
Bram meraih tangan Dhani dan menggenggamnya erat ketika berhasil menjajari langkah Dhani.
Dhani tersenyum dan menyandarkan kepalanya manja di pundak Bram sambil terus berjalan.Bram pun merangkul pundak Dhani lembut.
Di kejauhan tampak Baron sedang duduk di ruang tunggu khusus pesawat non komersial, karena Baron dan Dhani menggunakan pesawat pribadi.
" Papa...." seru Dhani lalu menghampiri Baron.
" Kalian sudah sampai?" Baron memeluk Dhani.
" Apa masih lama berangkatnya pa? Tanya Dhani.
" Nggak sayang, tiga puluh menit lagi berangkat. Ayo kita bersiap..! " ajak Baron
" Bram, om berangkat ya..." pamit Baron pada Bram sambil menepuk punggung pemuda itu.
" Ya om, selamat jalan" balas Bram sopan sambil mencium pungggung tangan Baron.Keduanya kemudian berpelukan sejenak. Setelah itu Baron pergi meninggalkan Bram dan Dhani.
" Sayang, ridukan aku !" bisik Dhani di telinga Bram.
" Selamat jalan sayang happy flight. Mimpikan aku!" Bram memeluk Dhani penuh sayang. Dibalas pelukan erat Dhani
" Makasih Bram, kamu jaga diri, jaga hati gak boleh nakal ya..." Dhani tersenyum.
Cup! " Ciuman Bram mendarat lembut di bibir Dhani.
" Ini balasan yang tadi" bisik Bram jahil membuat Djani merona..
Secepat kilat Dhani membalikkan badan dan mengejar Baron yang sudah menjauh.
Bram tersenyum sambil terus memandangi Dhani di kejauhan. Setelah bayangan Dhani menghilang, barulah Bram pergi dari tempat itu. Meninggalkan bandara dengan perasaan lega dan bersemangat .
Di dalam pesawat pribadi keluarga Baron , tampak Baron dan Dhani duduk berhadapan.
" Kamu kelihatan capek Dhan tidurlah dahulu. Sudah tiga hari ini kau tidak bisa istirahat dengan baik. Hmm.." Bram melihat wajah Dhani yang tampak lelah.
" Tapi aku mau penjelasan dari papa tentang kakek dan keluarga istana. Kenapa papa menyembunyikan semuanya ?: Dhani tampak gusar.
__ADS_1
" Hisss..tidurlah dulu, nanti pasti papa cerita. Kamu buka mata aja gak sanggup kok nyuruh Papa cerita sejarah?" Baron tertawa melihat Dhani yang kelihatan menahan kantuknya
" Tapi papa janji ya.." rajuk Dhani manja.
" Iya sayang" ujar Baron sambil mengusap rambut Dhani pelan.
Kata-kata Baron menenangkan Dhani. Disandarkannya kepalanya di kursi pesawat yang empuk. Dhani memang merasa sangat mengantuk saat ini.
Seorang pramugari membantu Dhani mengatur kursinya agar nyaman untuk berbaring.
" Terima kasih mbak.." ucap Dhani ketika pramugari itu memberikan selimut untuk Dhani. Tak lama terdengar deru halus nafas Dhani yang sudah terlelap dalm mimpi.
Flash back on
Baron menggenggam erat tangan Stella. Gadis cantik bermata biru itu menatap Baron dengan tatapan sedih.
"Lets me go Baron, jangan membuat masalah lagi dengan keluargamu . It's over."
" Nggak, kamu nggak boleh ninggalin aku. Aku yang akan pergi dari istana. Kita bisa hidup bersama dengan atau tanpa restu orang tuaku" kekeh Baron
Beberapa saat lalu Baron dan Stella sengaja dipanggil ayah Baron. Ya sang raja kerajaan S. Dan sedihnya mereka dipanggil untuk mendengarkan langsung perintah agar mereka segera mengakhiri hubungan mereka. Karena Baron sudah sejak lama telah dijodohkan dengan sesama bangsawan kerajaan S.
Apalagi hari pernikahan Baron pun sudah ditentukan. Semakin remuk redam perasaan sepasang kekasih beda negara itu.
"Nyuwun agunging pagaksami bopo ( mohon maaf sebesar-besarnya ayah) saya tidak bisa memenuhi perintah itu. Saya sudah menentukan pilihan saya sendiri. Dan dia adalah Stella, calon istri saya" Baron menggenggam erat tangan Stella di depan ayahnya.
" Kamu bisa tetap memiliki gadis ini, tapi perjodohanmu tetap harus dilaksanakan. Kamu bisa menikahi keduanya" titah sang raja membuat Stella serasa terhempas ke jurang terdalam di dunia.
" Tidak bopo. Saya hanya ingin menikah dengan Stella saja. Tidak akan ada pernikahan yang lain" tegas Baron .
Raja menggeram marah. Jawaban Baron membuat segala rencana yang sudah disetujui dua pihak calon mempelai kandas begitu saja..
Bagi orang biasa membatalkan pernikahan mungkin biasa. Tapi bagi anggota keluarga kerajaan, itu adalah aib besar yang mungkin tak akan termaafkan selama hidup. Dan kini itu terjadi karena Baron dan Stella. Wanita entah dari mana yang tidak diketahui bibit bebet dan bobotnya( asal usul,keturunan dan kualitasnya).
Sesuai adat istana, semua putra-putri raja harus menikah dengan pilihan raja. Yang sudah pasti memenuhi syarat bibit bebet bobotnya. Keempat kakak Baron pun demikian. Dan Baron seorang yang dengan berani melanggar aturan itu.
" Baiklah kalau itu maumu. Pilihlah salah satu. Wanita asing ini, atau keluargamu, keluarga istana ini. Jika kau tetap tidak mau melanjutkan perjodohan, kau boleh pergi dari sini dan janan pernah lagi menganggapku sebagai ayahmu. Atau pilihan ke dua kau tetap melanjutkan perjodohan, dan kau juga tetap boleh menikahi wanita ini. Semua tetap pada tempatnya." titah sang raja tegas.
__ADS_1
Baron tergugu. Hatinya benar-benar sudah hancur. Apalagi melihat Stella yang menangis tanpa suara disebelahnya. Rasanya mereka saat ini sedang berada di neraka dan disidang oleh malaikat maut. Semua pilihan adalah kematian. Masuk neraka atau mati di tangan sang malaikat maut.
Dan Baron menguatkan hatinya. Jika pun harus mati, dia akan mati sambil memeluk Stella nya. Itu pasti jauh lebih baik daripada hidup seperti mati bersama orang lain dan membiarkan Stella menderita.
Baron menatap sang raja. " Maafkan saya Bopo.."
Digenggamnya tangan Stella. Ditariknya tubuh Stella dan keduanya melangkah pasti meninggalkan ruangan sang raja.
Braakkkk! Sang raja menggebrak meja keras.
" Kalau kau berani keluar dari pintu itu, jangan pernah lagi menoleh dan dan kembali ke sini. Camkan itu. Kau bukan anakku lagi." teriak gusar sang raja.
Air mata Baron mengalir deras dalam diam. Stella menahan tangan Baron seakan memohon agar Baron kembali dan menuruti ayahnya. Tapi Baron kembali menarik tangan Stella keluar dari ruangan itu. Terus melangkah keluar dari gerbang istana itu. Tanpa menoleh lagi. Mungkin selamanya, bisik hati Baron.
Esoknya Baron kembali ke London bersama Stella. Dia melamar Stella dan mereka menikah di London.
Baron bekerja pada perusahaan milik orangtua Stella. Dia bekerja dengan penuh semangat dan rajin. Jiwa bisnisnya ternyata membuat usaha orang tua Stella semakin maju dan besar dari hari-ke hari. Perusahaan kecil keluarga itu bahkan menjelma menjadi besar di tangan Baron.
Orang tua Stella sangat bangga pada Baron. Dan akhirnya menyerahkan perusahaan mereka untuk dikelola Baron. Karena Stella anak tunggal, perusahaan itu pun diwariskan pada Stella dan Baron.
Di tangan Baron Perusahaan itu menjadi gurita raksasa yang mempunyai cabang di banyak negara dengan berbagai bidang usaha. Termasuk di Indonesia.
" Honey, apa kau tidak ingin menangani sendiri cabang Indonesia? Ini sangat prospektif. Indonesia punya big market dengan jumlah penduduk yang sangat besar" Stella berucap hati-hati pada suaminya.
Stella tahu Baron alergi dengan kata Indonesia. Sejak kejadian di istana itu Baron melarang Stella membicarakan apapun yang berhubungan dengan Indonesia. Baginya dia sekarang adalah orang Inggris seperti Stella dan keluarganya yang begitu menghargainya.
"Big no honey, sudah ada yang menangani cabang kita di sana."
" Tapi hasilnya tak akan semaksimal jika kau tangani sendiri honey.." Stella sedikit menantang Baron. Sebenarnya Stella ingin Baron berdamai dengan keluarganya. Dan itu hanya bisa terjadi jika Baron kembali ke Indonesia.
Stella tahu, meskipun Baron terlihat sangat membenci ayahnya. Tapi dalam hati pria itu sangat merindukan keluarganya. Beberapa kali Stella melihat tanpa diketahui Baron, pria itu menangis sambil melihat foto keluarganya yang tersimpan rapi di lacinya.
" Aku akan ikut kamu jika kamu mau mengurus cabang Indonesia. Ini kesempatan besar mengembangkan usaha kita honey!" Stella begitu bersemangat.
Baron tersenyum lalu memeluk Stella.
" Apa kau suka Indonesia sayang? Apa yang kau suka? Menurutku London lebih sejuk dan damai"
__ADS_1
" Aku suka prianya...hangat dan romantis" Stella mengecup singkat pipi Baron. Keduanya tertawa lalu saling mengecup bibir.
"Entahlah honey, aku sudah terlanjur nyaman di London. Tapi kau memang benar, Indonesia is a big market dan sayang kalau dilewatkan begitu saja ." Baron memejamkan matanya. Pikirannya melayang jauh.