
Di sisi belakang di luar pendopo istana, para pager bagus dan joko kumolo pembawa kembar mayang sudah siap berbaris menunggu pasangan mereka, para pager ayu.
Katika dari jauh tampak rombongan pager ayu dan putri domas berjalan pelahan ke arah mereka, mata para pemuda itu seakan terkunci tak berkedip menatap bidadari-bidadari cantik yang seolah sedang melayang turun dari kahyangan.
Tak terkecuali Bram yang nampak semakin gagah dengan setelan beskap dan kain yang berwarna hijau tosca , senada dengan dodot para pager ayu. Blangkon dikepala dan keris yang terselip di pinggang semakin menambah ketampanannya.
" Awas kelilipan Den Mas.." ujar seorang pager bagus sambil menyikut pelan lengan Bram yang tak berkedip menatap Dhani di kejauhan.
" Ah..gak usah pura-pura. Kamu juga dari tadi ngelihatin Ajeng terus" Bram tersenyum simpul.Kedua pemuda itu kemudian tertawa .
" Sssttt..." pemangku adat istana yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka membuat para pemuda itu menutup rapat mulut mereka. Tapi mata mereka tetap tak lepas dari rombongan pager ayu itu.
Mata Bram seakan dimanjakan lenggang langkah Dhani yang anggun. Wajah cantik gadis itu semakin bersinar dengan paes ageng (rias lengkap) istana. Senyum gadis itu tak lepas dari wajahnya.
" Awas ileran tuh!" suara bisikan Dhani menyadarkan Bram. Reflek tangannya mengusap bibirnya , Karena asyik melamun Bram malah tidak sadar kalau Dhani sudah ada disebelahnya sekarang.
Brm tertawa tertahan. Merasa ketahuan sedang hilang akal gara-gara gadis itu. Dhani juga menahan tawanya.
" Kau cantik sekali sayang..." Desah Bram sambil menatap lekat Dhani dari ujung kaki sampai ujung kepala. Gadis itu begitu cantik dalam balutan baju adat jawa dan rambut yang disanggul. "Kau benar-benar membuatku gila" gumam Bram lagi.
" Ssst...udah jangan ngomong lagi . Tuh pak Marwoto ( sang pemangku adat sekaligus penata acara hari ini) melototin kita." Dhani berbisik.
" Dianya sendiri juga ngelihatin kamu ,tuh!" Bram menunjuk dengan mengangkat dagu ke arah pak Marwoto. Dhani terkikik geli ketika matanya bertatapan dengan mata pak Marwoto.
" Ora nyebut ( gak tau diri), sudah tua juga!" gumam Bram mendengus.
Dhani terkekeh. " Masa cemburu sama kakek-kakek..?" ujarnya pelan.
" Ingat, kalian semua harus fokus pada acara. Jangan ngobrol sendiri saat acara berlangsung. Apalagi pacaran.! Jangan membuat malu kerabat istana dihadapan para tamu agung. Kalian dengar?"
" Inggih (ya) " seru para pager ayu dan pager bagus bersamaan.
Dhani dan Bram berpandangan sejenak. Mereka lalu menunduk sambil mengulum senyum mereka. Merasa kata-kata pak Marwoto ditujukan untuk mereka.
__ADS_1
Sesering apapun diingatkan, nyatanya Bram tak bisa menahan diri untuk selalu mencuri-curi pandang ke arah gadis cantik disebelahnya. Hatinya terikat. Matanya tertambat. Seakan ada magnet kuat yang menariknya untuk selalu memandang keindahan di sampingnya.
" Cantik ya? "
" Iya sangat cantik..ups!" Bram segera menutup mulutnya ketika menyadari bahwa Pak Marwoto yang bertanya dibelakangnya. Saat itu Bram memang sedang menatap Dhani dari samping. Menikmati paras sempurna gadisnya. Hidung mancung itu, bibir manis itu...
" Kau lihat ke depan, jangan meleng terus, jangan mempermalukan dirimu sendiri" Marwoto berbisik dekat telinga Bram.
" Inggih(ya) pak!" Bram tersenyum simpul.
Dhani yang mendengar teguran Marwoto pada Bram tertawa tertahan. " I love you" bisiknya sedikit mendekat ke telinga Bram setelah Marwoto menjauh.
" What??" Bram serasa mau pingsan. Gadis itu sengaja menggodanya. Wajah tampan itu kini merah padam. Menahan sesak debaran jantungnya yang menderu. Matanya sayu menatap Dhani. Seakan memohon agar gadis itu tidak semakin menyiksanya .
Oh waktu lambat sekali berjalan. Bram sudah tak tahan untuk membawa gadisnya itu lari dari penjara dunia ini. Memeluknya, menciumi wajahnya. Berjalan-jalan berdua, menggendongnya dan menikmati tawa dan desah manjanya...
"Fokus sayang, acaranya hampir dimulai! " Dhani brrbisik dekat telinga Bram. Lelakinya itu tampak melamun. entah apa yang dipikirkannya.
Bram tersenyum. Matanya berbinar terang. Panggilan sayang dari Dhani seperti lantunan tembang surga yang membelai telinga dan hatinya. Tubuhnya menghangat. Seakan ada aliran listrik yang membuatnya tegap berdiri. Gagah disamping tuan putri yang cantik bak bidadari.
Dhani melirik Bram dari sudut matanya. Tersenyum bahagia.
Dan acara pagi itu satu-persatu terlaksana dengan sempurna. Semua yang bertugas melaksanakan kewajibannya dengan sepenuh hati dan rasa tanggung jawab. Bagaimanapun ada kewajiban moral bagi mereka yang merasa memiliki istana ini, baik sebagai keluarga dan kerabat istana atau sebagai abdi dalem ( pegawai) keraton.
Semua merasa adat istiadat dan budaya luhur istana raja-raja Jawa adalah warisan mulia yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Tak rela rasanya jika adat luhur dan mulia ini harus hilang atau punah tergerus zaman serba instan.
Lelah dan letih latihan dan bersiap diri melaksanakan acara adat rasanya terbayar dengan suksesnya acara dan decak kagum dari para tamu undangan yang bukan hanya pejabat tinggi negara tapi juga perwakilan pimpinan dari negara-negara lain.
Jeda makan siang. Para tamu undangan di persilakan makan di bangsal tengah keraton. Sementara kedua mempelai juga makan dan berganti pakaian. Demikian juga para pager bagus, pager ayu dan para petugas lain. Mereka menuju ruang makan khusus.
Bram ingin duduk di sebelah Dhani. Dia ingin makan bersama Dhani, sukur-sukur bisa suap-suapan...Bram ngelantur membayangkan. Jadi setelah mengambil makanan secara prasmanan dia segera menuju tempat Dhani duduk. Tapi gadis-gadia pager ayu tak membiarkannya beranjak. Mereka menarik Bram untuk duduk bersama mereka.
" Disini aja Den Mas, masak nempel terus sama den Ayunya. Nanti bisa ketempelan..." Niken tersenyum genit. Gadis-gadis lain yang duduk didekat mereka tertawa.
__ADS_1
" Hadew kalian ini, memangnya dhemit ( hantu) bisa ketempelan? " Bram tak berkutik. Terpaksa dia duduk diantara gadis-gadis pager ayu yang sudah menjebaknya itu. Rasanya tak sopan meninggalkan mereka untuk pergi ke meja Dhani.
" Mas, boleh tanya gak?" seru seorang gadis
" Apa?" Bram menjawab malas.
" Resep gantengnya apa? Biar aku beli buat kangmasku" gadis-gadis itu tertawa.
Bram ikut tertawa geli. Kalian ini ada-ada saja. Kalau pacar kalian tahu, apa mereka tidak marah kalian menggodaku begini?"
" Tidak den mas. Mereka tahu Den mas gak mungkin berpaling dari den Ayu Dhani. Mau cari yang gimana lagi?" Sahut gadis yang lain.
Bram tertawa bahagia. Bahkan para gadis ini pun menyerah pada kecantikanmu tuan putri. Apalagi aku? Bram bergumam dalm hati "Jadi kalian sudah menyerah ?"
" Iya Den mas. Kita dukung kalian saja. Mau bersaing juga pasti kalah. Den mas sama den ayu itu Best couple deh pokoknya. Ganteng bingits dapat yang Ayu tenan. Wes cocok..Tumbu oleh tutup (pasangan yang cocok)" disambut anggukan para gadis.
" Bisa makan bareng dan ngobrol sama Mas Bram aja cukup deh...ya nggak gaess..mumpung belum dilarang..? "
" Ho oh..." sahut mereka. Bram tertawa. Gadis-gadis ini begitu lucu. Dan yeng lebih menyenangkan lagi, kekerabatan antara mereka sangat kuat. Jadi jika ada masalah bisa diselesaikan dengan cepat bersama-sama.
Sementara itu disudut ruang makan yang lain, Dhani juga sama seperti Bram. Terjebak diantara para pager bagus. Apakah ini disengaja? Entahlah.. Yang jelas Dhani dan Bram tak bisa makan siang bersama siang itu. Bahkan mereka sengaja duduk di depan Dhani sehingga menghalangi pandangannya ke Bram.
"Den ayu...tehku kok nggak manis kenapa ya?" seorang pemuda bertanya pada Dhani.
" Ah masa sih ? " Dhani mencoba menyesap tehnya. " Ah enggak tuh, punyaku manis kok."
" Ohh berarti tehku saja yang nggak manis. Karena manisnya sudah pindah ke wajahmu den ayu.." disambut tawa dan celetukan gemas teman-temannya."Huuuu.."
Dhani terkekeh. " Kalian ini, malah merayuku. Bagaimana kalau pacar kalian marah?"
" Ah enggak mungkin marah...mereka sangat pengertian kok..! Jawab pemuda yang menggoda Dhani tadi.
" Masa...kamu aja kali...aku bilangin Ajeng ya..? " goda seorang pemuda di sebelah Dhani.
__ADS_1
Pemuda itu tiba-tiba salah tingkah. " Ya jangan dong...kalian ini suka ya kalau lihat temannya berantem..? "wajah pemuda itu tampak sedikit pucat.
Melihat hal itu Dhani dan para pemuda itu tak bisa menahan tawa mereka.