Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Ditegur


__ADS_3

Tepat jam 12 malam, Bram dan Dhani sampai di kediaman Baron. Dhani membuka seat belt dan beranjak membuka pintu mobil. Namun terhenti saat tangan Bram menahannya.


" Sayang, please...habis ini aku langsung ke Bandara untuk mengejar pesawat. Boleh aku minta lagi..sekaliii aja hmm? " Mata sayu Bram memohon pada Dhani.


" Bram..." Dhani mendesah..Dan Bram segera menarik tengkuk Dhani lembut. Bibir keduanya kembali bertemu untuk kesekian kalinya malam ini. Ciuman hangat, lama kelamaan semakin panas...Bram me***** bibir Dhani dengan penuh gairah. Sedangkan Dhani entah mengapa malah seperti kecanduan ciuman Bram dan menikmatinya. Melingkarkan lengannya ke leher Bram dan membalas ciuman Bram . Beberapa lama kemudian Bram mengakhiri pagutannya dengan manis.


" Terima kasih sayang.." Bram berbisik lalu mencium bibir Dhani sekilas. Dhani cuma tersenyum malu.


" Ya ampuun...apa aku sudah gila? " rutuk Dhani dalam hati mengingat dirinya begitu menikmati ciuman Bram...


" Turun yuk. Aku mau pamit ke om Baron," Keduanya kemudian turu dari mobil dan menuju rumah yang sudah kelihatan gelap.


" Pasti papa sudah tidur, kamu sih kemaleman ini.."


" Kok aku, kamu juga tadi minta nambah-nambah terus..aku kan jadi enak..?"


" Tutup mulutmu Bram jangan sampai papa mendengarnya." Dhani mencubit pinggang Bram.


" Auuh...ampuun sayang.." Bram mengaduh lirih.


Keduanya terperanjat ketika tiba-tiba saja pintu rumah terbuka dan yang ada di balik pintu adalah Baron. Biasanya para pelayanlah yang akan membuka pintu.


Dhani dan Bram menunduk tak berani menatap wajah Baron.


" Maaf kami terlambat om" akhirnya Bram pasang badan. Dia tidak ingin Dhani dimarahi papanya.


" Bram, kamu harusnya tahu, besok Dhani kuliah. Dan kamu sendiri akan berangkat keluar kota jam dua nanti. Kenapa malah main sampai selarut ini?" Baron berucap dengan nada sedikit tinggi.


Dhani makin mengkerut takut" Maaf pa.." sesalnya


" Dhani, sana masuk ke kamarmu! Segera tidur besok kamu kuliah! " Baron menatap Dhani. Gadis itu tak menjawab tapi langsung beringsut pergi dari hadapan Baron. Dia bahkan lupa ada Bram disana saking takutnya pada kemarahan papanya.


" Bram masuk sebentar, om mau bicara!" Baron masuk ke ruang keŕja diikuti Bram yang tertunduk.


" Ya om" Bram tetap menunduk.


Baron duduk di kursi panjang.


" Duduklah" perintahnya pada Bram. Tanpa menunggu Bram.juga langsung duduk di kursi yang ada didepan Baron.


" Kelihatannya hubungan kalian makin dekat. Apa om.harus mempercepat semuanya? " Baron menatap Bram tajam.


" Tidak om, biar Dhani mendapatkan kemauannya dulu. Maaf saya akan lebih hati-hati dan menahan diri lagi.." Bram terlihat malu dan merasa bersalah.


" Baiklah, om tidak mau kalian melewati batas. Ingat itu Bram! Baron menarik nafas pelan.

__ADS_1


Bagaimana perkembangan penjualan apratemen baru kita? " Nada suara Bram sudah datar. Tidak lagi tinggi seperti tadi.


" Baik om, sudah sembilan puluh persen terjual. Saya yakin tidak sampai sebulan akan sold out. Lokasi apartemen kita sangat strategis. Tidak terlalu sulit menjualnya." Bram menjawab optimis.


Baron tersenyum. " Inilah yang om suka darimu. Kau sangat optimis dan pekerja keras. Lanjutkan anak muda! " Baron menepuk pundak Bram.


Bram tersenyum. " Siap om, ini juga berkat bantuan om dan papa"


" Baiklah lekaslah berangkat. Kau akan terlambat nanti," Baron bangkit dari duduknya disusul Bram . Keduanya berjalan beriringan sampai teras. Bram menyalami Baron dan mencium tangan pria itu.


" Bram pamit om"


" Baiklah Bram, hati-hati di jalan. Titip salam salam buat papi dan mamimu ya.." Baron menepuk punggung Bram


" Ya om, permisi," Bram membungkukkan badannya. Baron melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam rumah.


Bram berjalan ke arah mobil yang sudah menunggunya. Seorang sopir sudah membukakan pintu mobil dan Bram bergegas masuk kedalamnya. Tak lama mobil Bram sudah melaju meninggalkan kediaman Baron.


Di lantai dua rumah Baron, sepasang mata indah mengawasi dari balik jendela. Menatap Bram dari teras hingga mobilnya meninggalkan halaman .


Dhani menyandarkan tubuhnya ke dinding kamarnya. Matanya terpejam, bibirnya menyunggingkan senyuman. Saat ini yang ada di kepalanya adalah kejadian di apartemen Bram dan di mobil tadi. Dhani merasa tubuhnya menghangat ketika mengingatnya. " Ahh ya ampuun, aku tak bisa melupakannya.." keluhnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Dhani segera meraih ponsel di nakasnya . Dadanya berdesir melihat nama dan wajah yang ada di layar ponsel itu. Video call dari Bram.


" Sayang..." Suara dan wajah Bram.di layar setelah Dhani menerima panggilan itu.


" Sebentar lagi sampai bandara sayang..cepet bobo ya, besok kan harus kuliah.."


" Nggak bisa tidur" Ucap Dhani manja.


" Kebayang terus ya..? Goda Bram sambil tersenyum.


" Ish..kamu..tadi papa marah ya?!" suara Dhani terdengar cemas.


" Nggak kok.." Ucap Bram


"Bohong" seru Dhani. Bram tersenyum.


" Iya sih dikit, emang aku yang salah nggak usah dipikirin." Bram menenangkan Dhani. " Palingan kalo kebablasan disuruh kawin haha..." Bram tertawa.


"Aa..apa? " Dhani terkejut


" Ehh enggak sayang, aku cuma bercanda" Bram menutup mulutnya.


" Nggak lucu tau..." Dhani merengut.

__ADS_1


" Ya sudah ini sudah sampai bandara. Kayanya langsung berangkat ini sayang, soalnya jamnya sudah mepet banget. Aku tutup ya...bye sayang..rindukan aku.." Bram melambaikan tangannya di layar ponsel.


" Bye sayang...happy flight.." Balas Dhani. Bram tersenyum dan kemudian layar ponsel gelap.


Dhani mendekap ponsel dan bantal kesayangannya. Bergulingan kekanan dan kekiri beberapa saat. Akhirnya Dhani terlelap sambil tetap memeluk bantal dan ponselnya.


Di bandara Bram langsung check in dan bergegas menuju keberangkatan karena sudah mendapatkan panggilan untuk segera menaiki pesawat. Wajahnya terlihat lelah karena belum istirahat sma sekali dari pagi.


Sejak datang dari kota S tadi pagi, Bram meresmikan apartemen, bertemu beberapa klien hingga terakhir bertemu sang Tuan putri pujaan hati. Namun lelahnya terbayar oleh senyuman dan ciuman pertama dari kekasih hatinya. Senyuman bahagia tak lekang dari wajah Bram sampai dia terlelap di kursi pesawat.


Keesokan harinya Dhani bangun dengan ceria. Wajah pertama yang diingatnya adalah wajah Bram. Di bukanya ponselnya. Ada beberapa pesan dari Bram.


*Kau sudah tidur sayang?


Mimpikan aku, mimpi yang indah ya..


Sayangmu sudah sampai dengan selamat di kota S.


Kita akan bertemu lagi , itu pasti..karena sekarangpun aku sudah merindukanmu..emot menangis...love u sayang..Dhaniku..my lovely princess...


~Bram


Love u too sayang...


~ Dhani*


Dhani segera mengirimkan balasan untuk Bram. Terkirim tapi belum dibaca. Pasti Bram sedang tidur saat ini. Dhani tersenyum. Memeluk bantal Bram sambil membayangkan wajah dan tubuh Bram. Gadis itu sedang mabuk kepayang.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu menyadarkan Dhani dari lamunannya.


" Ndoro ayu sarapan sudah siap" suara pelayan dari luar pintu


" Iya bi nah...sebentar lagi aku turun" seru Dhani bergegas turun .


Baron sudah menunggunya di meja makan. Keduanya kemudian makan bersama dengan tenang.


Selesai makan, Baron memanggil anaknya untuk duduk di sofa ruang keluarga. Masih ada beberapa menit sebelum jadwal Dhani berangkat kuliah.


" Apa kau menyukai Bram sayang?"


" Papa.apaan sih..." Dhani tersipu,.pipinya merona. Gadis itu tak bisa.menyembunyikan perasaannya.


" Apa kau sudah mulai lupa janjimu, dan cita-citamu?" Baron mengelus rambut Dhani.

__ADS_1


"Tidak pa , Dhani tak akan lupa , Dhani rasa Dhani masih di jalur yang benar. Papa jangan khawatir. " Dhani meyakinkan papanya.


Baron tersenyum dan.memgangguk " Papa percaya padamu."


__ADS_2