Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
# Sudah sembuh


__ADS_3

Puas berendam dan membersihkan diri, Dhani berpakaian dan turun ke bawah. Sebentar lagi waktunya makan malam. Dhani ingin melihat keadaan Bram lebih dulu.


Diketuknya pintu kamar Bram. Karena tak ada jawaban dari dalam, Dhani membuka pintu pelahan. Kenapa tidak menjawab? Jangan-jangan dia pingsan. Begitu pikir Dhani.


Ranjang Bram kosong. Hanya terlihat selimut yang tadi dipakainya teronggok diujung kasur. Kemana dia? Dhani berjalan ke arah kamar mandi. Sepi. Tak terdengar bunyi gemerecik air atau suara seseorang. Akhirnya Dhani berbalik akan keluar kamar.


Saat sudah berbalik, deg! Dhani kaget setengah mati karena sesosok tubuh sudah berada di depannya.


" Bram!" seru Dhani setengah teriak. " Kau mengagetkanku saja." Bram terkekeh.


"Ada apa, kau sudah merindukanku tuan putri?" Bram menggoda Dhani. Bibir Dhani mengerut.


"Ish jangan halu..dari mana saja kau? Kenapa turun dari ranjang?" Dhani bertanya sambil tangannya terulur meraih dahi Bram.


Bram meraih tangan Dhani dan mengarahkan ke lehernya. " Aku sudah sembuh Dhan, sudah nggak panas lagi kan? " Dhani mengangguk merasakan dahi dan leher Bram sudah normal. Tidak sepanas tadi.


"Syukurlah kalau begitu. Kau dari mana?" Dhani bertanya lagi.


" Aku haus,ambil minum di dapur." Bram menunjuk segelas air minum di meja.


"ohh ..oke, jadi kau mau makan malammu diantar ke kamar atau..."


" Aku akan makan malam di meja makan. Aku sudah nggak apa-apa tuan putri" Bram memotong kata-kata Dhani. Meyakinkan gadis itu bahwa dia sudah benar- benar sembuh dari sakitnya tadi.


" Ya sudah kalau begitu..kita makan yuk..."


" Ayuk,?" Bram menatap Dhani heran karena Dhani tidak segera beranjak dari tempatnya berdiri.


" Kalau begitu lepaskan tanganmu, apa kita mau bergandengan tangan ke meja makan?papa sudah menunggu di meja makan." Dhani mengarahkan matanya ke tangan Bram yang masih memegangnya.


" Maaf..aku lupa" Bram menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melepaskan tangan Dhani dari genggamannya. Bodoh! batinnya. Bagaimana bisa lupa?


Keduanya menuju meja makan. Baron sudah duduk disana sambil melihat ponselnya.


" Selamat malam tuan" Bram


" Selamat malam.papa" Dhani mencium pipi Baron. Membuat senyum Baron merekah.


"Selamat malam, apa kau sudah baikan Bram?" Baron menatap Bram yang duduk diseberang meja.


"Sudah Tuan, saya cuma pusing sedikit karena tidak terbiasa terlalu lama berada di mall." Bram merasa sungkan karena ternyata Baron tahu sakitnya tadi.


" Jangan sungkan, maafkan anak nakal ini ya? Dia sudah bertahun-tahun tidak ke mall, makanya jadi lupa diri.." Baron melirik Dhani yang cengar-cengir.


"Hehe...iya pa, aku maruk tadi. Maaf ya Bram.." Dhani melihat Bram.


"Tidak nona, justru saya yang minta maaf karena saya pusing, nona tidak bisa melanjutkan kegiatan nona." Bram tersenyum.

__ADS_1


" Sudahlah, ayo kita makan. Kau jangan ulangi lagi ya sayang, Jangan keterlaluan dalam melakukan apapun. Karena yang terlalu itu tidak baik. Oke?"Baron menengahi.


Dhani mengangguk. " Siap papa!" sambil mengangkat tangannya ke dahi seperti hormat bendera. Baron dan Bram tertawa melihatnya.


Ketiganya kemudian makan dengan tenang. Setelah makan Baron kembali ke kamarnya. Demikian juga Dhani dan Bram kembali ke kamarnya masing-masing.


Di kamarnya Dhani mengutak-atik ponselnya. Sebenarnya tadi dia mau lebih lama menemani Bram. Tapi merasa tak enak hati dengan papanya. Masa anak cewek, tuan putri pula malam-malam ke kamar cowok? Bagaimanapun dia harus menjaga perasaan papanya dan juga harga dirinya didepan para pengawal dan pelayan.


Tapi tetap saja hatinya tak tenang . Tadi Bram tampak begitu pucat dan lemas sekali. Bagaimana mungkin dia bisa sembuh secepat itu. Apa dia pura-pura sehat agar tidak merepotkan?


Dibukanya Hpnya lalu mengetikkan sesuatu disana. Rupanya Hp Bram juga sedang online.


Dhani : *Apa kau sudah tidur?


Bram : *Belum.


Dhani : *Kau sedang apa?


Bram : *Mengerjakan tugasku.


Dhani : *Hais..kau baru sembuh Bram. Istirahatlah yang cukup dulu. Agar tubuhmu segera fit.


Bram : *Baiklah Tuan putri sesuai perintahmu.


Dhani : *Janji? Aku tidak percaya padamu.!


Bram tidak menjawab tapi mengirimkan sebuah foto dirinya yang sedang berbaring miring dengan selimut. Wajahnya tertutup guling. Hanya menampakkan sedikit mata dan dahinya saja.


Dhani tersenyum.


Bram : * Terima kasih atas perhatian anda tuan putri. emot terharu.


Dhani tersenyum-senyum sendiri. Dilihatnya lagi foto Bram di hpnya. Lucu juga.


Sudah pukul 21.30. Tapi Dhani tidak bisa memejamkan matanya. Melihat acara televisi pun tidak ada yang menarik hatinya. Mungkin segelas susu panas akan menenangkan dan bisa membuatnya terlelap.


Dhani turun ke dapur untuk membuat susu. Sebenarnya bisa saja dia menyuruh pelayan untuk membuatkannya susu. Tapi Dhani tak ingin jadi anak manja yang cuma bisa main suruh pelayan. Jadi dia putuskan untuk membuat sendiri susunya di dapur


Memasuki dapur Dhani terkejut ada Bram disana. Sedang duduk sambil meminum sesuatu digelasnya.


" Bram sedang apa kau? Kenapa tidak istirahat. tuh kan bohong.." Dhani mendudukkan dirinya di sebelah Bram.


" Aku nggak bisa tidur Dhan, mungkin karena tadi kebanyakan tidur" keluh Bram.


" Aku juga nggak bisa tidur" Dhani bangkit lalu mencari gelas untuk membuat susu panas.


" Kau mau minum apa? Sini biar aku buatkan" Bram berdiri menghampiri Dhani yang kelihatan canggung di dapur.

__ADS_1


" Aku mau susu panas." Dhani malu-malu ketahuan tidak bisa apa-apa di dapur.


Bram membuka kulkas dan mengambil sebotol susu. Dituangkannya susu ke panci bertangkai lalu direbusnya diatas kompor. Tak lama susu kelihatan mendidih. Bram mematikan kompor lalu mengambil mug yang ada di rak dan menuangkan susu ke mug.


"Apa kau mau ditambah sesuatu nona?" Bram bertanya seperti pelayan pada tuannya.


" Konyol!" Dhani tertawa pelan." Tidak, aku mau susu plain saja"


" Oke, susu plain untuk tuan putri telah siap! " Bram menyodorkan mug susu ke depan Dhani.


" Terima kasih Bram" Dhani tersenyum.


" Bagaimana kalau kita ngobrol saja sampai mengantuk?" Bram sudah duduk kembali disebelah Dhani.


" Boleh juga." Dhani meniup pelahan susu di gelasnya. "Ada yang ingin kau tanyakan padaku Bram?"


" Siapa yang kau temui di mall tadi Dhan? Kenapa aku tak boleh melihatnya?"


" Seseorang dari masa lalu" gumam Dhani pelan.


" Apa papamu mengenalnya?"


"Ya"


" Apa beliau tahu kau menemuinya?"


"Tidak"


" Apa dia kekasihmu?"


" Entahlah, Bram. Kami tidak pernah saling mengungkapkan perasaan. Tapi kami saling merindukan. Kami juga tidak pernah melakukan hal-hal seperti layaknya sepasang kekasih. Seperti berkencan misalnya. Tidak sama sekali.Apa yang seperti itu bisa disebut kekasih?" Dhani mendesah. Seperti ada sesuatu yang menusuk perih di dadanya.


Bram menatap wajah sendu Dhani. Kasihan sekali kau tuan putri. Cinta pertamamu begitu memilukan .


" Apa kau masih mengharapkannya?"


Dhani menggeleng. " Tidak.Aku sudah sering menyuruhnya pergi dan melupakanku. Karena aku tidak mungkin bersama dengannya."


" Kau bisa memperjuangkan cintamu tuan putri" Bram bergumam.


" Tidak Bram. Aku cuma mau membahagiakan papa. Selain itu tidak ada lagi yang harus kuperjuangkan ."


Kau sangat mencintai papamu tuan putri. Batin Bram.


" Ayo kita tidur. Besok kau harus penuhi jadwalmu bukan? " Bram mengalihkan pembicaraan agar Dhani tidak semakin galau.


Dhani tersenyum. " Tentu saja, bersiaplah Bram. Minum vitaminmu agar kamu nggak k.o. lagi hahaha..."

__ADS_1


" Baiklah Tuan putri,aku akan minum obat kuat untukmu. Kau puas?"


Bram dan Dhani tertawa sambil melangkah ke kamar mereka masing- masing. Menjemput malam dengan mimpi indah dan harapan bahagia esok hari.


__ADS_2