Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
# Perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal


__ADS_3

Bram menyanyikan lagu itu dengan sangat indah. Dhani terpana sampai tak sadar bahwa sekarang Bram sudah mengajaknya berdansa diiringi lagu indah itu. Dhani menatap takjub wajah Bram sementara Bram juga tak melepaskan tatapannya dari wajah Dhani yang sudah semburat merah, efek anggur yang mereka minum dan juga rasa tersanjung karena seakan-akan Bram menyanyikan lagu itu untuk Dhani seorang.


Tangan mereka saling memeluk pinggang . Kepala dan bahu mereka saling bersandar sambil kaki mereka melangkah ke kanan dan ke kiri, kadang berputar pelahan bersamaan.


Suara musik sudah tak terdengar lagi. Tapi Bram dan Dhani masih tidak melepaskan pelukan mereka. Dunia seakan membeku di tempat mereka berdiri.


" Suaramu sangat bagus Bram. Kenapa waktu karaoke bersama itu kamu nggak ikut nyanyi?" Dhani pelahan melepas pelukannya pada Bram dan mengangkat wajahnya.


" Suaraku hanya untukmu" Bram tersenyum sambil menyentuh ujung hidung Dhani.


" Gombalmu tuan, pantas saja pacarmu tak mau putus denganmu. Dia pasti klepek-klepek termehek-mehek kena rayuan mautmu itu." Dhani mencubit lengan Bram.


" Aku hanya merayumu"


" Cih gombal terus" wajah Dhani makin merona.


" Entah mengapa sejak mengenalmu aku jadi puitis. Pengennya ngomong yang indah-indah melulu kalau sudah lihat wajahmu ini. " Bram mengusap lembut pipi Dhani.


" Stop, cukup Bram. Kau bisa membuatku pingsan karena ge er berlebihan gara-gara rayuanmu." Mereka berdua tergelak.


Dhani menarik tangan Bram dan membawanya kembali ke sofa. Bram mengikuti Dhani patuh. Mereka kembali duduk berdampingan di sofa. Sangat dekat seperti tadi. Tangan Bram.merangkul pundak Dhani sementara tangan Dhani melingkar di pinggang Bram.


"Apa kau tidak ingin menyanyi untukku sayang" Bram berbisik di telinga Dhani.


Padahal Bram.sering sekali berbisik seperti itu , tapi tetap saja Dhani merasa dadanya selalu berdesir, tubuhnya merinding.


" Nggak, aku nggak akan merusak malam ini dengan suara emasku" Bram terkekeh mendengarnya.


" Jadi kau mau apa lagi sayang? "


"Aku ingin begini saja boleh? Duduk berdua dan dekat denganmu sampai kita ngantuk. Hmm? Dhani menatap Bram yang juga menatapnya.


" Dengan senang hati nona, sayangku, tuan putriku yang cantik" Bram meletakkan tangan didada sambil membungkukkan badan. Dhani melengos. Bram selalu saja membuatnya melayang-layang dimabuk kepayang.


" Bram apa kau akan melupakanku ?" Tiba-tiba Dhani menggenggam tangan Bram yang ada di pundaknya.


" Tidak mungkin aku melupakanmu karena aku kan sudah bilang kalau aku menyukaimu sejak pertama melihatmu . Aku malah khawatir kaulah yang akan segera melupakanku tuan putri"


" Kau anggap apa aku begitu mudah melupakanmu?" Dhani cemberut. Membuat Bram tertawa geli.

__ADS_1


"Kau cantik, pintar dan bersemangat. Setelah ini akan ada banyak laki-laki yang rela jatuh bangun mengejarmu di kampus nona. Kau akan bingung memilihnya. Saat itu, apa kau masih akan sempat mengingatku yang jauh? Kau itu mudah tergoda. Apa kau masih ingat saat nonton si jelek mesum JX itu. Apa kau bahkan mengingatku?. Padahal aku sedang menempel didekatmu. Apalagi saat aku jauh..? " Bram.seakan mencurahkan isi hatinya.


Dhani tergelak. " Eh apa kau cemburu tuan ? " Dhani menggoda Bram dengan kerlingan matanya.


"Iya, memang aku cemburu. Tapi apa dayaku? Kau bahkan tak mau jadi pacarku kan?"


" Braam...jangan mulai lagi.." nada memohon Dhani.


" Iyaa..iya...kita nikmati saja malam ini kan?.Cukuplah kesusahan dan kesedihan hari ini, jangan lagi ditambah bayangan kesedihan esok.hari yang belum tentu terjadi."


Dhani tersenyum. lengannya melingkar manja di lengan Bram. " Lagipula kita harus berprasangka positif pada rencana Tuhan kan?"


Bram mengangguk. " Berjanjilah tidak melupakanku hmm.."


Dhani mengangguk dalam pelukan Bram.


" Tak akan"


" Terima kasih, apa aku tetap boleh memanggilmu sayang? "


" Sebenarnya aku keberatan, tapi aku tahu kau akan tetap memanggilku sesukamu kan? Jadi terserah kau saja tuan.." Dhani pasrah. Bram tersenyum puas.


Udara dalam ruangan yang semula dingin sekarang terasa menghangat. Tentu saja itu karena keduanya sudah menghabiskan seluruh isi botol minuman mereka.


Dhani melepas cardigan yang dipakainya lalu membuka dua kancing paling atas blousnya.


Bram juga membuka dua kancing atas kemejanya. Menggulung lengan panjang kemejanya sampai dekat siku.


Tanpa ada yang tahu siapa yang memulainya, keduanya kembali berpelukan seolah belum puas menikmati kebersamaan mereka malam itu.


Diam dalam keheningan. Keduanya tak memikirkan apapun lagi saat itu. Tak mau berpikir, tak mau berkata-kata selain saling memeluk dan memberi ketenangan satu dengan yang lain.


Tanpa sadar keduanya tertidur dalam posisi yang sama. Kepala keduanya bersandar miring namun saling berhadapan di sandaran sofa.


Menjelang jam satu dini hari Bram terbangun. Dalam redup lampu ruangan tampak wajah Dhani yang masih terlelap sambil memeluknya. Bram tersenyum kecil melihat wajah polos yang cantik itu.


Dahi, hidung dan bibir Dhani begitu dekat dengan wajah Bram. Saat itu Insting lelakinya mendorongnya menikmati keindahan itu, tapi perasaannya yang dalam dan janjinya pada Baron untuk selalu menjaga Dhani mengalahkan bisikan iblis di kepalanya.


Akhirnya diraihnya tubuh gadis yang sangat di sayanginya itu. Digendongnya menuju kamar sang tuan putri yang ada di lantai yang sama dengan ruangan tempat pesta mereka berdua.

__ADS_1


Bram membuka pintu yang tak terkunci dengan tangan yang membopong paha Dhani. Ini kedua kalinya Bram menggendong Dhani dalam keadaan tidur. Sungguh merepotkan dan menyenangkan disaat bersamaan.


Bram meletakkan pelahan tubuh Dhani ke ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Beberapa saat ditatapnya wajah yang tampak damai dan tersenyum dalam tidur itu. " Cantikku" bisiknya pelan. Lalu pergi meninggalkan kamar Dhani setelah menutup pintu.


Esok paginya Dhani marah- marah karena tidak ada yang membangunkannya ketika Bram pergi ke bandara. Baron bahkan ikut kena semprot Dhani.


" Papa tega sekali. Kenapa tidak bangunkan Dhani? Dhani kan ingin ikut mengantarkan Bram ke Bandara." wajah Dhani merengut hampir menangis.


" Maafkan papa sayang, Bram tidak mengijinkan papa membangunkanmu. Dia takut kamu akan menangis meraung-raung dan melarangnya pergi. Dia takut tidak tega melihatmu menagisinya dan batal berangkat." Baron membujuk Dhani setengah menggodanya.


Dhani memukul pelan tangan papanya. Sebentar tertawa malu sebentar cemberut kesal mendengar kata-kata papanya. Dhani merasa seperti tertangkap basah oleh papanya. Jelas perasaannya pada Bram sudah diumbarnya sendiri dengan sikapnya itu.


" Ish, kepedean banget si Bram itu, siapa juga yang mau meraung menangisinya. Aku kan cuma ingin mengantar ke Bandara papa..huh..kalian berdua ini benar-benar cocok sekali kalau bersekongkol mengerjaiku.." Akhirnya kemarahan Dhani pun sudah menghilang dari wajah cantiknya.


Dhani kembali ke kamarnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari BRAM! Jantung Dhani berdegup kencang. Ya ampuun kenapa sih cuma dapat pesan aja kok jadi senam jantung gini? Dhani merutuki dirinya sendiri.


Dengan tangan gemetar diraihnya benda tipis itu. Tampak deretan pesan dari orang yang pagi ini sudah merusak moodnya karena kepergiannya.


Sudah marah-marahnya nona? emot menggoda~Bram


Eh darimana dia tahu aku marah-marah?


Jangan salahkan papamu atau orang rumah lainnya.


Memang aku yang gak mau kau antar.


Aku nggak mau mengucapkan selamat tinggal karena kenyataannya hatiku tetap tertinggal disini....~ Bram


Dhani merebahkan badannya ke ranjang. Tersenyum sendiri. Melanjutkan membaca untaian pesan Bram.


Aku juga nggak mau ucapkan selamat berpisah atau sampai jumpa lagi


Karena aku tahu meskipun raga kita terpisah, aku yakin ada seseorang yang akan selalu menjaga milikku yang berharga hanya untukku sampai aku kembali.


Tunggulah saat itu,


cinta akan tetap menemukan jalan untuk bersama walaupun itu harus menunggu lama atau pun melalui perjuangan yang sulit.


Dhani meletakkan hpnya tepat di dadanya yang tengah berdebar. Hangat menyeruak dari hatinya yang tengah berbunga oleh ucapan cinta...

__ADS_1


__ADS_2