
Begitu memasuki gerbang Dhani merasakan aura yang lain disekitarnya. Tempat ini seperti terpisah dari dunia luar yang telah tergerus zaman. Tempat ini seperti dimensi lain dari dunia yamg seakan berhenti berputar. Kembali ke zaman raja-raja berkuasa.
Dominasi bangunan pendopo(aula besar) menyambut Dhani. Pilar-pilar kokoh bangunan menjulang memberi kesan kuat dan angkuh. Disana sudah tampak kuade ( kursi pengantin dengan segala hiasan dan pirantinya).Sangat besar dan panjang memenuhi ujung pendopo menghadap keluar. Beberapa orang tampak menghias dengan aneka bunga warna warni dan janur kuning.
"Silakan Den Mas di sebelah sini, Den Ayu sebelah sini." Penjaga yang mengantarkan mereka menunjuk dua kamar yang bersebelahan. Satu untuk Baron dan sebelahnya untuk Dhani. Dhani dan Baron masuk ke kamar mereka masing-masing.
Belum lama Dhani keluar dari kamar mandi pintu kamarnya diketuk .
" Maaf Den ayu, ini ageman ( pakaian) untuk Den Ayu nanti saat malam midodareni ( bridalshower). Dan satunya lagi untuk pager ayu besok . Sekarang silakan Den Ayu ke bangsal putri, acara midodareni segera dimulai." Seorang gadis muda membawa dua pasang kebaya dan lurik untuk Dhani.
" Sekarang ?" Dhani menegaskan. Aku baru sampai dan masih jetlag..pengen rebahan..sungut Dhani dalam hati
" Inggih (ya) Den Ayu. Mari ikut saya. Ageman nya yang warna hijau tolong dibawa " Gadis itu berkata lagi. Badannya membungkuk hormat.
" Oke.." Dhani singkat sambil membawa sepasang baju yang tadi diterimanya.
Gadis itu membawa Dhani ke sebuah ruangan di bangsal timur istana. Disana sudah ada beberapa gadis sebaya Dhani yang juga sedang berganti baju dan dirias untuk acara midodareni.
Saat Dhani memasuki ruangan tiba-tiba saja semua mata memandang ke arahnya. Mata mereka seakan terhipnotis melihat Dhani. Dhani berjalan pelan sementara semua membeku menatapnya. Membuat Dhani merasa kikuk dan canggung.
"Eh...hai...apa kabar? " Akhirnya Dhani melambaikan tangannya . Hei kenapa kalian ini..ada apa denganku? Kenapa mereka seperti melihat hantu? rutuk Dhani dalam hati.
" Hai juga...Kamu Dyah Pramudya Wardhani kan putri kanjeng pangeran Baron?" akhirnya seorang dari mereka menjawab sapaan Dhani. Kelihatannya gadis itu juga kerabat dekat sinuwun. Karena dia tampak percaya diri dan tak sungkan memanggil nama Dhani tanpa embel-embel Den Ayu.
" Emh..iya.." Dhani ragu-ragu. Pangeran? batinnya. Jadi papanya itu anaknya....
__ADS_1
" Pantesan saja Putra Raden Mas Dimas nggak mau melirik gadis lain, calonnya aja sempurna seperti ini" Dhani mendengar bisik-bisik para gadis disitu, tapi belum begitu paham maksud mereka? Siapa Dimas? Calon apa? Apakah mereka membicarakan seseorang yang dijodohkan Papanya dengannya?
Belum selesai Dhani berpikir seorang yang bertugas merias menyambut Dhani dan menuntun Dhani duduk di kursi yang ada diujung ruangan. Didepan kaca besar untuk dirias. " Silakan Den Ayu" Kata perias itu. Dhani menurut saja.
Beberapa gadis yang sudah selesai didandani dan berganti baju berkerumun mengelilingi Dhani. Mulanya Dhani risih, tapi tak lama jadi terbiasa dan cuek karena gadis-gadis itu terlihat ramah.
" Kamu dari Jakarta ya?" seorang gadis berwajah imut duduk disamping Dhani.
" He emh.." Dhani menjawab singkat. Takut mengganggu si mbak perias yang sedang fokus merias wajahnya.
"Kamu cantik banget sih, kaya bule" Ada yang nyeletuk dari belakang Dhani. Dhani tersenyum. Dia merasa seperti mainan yang dikerubuti bocah-bocah yang lucu. Ada yang menatap lewat cermin. Ada yang menyentuh rambut coklatnya yang lembut.
Dhani tak tahan untuk terkekeh." Maaf mbak, aku mu ketawa dulu" pamit Dhani pada mbak perias. Lalu Dhani melanjutkan tawanya.
" Ngapunten ( maaf) mbak Pur.." sahut mereka hampir barengan sambil melihat si perias.
Yang dipanggil mbak Pur cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis-gadis itu. Lalu melanjutkan merias wajah Dhani. Suasana kembali tenang. Hingga Dhani selesai dirias.
" Sini Den Ayu, aku bantu pakai kainnya" ujar seorang gadis menarik tangan Dhani.
" Boleh" Dhani menurut karena memang tak bisa memasang kainnya sendiri." Tapi panggil Dhani aja ya..biar akrab" Dhani tersenyum. Gadis-gadis itu mengangguk.
Mereka lalu membantu Dhani memakaikan kemben dan kainnya. Disusul selendang untuk menutup punggung mereka yang terbuka. Rambut mereka tidak disanggul. Dibiarkan tergerai. Setelah selesai mereka mengobrol menunggu teman-teman mereka dirias.
"Eh siapa yang kalian panggil Dimas tadi?" Dhani merasa ini waktu yang pas mengorek keterangan tentang jodoh pilihan papanya.
__ADS_1
" Lho..piye to den ayu Dhani iki. Kok mboten tepang kaliyan calon morosepuh ( Bagaimana sih kok Dhani tidak tahu calon mertuanya)?"
" Aku tahu, tapi belum tahu orangnya." Dhani berbisik. " Anaknya juga belum tahu yang mana" Dhani tertawa kecil.
" Ahh masaak..?" Gadis-gadis itu cekikikan. Beberapa berlagak seperti lemas. " Duh Den ayu..calonmu itu guanteng banget, aku saja suka hampir pingsan kalau ketemu dia..!" seru seorang gadis yang nampak genit. Disambut tawa teman-temannya.
Dhani ikut tertawa. Jadi penasaran seperti apa calon suaminya itu. Saat itu bayangan Bram berkelebat di matanya. Ganteng mana sama Bram ya? Dhani tersenyum sendiri.
" Para gadis ayo siap-siap. Acara hampir dimulai." Pintu terbuka dan seorang ibu paruh baya mengajak mereka keluar ke bangsal putri.
Gadis-gadis cantik itu dengan anggun berjalan bersama menuju tempat acara. Wajah mereka dirias sederhana dengan rambut terurai. Mereka mengenakan bando dari rangkaian bunga melati.
Dhani merinding. Dia berjalan paling depan dengan dua gadis lainnya. Merasa seperti bidadari yang turun dari kayangan. Rasa lelah dan kantuk akibat jetlag sudah hilang. Berganti rasa penasaran tentang adat istiadat istana apa saja yang akan dilakoninya.
Ternyata malam itu diisi dengan doa bersama. Doa untuk sang mempelai dari orang tua serta sebaliknya permintaan maaf dan pamit dari mempelai untuk orang tua. Suasana tampak haru dan penuh isak tangis. Dhani merasakan apa yang dirasakan sang pengantin dalam ucapannya. Hatinya ikut trenyuh.
Selanjutnya acara disambung dengan petuah dari pemangku adat istana. Tentang kehidupan berumah tangga dan naseha-nasehat lainnya.
Tanpa Dhani sadari, sepasang mata elang menatapnya dengan penuh perasaan. Mata itu tampak teduh dan penuh cinta. Mata orang yang dibicarakan gadis-gadis itu di ruang rias tadi.
Pemuda itu sesekali tersenyum penuh arti. Namun tak ada yang tahu karena dia sengaja duduk di tempat yang agak terhalang dari pandangan. Tertutup tirai-tirai yang berkibaran sehingga menyembunyikan wajah tampannya. Dia tak mau kehadirannya merusak kekhusukan acara ini mengingat gadis-gadis itu selalu heboh jika bertemu dengannya.
Namun perasaan Dhani merasakan ada seseorang yang mengamatinya. Dhani mengangkat wajahnya dan matanya menangkap kilatan sepasang mata yang sedang menatapnya intens. Tapi tubuh orang itu tertutup tiang dan tirai. Mata Dhani tak bisa menjangkaunya. Akhirnya Dhani menundukkan kembali wajahnya.
" Siapa orang itu? " Hati Dhami bertanya-tanya. Dhani melihat ke arah itu lagi, tapi orang yang Dhani cari tadi sudah tidak ada lagi di sana. Dhani kehilangan jejak. Hingga acara berakhir Dhani tak lagi melihat orang itu.
__ADS_1