
Flash back on
Bram mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemennya. Senyum terkembang di wajah tampannya sepanjang jalan itu. Sore ini Bram akan memberi kejutan Dhani. Dia akan melamar gadisnya itu. Semua sudah disiapkannya di apartemen , dan saat ini Bram akan menjemput Dhani.
Bram tahu hari ini adalah peresmian gedung dan mall hasil kerja sama perusahaan Baron dan Atmajaya. Jadi Bram akan menjemput Dhani di mall baru itu.
" Tunggu aku sayang, malam ini kau akan jadi gadis paling bahagia didunia ini" gumam Bram sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tak lama mobilnya telah sampai di depan mall baru itu. Sisa-sisa perayaan pembukaan mall baru itu masih tampak disana-sini. Pengunjung mall juga sudah ramai memadati mall.
Baru saja akan memasuki lahan parkir mall, mata Bram menangkap sosok gadis cantik yang sangat dikenalnya. Ya..Dhani, gadis itu tampak tergesa keluar dari mall dan.... disambut seorang pemuda di mobilnya. Pemuda itu membukakan pintu mobil dan Dhani segera masuk ke mobil itu.
Jantung Bram berdetak keras. Siapa dia Dhan? Bisiknya bergumam.
Bram mengurungkan niatnya memasuki mall dan langsung mengikuti mobil yang ditumpangi Dhani. Sepanjang jalan Bram tak lepas menatap mobil sport hitam yang diikutinya. Hingga tibalah mereka di sebuah restauran.
Bram melihat pemuda itu turun dan membukakan pintu mobil untuk Dhani. Bram mulai terbakar cemburu. Siapa dia? Kenapa memperlakukan Dhani seperti itu. Bahkan wajah pemuda itu selalu tersenyum dan tak lepas menatap Dhani. Tanpa sadar tangan Bram mengeras terkepal.
Dia tahu tatapan macam apa itu. Pemuda itu menyukai Dhani. Dan lihatlah Dhani tampak sangat nyaman bersama pemuda itu, setidaknya begitulah yang terlihat di mata Bram . Tentu saja mata yang penuh kecemburuan.
Bram ingin sekali memukul wajah pemuda itu dan menyeret Dhani pergi, tapi pikiran warasnya masih bekerja. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Dhani bersama pemuda itu.
Dhani dan pemuda itu memasuki restauran dan langsung menuju lantai dua. Bram diam-diam mengikuti mereka, dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat darahnya mendidih. Pemuda itu mencium tangan Dhani sambil mengucapkan permintaan..atau lamaran?
Flash back off
Luki masih mematung di tempatnya berdiri. Otaknya masih berusaha mencerna kejadian yang baru dialaminya. Wajahnya tampak tegang beberapa saat. Hingga suara seorang pelayan menyadarkannya.
" Maaf Tuan, apakah anda baik-baik saja.?"
" Ah..ya...tinggalkan aku sendiri " jawab Luki pelan. Ketika kesadarannya kembali, Luki merasakan tubuhnya lunglai hingga jatuh terduduk di kursi.
Ditempat lain di jalan raya...
Di sebuah mobil sport berwarna perpaduan kuning dan hitam, Dhani dan Bram tampak duduk tanpa suara sama sekali.
Wajah Bram masih tegang. Tak ada senyum yang biasanya menghiasinya jika bersama Dhani. Bram melajukan mobilnya dengan kencang. Beberapa kali hampir menyerempet kendaraan lain di jalan.
__ADS_1
" Bram! " pekik Dhani marah. " Turunkan aku, aku nggak mu mati sekarang " teriak Dhani kencang ketika lagi-lagi mobil Bram hampir menyerempet kendaraan lain di jalan. Namun Bram tak peduli.
Akhirnya Dhani hanya bisa menangis ketakutan. Melihat Dhani menangis, barulah Bram sadar, memelankan sedikit kecepatan mobilnya meskipun masih kencang menurut Dhani.
" Bram tolong berhenti, aku akan jelaskan semuanya.." Dhani memohon dalam isaknya.
" Diamlah sekarang. Nanti kau memang harus menjelaskan semuanya Dhan." geram Bram tapa melihat Dhani sedikitpun.
Dhani memejamkan matanya. " Baiklah" gumamnya lirih.
Ketika mobil berhenti, barulah Dhani membuka matanya. Ini halaman apartemen Bram. Dhani membuka seatbeltnya. Dan Bram sudah membuka pintu mobil untuk Dhani.
" Turunlah!" perintah Bram dingin.
Dhani memandang sekilas wajah Bram. Baiklah sayang..marahlah..memang kau pantas marah karena kau salah paham. Dhani membatin.
Mereka berjalan menuju lift khusus di ujung lobby. Bram menarik pelan lengan Dhani yang terkesan lambat berjalan. Membawanya bergegas memasuki lift.
Di dalam lift keduanya masih bungkam. Hingga tiba di lantai teratas apartemen mewah itu.
Bram kembali menarik lengan Dhani ke arah rooftop. Dhani menurut saja, mengikuti langkah lebar Bram meski sedikit tertatih karena langkahnya lebih pendek.
De ja vu...di ujung tampak sebuah piano dan biola yang tersandar di tempatnya. Dan di tengah ruang terbuka itu tampak meja dan dua kursi tertata rapi. Tampak tiga buah lilin yang belum menyala di atas meja kaca itu.
Dhani teringat dekorasi rumah makan yang didatanginya dengan Luki tadi. Bagaimana mungkin dua lelaki yang tidak saling kenal memikirkan hal yang sama untuknya?
Bram menghentikan langkahnya di dekat meja itu. Menarik satu kursinya dan menatap Dhani. " Duduklah" pintanya lemah hampir berbisik. Tenaganya terasa sudah terkuras habis untuk menahan marah dan kecewanya.pada gadis di depannya itu.
Dhani duduk tanpa menjawab sepatah katapun.
" Aku mendengarkanmu.." gumam Bram lirih namun jelas terdengar oleh Dhani.
" Apa yang ingin kau dengar sayang? " ucap Dhani lembut.
Ahh..sial! rutuk batin Bram. Mendengar kata sayang terucap dari bibir manis itu hati Bram yang panas terasa diguyur air sejuk pegunungan. Amarahnya serasa tinggal seujung kuku. Padahal dia ingin menumpahkan rasa sakit, kecewa , benci dan marah itu saat ini. Tapi apa ini? Hanya karena sepatah kata sayang kenapa hatinya jadi selemah ini?
" Siapa dia, apa hubunganmu dengannya hingga dia sampai berani melamarmu ha? Apa kalau aku tidak datang kau akan menerima lamarannya?" Bram menumpahkan lava dari dadanya yang membara. Bertubi-tubi tanpa jeda.
__ADS_1
Bukannya menjawab Dhani malah tertawa. Membuat mata dan bibir gadis cantik itu tampak semakin menawan di mata Bram.
Lagi-lagi batinnya merutuk kesal. Jangan terus menggodaku Dhan. Atau pertahananku untuk tampak marah didepanmu akan segera jebol. Bram memejamkan matanya.
" Dia yang pernah kuceritakan padamu. Tuan muda Atmajaya. "
" Jadi benar kan dugaanku? Kamu ada hubungan sama dia?" Bram memotong ucapan Dhani.
" Dengarkan dulu sayang..." Suara Dhani terdengar mendayu. Gadis itu tahu, panggilan sayangnya adalah senjata paling ampuh untuk meredakan kecemburuan kekasihnya itu.
Bram masih memejamkan matanya sambil bersandar di kursi. Sementara Dhani tersenyum sendiri melihat tingkah kekasihnya yang menggemaskan karena tampak sekali menahan diri untuk tidak melihat Dhani.
" Aku pergi saja . Buat apa bicara pada orang yang bahkan melihatku pun tak sudi lagi.." Dhani beranjak berdiri. Dalam hatinya tertawa dan berniat menggoda lelakinya yang tengah merajuk itu.
" Berhenti! Mau ke mana kau? Kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatku kecewa dan hampir membunuh orang!" seru Bram sambil berdiri dan mencekal lengan Dhani.
Dhani pura-pura terkejut. " Membunuh siapa?" masih pura-pura bertanya
" Tentu saja si Atmajaya sok ganteng itu. Berani-beraninya mencium tanganmu. Kamu juga tampaknya menikmati banget, ha?" seru Bram berapi-api.
Dhani tak bisa menahan tertawanya lagi. Diraihnya pipi Bram dengan gemas dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir kekasihnya itu. Ah betapa rindunya dia pada bibir seksi yang sudah mencuri hatinya itu.
Bram melengos. Ini belum selesai Dhan, jangan merayuku...Bram membalikkan badan hendak duduk di kursinya lagi..ketika tiba-tiba Dhani memeluknya dari belakang.
"Sayang, aku tidak tahu Luki akan melamarku atau cuma memintaku jadi pacarnya. Soalnya saat dia belum selesai ngomong, kamu sudah datang dan mengacaukan semuanya.." bisik Dhani di bahu Bram.
" Apa? Jadi kau anggap aku mengacaukan acara kalian?" Bram setengah menggeram sambil berusaha melepas pelukan Dhani.Tapi Dhani makin erat memeluk pinggang lelaki itu. Selain itu Bram juga tak benar-benar berusaha keras melepas pelukan tangan nan lembut itu..
" Bukan begitu sayang...aku cuma menjawab pertanyaanmu saja kan? Lagi pula aku juga tidak tahu kalau saat itu dia bikin candle light dinner, aku pikir kami akan makan malam biasa saja . Bahkan saat itu aku mau bilang ke dia kalau aku sudah punya kamu" Dhani mengusap-usapkan hidungnya di punggung Bram. Menghirup lekat aroma tubuh lelaki itu yang selalu dirindukannya.
Bram sudah tak tahan lagi, panggilan sayang, pelukan, usapan lembut jemari Dhani dan kini usel-usel hidung Dhani di punggungnya benar-benar meruntuhkan pertahanannya untuk memberi Dhani hukuman.
Bram membalikkan badannya dan menarik pinggang ramping Dhani dalam sekali tarikan. Kemudian dengan penuh hasrat dipagutnya bibir merah Dhani.
" Kau yang menggodaku sayang, jangan salahkan aku kalau aku akan menghabiskanmu malam ini" desah Bram di sela ciumannya.
Awalnya ciuman yang begitu lembut dan penuh cinta namun selanjutnya jadi begitu panas dan bergelora. Dhani pun tak bisa menolak, bahkan membalas ciuman Bram dengan tak kalah panas. Karena jauh di lubuk hatinya juga sangat merindukan sentuhan lelakinya itu. Keduanya hanyut dalam permainan yang memabukkan.
__ADS_1
Saling mendekap erat, saling membelai , saling memberi kehangatan lewat sentuhan dan penyatuan bibir, lidah dan saliva mereka. Hingga keduanya terengah-engah dalam rona bahagia.
Bram menatap lembut pada Dhani yang kini berada di pangkuannya. Gadis itu mengaitkan lengannya pada leher kekasih hatinya. Keduanya sedang mengumpulkan oksigen baru untuk melanjutkan permainan yang terjeda. Bintang dan bulan menjadi saksi atas kebahagiaan mereka...