. Antara sadar dan tidak. Otaknya menolak untuk membuka mata.
" Kamu nggak mau lihat aku? " Tanya suara itu lembut di telinga Dhani.
Dhani menggeleng lagi. Aku sedang bermimpi Bram tidak pergi. Bram datang padaku. " Tiba-tiba Dhani menangis. Air mata mengalir di sela-sela kelopak matanya yang terpejam. Gadis itu benar-benar tak mau membuka matanya sama sekali.
" Kalau aku membuka mataku, Bram pasti menghilang lagi..." Dhani tersedu-sedu dalam setengah kesadarannya.
Dhani tiba-tiba tersenyum ketika merasakan tangannya digenggam dengan erat lalu dicium dengan lembutnya.
" Bram..." bisik Dhani, " Apa itu kau? Kenapa kau pergi tidak bilang-bilang? Ini pasti mimpi kan?" Dhani terisak lagi.
" Bangunlah sayang...ini aku.." Dhani mendengar suara itu lagi.
__ADS_1