
Matahari sudah agak tinggi ketika Bram dan Dhani menyelesaikan jogging mereka. Keduanya segera pulang dan membersihkan diri di kamar mereka masing.masing.
Baron sudah sarapan dari sejam yang lalu, karena saat ini sudah jam 9 lebih. Lelaki yang masih tampak tampan di usia paruh baya itu sudah tahu kalau putrinya dan Bram.jogging jadi tidak ikut sarapan bersamanya. Para pelayan yang memberitahunya.
Dhani yang masih di kamar sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Saat ini dia sudah siap dengan kaus yang nyaman dan celana diatas mata kaki yang sedang trend. Sneaker putih melengkapi penampilannya yang sporty dan santai hari ini.
Dhani akan menghabiskan waktu dengan bermain, jadi dia harus memastikan pakaian yang dikenakannya nyaman dan tidak akan mengganggu aktivitasnya. Tidak lupa dibawanya pakaian renang dan beberapa baju ganti. Untuk antisipasi jika terjadi hal-hal yang di luar kendali saat menikmati berbagai wahana permainan. Basah misalnya.Atau terkena noda muntah...hiiiyy?
Setelah semua siap diambilnya Hp di nakas.
Dhani : * Hai pacar, kau sudah siap?
Bram : * Sudah sayang, sarapan yuk ..emot love
Dhani terkikik geli membaca balasan Bram.
Dhani : * Jangan lebay, siapa yang mengijinkanmu memanggilku sayang? Emot marah
Bram : * Hei Tuan putri kau benar-benar tidak tahu ya, kalau pacaran itu harus saling memanggil sayang, atau honey atau beb, bahkan ada juga yang sudah panggil mama papa..emot tertawa
Dhani : * Cih...emot muntah. Jijik banget, terserah kau saja. Awas kalau berani panggil mama, ku potong gajimu..emot evil.
Bram : * ampun tuan putri...emot takut
Dhani : * Kau paham sekali kelihatannya Bram? Apa kau sepengalaman itu? Berapa kali kau pacaran?"
Bram : * Yang jelas jauh lebih banyak darimu nona. emot sombong.
Dhani : * Hahaha..sudah kuduga. Kau pasti playboy cap kapak! Sudah ayo sarapan dulu.
Bram : * Baiklah sayang..
Dhani tak menjawab pesan Bram lagi. "Cih sayang -sayang, dasar tukang gombal..." Gumam Dani pelan.
Dhani turun dari tangga dengan mimik muka yang masih tertawa. Bram pun sama. Ketika pandangan mata mereka bertemu di meja makan keduanya tak dapat menahan diri untuk tertawa lagi.
" Ma..." Bram setengah berbisik. Sangat pelan namun Dhani mendengarnya dengan jelas.
" Jangan coba-coba!" Dhani mengambil pisau kecil pemotong steak yang ada di depannya lalu pura-pura menancapkannya di meja. Memasang wajah sadis. " Mau kupotong?"
__ADS_1
Bram tertawa terkekeh namun ditahannya. Wajahnya tampak makin tampan saat tertawa. Sejenak Dhani terpesona.
Mereka makan dengan hati riang. Menyelesaikan makannya dengan tenang dan segera berangkat ke Taman bermain yang ada di pantai pinggiran kota sesuai rencana Dhani.
Perjalanan terasa menyenangkan. Canda dan tawa Dhani dan Bram memehuhi ruangan dalam mobil itu.
"Jadi Bram, berapa kali kau pacaran? " Rupanya Dhani masih penasaran.
" Mungkin 3 atau 4 kali.." Bram tampak mengingat-ingat.
" Hmm...lalu sekarang siapa pacarmu?"
"Kan kamu sayang, apa kau sudah lupa? Kita kan baru jadian kemarin?" Bram menggoda Dhani sambil mengedipkan mata.
" Maksudku pacar sungguhanmu tuan dodol.." Dhani gemas mendengar jawaban Bram yang sengaja menggodanya.
" Ya kamu sayang. Aku anggap kau sekarang adalah pacarku. Sungguhan bukan pura-pura" Bram terdengar serius tapi Dhani mengabaikannya.
" Terserah!" Dhani cemberut membuat Bram tertawa gemas.
"Kau mau cemberut atau tersenyum tetap cantik tuan putri." Bram menggumam. Dhani pura-pura tak mendengar.
"Baiklah kalau begitu kapan terakhir kamu pacaran sebelum pura-pura jadi pacarku?"
" Masih berhubungan ?"
" Dia masih suka menelpon dan mengirimiku pesan. Juga mengajakku kembali pacaran."
"Kau yang memutuskannya? "
"Iya"
"Kenapa?"
"Aku mencintai orang lain "
"Aaahhh kau kejam sekali Bram" Dhani merasa kecewa.
" Akan lebih kejam lagi jika membiarkan dia tetap bersamaku sementara hati jiwa dan ragaku menginginkan orang lain. Apa kamu mau berada di posisi seperti itu?"
__ADS_1
Dhani mengangguk. " Benar juga. Itu jauh lebih menyakitkan Bram." Dhani mendesah . "Aahh ternyata pacaran ada yang sedih juga ya Bram? Kupikir isinya hapapy-happy mulu" Dhani membuang pandangannya ke jalanan didepan mobil. Matanya tampak kosong.
Tiba-tiba Bram mengusap pipinya lembut " Hei sudah, itu kan pacaran beneran, kita kan pacar-pacaran. Jadi jangan kuatir, ngga akan ada sedih-sedihnya. Aku akan jadikan kau pacar terbahagia di dunia. Oke??" Bram tertawa melihat ekspresi Dhani yang sedih setelah mendengar ceritanya.
Dhani ikut tertawa. Iya juga. Ini kan hanya pura-pura. Kami tidak akan saling melukai. "Aku juga akan membuatmu selalu bahagia jadi pacarku Bram " Dhani menatap wajah tampan Bram disampingnya. Bram mengangguk lalu tersenyum.
" Kita akan jadi pasangan yang bahagia, oke?" Bram mengangkat kelingkingnya. Dhani menyambutnya dengan menautkan kelingkingnya di jari Bram.
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai. Pintu gerbang taman hiburan yang megah itu menyambut kedatangan mereka.
Setelah memarkir mobil ,Dhani dan Bram segera membeli tiket terusan untuk semua wahana. Jadi mereka bisa mencoba semua wahana permainan dan menonton pertunjukan apapun di taman hiburan itu tanpa perlu memusingkan tiket lagi.
" Are u ready dear? " Bram mengacungkan tiketnya ke udara dan menatap Dhani riang.
" Yess I am" " Dhani berseru bahagia.
Disambutnya tangan Bram yang terulur meraih tangannya. Keduanya bergandengan tangan memasuki arena Taman hiburan itu.
Mencoba semua wahana permainan yang belum pernah dicoba maupun mengulangi yang sudah pernah mereka naiki. Bahkan untuk beberapa wahana yang Dhani suka, mereka mengulanginya dengan membeli tiket baru.
Seperti wahana bom-bom car ini. Dhani begitu puas karena bisa dengan sengaja menabrak keras-keras semua mobil yang ada di arena permainan itu. Apalagi mobil yang dinaiki Bram, menjadi bulan-bulanan sasaran Dhani menabrakkan mobilnya. Bram cuma bisa melongo dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Dhani .Beberapa orang nampak kesal dan berteriak karena Dhani membuat anak-anak mereka menangis karena frustasi tidak bisa keluar dari hadangan mobil Dhani.
Petualangan Dhani di arena bom-bom car berakhir dengan peringatan dari manajer mall agar Dhani mengganti kerugian akibat penyok dan rontoknya beberapa spare part mobil mainan itu. Dhani cuma nyengir tanpa merasa bersalah. Dengan tenang mengeluarkan card warna emas dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
" Silakan dihitung semua kerusakannya Tuan, berapa yang harus saya bayar?" Dhani tenang.
Setelah dihitung disepakati Dhani harus mengganti sebesar enam belas juta rupiah.
" Silakan gunakan card saya untuk membayar semuanya.
Bram duduk selonjor di kursi taman. Kepalanya disandarkan di sandaran kursi.
" Pacarku kenapa bar-bar sekali hah? Kau tahu aku sampai kaget melihat kelakuanmu tadi Dhan. Di depan Tuan Baron kamu begitu lembut , penurut dan manja jadi anak papa banget. Kenapa disini jadi begini ha, ck ck ck?" mata Bram tampak meminta penjelasan ke Dhani.
" Sudahlah Bram. Sudah beres ini. Yuk ah lanjut lagi, cepeet . Masih banyak permainan yang harus kucoba." Dhani menarik tangan Bram, tapi Bram tak mau beranjak dari duduknya .
" Tunggu dulu, Tapi berjanjilah kau tidak akan berbuat ngawur lagi Dhan. Aku nggak mau kamu terluka nanti. Oke?" Bram menatap Dhani .
Dhani mengangguk cepat. "Iya iya..aku janji, maaf deh...sudah ya marahnya nanti ilang loh gantengnya tuan pacar..." Dhani memasang wajah sedih.
__ADS_1
Bram tertawa kecil mendengar kata-kata Dhani . " Bagaimana aku bisa marah padamu tuan putri perayu? ..ayo kita jalan lagi!"
Dhani tersenyum lega. " Ayo ...!! Dhani menyambut tangan Bram yang terulur padanya. Bergandengan tangan melanjutkan petualangan yang baru saja dimulai.